
Sudah 3 hari berlalu sejak Lisia menjalankan misi untuk mendapatkan informasi mengenai organisasi penjahat.
Meski pada awalnya dia hanya diminta untuk mendapatkan informasi, tapi pada akhirnya dia dan yang lain berhasil menangkap bos dari organisasi penjahat itu, Fal.
Fal saat ini dipenjara, dia juga dirantai menggunakan rantai anti sihir agar dia tidak kabur. Keputusan untuk hukuman Fal, katanya akan diputuskan nanti.
Anak buah Fal yang masih hidup juga ditangkap oleh Magic Academy.
Dan mengenai kota Lijian, mereka mendapatkan bantuan dari Magic Academy.
Kota Lijian sedari dulu memang tidak pernah dipedulikan oleh Kaisar Arkailian. Bukan hanya Etian, tapi kaisar-kaisar sebelumnya tidak mempedulikan kota Lijian.
Membuat penduduk di kota itu kelaparan dan kehausan. Jika ada wanita yang hamil, maka dia akan menggugurkan kandungannya karena tidak ingin menambah beban.
Bukan hanya kelaparan, tetapi juga kekerasan. Biasanya, kekerasan dilakukan untuk melampiaskan emosi. Kota itu juga sering terkena wabah penyakit, sehingga penduduknya semakin lama semakin sedikit. Dan, masih banyak lagi masalah lainnya.
Kaisar Arkailian, Etian memberikan banyak dana untuk kota Lijian melalui Magic Academy. Tapi, hanya beberapa orang yang mengetahui hal tersebut.
Lisia telah menebak jika Etian sebenarnya mempedulikan rakyatnya, tapi secara diam-diam. Lisia bisa menebak hal tersebut, karena Kaisar Arkailian sebelumnya, tidak mungkin memberikan tahtanya pada orang yang tidak mempedulikan rakyatnya sama sekali.
Mengenai Van, dia telah sadar dan mulai bersekolah kemarin. Lukanya telah disembuhkan oleh dokter di Magic Academy.
Membutuhkan waktu yang lama, karena luka yang didapat Van dari pertarungannya sulit untuk disembuhkan. Bahkan, menggunakan sihir penyembuhan tingkat S sekalipun.
Lalu, Naya memberikan bayaran atas misi Van, profesor Sala menitipkan bayaran untuk Van di Naya.
Sementara bayaran Lisia, profesor Sala menitipkannya di Rill. Lisia mendapatkan 400.000 Rim.
***
Lisia saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke kelas.
Lisia masuk ke kelas 1.A, seperti biasa dia langsung duduk di kursinya dan meletakkan tasnya.
Ada beberapa orang yang pergi menjalankan misi hari ini. Jumlah murid yang hadir di kelas 1.A saat ini hanya 14 murid.
Pintu terbuka, profesor Arlan masuk ke kelas.
"Selamat pagi." Sapa profesor Arlan.
__ADS_1
"Selamat pagi profesor." Ucap para murid.
"Kalian tahu tentang turnamen antar akademi bukan?" Tanya profesor Arlan.
Beberapa murid mengangguk dengan semangat.
"Turnamen antar akademi akan diadakan sebentar lagi. Akan ada 10 orang murid yang mewakili Magic Academy ke turnamen itu. Untuk itu, 3 hari dari sekarang, murid-murid di Magic Academy akan bertanding untuk menentukan siapa yang pantas untuk mewakili Magic Academy. Lalu, 10 hari setelah pertandingan itu, turnamen antar akademi akan diadakan di Magic Academy." Ucap profesor Arlan.
Turnamen antar akademi, di mana perwakilan dari setiap akademi akan bertanding untuk memperebutkan kemenangan.
Magic Academy sering mendapatkan juara di turnamen ini, tidak pernah keluar dari juara 3 besar. Tahun lalu, Magic Academy mendapatkan juara 1.
"Jangan mempermalukan kelas A, kalian harus menang, dan mewakili Magic Academy ke turnamen itu." Ucap profesor Arlan.
'Turnamen antar akademi, 4 Kaisar pasti akan datang untuk menyaksikan turnamen itu. Lalu, mengingat masalah 3 hari yang lalu, mereka pasti akan membicarakan hal itu. Dengan menggunakan turnamen antar akademi sebagai alasan, tidak akan banyak orang yang mencurigai pertemuan 4 Kaisar.' Batin Lisia.
***
Rill berjalan menuju ke kelasnya.
Kadang, Rill datang tepat waktu ke kelas. Dan kadang, dia datang terlambat.
Seorang gadis berambut hitam dan iris mata berwarna abu-abu berpapasan dengan Rill. Rill merasakan sesuatu saat melewati gadis itu. Refleks, dia berbalik, "Tunggu!" Ucap Rill tanpa sadar.
Gadis itu berhenti, dia menoleh, "Ya? Anda memanggilku?"
Rill tersadar, "T-tidak apa-apa." Ucap Rill.
Gadis itu bingung, padahal tadi Rill memanggil dirinya, tapi sekarang Rill mengatakan tidak apa-apa.
"Kalau begitu, saya permisi." Gadis itu berbalik lalu melanjutkan perjalanannya.
Rill juga berbalik, dia sendiri tidak mengerti apa yang tadi dia rasakan.
Rill memilih untuk berhenti memikirkan gadis itu, dia melanjutkan perjalanannya ke kelas.
Rill membuka pintu kelas, profesor Arlan berhenti berbicara saat Rill membuka pintu.
Rill tidak mempedulikan profesor Arlan, dia langsung duduk di kursinya dan meletakkan tasnya.
__ADS_1
"Rill Alfrin, sebagai hukuman karena kau terlambat. Sepulang sekolah, bersihkan kelas ini tanpa menggunakan sihir." Ucap profesor Arlan.
"Baik." Ucap Rill, dia telah terbiasa dihukum.
Profesor Arlan lanjut menjelaskan.
***
Kring kring
Bel istirahat berbunyi, profesor Arlan berhenti menjelaskan.
"Pelajaran saya sampai di sini, sampai jumpa di pelajaran saya selanjutnya." Ucap profesor Arlan.
Profesor Arlan keluar dari kelas 1.A, para murid juga keluar dari kelas itu.
Lisia berdiri, dia keluar dari kelas.
Lisia berjalan-jalan di Magic Academy. Lisia melewati ruang musik, dia berhenti saat melihat seorang pria berambut hitam yang sedang bermain piano. Lisia tidak melihat wajah pria itu, karena pria itu menghadap ke belakang.
Lisia terpaku. Lagu yang dimainkan oleh pria itu, mengingatkannya pada lagu yang sering dimainkan oleh kakaknya dahulu.
Pria berambut hitam itu berhenti. Lisia tersadar dari lamunannya.
Pria itu berdiri, dia keluar dari ruang musik. Di depan ruang musik, dia melihat Lisia yang sedang menatap piano itu.
"Lisia?" Ucap pria itu.
Lisia melihat pria itu. Pria itu adalah pangeran keempat kekaisaran Arrilla, Hain.
"Kenapa kau di sini?" Tanya Hain.
"Aku berjalan-jalan dan sampai di sini." Ucap Lisia.
"Begitu ya. Kebetulan kau berada di sini, bagaimana kalau kita makan bersama?" Ucap Hain.
"Tidak, terima kasih." Tolak Lisia.
Lisia berbalik, dia pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung...