
"Kalian ini kenapa? ibu perhatikan kalian saling diam" kata Risa sesaat setelah selesai makan malam. "Masalah itu harus di bicarakan, bukan di diamkan"
"Begini bu_"
"Tidak ada apa-apa kok bu" potong Nayla cepat ketika Pandu bersuara.
Otomatis pria itu langsung memindai wajah yang memenggal kalimatnya.
"Hanya kesalah pahaman sedikit" tambah Nayla berusaha mengelak.
"Entah kesalahpahaman sedikit atau banyak, tetap saja harus di omongin"
"Kita sudah bicara bu"
Mendengar jawaban datar dari sang menantu, pandangan Risa langsung teralih ke putranya.
"Aku cuci piring dulu ya bu" tambah Nayla lalu berdiri dan menarik piring satu persatu hendak di bawa ke wastafle.
"Kamu urus Kellen saja, ini biar Nuri yang cuci" kata Risa.
Nayla pun menurut, dia langsung beranjak menuju kamar.
Risa menatap sang menantu heran. Ia Merasa ada sesuatu yang membuatnya sesedih ini. Tapi sayangnya, dia tak bisa menerkanya.
"Ada apa Pandu?" tanyanya pada sang putra.
"Tidak ada apa-apa bu"
"Tapi kok istrimu sedih?"
"Hanya sebentar saja. Setelah dua atau tiga hari nanti juga biasa lagi"
"Iya tapi kenapa?"
"Tantenya masuk penjara, itu yang membuatnya sedih"
"Tantenya masuk penjara?" Tanya Risa mengulang kalimat pertama Pandu.
Pandu mengangguk lalu meraih sunkis di keranjang buah.
"Kenapa?"
Hampir satu menit Risa menunggu jawaban Pandu. Wanita itu terus menatap wajah putranya dan sesekali menatap jeruk yang tengah di kupas.
"Bu" kata Pandu sambil membelah jeruk menjadi dua bagian. "Ibu tahu, Nayla itu siapa?"
Rania menggeleng dengan sorot serius menatap Pandu.
"Nayla adalah wanita yang menjadi alasanku menolak banyak wanita.
Alih-alih mengerti dengan ucapan putranya, Risa justru kian bingung.
"Nayla yang membuatku menjawab 'nanti' jika ibu menyuruhku menikah"
"Apa maksud kamu Pandu, ibu tidak mengerti"
"Nayla itu gadis kecil yang sering Pandu temani dulu saat kita masih tinggal di Jogja bu"
"Gadis kecil?"
Pandu mengangguk meresponnya.
"Gadis kecil yang belum di jemput oleh papahnya, dan kamu selalu menemaninya?"
"Iya bu"
"Bagaimana bisa nak?"
"Aku juga tidak tahu bu, yang jelas takdir memang menuliskan begitu"
"Tapi kalian berpisah sudah sangat lama kan, kenapa bisa di pertemukan?"
"Mungkin Nayla memang di takdirkan menjadi jodohku, jadi meskipun kami berpisah cukup lama, tetap saja Tuhan mempertemukan kami kembali"
"Walaupun, pertemuan kami tergolong memilukan" tambah Pandu kali ini sambil menyuapkan suiran jeruk ke mulutnya.
"Memilukan?" Risa mengernyit.
__ADS_1
"Iya bu, waktu itu tantenya Nayla kalah judi sama Alvin"
"Alvin adikmu?" sela Risa cepat yang langsung di jawab anggukan kepala oleh Pandu.
"Dia lalu menjual Nayla untuk menutup kekalahannya"
"Lantas, bagaimana akhirnya Nayla ada bersamamu dan tiba-tiba memperkenalkan dia sebagai istrimu ke ibu?"
"Aku yang akhirnya membeli Nayla bu"
"Kamu membelinya?"
"Iya, saat Nancy menyebut nama Nayla dan memperlihatkan fotonya, aku langsung tahu jika gadis itu adalah dia"
"Kalian bertemu saat masih kecil, memangmya kamu masih ingat wajah gadis kecil itu?"
"Tentu saja bu" sahut Pandu. "Ada tanda yang membuatku yakin jika Nayla yang dia jual itu Naylaku. Apalagi saat dia menyebut nama panjangnya yang juga tersemat nama papahnya di belakang nama Nayla. Di situ aku langsung membayarnya tanpa berfikir panjang"
"Tapi kenapa tantenya menjualnya?"
Pandu menjawab pertanyaan sang ibu dengan menceritakan semua kekejaman Nancy pada Nayla. Mulai dari soal harta warisan, menjadikannya mesin uang, menjualnya dan juga tentang kecelakaan pesawat yang di alami oleh orang tua Nayla.
"Kasihan sekali Nayla" Lirih Risa sendu.
"Dan yang terbaru bu" kata Pandu melanjutkan ceritanya. "Dia kembali menjual Nayla kepada orang kaya di Jogja, padahal dia sangat tahu jika Nayla sudah ku beli dan menjadi istriku, tapi dia tetap nekad. Pas kemarin kami ke Jogja, kebetulan kami menemukan kertas informasi soal berita pencarian orang, Nayla tahu kalau orang dalam pencarian itu adalah Nancy. Kami langsung bertanya pada si penjual bunga. Dari situ kami tahu semuanya bu"
"Kejam sekali tantenya" Racau Risa.
"Tapi Nayla justru tidak terima dengan penangkapan tantenya tadi siang, dia bahkan nyaris membantu Nancy kabur dariku"
"Nancy ada bersamamu Pandu?"
"Iya bu, semenjak tahu berita pencarian Nancy, aku langsung mencarinya di bantu oleh Alvin, dan ketika kami sudah menemukannya, kami langsung menyekapnya di apartemenku"
"Jadi hanya karena tantenya mau di masukkan ke penjara, lantas Nayla bersedih?"
Pandu mengangguk "Dia juga marah padaku bu?"
"Kok marah?"
"Ya karena aku sendiri yang sudah menyerahkan Nancy ke konglomerat itu"
"Iya bu"
"Ternyata nasib Nayla lebih miris dari pada nasib ibu. Anak sebaik Nayla, tantenya malah tega menjualnya"
Risa menggelengkan kepala. Benar-benar tak percaya dengan cerita Pandu. Tapi begitulah faktanya.
"Ya sudah kamu hibur dia, beri pengertian kalau kita memang harus menghukum Nancy"
"Sudah bu, tapi tetap saja dia memintaku untuk memberikan kesempatan supaya Nancy berubah. Namun permintaan Nayla ku tolak"
"Bagus Pandu, kita bisa saja memaafkannya, tapi jangan sampai tidak menghukumnya. Orang seperti Nancy tidak akan pernah bisa berubah. Ibu setuju jika dia mendekam di penjara" Geram Risa menahan emosi.
"Aku tidak rela orang yang sudah menyakiti wanitaku menghirup udara dengan bebas"
"Coba pelan-pelan kamu ngomong ke istrimu"
"Iya bu" sahut Pandu lalu menyuapkan suiran jeruk terakhir ke mulutnya.
"Ayo aku bantu ibu duduk di ruang tv"
"Iya"
Pandu menuntun Risa melangkah menuju sofa, lalu membantunya meyalakan televisi.
"Aku ke kamar dulu bu"
"Iya nak, tapi sebelumnya tolong sambungkan ibu ke Tania, ibu kangen pengin dengar suaranya"
"Baik bu" Pandu segera meraih ponsel ibunya dan menelpon sang adik. Begitu tersambung, pria itu langsung menyerahkan benda tipis itu ke tangan Risa.
Di kamar, tak ada Nayla di sana. Namun saat Pandu mengalihkan pandangan ke arah kamar mandi, pintunya tertutup rapat suara airpun terdengar sangat jelas. Sudah pasti Nayla berada di dalam sana.
Pria itu langsung menuju ke balkon untuk menyesap rokok.
Selang sepuluh menit, Nayla keluar. Sementara Pandu sudah sekitar dua menit lalu duduk di atas ranjang sambil menatap notebook.
__ADS_1
Pandangan mereka bersirobok, namun hanya sesaat sebab Nayla buru-buru memutus kontak mata mereka.
"Mau sampai kapan kamu diam?" tanya Pandu dengan mata lekat menatap Nayla.
Duduk di kursi rias, Nayla tak merespon ucapan suaminya.
"Kamu masih punya telinga kan, masih berfungsi dengan baik juga kan?"
Nayla bungkam, ia masih menutup rapat mulutnya.
"Mulutmu cuma buat pajangan?" cicitnya lagi.
Merasa geram dan habis kesabaran, Pandu berdiri lalu menghampiri Nayla yang duduk di kursi rias sedang mengoles sesuatu di wajahnya.
"Kamu kalau marah ya marah saja jangan diam" Pandu mengungkung tubuh Nayla dari arah belakang. Badannya membungkuk, kedua tangannya mendarat di sisi meja rias, sementara dagunya berada di puncak kepala Nayla.
"Bagaimana caranya memberitahumu, kalau seseorang yang sudah berbuat kesalahan memang berhak mendapatkan hukuman?"
"Tapi dia tanteku"
"Berarti kamu pendukung para penjahat" Ucap Pandu tanpa ragu. "Jangankan tantemu, anakku saja jika melakukan kesalahan akan ku hukum"
"Kamu mau menghukum Kellen"
"Tidak kalau dia tidak melakukan kesalahan. Tapi jika anak kita berbuat salah, kita wajib memberikan hukuman, iya kan?"
Hening, Nayla mempertemukan netranya melalui cermin.
"Supaya dia bisa belajar dari kesalahan melalui hukuman yang kita jatuhkan padanya. Itulah yang terbaik. Sama halnya tantemu, kita perlu menghukumnya, supaya dia belajar, dan tidak mengulang kesalahan lagi di lain waktu"
Pandu menegakkan dirinya usai mengatakan itu. Lalu meraih tangan Nayla dan membawanya ke arah ranjang.
"Duduk" perintah Pandu saat langkahnya berada di tepian ranjang.
Nayla pun menurut. Mereka duduk saling berhadapan di atas kasur.
"Aku janji, saat kita ada waktu mengunjungi makam papa mama, kita juga akan menengok tantemu di penjara"
"Tapi dia pasti marah dan tidak akan menganggapku keponakannya sebab sudah tega menjebloskannya ke penjara"
Pandu tersenyum sebelum kemudian berkata.
"Dia memang sudah tidak menganggap kamu keponakannya Nayla" Kata Pandu berusaha memberikan pengertian. "Seorang tante tidak akan jahat pada keponakannya, kalau mereka sudah menyiksa itu artinya mereka sudah tidak menganggap kita bagian dari keluarganya. Dan kamu, sudah sejak dulu tidak di anggap oleh nancy"
Nayla menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya dengan berat.
"Kamu tahu, kenapa Nancy ingin sekali membawamu ke Jogja?"
Nayla mengangguk.
"Dan kalau kamu sampai di bawa, lalu di serahkan pada den Aji, kamu pasti tidak akan pernah bertemu dengan kami. Aku tidak masalah tidak bertemu denganmu, tapi Kellen? Anak yang kamu kandung dan kamu lahirkan. Apa kamu setega itu sama anakmu sendiri?"
Kali ini Nayla menggeleng. Jelas tidak mungkin seorang ibu mampu berpisah dengan anak kandungnya.
"Pikirkan itu, jangan pikirkan tantemu yang sudah jahat sama kamu. Aku dan Kellen sangat membutuhkanmu"
"Maaf" ucapnya menunduk.
Pandu langsung menggenggam tangannya erat, detik kemudian menariknya ke dalam pelukan.
"Aku tidak pernah bisa membayangkan hidupku tanpamu, jadi mengertilah kalau aku melakukan ini, karena ingin kamu aman. Biarkan tantemu menuai apa yang dia perbuat. Kita doakan agar setelah keluar dari sana, dia membawa perubahan dan bisa bersikap layaknya seorang tante untukmu"
Wanita itu hanya diam, tapi diamnya justru sangat paham dengan apa yang suaminya katakan.
"Janji ya, mas akan membawaku jenguk tante Nancy jika kita pulang ke Jogja"
"Untukmu, pasti akan ku lakukan. Apa yang kamu inginkan, aku akan berusaha keras mengabulkan keinginanmu"
Pandu mengurai pelukannya, lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Nayla.
"Aku ingin kamu bahagia, tanpa di usik oleh tantemu atau siapapun"
"Thankyou"
"No, kamu tidak perlu berterimakasih. Kamu adalah belahan jiwaku, sebagian dari hidupku, sudah kewjibanku memberikan yang terbaik untukmu"
Mereka kembali berpelukan sesaat, kemudian saling mempertemukan bibir setelah mengurai pelukannya. Ciuman yang sudah menjadi candu bagi keduanya.
__ADS_1
...🌷End🌷...