Macau Love Story

Macau Love Story
Teringat sapu tangan


__ADS_3

Terduduk di restauran, aku termangu menatap mas Pandu dari kejauhan yang tengah berbicara dengan salah satu manejer di restaurannya.


Tidak lama setelah itu, datang seorang waitres mengantarkan beberapa menu makanan. Dia tersenyum ramah padaku, selagi dia meletakannya di atas meja, dan aku membalas senyumannya sembari mengangguk pelan.


Menu sarapan pagi ala Hongkong yang sudah tidak asing lagi bagiku.


Teh yang harus ada untuk menemani sarapan sekaligus untuk menghangatkan badan di musim dingin seperti ini, ada berbagai menu dim sum, nasi tim, ada juga beberapa tampilan roti.


Sembari menunggu mas Pandu kemari, aku menuangkan teh kombucha kesukaannya. Aku tidak tahu kenapa teh ini di namakan teh kombucha. Yang ku tahu mas Pandu sangat menyukai teh ini.


Tepat ketika tanganku terulur hendak meraih makanan bernama ngau yuk, mas Pandu datang menghampiriku dengan tatapan terus tertuju ke netraku.


"Ada apa?" pertanyaanku bersamaan dengan tangan mas Pandu yang menarik sebuah kursi, dan langsung mendudukinya.


Tak ada jawaban apapun, aku berusaha memberanikan diri membalas tatapannya, namun hanya sesaat, aku benar-benar tidak sanggup jika bertemu pandang dengannya di mana suasana hatiku sedang merasa kesal padanya. Ku alihkan pandanganku pada makanan yang ku makan.


"Kenapa?" tanyaku lagi ketika dia masih bungkam, dan menatapku.


"Harusnya aku yang tanya kamu kenapa" sahutnya lalu meneguk teh yang masih panas di cangkirnya. "Masih pengin ikut pulang ke Macau?"


"Sudah tidak" jawabku sembari meliriknya dengan ekor mataku.


Satu alis mas Pandu terangkat. "Kenapa?" tanyanya lagi seolah tak percaya dengan respon cepatku, "Tadi kamu begitu ngotot ingin ikut" ujarnya kali ini sambil menyiduk nasi tim.


Aku menghirup napas panjang sebelum memberanikan diri menatap suamiku. "Aku ngotot pun percuma, pasti mas tidak akan mengajakku, iya kan?"


Mas Pandu diam, dan aku tidak tahu maksud diamnya itu. Dia begitu menikmati makanan yang sedang ia lahap, tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun. Hingga tak sadar rahangku mengeras merapatkan gigiku menahan geram padanya.


Andai saja bisa, aku pasti sudah mengomeli pria ini habis-habisan, tapi sayang, nyaliku tak sebesar itu.


"Malam ini kita masak steambot ya, aku sudah minta bahan-bahannya dari sini beserta bumbunya, nanti sudah ada orang yang mengantar ke rumah.


"Steambot" tanyaku mengernyit.

__ADS_1


Mas Pandu mengangguk sembari terus mengunyah.


"Tapi aku lagi tidak ingin makan itu"


Kini ganti dia yang mengernyitkan dahi "Kenapa?" tanyanya pelan.


Aku menggeleng lalu menunduk tak ingin menatapnya.


"Kamu selain susah di ajak kompromi, juga sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di isi kepalamu"


Aku diam tak berniat manyahut ucapannya.


"Kamu susah di bikin sendiri, nyesek sendiri, yang di salahin orang lain"


Kali ini ucapan mas Pandu membuatku mengangkat kepala.


Tadi saat berjalan menuju kesini, selain membahas tentang ibu yang hobi merajut berbagai kerajian tangan dari kain rajut, kami juga sempat membahas soal kepulangan mas Pandu ke Macau, dan aku masih memaksa untuk ikut dengannya. Entah kenapa aku ingin sekali pergi kesana, meskipun hanya lima menit berada di rumah mas Pandu yang ada di Macau, tapi keinginanku itu, seolah di remehkan oleh mas Pandu.


"Tapi jangan sekarang, iya?" bujuknya sambil memegang tanganku di pangkuaku.


"Kenapa?"


"Sudah kubilang nanti aku atur sama Clara, ho mou! ucapnya dengan intonasi sangat tegas.


"Selesaikan makanmu, setelah ini kita ke pasar cari benang rajut" ucapnya lalu meneguk teh "Ibu bilang mau bikin sapu tangan" imbuhnya lalu menyenderkan punggung pada sandaran kursi, dengan satu tangan berkacak pinggang.


"Sapu tangan?" tanyaku dengan alis saling bertaut.


"Hmm"


Ngomong-ngomong soal sapu tangan, aku kok jadi ingat Pipo, dimana dia sekarang, apa dia masih ingat denganku, atau dia malah sudah lupa dan bahkan malah sudah menikah. Kalau saja bisa, pertemukan aku dengannya Tuhan, Meskipun saat bertemu dia sudah menikah, tidak masalah bagiku kok, sebab aku hanya ingin melihatnya saja. Tapi itu mustahil, dia di Indenesia, sementara aku jauh di Hongkong.


Menggembungkan mulut, sembari menarik napas pasrah, dengan bibir terkatup rapat, dan tubuhku seketika berjengit kaget saat ku dengar panggilan dari mas Pandu.

__ADS_1


"I-iya mas?"


"Mikir apa?"


"Mou" jawabku menggunakan bahasa Cantonese, dan mas Pandu menyahut ucapanku dengan bahasa sini juga.


"Mou lam kem to ye"


"Hmm" jawabku singkat. membuatnya menggelengkan kepala.


Bersambung.


hou mou : Ok


Mou : Tidak ada


Mou lam kem to ye : jangan terlalu banyak pikiran.


Ngau yuk



Nasi tim



aneka dim sum



ayam steam


__ADS_1


__ADS_2