
Kembali ke masa sekarang
"Sekarang, bagaimana cara kita keluar dari sini?" Tanya Zen.
Lisia melihat Ales, "Dimana jalan keluarnya?" Tanya Lisia.
"Tidak! Evia... Evia.." Ales mengucapkan nama Evia berkali-kali. Dia masih tidak menerima kamatian Evia.
'Dia sudah gila.' Pikir Lisia.
Wia membuka matanya, dia melihat sekeliling dan menyadari kalau mereka telah kalah.
Lisia melihat Wia, "Kebetulan sekali kau telah bangun, dimana jalan keluar dari sini?" Tanya Lisia.
Wia ketakutan melihat Lisia, dia melihat ke samping, tuannya juga telah kalah. Wia kembali melihat Lisia, dia mengambil batu teleportasi dari saku pakaiannya dan memberikannya pada Lisia.
"B-batu itu akan mengantarkanmu kembali." Ucap Wia, tubuhnya gemetaran dan dia menunduk. Saat bertarung dengan Lisia tadi, dia merasakan kekuatan menakutkan dari Lisia. Beruntung, Selia menghentikan Lisia sebelum Lisia membunuhnya. Tapi, hal itu membuat dirinya sangat ketakutan.
Selia teringat sesuatu "Lak!" Ucapnya.
"Aku harus menemui Lak!" Ucap Selia.
"Tidak perlu, dia telah datang." Lisia melihat ke pintu, Lak telah berada di sana.
"Lak!" Selia menghampiri Lak "Bagaimana kau bisa keluar dari penjara itu?" Tanya Selia.
"Kekuatan sihir penjara itu tiba-tiba menghilang, karena itu aku bisa melepaskan diri." Ucap Lak.
Selia menghela napas lega "Syukurlah." Ucapnya.
"Sekarang, ayo kembali." Ucap Lisia.
Zen menyentuh pundak Ales dan Wia, Lisia menyentuh pundak Zen, Selia memegang tangan Lisia dan Lak.
Mereka berlima berteleportasi kembali ke hutan, tempat dimana mereka masuk ke portal itu.
Lisia melihat Ales dan Wia, dia menggunakan sihirnya untuk membuat mereka berdua tertidur.
Tak lama, para pengawal datang.
"Tuan Putri!"
"Lak!"
Para pengawal melihat Ales dan Wia "Mereka siapa?"
"Mereka adalah orang yang menculikku, dan juga yang mengincar Tuan Putri." Ucap Lak.
Para pengawal menatap Ales dan Wia dengan tatapan benci.
"Jadi mereka yang melakukannya..."
"Mereka juga membunuh banyak pengawal!"
"Hentikan." Ucap Selia.
Para pengawal melihat Selia "Tapi mere–"
"Aku tahu, tapi biarkan Yang Mulia Kaisar yang menentukan hukuman untuk mereka. Mungkin saja hukuman yang mereka dapatkan adalah hukuman mati. Tapi, biarpun begitu aku tidak akan menghalanginya." Ucap Selia tegas.
__ADS_1
Lisia melihat Selia, 'Sepertinya dia tidak senaif yang aku kira.'
Mereka kembali ke kereta sihir. Untuk membawa Ales dan Wia, mereka membeli kereta sihir di desa terdekat. Lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Di tengah perjalanan, malam telah tiba, mereka berhenti di tengah hutan untuk beristirahat.
"Tapi pangeran, apakah tidak apa-apa menginap di tengah hutan? Bisa saja ada monster yang muncul tiba-tiba." Ucap salah satu pengawal.
"Tenang saja, tidak akan ada monster yang datang ke sini." Ucap Zen.
"B-begitu ya." Pengawal itu memalingkan wajahnya 'Entah kenapa, aku takut dengan tatapan pangeran kedua.'
"Dimana Tuan Putri?" Tanya seorang pengawal.
"Tuan Putri berada di kereta bersama dengan nona Lisia." Ucap pengawal lain.
***
"Lisia, bagaimana Magic Academy itu?" Tanya Selia.
"Magic Academy? Hm... di sana ada banyak orang-orang kuat. Magic Academy juga memiliki mata uang sendiri, tidak seperti sekolah lain yang menggunakan mata uang dari salah satu kekaisaran" Ucap Lisia.
"Bagaimana dengan murid-murid lain? Apakah ada murid yang keren? murid populer?" Tanya Selia antusias.
"Soal itu, saya pernah mendengar seseorang dari kelas 2.A, katanya dia sangat tampan dan ramah, kalau tidak salah, namanya Jain. Lalu, ada juga seseorang dari kelas 3.A, dia adalah ketua komite kedisiplinan. Lalu, ada juga dari kelas 2.A, dia sangat populer dan juga cantik." Ucap Lisia tersenyum.
Selia tersenyum lebar, "Aku ingin menjadi murid di sana juga!" Ucap Selia.
"Berapa usiamu sekarang?" Tanya Lisia.
"14 tahun!" Ucap Selia.
"Masih lama ya." Ucap Selia sedih.
"Selama 2 tahun itu, rajinlah berlatih agar kau bisa mendapatkan undangan Magic Academy." Ucap Lisia.
"Eh? Undangan? Kalau begitu, jika aku tidak mendapatkan undangan, apa aku tidak bisa masuk Magic Academy?" Tanya Selia.
"Tidak juga, kau bisa mengikuti ujian untuk masuk ke sana." Ucap Lisia.
"Baiklah, aku akan berusaha!" Ucap Selia.
'Padahal kami cuma beda 2 tahun, tapi dia terlihat seperti anak kecil.' Pikir Lisia.
***
Saat matahari terbit, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke istana kekaisaran Erlin.
Saat jam 10 tiba, akhirnya mereka tiba di istana.
Lisia dan Selia turun dari kereta sihir.
'Sudah sampai ya...' Batin Selia sedih, Selia melihat Lisia 'Misi Lisia telah selesai, tidak lama lagi dia pasti akan kembali ke Magic Academy.'
Kaisar datang, para pengawal segera berlutut pada Kaisar. Lisia menunduk kepada Kaisar.
Kaisar melihat Lisia "Terima kasih telah melindungi putriku, Putri Lisia." Ucap Kaisar pada Lisia.
'Putri?' Batin Selia dan para pengawal.
__ADS_1
"Ini adalah tugas saya, Yang Mulia." Ucap Lisia.
"Dan juga..." Lisia melirik para pengawal.
Para pengawal paham "Saya pergi dulu, Yang Mulia." Para pengawal lalu pergi dari sana. Meninggalkan Selia, Lisia, Zen dan Kaisar.
"Ayah, sebenarnya orang yang mengincar Selia adalah Ales." Ucap Zen.
Kaisar terkejut "Ales, maksudmu pengawal pribadi ibumu?" Tanya Kaisar memastikan.
"Benar. Dia ingin mengambil sihir Selia dan menggunakannya untuk menghidupkan kembali ibu menggunakan sihir terlarang." Ucap Zen.
'Menghidupkan kembali Evia?' Pikir Kaisar. Dia telah mendengar tentang Ales yang telah menculik banyak orang, tapi dia tidak tahu apa tujuan Ales.
"Tapi, ternyata dia telah ditipu oleh seseorang yang mengatakan itu padanya." Ucap Zen.
"Begitu ya." Ucap Kaisar, 'Ternyata pada akhirnya orang yang telah mati akan tetap mati.' Batin Kaisar.
Lisia juga menjelaskan tentang eksperimen manusia pada Kaisar. Setelah memberitahu semua itu, Lisia dan Zen berniat untuk kembali ke Magic Academy.
"Apa kalian tidak bisa kembali besok?" Tanya Selia.
"Tidak bisa, misi kami telah selesai, sekarang kami harus pulang." Ucap Lisia.
"Begitu ya..." Selia menunduk.
Selia teringat sesuatu "Oh iya, kenapa ayah memanggilmu Putri tadi?" Tanya Selia.
"Kau tidak mengetahuinya? Lisia adalah putri pertama kekaisaran Arrilla." Bukan Lisia, melainkan Zen yang menjawab pertanyaan Selia.
Selia menatap Lisia dengan tatapan tidak percaya. Lisia mengangguk, "Apa yang dikatakan Zen benar." Ucap Lisia.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Selia.
"Kau tidak bertanya." Ucap Lisia membuat Selia kesal.
Lisia mengeluarkan batu teleportasi, lalu dia memegang tangan Zen.
"Sampai jumpa, putri." Ucap Lisia pada Selia.
"Ya, sampai jumpa." Ucap Selia.
Lisia dan Zen berteleportasi kembali ke Magic Academy. Tepatnya, di ruang misi.
Terlihat profesor Sala yang sedang meminum kopi dengan santai saat ini.
"Kami telah kembali, profesor." Ucap Lisia.
Lisia melaporkan rincian misinya pada profesor Sala, lalu mereka mendapatkan uang misi. Lisia dan Zen keluar dari ruang misi.
Lisia menatap Zen, setelah menjalankan misi ini, dia tahu kalau Zen tidak membenci Selia seperti rumor yang beredar kalau dia membenci saudaranya.
'Apakah rumor itu hanya dilebih-lebihkan?' Pikir Lisia.
Zen menyadari kalau Lisia menatapnya, kemudian dia menatap Lisia balik "Ada apa?" Tanya Zen.
"Tidak apa-apa." Ucap Lisia lalu pergi.
Bersambung...
__ADS_1