
Fal terbaring tidak berdaya. Kota itu juga telah terbakar habis, orang-orang yang berada di kota telah mati, termasuk teman-temannya.
Sementara dia sebentar lagi akan mati.
'Jika saja aku lebih kuat dari ini, apa mereka akan selamat?' Fal teringat bagaimana Narz dan yang lainnya menyelamatkan dirinya.
***
Di tempat lain, tampak seorang pria berambut hitam dan iris mata berwarna emas sedang duduk di atas bangunan tua yang berada di sebelah selatan kota, pria itu memperhatikan kota yang telah terbakar habis itu dari jauh, pria itu adalah Azarka.
"Kotanya hancur dan orang-orang mati... Bahkan Rin juga mati, ternyata dia tidak seberbakat yang aku kira." Gumam Azarka.
"Tapi, gadis itu langsung membakar kota ini setelah mengetahui jika semua penduduk kota ini adalah organisasi penjahat. Bahkan dia mengabaikanku yang tiba-tiba menghilang..."
Azarka turun dari bangunan tua itu, dia merasakan aura keberadaan seseorang.
'Ternyata masih ada orang yang hidup.' Batin Azarka.
Dia berjalan pergi mengikuti dimana aura itu berada, dia melihat seorang pria yang berusia sekitar 18 tahunan yang terbaring tidak berdaya.
'Pantas saja aku baru merasakan aura keberadaannya sekarang, dia diambang mati, dan karena itu aura keberadaannya mulai menghilang.' Batin Azarka.
'Lalu..' Azarka melihat ke sekeliling pria itu, '...Ada penghalang yang membuat seseorang tidak bisa merasakan aura keberadaannya.'
Azarka menghancurkan penghalang itu, dia memperhatikan wajah pria yang ditemukannya, sepertinya tidak asing.
'Bukannya dia adalah anak yang ditemukan Narz di kota Zelen?' Batin Azarka.
'Hm... bagaimana kalau aku memanfaatkan anak ini?'
Azarka menyembuhkan Fal, dalam sekejap semua luka di tubuh Fal menghilang.
***
Fal membuka matanya.
'Bukannya aku sudah mati?' Batin Fal.
"Halo, nak." Seorang pria berambut hitam menyapa dirinya. Dia tidak mengenali siapa orang itu.
"Kau siapa? Nak? Bukannya kau terlalu muda untuk memanggilku seperti itu?" Tanya Fal. Wajah Azarka tampak seperti seumuran dengannya, atau mungkin lebih tua 1 atau 2 tahun.
__ADS_1
Azarka tersenyum "Meski wajahku terlihat muda, tapi sebenarnya usiaku jauh lebih tua darimu." Ucap Azarka.
Fal terdiam sejenak, "...Daripada itu, kenapa kau menyelamatkanku?" Tanya Fal.
Azarka menyeringai, "Apa kau ingin membalas dendam atas kematian teman-temanmu?"
Fal terkejut, dia segera menjauh dari Azarka, "Kau siapa?!"
"Tidak perlu sewaspada itu pada diriku." Ucap Azarka.
Azarka menceritakan banyak hal tentang Lisia dan organisasi sufours. Dia menyembunyikan identitasnya yabg sebenarnya.
Fal terpengaruh dengan ucapan Azarka.
Mengetahui jika Fal terpengaruh, Azarka mengulurkan tangannya, "Apa kau ingin membalas dendam?"
Tanpa ragu, Fal menerima uluran tangan Azarka, "Ya, aku akan membalaskan dendam mereka."
***
Fal melakukan semuanya sesuai petunjuk dari Azarka
Dia bertemu dengan banyak orang-orang yang memiliki.kekuatan yang kuat. Dia membuat sebuah organisasi penjahat di mana dirinya adalah ketua.
Dia memiliki 7 bawahan yang bekerja langsung di bawah dirinya, lalu ada juga orang bekerja dibawah para bawahannya.
Hingga akhirnya, tujuannya tercapai. Kini, gadis yang membunuh teman-temannya berada di depannya.
***
Kembali ke masa sekarang
Fal terus berjalan di labirin itu, dia tidak bisa menghancurkan labirin itu.
Sementara Lisia kini berada di tengah labirin, dia mengingat saat di mana dirinya membunuh teman-teman Fal. Dia tidak menyesalinya, jika dia bisa kembali ke masa lalu, dia juga akan melakukan hal yang sana.
Tapi, dia berpikir, apakah yang menyelamatkan Fal dan juga membuat Fal menjadi seperti sekarang ini adalah Azarka?
Kata-kata yang diucapkan Fal mengenai sifatnya. Kata-katanya mirip dengan kata-kata Azarka, karena itu dia yakin akan semua itu. Bahkan, informasi mengenai kekuatannya hanya diketahui oleh sedikit orang, hal itu memperkuat dugaannya.
Lalu, saat Fal mengajaknya untuk bergabung, dia tahu jika Fal tidak mungkin mengajaknya bergabung, itu pasti adalah jebakan. Padahal saat bertemu Fal pertama kali, Fal bodoh.
__ADS_1
Fal tiba di tempat Lisia.
Lisia melihat Fal, "Kau sampai lebih cepat dari dugaanku." Ucap Lisia.
Labirin itu menghilang, Lisia membuat ruangan itu kembaki seperti semula, tapi dia tidak melepas kontrol ruangan itu.
"Apakah orang yang menyelamatkanmu saat itu adalah Azarka?" Tanya Lisia.
"Dari mana kau tahu–"
Lisia memotong ucapan Fal, "Hanya tebakan."
Fal tiba-tiba berada di belakang Lisia, Lisia terkejut, dia langsung berbalik.
Fal telah mengarahkan pistol ke kepala Lisia, "Sempai kapan kau akan berpura-pura menjadi orang bodoh, putri?" Tanya Fal.
"Daripada berpura-pura, bukankah lebih cocok jika kau mengatakan kalau aku berubah." Ucap Lisia.
"Tidak, kau tidak berubah, kau masih orang yang tidak segan membunuh orang lain." Ucap Fal.
Lisia tersenyum, "Benar juga... Sama seperti dulu, aku tidak segan membunuh orang lain..." Lisia tiba-tiba berada di belakang Fal, dia mengarahkan pistol ke kepala Fal, "...contohnya seperti ini."
Lisia menarik pelatuk pistol itu. Fal segera menghindari peluru pistol itu agar tidak mengenai dirinya.
"Aku tahu, semua perkataanmu tadi adalah untuk memancingku. Mengenai sifatku, itu untuk mengingatkanku dengan seseorang yang aku benci. Lalu mengenai bergabung denganmu, setelah bergabung denganmu maka kau akan membunuhku. Benar bukan?" Tanya Lisia.
"Ketahuan ya..." Ucap Fal.
Fal menyerang Lisia menggunakan sihir es, Lisia menembak semua es itu menggunakan pistolnya.
"Ngomong-ngomong, tadi kau tidak menggunakan semua kekuatanmu saat melawan nona ketiga. Apa itu karena keempat Kaisar membatasi sihirmu?" Tanya Fal. Dia memperhatikan pertarungan Lisia dan nona ketiga dari jauh.
Lisia tidak menjawab.
"Berdasarkan reaksimu, sepertinya tebakanku benar." Fal mengeluarkan pedang, "Kalau begitu, semakin mudah untuk membunuhmu."
Fal bergerak dan dengan cepat berada di samping kiri Lisia. Lisia mengontrol ruangan dan membuat tembok berada di sebelah kirinya.
Fal menghancurkan tembok itu, dia mengangkat pedangnya dan ingin memenggal kepala Lisia. Tapi, Lisia terlebih dahulu menusuk jantungnya.
Bersambung...
__ADS_1