
"Kau Ales?!" Selia terkejut melihat orang yang berada di depannya.
Dia adalah Ales Viorlan, pengawal pribadi dari selir pertama kaisar Erlin yang merupakan ibu Zen.
Setelah kematian ibu Zen, dia menghilang. Lalu setelah beberapa bulan, didapat kabar kalau dia menculik banyak orang dan dia menjadi buronan.
Tapi, sampai sekarang dia belum ditangkap juga dan karena itu dia menjadi buronan peringkat S.
"Kenapa kau menculikku?" Tanya Selia.
"Saya ingin mengambil kekuatan anda, Putri." Ucap Ales.
"Untuk apa?"
Ales terdiam sesaat, lalu dia berkata "Untuk menghidupkan yang mulia selir pertama kembali."
Selia terkejut 'Menghidupkan ibu selir pertama kembali? Apa itu mungkin?' Terlihat sebuah harapan di mata Selia.
Ales tersenyum melihat harapan di mata Selia "Putri, anda menyayangi selir pertama bukan? Dan anda ingin menghidupkan selir pertama kembali bukan?"
Selia melihat Ales, lalu dia menunduk dan mengangguk.
"Ya, aku ingin ibu selir pertama hidup kembali." Selia meneteskan air mata mengingat ibu selir pertama.
"Kalau begitu, berikan kekuatan anda. Dengan kekuatan itu, saya bisa menghidupkan kembali selir pertama." Ucap Ales.
"Baiklah," Selia mengangkat kepalanya dan dia tersenyum "Tapi tolong lepaskan Lak dan juga, tolong hidupkan kembali ibu selir pertama."
"Baik, Putri."
Wia memberikan batu penyimpan sihir pada Ales, Ales mengambilnya lalu mengambil sihir Selia.
Tapi, saat hampir setengah dari sihir Selia diambil, Lisia dan Zen datang dan menyerang Ales menggunakan sihir.
Ales menghentikan pengambilan sihir Selia dan menghindar.
Ales melihat Lisia dan Zen "Kalian datang lebih cepat dari dugaanku." Ales menatap tak suka pada Lisia dan Zen.
'Ales!' Batin Zen.
Lisia melihat Selia yang sedang pingsan saat ini.
Lisia melihat Zen, seakan tahu apa yang dipikirkan Lisia, Zen mengeluarkan pedangnya dan menyerang Ales dan Wia.
__ADS_1
Lisia berlari menuju Selia, dia segera menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan Selia.
'Kenapa dia tidak melawan saat sihirnya diambil?' Batin Lisia.
Lisia melihat Zen, dia saat ini sedang bertarung dengan Ales dan Wia.
Lisia berdiri dan pergi membantu Zen. Sementara Selia saat ini sedang disembuhkan oleh sihirnya.
Lisia mengeluarkan pedangnya dan menyerang Wia. Wia menghindari tebasan pedang Lisia.
Wia menggunakan sihir bayangan dan menyerang Lisia dari belakang. Lisia menebas bayangan Wia yang berada di belakangnya, membuat Wia kaget.
Lisia menendang Wia sehingga terbentur ke tembok. Lisia berniat menusuk jantung Wia menggunakan pedang tapi dihentikan oleh suara Selia.
"Jangan membunuhnya!" Ucap Selia.
Lisia mengurungkan niatnya. Dia menancapkan pedang itu ke tembok tepat di sebelah leher Wia.
Wia gemetar ketakutan melihat Lisia. Di matanya saat ini, Lisia benar-benar menyeramkan.
Lisia menggunakan sihir tidur dan membuat Wia tertidur.
***
Sementara itu, Zen dan Ales masih bertarung saat ini.
Mereka berbicara sambil bertarung.
"Anda adalah orang kedua yang paling mengenal saya, jadi anda pasti tahu kalau saya tidak akan mati dengan mudah." Ucap Ales tersenyum.
Zen menatap mata Ales "Kenapa kau menghilang? Untuk apa eksperimen manusia itu?"
Senyum di wajah Ales menghilang mendengar pertanyaan Zen "Jadi anda telah mengetahuinya."
Ales berhenti menyerang Zen, melihat Ales yang berhenti Zen juga ikut berhenti.
"Pangeran, apakah anda ingin yang mulia selir pertama hidup kembali?" Tanya Ales dengan wajah serius.
Zen terkejut mendengar pertanyaan Ales "Menghidupkan ibu kembali? Itu tidak mungkin." Ucap Zen.
"Memang terdengar mustahil, tapi saya akan mencoba melakukannya. Saya mengambil kekuatan banyak orang demi ini." Ucap Ales.
Mendengar perkataan Ales, Zen teringat sesuatu. Tentang sihir terlarang yang katanya bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati "Jangan-jangan... kau ingin menggunakan sihir terlarang itu?"
__ADS_1
Ales tersenyum "Anda benar, pangeran."
"Kau sudah gila. Bahkan bila kau mengumpulkan sihir dari 100 ribu orang kuat sekalipun, itu tidak akan cukup untuk menghidupkan ibu kembali. Kau benar-benar sudah dibutakan oleh cintamu." Zen menatap tajam Ales.
Ales tersenyum "Ya, saya telah gila. Tapi, apapun akan saya lakukan untuk Evia."
"Saya telah merelakan Evia menikah dengan Yang Mulia Kaisar, yang penting dia bahagia dan saya menjadi pengawal pribadinya untuk mengawasinya dari dekat. Tapi," Ales teringat saat dimana Evia mati tepat dihadapannya "Evia mati."
Ales menatap Zen "Dan itu karena anda, pangeran Zen."
Zen menatap Ales datar, dia sudah terbiasa dikatai sebagai penyebab kematian ibunya sendiri.
"Lihatlah, anda bahkan tidak merasa bersalah." Ucap Ales.
"Dari pada membunuh anda, lebih baik saya mengambil semua kekuatan anda sampai anda mati dan menggunakannya untuk menghidupkan kembali Evia." Ucap Ales.
Zen tidak membalas perkataan Ales, dia menggenggam pedangnya dengan kuat "Ales Viorlan, sebagai murid dari Magic Academy sekaligus pangeran pertama kekaisaran Erlin. Aku, Zen Aslan de Erlin akan mengalahkan lalu menangkapmu."
Zen menyerang Ales dan Ales menangkis setiap serangan Zen.
Hal itu terus terjadi selama berulang-ulang, tak ada yang ingin mengalah dari mereka.
***
"Lisia, jangan menghalangiku! Aku ingin membantu pangeran Zen!" Selia berusaha pergi, tapi ditahan oleh Lisia.
"Putri, ini adalah pertarungan mereka berdua. Lebih baik kita tidak ikut campur." Ucap Lisia dengan wajah serius.
"Kenapa?!"
Lisia tidak menjawab, dia lalu menggunakan sihir tidur dan membuat Selia tertidur.
Lisia melihat Ales 'Ada yang aneh. Jika dia melakukan ini karena sihir terlarang untuk menghidupkan kembali ibu Zen, seharusnya dia mengumpulkan semua sihir yang dia dapatkan di satu batu sihir saja. Tapi, kenapa dia menyimpannya di banyak batu sihir? Dan lagi, kenapa dia mengalirkan sihir itu ke tubuh banyak orang dan bukan tubuh ibu Zen? Ada yang aneh.' Pikir Lisia.
Lisia kembali memikirkan semuanya 'Dia tidak mungkin berbohong. Apa ada orang yang menjebaknya? Tapi untuk apa?'
Lisia terpikirkan sesuatu, dia melihat ke arah dimana lab percobaan manusia itu berada 'Tunggu, bila sihir yang sangat kuat itu mengalir masuk ke tubuh para manusia percobaan itu, maka kemungkinan besar para manusia itu akan mendapatkan kekuatan yang sangat hebat. Lalu, jika tubuh mereka tidak bisa mereka kendalikan maka, kekuatannya akan mengendalikan tubuh mereka!'
Lisia berlari menuju ke lab percobaan manusia 'Itu tidak boleh terjadi! Jika jumlah mereka sebanyak itu, maka akan sangat sulit untuk mengalahkan mereka semua, apalagi dengan kekuatan yang sangat hebat itu. Misi ini bisa saja menjadi misi peringkat SS!'
Lisia tiba di depan lab percobaan manusia itu, dia membuka pintu 'Semoga belum terlambat!'
Pintu terbuka, di balik pintu terdapat seorang pria yang merupakan manusia percobaan yang berhasil keluar dari tabung.
__ADS_1
'Aku terlambat!'
Bersambung...