
Delita tak mampu lagi menahan bendungan air yang kini telah memenuhi pelupuk mata. Kondisi seperti ini adalah sesuatu yang menyakitkan baginya. Belum lagi jika dia mempertemukan netranya dengan Pandu, tak ada lagi sorot cinta yang terpancar dari manik hitam milik Pandu. Yang ada hanyalah tatapan nanar yang dia sendiri tidak tahu apa maksudnya.
Kamu harus menyelamatkan mamahmu. Kata-kata itu terus mengiang di telinga Delita.
Ketika wanita berparas imut itu hanya bungkam, Nayla berjalan ke arah Hermawan yang berada tak jauh di belakang Delita. Hanya lima langkah yang harus di tempuh oleh Nayla.
"Setelah anda tidak mau menyelamatkan anak-anak anda" kata Nayla pelan namun sangat tajam, setajam sorot matanya yang berkilat merah penuh amarah "Apa sekarang anda juga tidak mau menyelamatkan istri anda?" Terlihat jakun Hermawan bergerak naik turun. "Kejam sekali anda" tambah Nayla Sarkastis, lengkap dengan sorot kebencian yang kian lebih.
"A-apa yang harus ku lakukan?" tanyanya tergagap.
"Bodoh" desis Nayla. "Untuk apa anda berdiri disini, jika tidak mendengarkan ucapanku pada Delita beberapa menit lalu?" Entahlah, Nayla menjadi sangat berani begitu tahu bahwa Pipo itu Pandu, menjadi sangat nekad ketika mendengar sang suami akan menikahi adiknya. Rasanya ketakutan dan bahaya sama sekali bukan rintangan untuknya. Bahkan dia sudah siap dengan kemungkinan terburuk.
"Perlu aku ulangi?" tanya Nayla.
Hening, Hermawan tak berani menyahut pertanyaan sang menantu.
"Aku beri waktu lima menit untuk menyelamatkan istrimu, jika tidak" Nayla menggantung ucapannya, lalu tersenyum miring sebelum kemudian kembali bicara. "Hidupmu akan berakhir sampai disini" Senyum miring itu kembali ia terbitkan, bahkan terkesan sengit dari sebelumnya.
Mendengar ucapan Nayla yang berbalut ancaman, Hermawan tak mampu berkutik, Ia segera mengambil langkah menghampiri Delita.
"Deli, lebih baik kamu menikah dengan Alvin, kita selamatkan mamah" Bujuk Hermawan. "Kamu akan lebih bahagia dengan Alvin dari pada dengan Pandu"
"Timkei?" tanya Delita. Maksudnya, dia bertanya kenapa sang papah bisa mengatakan bahwa dirinya akan lebih bahagia hidup bersama Alvin.
"Alvin lebih baik dari pada Pandu" jawab Hermawan. Padahal Pandu sangat berharap pria itu akan mengatakan bahwa dirinya adalah anak kandungnya.
Bersamaan dengan itu, Pandu berjalan menghampiri Nayla, lalu menggenggam tangannya erat untuk berjaga-jaga takut Alvin atau siapapun tiba-tiba menyerang istri kesayangannya.
__ADS_1
Dan Nayla menerima genggangam Pandu. Kalau saja tidak di hadapan Delita, sudah pasti dia akan menepis tangan suaminya sebab rasa kesal masih bersarang di benaknya.
"Ayolah Delita, jangan mengulur waktumu" Ujar Nayla. "Jika kamu menikah dengannya, maka suamiku akan mengembalikan semua asset yang seharusnya Alvin kelola, dan kamu Delita, akan menjadi nyonya satu-satunya di Star Company Group"
Sontak ucapan Nayla membuat Devano dan Hermawan mengalihkan perhatian padanya.
"Karena pemilik Star Company yang sebenarnya adalah Alvin bukan Pandu" Lanjut Nayla sambil melirik ke arah suaminya.
Pandu menghela napas pelan, ia bahkan akan menyetujui apapun yang di katakan Nayla. Meskipun harus menyerahkan semua asset Alvin, dan berharap Alvin akan mengelolanya dengan baik sesuai pesan mendiang papahnya. Pandu berharap Alvin akan berubah menjadi lebih dewasa dan tidak menghamburkan uang hanya untuk kesenangan sesaat.
"Del, aku rasa kamu memang lebih baik menikah dengan Alvin" Devano tahu-tahu sudah berada di samping Delita. "Demi mamah Del. Kalau kamu tidak mau menyelamatkan mama, dan menolak pernikahan ini, aku tidak akan memaafkanmu, begitu juga dengan papah"
Devano hanya beralasan. Padahal dia hanya menginginkan Delita menikah dengan pria kaya, agar harta mamahnya tidak perlu terbagi dua.
Dilema itulah yang saat ini Delita rasakan, namun jika menyaksikan perlakuan Pandu terhadap Nayla, sorot benci tiba-tiba terpancar dari matanya.
Menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, secepatnya Delita harus mengambil keputusan. Keputusan yang sama sekali tidak ia duga dan tidak pernah ia bayangkan. Sesuatu yang tidak ingin dia tentukan, tapi melihat sang mamah yang semakin lemah, membuatnya tak bisa berbuat apapun. Menerima pinangan Alvin, adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan wanita yang telah melahirkannya.
"Sembilan" Lanjut Alvin tanpa memperdulikan apapun.
"Delapan. Aku hanya memberimu waktu sepuluh detik Delita"
"Tujuh" lanjutnya spontan.
"Aku akan menikah denganmu" kata Delita akhirnya. "Tapi aku tidak akan memberikan cinta untukmu. Karena pernikahan ini adalah suatu keterpaksaan"
Tersenyum miring, Alvin merespon ucapan Delita.
__ADS_1
"Aku tidak peduli Delita, yang penting kamu menjadi miliku"
Ucapan Alvin barusan, terdengar sangat menyeramkan di telinga Delita.
Disaat Delita dengan rasa nyeri memutuskan sesuatu yang sudah dia tentukan, media justru tersenyum bahagia karena ini pasti akan menjadi berita yang menguntungkan dan meraup miliaran rupiah. Akan menjadi tranding topik selama beberapa minggu kedepan, dengan berbagai judul dan opini dari para media.
Masalah yang seharusnya tidak di pertontonkan, justru akan menjadi berita terhangat dan menjadi konsumsi public, dari keluarga seorang pengusaha sukses dan rajanya judi. Pria yang juga pernah di kabarkan menjalin hubungan dengan artis ternama.
Bukan sosok Delita yang menjadi ratu tranding dalam berita ini melainkan Nayla, sosok yang selama ini di anggap sangat misterius oleh media.
****
Usai ikrar pernikahan di ucapkan oleh Alvin, tiba saatnya mereka saling menyematkan cincin di jari mereka. Cincin yang Pandu beli, ternyata adik tirinyalah yang akan memakaikan di jari manis Delita.
"Berikan kenyamanan untuk Delita, jangan kamu paksa apalagi bersikap kasar padanya" Nasehat Nayla untuk Alvin. "Aku sudah memenuhi janjiku, dan setelah ini, aku akan memenuhi janjiku yang lain. Memindahkan semua asset-asset ayahmu ke tanganmu, dan akan memberikan kasih sayang bu Risa untuk menggantikan kasih sayang ayahmu"
Ucapan Nayla benar-benar mampu membungkam mulut Pandu.
"Tapi ingat, kamu harus berdamai dengan kakak tirimu dan memperhatikan adik kandungmu Tania. Kamu tidak ingin karmamu jatuh pada Tania bukan?" Tanya Nayla "Maka jadilah kakak yang baik untuknya"
Alvin hanya diam, ia terlalu gengsi untuk membenarkan ucapan Nayla, tapi hatinya menolak untuk menyalahkan perkataannya.
Kini, Nayla menempatkan dirinya di hadapan Delita. Terdiam seraya menatapnya penuh lekat, namun Delita tak berani membalas tatapan Nayla, dia hanya menunduk dengan gelegak kebencian.
"Setelah ini, kamu minta penjelasan yang masuk akal kepada papahmu, kenapa dia bersikeras melarangmu menikah dengan Pandu" Imbuh Nayla yang membuat Delita langsung mempertemukan pandangannya.
"Kenapa harus ke papah? kenapa bukan kamu?" tanya Delita datar.
__ADS_1
"Tanyakan ke papahmu terlebih dulu, jika papahmu tidak memberikan jawaban yang tepat menurutmu, kamu bisa mencariku untuk mendapat jawabannya" Santai dan cukup tenang ucapan Nayla.
Bersambung