Magic Academy

Magic Academy
58. Festival


__ADS_3

Lisia yang saat ini berusia 14 tahun sedang belajar di ruang kerjanya.


Pintu ruang kerja Lisia terbuka. Seorang pria yang berusia sekitar 17 tahun masuk ke ruang kerja Lisia, pria itu memiliki rambut perak dan iris mata merah yang sama dengan Lisia, wajahnya juga mirip dengan Lisia. Dia adalah pangeran ketiga kekaisaran Arrilla, Arlais Jailla de Arrilla.


"Lisia!" Sapa Lais tersenyum.


Lisia tersenyum melihat kedatangan kakaknya, "Kakak!"


Lais mengelus kepala Lisia, "Bagaimana kabarmu?" Tanya Lais.


"Aku pikir kakak akan pulang besok." Ucap Lisia.


"Rencananya begitu. Tapi, aku mendengar malam ini akan ada festival di ibu kota. Bagaimana kalau kita ke sana?" Ajak Lais.


"Festival? Kedengarannya seru!" Ucap Lisia.


"Kita akan datang ke festival diam-diam. Karena kalau banyak yang mengetahuinya, tidak akan seru. Setuju?" Tanya Lais.


Lisia mengangguk, "Ya, aku setuju." Ucap Lisia tersenyum.


Lais mengeluarkan peta dari dimensi sihirnya, dia menunjuk sebuah tempat di peta itu, "Kita bertemu di sini jam 7 malam."


"Baik." Ucap Lisia.


***


Lisia saat ini sedang bersiap untuk pergi keluar istana secara diam-diam. Dia telah menggunakan sihir bayangan untuk membuat bayangan dirinya.


Sudah 6 bulan sejak terakhir kali dia bertemu dengan kakaknya, karena itu dia senang.


Jendela kamar Lisia diketuk sebanyak 7 kali. Lisia membuka jendela kamarnya. Terlihat Akara yang saat ini sedang berada di luar.


"Ada apa?" Tanya Lisia.


Akara melihat Lisia yang saat ini sedang mengenakan pakaian biasa, bukan gaun, "Kau ingin ke mana?" Tanya Akara, dia tidak menjawab pertanyaan Lisia sebelumnya.


"Festival." Ucap Lisia.


"Kita ada misi." Ucap Akara.


"Apa misi itu ada kaitannya dengan Azarka?" Tanya Lisia.


"Tidak." Ucap Akara.


"Kalau begitu, kau bisa menyelesaikannya sendiri bukan?" Ucap Lisia.


Akara menghela napas lelah, "Baiklah."


Akara menggunakan batu teleportasi dan pergi dari sana.


Lisia keluar lewat jendela. Dia tidak menggunakan sihir teleportasi, karena di dalam istana tidak bisa menggunakan sihir teleportasi. Ini dilakukan untuk mempersulit musuh yang ingin menyerang istana.


Meski orang yang bisa menggunakan sihir teleportasi di dunia ini sedikit.


Lisia tiba di tempat pertemuannya dengan kakaknya. Terlihat Lais yang sedang menunggu Lisia di sana.


"Kakak!" Panggil Lisia tersenyum senang.


"Lisia! Ayo kita pergi sekarang!" Ucap Lais.


"Ya!"


Mereka keluar dari istana, dan pergi ke ibukota.


****


Lisia dan Lais saat ini menggunakan sihir penyamaran. Karena tidak menutup kemungkinan kalau akan ada yang mengenali mereka jika tanpa sihir penyamaran.


Ibukota sangat ramai, ada banyak orang yang datang hanya untuk festival ini.

__ADS_1


"Lisia, ikut denganku." Lais mengulurkan tangannya.


Lisia menerima uluran tangan Lais, mereka pergi ke salah satu toko di sana.


"Paman, aku ingin membeli ini 2." Ucap Lais.


Paman penjual manisan itu memberikan 2 bungkus manisan pada Lais.


"Apa yang satunya untuk nona manis yang berada di samping anda?" Tanya paman penjual manisan.


"Ya, dia adalah adikku. Dia baru melihat festival, karena selama ini selalu tinggal di rumah saja." Ucap Lais.


'Tapi aku sudah pernah datang ke festival sebelumnya.' Batin Lisia.


"Kalau begitu, tidak perlu bayar. Karena ini adalah pertama kalinya nona melihat festival, anggap saja itu hadiah dari paman ini." Ucap paman penjual manisan.


Lisia tersenyum, "Terima kasih, paman!" Ucap Lisia.


"Ya, selamat bersenang-senang nona." Paman penjual manisan tersenyum.


"Ya!" Lisia mengangguk.


Lisia dan Lais pergi dari sana, mereka pergi ke sebuah tempat di mana ada permainan memanah.


"Lisia, lihat baik-baik kehebatan kakakmu ini ya!" Ucap Lais tersenyum.


"Ya!" Lisia tersenyum.


Lais memberikan uang kepada paman penjaga. Dia diberikan 3 panah kecil untuk memanah, kesempatannya untuk memanah hanya 3.


Jika tepat sasaran, maka akan mendapatkan hadiah boneka.


Lais menembakkan panah, sedikit lagi akan tepat mengenai sasaran.


"Sedikit lagi, kakak!" Lisia mencoba menyemangati Lais.


"Ya!"


"Berhasil!" Lisia tersenyum.


Paman itu memberikan boneka pada Lisia, "Ini hadiahnya." Ucap paman itu tersenyum.


Lisia mengambilnya, "Terima kasih!" Ucap Lisia.


Lisia dan Lais pergi ke tempat permainan lain.


"Bagaimana aturan permainan ini?" Tanya Lisia pada paman penjaga.


"Saya akan memberikan nona 3 bola, jika ketiga bola itu berhasil masuk di tabung, maka nona menang." Ucap paman penjaga.


"Kau ingin mencobanya?" Tanya Lais, Lisia mengangguk.


Lais memberikan uang pada paman penjaga permainan itu. Lalu, paman itu memberikan 3 bola pada Lisia.


Lisia melempar 3 bola itu, dan ketiganya berhasil masuk ke dalam tabung, "Berhasil!" Ucap Lisia.


Paman penjaga permainan itu terkejut, dia tidak menyangka jika Lisia berhasil.


Lais sama sekali tidak terkejut, dia mengelus kepala Lisia, "Kau hebat."


Paman penjaga itu memberikan Lisia boneka sebagai hadiah karena dia menang.


Mereka berkeliling dan mencoba banyak permainan. Meski ada beberapa permainan yang sulit, tapi setelah mencobanya berkali-kali, mereka pun menang dan mendapat banyak hadiah.


Lisia dan Lais beristirahat.


"Seru bukan?" Ucap Lais.


Lisia tersenyum, "Ya!"

__ADS_1


Lais mengelus kepala Lisia dengan lembut, "Kau hebat, Lisia." Ucap Lais tersenyum.


***


Lisia terbangun dari tidurnya.


Dia terdiam sejenak, lalu berdiri. Lisia mengambil air minum lalu meminumnya.


"Kenapa aku memimpikan itu? Padahal itu sudah lama..." Gumamnya.


Saat ini, Lisia sedang berada di kamar asramanya. Setelah pulang dari jalan-jalan tadi, dia tertidur.


"Kak Lais..."


Lisia melihat jam, seharusnya saat ini festival belum berakhir. Dia segera mengganti pakaiannya, lalu dia keluar dari kamar asrama.


Dia tidak tahu kenapa tadi kepala sekolah mengizinkan mereka untuk keluar. Tapi, dia akan mencoba untuk meminta izin pada kepala sekolah untuk keluar lagi. Dia tidak tahu apa akan diizinkan atau tidak, tapi dia akan mencobanya.


Lisia sampai di depan ruangan kepala sekolah.


Tok tok tok


Lisia mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.


"Masuk."


Lisia membuka pintu ruangan itu, dia melihat kepala sekolah yang saat ini sedang membaca sebuah dokumen.


"Ada apa, Arlisia?" Tanya kepala sekolah.


"Saya ingin pergi keluar." Ucap Lisia.


"Itu tidak bisa." Ucap kepala sekolah.


"Kenapa? Bukankah tadi anda mengizinkan kami untuk keluar?" Tanya Lisia.


"Karena itu, tidak bisa. Kau juga ikut pergi tadi bukan? Aku mengizinkannya agar kalian bisa membeli kebutuhan untuk turnamen nanti." Ucap kepala sekolah.


Lisia mengeluarkan sebuah pedang dan memberikannya pada kepala sekolah, "Ini adalah pedang yang dibuat oleh Mailla Killarin, saya akan memberikan pedang ini pada anda jika anda mengizinkan saya keluar."


Mailla Killarin, seorang ahli senjata yang sangat terkenal. Setiap pedang yang dibuatnya diincar oleh banyak orang. Dia telah meninggal 5 tahun yang lalu, dan sejak saat itu, banyak orang yang berebutan untuk mengambil senjata-senjata yang ditinggalkannya.


"Kau memberikan pedang berharga seperti itu hanya untuk pergi keluar? Memangnya sepenting apa urusanmu sehingga ingin pergi keluar?" Tanya kepala sekolah.


"Tidak apa-apa, karena saya memiliki banyak senjata yang dibuat langsung oleh Mailla." Ucap Lisia.


"Baiklah." Kepala sekolah tersenyum, "Aku mengizinkanmu untuk keluar."


Kepala sekolah menggunakan batu sihir komunikasi dan menghubungi penjaga yang menjaga gerbang Magic Academy, "Izinkan Arlisia Erisla de Arrilla untuk keluar."


"Terima kasih." Lisia keluar dari ruangan kepala sekolah.


Dia berlari keluar.


"Putri–" Lisia berpapasan dengan Rill, Lisia tidak berhenti, dia tetap berlari keluar.


Karena di Magic Academy tidak bisa menggunakan sihir teleportasi sembarangan, jadi Lisia tidak menggunakan sihir teleportasi.


Setelah keluar dari gerbang Magic Academy, Lisia menggunakan sihir teleportasinya dan berteleportasi ke kota Kan.


Di sana, tampak banyak kembang api diluncurkan ke langit.


Lisia menyaksikan kembang api itu. Dia ingat, 2 tahun yang lalu, dia juga menyaksikan kembang api.


Tapi berbeda dengan saat itu, kali ini dia sendiri.


Lisia tersenyum, 'Kak Lais...'


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2