
Pada tanggal 21 maret, permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki, dia diberi nama Vin Akrelian de Erlin. Dia adalah pangeran pertama kekaisaran Erlin.
Setelah pangeran pertama lahir, Kaisar memberikan posisi Putra Mahkota kepadanya.
Lalu, pada tanggal 12 April, selir pertama melahirkan anak laki-laki juga. Kaisar memberikannya nama, Zen Aslan de Erlin.
***
Evia menggendong Zen yang baru saja lahir. Dia tersenyum melihat putranya.
"Mata dan wajahnya sangat mirip dengan Yang Mulia." Evia mengelus rambut Zen dengan lembut "Lalu rambutnya mirip denganku."
Ales ikut tersenyum melihat senyum Evia. Sudah lama dia tidak melihat Evia tersenyum seperti itu.
Ales berharap, Evia dapat tersenyum seperti itu selamanya.
***
10 tahun berlalu, Zen tumbuh menjadi seorang anak yang sangat baik. Dia sering keluar dari istana dan pergi ke ibukota.
Zen sangat akrab dengan penduduk kota, dia juga sering bermain dengan anak-anak seumurannya di kota.
Kadang-kadang, Evia memarahi Zen karena sering pergi diam-diam. Saat itu terjadi, Zen meminta maaf pada Evia, tapi tetap melakukannya lagi.
***
"Zen!"
Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki berlari ke arah Zen yang sedang berjalan-jalan di kota.
"Ray! Lei!" Zen tersenyum melihat kedua sahabatnya itu.
"Kau kabur lagi dari istana?" Tanya anak laki-laki bernama Ray.
Zen mengangguk lalu tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Dasar kau ini. Aku kasihan pada ibumu, pasti dia kerepotan.mengurus anak nakal sepertimu." Ucap seorang anak perempuan bernama Lei.
"Kau juga nakal, Lei." Ucap Ray datar.
Lalu mereka bertiga tertawa bersama.
***
Zen baru saja pulang ke istana, sesampainya dia di istana dia bingung dengan apa yang terjadi di istana saat ini.
Tak seperti biasanya, dimana suasana di istana selalu ramai. Kini mereka tiba-tiba diam.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zen tidak mengerti.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya, hal itu membuat Zen sedikit kesal.
Zen pergi ke istana ibunya, sesampainya di sana dia melihat ibunya yang sedang memakai pakaian serba hitam saat ini.
Seperti akan berkunjung ke pemakaman.
"Ibu, apa yang terjadi? Saat datang ke sini, aku melihat para pelayan tidak seperti biasanya." Ucap Zen.
Evia menunduk "Zen, Putra Mahkota mati, dia dibunuh oleh seseorang." Ucap Evia.
__ADS_1
Zen terkejut mendengar ucapan ibunya "Siapa yang membunuhnya?"
"Hal itu masih diselidiki." Ucap Evia.
Evia memeluk Zen dengan erat.
Semua orang tahu, kematian Putra Mahkota pasti ada hubungannya dengan tahta.
Setelah kematian Putra Mahkota, maka Zen sebagai pangeran kedua memiliki potensi yang paling besar sebagai Putra Mahkota. Apalagi, karena kekuatan dan kepintaran Zen.
Jika sampai itu terjadi, Evia takut hal yang terjadi pada Putra Mahkota juga akan terjadi pada putranya.
***
Setelah pemakaman Putra Mahkota, selir kedua dan selir kelima menghampiri permaisuri.
"Yang Mulia, anda pasti sangat sedih karena kehilangan Putra Mahkota." Ucap selir kedua.
"Tolong berhentilah bersedih, Yang Mulia." Ucap selir kelima.
Selir kedua dan selir kelima berusaha menenangkan permaisuri. Mereka berdua terlihat sedih.
Tapi, permaisuri tahu kalau wajah sedih itu hanyalah topeng yang mereka pasang.
"Terima kasih, selir kedua, selir kelima. Tapi, daripada menenangkan saya, lebih baik anda berwaspada. Karena bisa saja, orang yang membunuh putraku akan membunuh anak kalian nantinya." Ucap permaisuri.
Selir kedua dan selir kelima terkejut mendengar ucapan permaisuri.
Mereka tidak bodoh sehingga tidak tahu maksud perkataan permaisuri.
"Terima kasih atas perhatian anda, kami pergi dulu." Selir kedua pergi dari tempat itu, dan diikuti oleh selir kelima.
Saat akan pergi, Evia melihat seorang anak perempuan yang menghampiri permaisuri 'Bukankah dia, Putri Selia?'
Putri Selia, putri kelima kekaisaran Erlin. Dia adalah putri permaisuri.
Evia dan Zen kembali ke istana mereka.
Kini yang tersisa hanyalah permaisuri dan Putri Selia saja. Permaisuri melampiaskan semua kesedihannya, dia menangis.
Selia ikut menangis melihat ibunya yang menangis.
***
1 tahun telah berlalu sejak kematian Putra Mahkota.
Seperti biasanya, Zen pergi ke istana dan pergi ke ibukota.
Saat ini, Evia sedang berjalan-jalan di sekitar istananya. Dia bersama dengan Ales.
Langkah Evia terhenti mendengar sebuah suara. Dia menoleh dan melihat Putri Selia yang saat ini sedang mengejar sebuah kupu-kupu.
Putri Selia berusaha menangkap kupu-kupu itu, tapi dia tidak bisa menangkapnya.
Kupu-kupu itu terbang ke langit, sehingga Selia semakin tidak bisa menangkapnya.
Selia sedih karena dia tidak bisa menangkap kupu-kupu itu.
Melihat wajah Selia yang sedih, Evia menghampiri Selia.
__ADS_1
Selia yang melihat Evia, lalu mengangkat sedikit gaunnya dan menunduk untuk memberikan hormat "Salam kepada selir pertama."
Evia duduk untuk menyamakan tingginya dengan Evia "Anda benar-benar pintar, Putri."
Selia senang mendengar pujian Evia "B-benarkah?"
"Ya." Ucap Evia tersenyum
"I-ibu selir pertama sangat cantik." Selia ingin membalas pujian Evia.
"Terima kasih, anda juga cantik." Ucap Evia.
Selia tersenyum "Terima kasih."
"Kenapa anda bisa sampai disini? Jarak istana permaisuri dan tempat ini jauh." Ucap Evia.
"Tadi Selia mengikuti kakak pelayan, lalu Selia melihat kupu-kupu dan Selia mengejarnya. Lalu Selia bertemu dengan ibu selir pertama." Ucap Selia.
'Imut sekali.' Pikir Evia.
"Permaisuri pasti sangat khawatir pada anda. Saya akan mengantar anda kembali ke istana permaisuri." Ucap Evia.
Selia menggelengkan kepalanya "Selia satang kesini untuk menemui ibu selir pertama." Selia mengambil surat dari saku pakaiannya "Ini surat dari ibu."
Evia mengambil surat itu dan membacanya.
*Kepada selir pertama.
Aku pergi ke desa Jia selama beberapa hari, sementara itu tolong jaga Selia.
Maaf karena merepotkan, tapi Yang Mulia juga sedang pergi saat ini, dan diantara para selir, aku hanya bisa percaya padamu.
^^^-Permaisuri^^^
"Baiklah, kalau begitu, Putri tinggal bersama saya selama beberapa hari ini. Putri tidak keberatan bukan?" Tanya Evia.
Selia mengangguk "Ya, jika bersama dengan ibu selir pertama, Selia tidak keberatan."
Mereka pergi ke istana Evia, di sana tampak Zen yang baru saja kembali dari ibukota.
Zen melihat Evia yang berada di samping ibunya "Kenapa Putri Selia bersama ibu?" Tanya Zen.
"Permaisuri sedang pergi ke desa Jia selama beberapa hari. Dan dia menitipkan Putri Selia kepadaku." Ucap Evia.
"Kepada ibu? Kenapa tidak kepada ayah? Atau selir lain?" Tanya Zen.
"Ayah sedang pergi. Lalu Selia membenci ibu selir lain! Selia hanya menyukai ibu selir pertama!" Bukan Evia, melainkan Selia yang menjawab pertanyaan Zen.
"Kenapa kau membenci selir yang lain?" Tanya Zen.
"Kata para pelayan, mereka yang membunuh kakak." Ucap Selia.
Zen dan Evia terkejut mendengar ucapan Selia.
"Ibu mengetahuinya, tapi ibu tetap diam. Selir kedua dan selir kelima juga membuat ibu menangis pada saat kakak mati." Selia mengelap air matanya menggunakan tangan.
Evia memeluk Selia dan berusaha menenangkannya.
Bersambung...
__ADS_1