Macau Love Story

Macau Love Story
Kondisi Hermawan


__ADS_3

Jujur, aku menyimpan banyak pertanyaan di dalam benakku, tapi melihat bagaimana raut wajah mas Pandu yang tampak sekali gurat kecemasan dan kepanikan, sepertinya pertanyaanku akan tertelan mentah-mentah.


Aku menerka-nerka apa kira-kira yang telah membuat mas Pandu sepanik ini. Tidak mungkin terjadi sesuatu pada ibu atau anak kami mengingat jalan yang mas Pandu lalui saat ini bukanlah arah jalan pulang, atau bisa saja ibu di larikan ke rumah sakit? ah apapun itu, aku tidak berani menanyakan pada pria hebatku yang kini tengah fokus mengemudi.


Ketika aku kembali meliriknya, pandangan mas Pandu benar-benar lurus ke depan dengan wajah datar dan tanpa ekspresi. Siku tangannya bertumpu pada sisi jendela, sementara telapak tangannya menutupi bagian hidung ke bawah, tangan lainnya mendarat di atas roda kemudi untuk mengendalikan mobilnya.


Apa mas Pandu sudah menemukan keberadaan pak Hermawan?


Tapi kenapa terlihat begitu cemas dan tampak terburu-buru.


Atau mungkin terjadi sesuatu padanya?


Otakku terus berputar-putar memikirkan pertanyaanku sendiri. Menghela napas berat, aku bergerak menumpukkan siku tangan di sisi jendela sebelah kiri, sama persis dengan posisi mas Pandu. Hanya saja telapak tanganku aku gunakan untuk menopang sisi kepala.


"Pelan-pelan saja mas"


Tak ada jawaban dari mas Pandu, dan aku maklum. Aku harus bisa menahan diri untuk tak mengeluarkan rentetan kalimat ataupun pertanyaan, toh apa yang keluar dari mulutku, tak akan mendapat respon darinya.


Perlahan mobil mas Pandu memasuki sebuah apartemen dengan bangunan yang sepertinya cukup lawas, terlihat sekali dari catnya yang sudah usang.


Apartemen yang hanya memiliki lima lantai dan sepertinya setiap unitnya berukuran sangat kecil.


"Kita turun sayang" ucap mas Pandu seraya melepaskan setbelt.


Akupun menurut begitu saja meski masih sedikit bingung dengan maksud mas Pandu membawaku kemari, tempat yang sangat asing bagiku sebab selama disini aku memang tidak pernah keluar kecuali ke kantor mas Pandu dan mall yang tak jauh dari rumah kami.


Begitu kami keluar dari mobil, mas Pandu langsung menggandeng tanganku lalu sedikit berlari mengarahkan kaki ke gedung berlambang F.


Karena apartemen ini hanya memiliki lima lantai, tak ada lift untuk menuju lantai yang akan kami tuju. Dengan langkah tergopoh, mas Pandu membawaku menaiki tangga menuju lantai tiga.


Napasku benar-benar tersengal, dan bekas jahitanku di perut agak sedikit nyeri. Sepertinya mas Pandu lupa bahwa aku baru sebulan melahirkan anaknya.


"Pelan-pelan mas, bekas jahitanku sakit"


Mas Pandu menghentikan langkahnya begitu mendengar ucapanku, wajahnya menoleh padaku dan pandangannya langsung jatuh ke bagian perutku.


"Maaf" ujarnya singkat, lalu kembali melangkah kali ini langkahnya tidak terburu-buru seperti tadi.


Tepat ketika kami sampai di lantai tiga, telingaku menangkap suara gaduh seperti baku hantam. Mas Pandu langsung berlari ke arah sumber suara dan detik itu juga sepasang mataku menatap pria paruh baya yang tampak lengah dengan wajah lebam dan mengalirkan cairan merah dari sudut bibirnya.


"Ayah" lirih mas Pandu.


Aku terkejut melihat ayah di pukuli oleh dua orang pria hingga nyaris pingsan. Entah alasan apa mereka memukulinya, dengan cepat mas Pandu langsung menghentikan orang itu.


"Stop!" pekiknya sambil menahan tangan orang yang hendak meraih tubuh ayah yang terbaring lemah di lantai ubin.


"Apa yang kalian lakukan hah?" tanya mas Pandu dengan mata berkilat merah.


Mas Pandu berdiri di hadapan mereka dengan amarah yang ku yakini sudah memuncak di level paling atas. Detik itu juga dia melempar tonjokan pada salah satu pria itu, pria lainnya ku lihat seperti terkejut.


"T-tuan Pandu?" ucapnya terbata.


Sementara Aku tak peduli dengan mas Pandu yang sedang memukuli kedua pria itu secara bergantian. Fokusku kini sudah beralih ke ayah yang sudah tak berdaya namun masih sadar.

__ADS_1


"Kenapa kalian memukulinya?"


"D-dia tidak membayar sewa apartemen s-selama dua bulan tuan"


"Tapi kalian tidak harus memukulinya kan?" bentak mas Pandu dengan amarah yang kian memuncak.


"Kami sudah memintanya baik-baik tuan, dia selalu bilang akan membayarnya tapi sampai sekarang belum juga di bayar"


"Berapa uang sewanya?"


"Delapan ribu Mop $8000 tuan"


Belum sempat mas pandu menjawab, aku melihat ayah memejamkan mata. Detik itu juga aku berteriak memanggil mas Pandu.


"Ayah lebih penting mas" ucapku sedikit meninggikan nada suara.


Ku lihat tangan mas Pandu yang tengah mencengkram krah baju salah satu pria itu mendorongnya kuat-kuat hingga pria itu tersungkur ke lantai.


"Kita harus bawa ayah ke rumah sakit" lanjutku setelah mas Pandu ikut berlutut.


"Kamu beri mereka sepuluh ribu dolar Nay"


Aku langsung membuka tasku lalu meraih uang dalam dompet sesuai dengan jumlah yang mas Pandu katakan, kemudian menyerahkan uang itu tanpa mengatakan apapun. Setelahnya, aku melangkahkan kaki mengekor di belakang mas Pandu yang sudah menggendong ayah di balik punggung menuruni anak tangga.


Setibanya kami di rumah sakit, kami di suruh menunggu di luar selagi dokter dan suster memeriksa kondisi ayah.


Aku duduk di samping mas Pandu yang sikunya bertumpu di atas paha dengan kedua tangan saling menyatu.


Tanganku melingkar di lengan mas Pandu, lalu menempelkan keningku di pundaknya.


Aku meresponnya dengan bahasa tubuh, menggeleng.


"Hubungi dia beritahu kalau ayah di rumah sakit"


Mendengar perintah mas Pandu, aku menjauhkan keningku dari pundaknya untuk mempertemukan netra kami.


"Sekarang?" tanyaku sedikit ragu. "Apa tidak sebaiknya nanti saja setelah dokter memeriksanya, takutnya dia shock?"


"Sekarang saja tidak apa-apa" balas mas Pandu sambil mengusap punggung tanganku.


Dengan terpaksa aku mengurai tanganku yang melingkar di lengan kanannya karena harus menghubungi Delita.


"Halo kak?"


"Del, kamu ke University Hospital sekarang"


"Ada apa kak"


"Ayah masuk rumah sakit"


"Ayah!" ucap Delita bingung.


"Maksudku pak Hermawan, papahmu"

__ADS_1


"Papah di rumah sakit kak? kenapa? apa yang terjadi dengannya?"


"Kamu kesini ya, nanti kami ceritakan semuanya"


"I-iya kak, aku segera kesana"


"Kamu hati-hati"


Usai ucapanku di iyakan oleh Delita, aku langsung memutus panggilanku.


"Sudah?" tanya mas Pandu.


"Sudah" sahutku sambil menyimpan ponselku ke dalam tas.


Aku kembali melingkarkan tangan di lengan mas Pandu.


Cukup lama kami menunggu, netraku melihat Delita yang tengah berlari menyusuri koridor rumah sakit.


Aku dan mas Pandu langsung berdiri ketika Delita sudah berada di hadapan kami.


"Papah gimana kak?" tanyanya dengan manik hitam bergerak ke arah mas Pandu lalu ke aku.


"Masih di periksa dokter Del" jawab mas Pandu.


"Papah" lirihnya pelan dengan air mata yang sudah luruh. Mas Pandu langsung membawa sang adik ke dalam pelukannya.


"Papah pasti baik-baik saja"


"Apa yang terjadi kak?"


Sebelum menjawab, ku dengar helaan napas berat darinya. "Seseorang memukulinya" ujarnya terus mengusap punggung Delita lembut.


"Timkei a?"


Delita menjawabnya menggunakan bahasa cantonese. Kenapa? itulah artinya.


"Duduklah" perintah mas Pandu setelah mengurai pelukannya.


Mas Pandu pun mulai menceritakan kejadian itu lengkap dengan alasan mereka memukuli ayah.


Selang sekitar sepuluh menit, tiba-tiba seseorang membuka pintu ruang darurat perawatan.


"How is our fathers condition?" tanya mas Pandu menggunakan bahasa inggris, yang ku tahu kurang lebih artinya menanyakan tentang kondisi ayahnya.


"Still very weak" jawab si dokter. Jujur aku tidak paham apa artinya. "We will do a ct-scan and x-ray to find out if there are internal injuries or not"


Dari kalimatnya sepertinya akan di lakukan ronsen atau sinar x ray untuk mendiagnosa kondisi dalam tubuhnya.


"Can we see?"


"Of course" sahutnya ramah lengkap dengan seulas senyum.


Kami pun melangkah memasuki bangsal milik ayah.

__ADS_1


Kondisinya benar-benar memprihatinkan, dalam hal ini entah kenapa sebagian dari pikiranku menyalahkan mas Pandu. Andai saja dulu dia tidak mengusirnya ketika ayah berkunjung ke rumah, dan menyuruhnya tinggal di salah satu unit apartemen milik mas Pandu, mungkin tidak akan seperti ini.


Bersambung


__ADS_2