Magic Academy

Magic Academy
73. Memperebutkan batu teleportasi


__ADS_3

Lisia dan Everilly yang sedang berjalan tiba-tiba berhenti. Mereka saat ini sedang berpapasan dengan 2 orang perwakilan dari Wolf Academy.


"Kalian... Magic Academy ya?" Ucap seorang pria berambut abu-abu yang merupakan perwakilan Wolf Academy.


"Hei, bukankah tidak ada larangan untuk saling menyerang?" Ucap pria berambut coklat yang juga merupakan perwakilan Wolf Academy.


Lisia dan Everilly waspada, mereka bersiap untuk bertarung.


Pria berambut coklat itu tiba-tiba berada di belakang Lisia, dan akan menyerang Lisia menggunakan tangannya yang telah dia lapisi menggunakan sihir. Tetapi, Lisia menahannya menggunakan tangannya yang telah dia lapisi menggunakan sihir.


Everilly mengeluarkan pedangnya, dan bertarung melawan pria berambut abu-abu.


Pria berambut coklat itu menyerang Lisia terus menerus, sementara Lisia tetap menahan serangan pria berambut coklat itu.


"Ada apa? Kenapa kau tidak menyerang balik?" Ucap pria berambut coklat.


Lisia tidak menjawab apapun, dia hanya terus menahan serangan pria berambut coklat itu.


"Kenapa kau diam, hah?!" Pria berambut coklat itu memperkuat sihir yang dilapisi di tangannya lalu menyerang Lisia.


Lisia melapisi tangannya menggunakan sihir, lalu menahan serangan itu.


"Kau lengah." Ucap Lisia.


"Hah?" Pria berambut coklat itu bingung maksud ucapan Lisia.


Sebuah suara muncul, membuat pria berambut coklat itu menoleh ke belakang.


Sebuah es muncul dari tanah, membuat pria berambut coklat itu terperangkap dalam es.


Pria berambut coklat itu terkejut saat terperangkap dalam es, "Kau!" Dia menatap Lisia.


"Aku sudah bilang bukan? Kau lengah." Lisia tersenyum seolah mengejek pria berambut coklat itu.


Lisia melihat ke belakang, tampaknya Everilly juga sudah mengalahkan pria berambut abu-abu itu. Meski, Everilly tampak sangat lelah setelah bertarung melawan pria berambut abu-abu itu.


'Dia membuang terlalu banyak tenaga, padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.' Batin Lisia sambil memperhatikan Everilly.


Pria berambut coklat itu marah, dia menggunakan kekuatannya, seketika es yang menjebaknya menjadi retak.


Lisia berbalik, kini es itu telah sepenuhnya pecah.


"Jangan main-main denganku, kau pikir es seperti itu bisa menghentikanku?" Tampaknya, pria berambut coklat itu mulai marah.


Pria berambut coklat itu menyerang Lisia, gerakannya sangat cepat. Tetapi Lisia masih bisa menahan serangannya.

__ADS_1


"Menghancurkan es itu, bukanlah pilihan yang tepat." Lisia menatap tajam pria berambut coklat itu.


Lisia melapisi tangannya menggunakan sihir dan memukul pria itu, setelah memukulnya, Lisia menendang pria berambut coklat itu.


Pria berambut coklat itu menahan dirinya agar tidak terlempar terlalu jauh, lalu dia dengan cepat berada di depan Lisia dan menendangnya, tetapi Lisia memegang kaki pria itu untuk menghentikannya.


Lisia membekukan kaki pria itu menggunakan sihir es, setelahnya Lisia menendang pria itu sehingga di terpental jauh.


Dari jauh, Lisia menggunakan sihir es peringkat S, dia membekukan sekitarnya dan mengubah pria berambut coklat itu menjadi es.


Lisia menatap tajam pria berambut coklat itu yang telah berubah menjadi es.


Everilly mendekati pria berambut coklat yang telah berubah menjadi es itu, "Apa dia akan selamanya seperti ini?"


"Tenang saja, dia akan kembali seperti semula." Ucap Lisia.


Lisia melihat tangan kanannya, yang tadinya membeku perlahan-lahan berubah menjadi seperti semula, 'Terpaksa, aku harus menggunakan sihir peringkat S agar dia tidak bisa menghancurkan es nya.' Batin Lisia, lalu dia melirik ke arah pria berambut coklat itu yang telah berubah menjadi es.


"Kalau begitu, ayo!" Ucap Everilly.


Lisia dan Everilly lanjut berjalan. Saat melewati pria berambut abu-abu yang tergeletak di lantai, Lisia bisa merasakan kalau pria berambut abu-abu itu sadar, dia tidak pingsan.


Lisia melihat ke arah pria berambut abu-abu itu sambil terus berjalan, setelah beberapa saat dia kembali melihat ke depan.


***


"Wolf Academy tampaknya telah kalah ya." Ucap salah satu perwakilan Flower Academy, dia menyindir Wolf Academy.


"Tapi bukankah Flower Academy kalah lebih dulu?" Ucap salah satu perwakilan Wolf Academy menyindir.


Mereka berdua saling menatap tajam, lalu mengalihkan pandangan masing-masing.


***


Lisia dan Everilly terus berjalan, dari jauh, mereka melihat sebuah cahaya.


Lisia dan Everilly berhenti sejenak, lalu saling menatap. Seolah tahu apa yang dipikirkan, mereka berdua menganggukkan kepalanya.


Mereka mendekati cahaya itu dengan hati-hati.


Mereka masuk ke sebuah ruangan berbentuk lingkaran, di tengah ruangan itu, terdapat batu berbentuk kubus dengan ukiran dan terdapat batu teleportasi di atasnya.


Everilly tersenyum senang, mereka akhirnya mendapatkan batu teleportasi itu.


Tetapi, sebuah jalan tiba-tiba muncul dari samping kanan, dari sana muncul 2 orang perwakilan dari Sword Academy.

__ADS_1


Everilly terkejut melihatnya, dia berlari untuk mengambil batu teleportasi itu. Tetapi, salah satu perwakilan Sword Academy menahan dirinya. Dan perwakilan Sword Academy yang lain berlari untuk mendapatkannya, tetapi Lisia dengan cepat menghentikannya.


Lisia berhadapan dengan seorang gadis berambut merah muda. Gadis itu tersenyum, "Putri Arlisia ya?" Ucapnya.


Gadis berambut merah muda itu menjauh, dia mengeluarkan pedangnya, Lisia juga mengeluarkan pedangnya.


Mereka saling menyerang, Lisia menahan setiap serangan gadis berambut merah muda itu, dan menyerangnya balik.


"Aku sering mendengar rumor tentang kekuatanmu, Putri." Ucap gadis berambut merah muda itu tersenyum.


"Aku juga sering mendengar rumor tentang kekuatanmu, Gierella Aireka." Lisia menatap gadis berambut merah muda itu.


"Sebuah kehormatan Putri mengenal saya." Ucap Gierella tersenyum.


Lisia tidak menjawab, dia memperhatikan gaya bertarung Gierella, 'Dia... sedang mencari tahu kelemahanku ya?' Batin Lisia.


Lisia tiba-tiba berhenti menyerang. Gierella yang melihat itu juga berhenti menyerang Lisia.


Lisia menggunakan sihir es, dia membekukan sekitarnya agar membuat Gierella kesulitan bergerak.


Setelah itu, Lisia menggunakan sihir cahaya peringkat S, dia menyerang Gierella dengan sangat cepat.


Gierella menahan setiap serangan Lisia, dia juga menggunakan sihir cahaya untuk mengimbangi kecepatan Lisia. Meski, dia kesulitan bergerak dikarenakan lantai yang membeku saat ini.


Lisia saat ini melapisi pedangnya menggunakan sihir, semakin lama dia semakin mempercepat serangannya untuk membuat Gierella kesulitan.


'Dia masih bisa mengimbangi kecepatanku.' Batin Lisia.


Setelah terbiasa dengan serangan Lisia, Gierella mulai menyerang juga. Meski Lisia bisa menahan serangannya dengan mudah.


Tetapi, Lisia tiba-tiba memperlambat serangannya, membuat Gierella lebih mudah menyerangnya. Tetapi, Lisia masih bisa menahan serangan Gierella itu.


Lisia menyalurkan kekuatannya ke pedangnya, setelah itu dia dengan cepat menunduk dan menusuk kaki Gierella menggunakan pedang.


Gierella kesakitan, serangannya berhenti. Lisia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia menggunakan sihir esnya dan membuat Gierella terjebak dalam es.


"Gierella kalah ya?"


Lisia menoleh, dia melihat pria berambut ungu yang merupakan perwakilan dari Sword Academy itu telah berhasil mengalahkan Everilly.


Lisia melihat Everilly, dia terluka akibat pria berambut ungu itu, meski tampaknya dia masih bisa bertarung.


Lisia dengan cepat berlari untuk mengambil batu teleportasi itu, tetapi pria berambut ungu itu lebih cepat mengambilnya karena jaraknya yang lebih dekat.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria berambut ungu itu mengaktifkan batu teleportasi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2