
Sejak kematian selir pertama, Ales berusaha menghidupkan selir pertama kembali. Narz membantu Ales untuk membunuh banyak penyihir peringkat S.
Beberapa bulan kemudian, Ales pun dikenal sebagai seorang buronan. Lalu 1 tahun setelah kematian selir pertama, dia bertemu dengan Wia, seorang anak yatim piatu berusia 15 tahun.
Saat melihat Wia, Ales teringat dengan dirinya sendiri sebelum bertemu dengan Evia, sehingga dia menjadikan Wia sebagai bawahannya. Wia menganggap Ales sebagai penyelamatnya dan kemudian menjadi bawahan Ales. Kalia mengajari Wia sihir bayangan.
Narz melakukan semuanya seperti yang diperintahkan oleh tuan mereka. Narz sendiri, tidak tahu apa tujuannya.
***
Sudah 6 tahun berlalu sejak Fal menjadi anggota organisasi black, sekarang dia telah berusia 18 tahun.
Saat ini, Fal sedang berjalan-jalan bersama dengan Kalia di kota Adisia, kekaisaran Arrilla.
Mereka berdua datang ke toko pakaian.
"Lihatlah, baju ini sangat cocok dengan anda, nona." Ucap pegawai toko.
"Berapa harga pakaian ini?" Tanya Kalia, dia sepertinya menyukai baju itu.
"20.000 Arrl." Ucap pegawai toko tersenyum.
Kalia ikut tersenyum, 'Mahal...'
"Saya yang akan membayarnya." Ucap Fal.
Pegawai toko tersenyum, "Pacar anda baik sekali." Ucapnya.
"Adik." Ucap Kalia. Dia menganggap Fal sebagai adiknya sendiri, begitu pula dengan Fal, dia menganggap Kalia sebagai kakak.
"Maaf, saya pikir dia pacar anda." Ucap pegawai toko.
"Bukan." Ucap Kalia dan Fal bersamaan.
Pintu toko terbuka, seorang gadis berambut perak dan iris mata merah masuk ke toko, dia adalah Lisia.
"Selamat datang." Pegawai toko menyambut kedatangan gadis itu.
'Wajahnya seperti tidak asing...' Batin Kalia dan Fal, mereka seperti pernah melihat gadis itu sebelumnya.
Lisia melihat-lihat pakaian di toko itu.
Kalia dan Fal terus melihat Lisia, mencoba mengingat di mana mereka pernah melihat Lisia.
Lisia yang merasakan sedang diperhatikan, melirik Kalia dan Fal, "Kenapa kalian menatapku?" Tanya Lisia, dia berbicara dengan nada dingin.
"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir jika wajahmu cantik." Ucap Fal, 'Dia menyadarinya.' Batin Fal.
"Siapa namamu?" Tanya Kalia tersenyum.
"Lisia." Ucap Lisia.
Kalia dan Fal mengingatnya, gadis di depannya adalah putri pertama kekaisaran Arrilla.
Mereka berdua ingin memberi hormat, tapi dihentikan oleh Lisia, "Tidak perlu, aku tidak ingin mereka mengetahui identitasku." Ucap Lisia.
"Baik." Ucap Kalia dan Fal, mereka lalu pergi ke kasir dan membayar pakaian yang mereka beli.
__ADS_1
Kalia memperhatikan Lisia, 'Kenapa seorang putri datang ke tempat ini tanpa pengawal? Apalagi sampai menyembunyikan identitasnya.'
Lisia mengambil salah satu pakaian, lalu membawa pakaian itu ke kasir, "Berapa?" Tanya Lisia.
"10.000 Arrl." Ucap pegawai toko.
Lisia mengeluarkan uang dari saku pakaiannya dan memberikan uang itu ke pegawai toko.
"Ini pakaian anda." Pegawai toko memberikan pakaian itu yang telah dibungkus.
Lisi mengambil pakaian itu, lalu dia pergi dari toko.
Setelah memastikan Lisia telah pergi, Kalia bertanya pada pegawai toko, "Gadis itu siapa?"
"Saya juga tidak tahu, dia sering datang ke sini untuk membeli pakaian." Ucap pegawai toko.
"Begitu ya, terima kasih." Ucap Kalia tersenyum.
Kalia dan Fal keluar dari toko pakaian itu.
"Orang itu adalah putri pertama bukan? Kenapa dia datang ke tempat ini?" Tanya Kalia.
"Aku tidak tahu." Ucap Fal.
"Tapi..." Kalia merasa curiga pada Lisia.
"Ada apa?" Tanya Fal.
Kalia menggeleng, "Tidak apa-apa." Ucap Kalia.
***
Gadis itu menatap Lisia, "Apa yang kau rencanakan?" Tanyanya.
Lisia tersenyum, "Kau lihat saja nanti."
Lisia melihat Kalia dan Fal yang pergi meninggalkan toko pakaian itu, "4 tahun yang lalu aku gagal mendapatkan informasi dan organisasi itu. Kali ini aku tidak akan gagal lagi." Ucap Lisia.
***
Keesokan harinya, Kalia dan Fal berjalan-jalan di kota itu lagi. Mereka akan berada di kota itu selama 3 hari karena misi Narz, Rin dan Alaya.
Tapi, Narz dan yang lain tidak mengizinkan Kalia dan Fal untuk ikut dalam misi ini. Kalia dan Fal tidak tahu alasannya, tapi mereka tetap menurut.
Dan sekali lagi, mereka bertemu dengan Lisia. Mereka melihat Lisia sedang membeli aksesoris di pasar.
'Kenapa seorang putri membeli aksesoris murahan seperti itu?' Batin Kalia. Dia curiga pada Lisia, bagaimana pun kota itu juga terletak jauh dari istana kekaisaran. Kenapa seorang putri datang ke kota itu?
Lisia mengambil bros berbentuk bunga, lalu dia memberikan uang sejumlah 10.000 Arrl pada penjual aksesoris itu.
"Nona, uang ini terlalu banyak." Ucap penjual aksesoris.
"Ini untuk bibi, saya sangat menyukai bros ini, karena itu saya memberikan uang yang banyak pada bibi." Ucap Lisia tersenyum.
Bibi penjual aksesoris itu tersentuh karena kebaikan hati Lisia, "Terima kasih, nona." Ucapnya.
"Ya." Lisia pergi dari sana.
__ADS_1
Dia pergi ke samping sebuah bangunan dan memperhatikan toko aksesoris itu dari jauh.
Tak lama, seorang preman pasar datang ke toko aksesoris itu, "Hei, bibi, aku lihat kau mendapatkan banyak uang."
Bibi penjual aksesoris itu terkejut karena kedatangan preman pasar, dia menoleh, "S-saya–"
"Serahkan uang itu, atau nyawamu melayang." Ancam preman pasar itu.
Bibi penjual aksesoris ketakutan.
Kalia dan Fal segera pergi dan melindungi bibi penjual aksesoris itu. Mereka berada di depan preman pasar itu.
"Minggir, kalian ingin mati?" Ancam preman pasar.
Kalia dan Fal tidak pergi, mereka bersiap untuk bertarung.
"Hahaha." preman pasar tertawa, "Kalian ingin melawanku?"
Para penjual lain ketakutan, mereka tidak berani dengan preman pasar itu.
Preman pasar itu memegang sebuah kapak yang sangat besar, karena itu mereka takut.
Preman pasar itu mengayunkan kapaknya.
Kalia membawa bibi penjual aksesoris dan menjauh dari sana.
Fal menghindari kapak itu, dia melapisi kakinya menggunakan sihir lalu menendang kapak preman pasar itu sampai hancur.
Preman pasar itu terkejut, 'Dia penyihir?'
Preman pasar itu pergi dari sana, dia tahu kalau dirinya tidak akan bisa menang melawan seorang penyihir, karena itu dia pergi.
"Bibi tidak apa-apa?" Tanya Kalia.
Bibi penjual aksesoris mengangguk, "Ya, terima kasih."
Kalia membantu bibi penjual aksesoris berdiri, "Lebih baik bibi pulang ke rumah." Ucap Kalia.
Kalia dan Fal membantu untuk membereskan semua aksesoris itu lalu mereka mengantar bibi penjual aksesoris kembali ke rumahnya.
Setelah mengantar bibi penjual aksesoris kembali, mereka melihat Lisia yang sedang duduk di bawah pohon dengan begitu santai.
Kalia marah, dia mendekati Lisia, "Kenapa kau memberikan uang sebanyak itu pada bibi itu? Kau tahu bukan kalau preman itu akan mengincar bibi itu!"
Lisia berdiri, "Kau berada di sana saat aku memberikan uang itu bukan? Apa kau ingat ekspresi yang ditunjukkan bibi itu saat menerima uang dariku?" Tanya Lisia.
Kalia mengingatnya, bibi itu merasa tersentuh, dia senang karena mendapatkan uang sebanyak itu.
"Bibi itu senang karena mendapatkan uang, tapi uang itu bisa direbut darinya. Itu sama seperti kebahagiaan." Ucap Lisia tersenyum.
Fal dan Kalia mengingat saat dimana mereka bersama dengan Axena, lalu saat dimana Axena meninggalkan mereka.
"Kalia, Fal." Lisia menyebut nama Kalia dan Fal.
Kalia dan Fal menatap Lisia dengan tatapan waspada.
"Dari mana kau mengetahui nama kami?" Tanya Fal.
__ADS_1
"Aku tahu banyak hal tentang kalian." Ucap Lisia.
Bersambung...