Macau Love Story

Macau Love Story
23 (Kembali senam jantung)


__ADS_3

Masih banyak hal yang aku ingin ketahui dari mas Pandu. Tapi melihatnya sedang sibuk di depan laptop, aku menimbang-nimbang apakah harus mengajaknya bicara saat ini atau tidak.


"Ibu hamil ada apa?" mas Pandu bertanya setelah melihatku sekilas, lalu kembali fokus pada layar di depannya.


Namaku berubah semenjak dia tahu kalau aku hamil. "Aku tadi bikin salad buah, mas mau?"


"Ada nanasnya?" tanyanya yang membuat dahiku mengernyit


"Tidak ada, kenapa memangnya"


"Aku alergi nanas" jawabnya membuatku membatin ooh "Kalau gitu aku mau"


"Mau aku bawakan ke sini atau mas yang ke dapur?"


"Bawa sini bisa?"


"Bisa, sebentar aku ambilkan" aku bergegas keluar dari balkon lalu menerobos pintu kamar menuju dapur.


Tak sampai tiga menit aku sudah kembali ke kamar dengan membawa satu mangkok salad.


Setelah menerima uluran mangkok dariku, mas Pandu kembali mengalihkan perhatian pada pekerjaanya. Dia seolah tidak peduli denganku yang sedari tadi bergerak gelisah karena rasa penasaran yang belum tuntas sejak tadi malam.


"Mas masih lama sibuknya?"


Mendengar pertanyaanku, mas Pandu langsung menatapku, dan melambatkan kunyahannya. "Kenapa?"


"Mau lanjut yang semalam"


"Lanjut yang semalam? tanya mas Pandu mengulang ucapanku "Ok sebentar lagi, kamu tunggu di tempat tidur"


"Kenapa harus di tempat tidur, di sini juga bisa"


"Malu lah"


"Malu kenapa kita cuma bicara loh"


"Ooh bicara" Sahutnya santai.


"Memangnya mas pikir ngapain?"


"Makan hidangan penutup"


Jawabannya, membuatku menyadari bahwa dia tengah menggodaku.


"Apa lagi yang ingin kamu tahu?" tanyanya sambil melipat laptopnya.


"Seharusnya mas jelaskan tanpa aku bertanya ataupun meminta"


Usai mengatakan itu, kami seperti terjebak dalam keheningan, yang anehnya aku tidak merasa canggung sama sekali.


Cukup lama kami beradu pandang dalam diam, baru kali ini mas Pandu yang mengalah, memutus kontak mata kami terlebih dulu.


"Sekarang begini" ujarnya sambil menegakkan duduknya lalu menghadapku dengan melipat satu kaki di atas kursi "Kamu tanya, nanti aku jawab"

__ADS_1


Baiklah, mungkin memang lebih baik seperti itu, akan aku tanyakan apa yang ingin aku tahu.


"Pertama" ucapku tanpa ragu. "Mas jelaskan soal aset-aset yang mas miliki, bukan dari ayahnya Alvin"


"Di Macau, mas cuma punya dua gedung apartemen, dari keseluruhan flat, hingga unit, itu milikku. Itu aku bangun hasil dari keuntungan restauran dan hotel milik ayahnya Alvin. Di sini aku punya beberapa restauran dan juga hotel"


"Mas tidak bilang kalau di sini juga punya hotel"


"Karena itu bukan hanya milikku, tapi juga milik Tania"


Aku semakin di buat bingung "Mas benar tidak pernah menggunakan hasil judinya untuk keperluan mas, ataupun untuk ibu?"


"Tidak pernah"


"Benar?"


Kali ini mas Pandu merespon dengan anggukan kepala.


"Ok sekarang ceritakan tentang ayahnya Alvin, dia meninggal karena apa?"


Ku dengar helaan napas berat dari mas Pandu.


"Dia kecelakaan setelah tahu bahwa selama ini ibu tidak pernah mencintainya, dan masih mencintai ayah kandungku, dia pergi ke club dan pulangnya mengendarai mobil dalam keadaan mabuk"


"Itu artinya Alvin tahu mas masih punya ibu, tapi kenapa waktu itu mas bilang tidak ada yang tahu kalau mas masih memiliki ibu?"


"Maksudku, rekan-rekan bisnisku, media, dan teman di casino yang tidak tahu, mereka tahunya ayik Btari dan paman Marco keluargaku, kalau Alvin tetap tahu, hanya saja tidak tahu keberadaan ibu saat ini, Alvin mengira ibu menghilang karena rasa bersalah pada ayahnya, padahal ibu ada disini bersamaku dan juga Tania"


"Tania anak baik, justru atas permintaanyalah aku menyembunyikan ibu di sini, karena jika Alvin sampai tahu, mungkin Alvin akan membunuhnya"


Susah payah aku menelan ludah "Tania tahu bagaimana sifat Alvin, dia keras kepala, pendendam, dan nekad"


"Sebenci itu Alvin sama ibu?" tanyaku kian penasaran.


"Hmm, Karena Alvin berpikir, ibulah yang menyebabkan ayahnya meninggal, di tambah semenjak kehadiran ibu, dia merasa kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya"


"Jadi karena itu Alvin juga membenci mas"


"Bukan hanya membenci, bahkan sangat sangat membenciku, hal bahagia apa saja yang aku raih, dia seolah ingin merusaknya"


"Apa Tania tahu kalau mas sudah menikah dengan ku?"


"Belum"


"Kapan mas akan memberitahunya kalau kakaknya sudah menikah?


"Kamu ingin berkenalan dengannya?"


"Bukan begitu" sanggahku "Selama aku di sini, Tania tidak pernah menelfon ibu"


"Dia bilang masih sibuk karena baru tahun pertama di High School"


"Ooh" sahutku

__ADS_1


"Ada lagi yang mau di tanya?"


Aku meliriknya sebelum menjawab pertanyaannya, ku lihat kedua alisnya saling bertaut.


"Apa?" tanyanya


"Mas kenapa begitu cepat mencintaiku, apa jangan-jangan hanya bualan?"


Tiba-tiba mas Pandu memainkan bungkus rokoknya di atas meja, lalu menatapku tajam.


Kali ini aku tidak berani membalas tatapannya.


"Kamu harus meminta maaf padaku Nay" ucapnya berdiri di hadapanku, lalu sedikit membungkukan badannya, mengunci tubuhku dengan kedua tangan ia daratkan pada kedua sandaran tangan di kursi, membuatku mendongak mempertemukan netranya.


"M-minta maaf?" tanyaku tergagap, setelah beberapa hari tidak senam jantung, aku merasa hari ini jantungku benar-benar kehilangan ritmenya.


"Dulu, kamu menganggap aku hanya memanfaatkanmu untuk memenuhi kebutuhan biologisku, lalu kamu mengatakan aku adalah pria bejad yang mudah tidur dengan banyak wanita"


"A-ku tidak bilang b-begitu"


Wajahku mungkin sudah memucat sekarang, aku benar-benar takut mendapat tatapannya yang seperti singa hendak menerkam mangsanya.


Mengikis jarak, aku di buat menahan napas karena wajah mas Pandu benar-benar dekat hingga hidung kami nyaris bersentuhan.


"Kamu juga berfikir kalau aku menidurimu tanpa melibatkan hati, iya kan?"


Rasanya aku ingin berjongkok dan menyembunyikan diri dari sorot matanya yang tajam. Saat ku palingkan wajahku ke arah kiri, otomatis hidung mas Pandu menempel di sisi pipi sebelah kanan, seketika dia mengecup pipiku.


"Dan sekarang kamu bilang aku hanya membual, kamu pikir aku tidak marah dengan tuduhanmu itu?" ujarnya yang membuatku tanpa sadar meremat jemariku sendiri, ada rasa gelisah, sekaligus tak nyaman atas kondisi kami saat ini"


"Kamu harus minta maaf padaku Nayla Davika"


Mendengar nama lengkapku di sebut, tak sepatah katapun yang sanggup aku keluarkan dari mulutku.


"Minta maaf sekarang sebelum aku____"


"A-ku minta maaf" potongku dengan jantung yang berdegup kencang.


Jantungku kian ribut saat tahu-tahu mas Pandu membopong dan membawa tubuhku ke dalam kamar.


Dia duduk di tepian ranjang, sementara aku duduk di pangkuannya dengan posisi miring. Mas Pandu sedikit mendongak agar bisa menatap wajahku yang posisinya lebih tinggi darinya


"A-ku janji tidak lagi bi___"


"Kalimatku terpotong karena tiba-tiba mas Pandu menciumku, tubuhku seketika menegang, sebab masih di kuasai rasa gugup yang kian menyeruak, dan detakan jantung yang kian meliar, apalagi saat ku rasakan bibirnya tidak lagi sekedar mencium, sapuan bibirnya seperti membawa aliran listrik yang membuat sel tubuhku seketika beku. satu tangan mas Pandu menggenggam tanganku di pangkuanku, sementara tangan yang lain berada di tengkukku. Dia melepas tautan bibir kami, saat aku kehabisan oksigen"


"Sebesar itu prasangka burukmu padaku?" tanyanya usai ciumannya terputus.


Aku bungkam, lalu menyoroti netranya yang kelam, sekelam malam tanpa penyinaran.


Aku tak mampu menggelengkan kepala, apalagi mengangguk.


next...nya nunggu komennya banyak-banyak ya..

__ADS_1


__ADS_2