Magic Academy

Magic Academy
42. Kalia


__ADS_3

Fal menghampiri gadis itu, dia mengulurkan tangannya. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Fal.


Gadis itu menerima uluran tangan Fal, tapi dia masih waspada pada Fal. Dia juga masih ragu, apakah Fal bisa dipercaya? Atau tidak? Dia tidak ingin tertangkap lagi.


"Siapa namamu?" Tanya Fal.


"Kalia." Ucap gadis yang bernama Kalia itu.


"Bagaimana kau bisa kabur dari pemilikmu?" Tanya Fal.


"Ada orang yang membebaskan kami." Ucap Kalia.


"Siapa?" Tanya Fal.


Kalia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, mereka ada empat orang." Ucap Kalia.


"Empat orang?" Tanya Fal, dia teringat dengan Narz dan yang lainnya. Apa mungkin mereka yang membebaskan Kalia?


"Ya, empat orang." Kalia mengangguk.


"Saat mereka membebaskan kami, aku lega, karena dengan begitu, aku tidak perlu membunuh orang lagi." Ucap Kalia.


"Membunuh orang?" Tanya Fal terkejut.


"Ya, pemilikku sering menyuruhku untuk membunuh orang-orang yang tidak disukainya, jika aku melawan maka aku akan dibunuh." Ucap Kalia.


"Apa kau bisa menggunakan sihir?" Tanya Fal.


Kalia mengangguk, "Ya, aku bisa menggunakan sihir bayangan dan sihir penyamaran. Tapi, aku tidak bisa menggunakan sihir itu tanpa persetujuan pemilikku. Jika aku menggunakannya tanpa persetujuan, aku akan mati." Ucap Kalia.


***


Narz dan yang lain tiba di danau, tapi mereka tidak menemukan Fal di danau.


"Ke mana Fal pergi?" Tanya Alaya khawatir.


"Anak itu, sudah kubilang untuk tetap di sini." Ucap Axena.


"Palingan dia bosan dan pergi jalan-jalan bukan?" Ucap Rin.


"Dia pasti berada di sekitar sini." Ucap Narz.


Narz menurunkan penjual budak itu, "Tunggulah di sini, dan jaga orang itu, jangan biarkan dia kabur." Narz berjalan pergi dari sana.


"Narz! Kau ingin ke mana?" Tanya Axena.


"Aku akan mencari Fal." Ucap Narz, dia melambaikan tangannya.


"Orang itu..." Axena memegang kepalanya, rasanya kepalanya sakit karena mengurus keempat orang itu. Axena tidak habis pikir, kenapa Narz menjadi ketua kelompok? Tapi mungkin karena sikap Narz itu, tuan mereka lebih sering berkomunikasi dengannya daripada Narz, padahal Narz adalah ketua kelompok.

__ADS_1


***


Narz terus mencari ke sekitar, tak lama dia menemukan Fal yang sedang duduk di atas sebuah pohon yang telah tumbang. Di samping Narz, ada seorang gadis kecil yang tampak tidak asing baginya.


Narz mendekati Fal dan Kalia, "Halo." Sapa Narz.


Kalia terkejut melihat kedatangan Narz, dia segera belari dan bersembunyi di belakang pohon.


"Eh?" Narz melihat Fal, "Apakah aku menyeramkan hingga dia lari seperti itu?" Tanya Narz.


Fal menggeleng, "Tidak, mungkin dia hanya terkejut saja." Ucap Fal.


Fal melihat Kalia yang bersembunyi di belakang pohon, "Kemarilah, dia adalah temanku." Ucap Fal.


Kalia sedikit ragu, tapi mendengar jika pria yang baru saja datang tadi adalah teman Fal, dia keluar dari belakang pohon itu, dia berlari dan bersembunyi di belakang Fal.


Kalia memperhatikan wajah Narz, dia merasa tidak asing dengan wajah Narz. Dia berpikir keras, mencoba mengingat di mana dia pernah melihat Narz, "Kau! Orang yang membebaskan kami!" Ucap Kalia, dia akhirnya mengingat Narz.


Narz bingung apa yang dimaksud oleh Kalia, dia memperhatikan Kalia dari atas hingga bawah, "Kau! Salah satu budak!" Narz akhirnya mengingat Kalia.


Kalia keluar dari belakang Fal, setelah mengetahui jika pria itu adalah orang yang membebaskan dirinya, kewaspadaannya berkurang.


"Kebetulan sekali, aku membutuhkan dirimu." Ucap Narz.


Kalia terkejut, dia menjadi lebih waspada, dia pikir Narz akan menyuruhnya untuk membunuh seseorang seperti yang dilakukan pemiliknya.


"Tenanglah, aku hanya memintamu untuk mengumpulkan semua temanmu yang juga budak dari pemilikmu itu." Ucap Narz.


"Kau ingin melepaskan kutukan budak bukan?" Tanya Narz tersenyum.


Kalia merasa tidak percaya, "Kutukan ini bisa dilepaskan?" Tanyanya.


"Tentu saja bisa." Ucap Narz.


Ada harapan di mata Kalia, dengan melepaskan kutukan itu maka dirinya akan bebas.


"Ikutlah denganku." Ucap Narz.


Narz berjalan pergi, Fal dan Kalia mengikuti Narz.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Tanya Narz.


"Kalia." Ucap Kalia.


"Nama belakangmu?" Tanya Narz.


Kalia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu."


"Kalau begitu, umurmu?" Tanya Narz.

__ADS_1


"14 tahun." Ucap Kalia.


Fal terkejut, "14 tahun?" Fal pikir, Kalia seusia dengan dirinya, tapi ternyata usia Kalia lebih tua 2 tahun daripada dirinya.


"Tidak perlu terkejut seperti itu, Fal. Saat pertama kali bertemu denganmu, kau juga seperti seorang anak kecil berusia 9 tahun. Padahal usiamu sudah 12 tahun." Ucap Narz.


"Benar juga.." Ucap Fal.


Mereka semua tiba di danau, Kalia terkejut melihat pemiliknya tidak sadarkan diri dalam keadaan terikat.


"Kalia, apa kau bisa mengumpulkan teman-temanmu?" Tanya Narz.


Kalia mengangguk, "Mereka mungkin masih berada di sekitar sini, karena mereka tidak memiliki uang dan juga tidak bisa menggunakan sihir." Ucap Kalia.


"Sebelum kabur, kami berjanji untuk bertemu di kota Lad, besok." Ucap Kalia.


"Kalau begitu, kita harus menunggu sampai besok." Ucap Narz.


"Kau terlalu baik hati, Narz. Seharusnya kita langsung membunuh penjual budak itu." Ucap Axena.


"Jika seperti itu, maka kutukan para budak itu tidak akan hilang selamanya." Ucap Rin.


Mendengar perkataan Rin, Kalia penasaran akan suatu hal, "Jika pemilik kami mati lalu kutukan itu tidak hilang selamanya, memangnya apa yang akan terjadi pada kami?" Tanya Kalia.


"Kau tidak akan bisa menggunakan sihir selamanya." Ucap Rin.


"Hanya itu?" Tanya Kalia.


"Bukan hanya itu, masyarakat juga bisa membenci dan mengucilkanmu." Ucap Narz.


"Begitu.." Ucap Kalia, dia menunduk, dia pikir dengan membunuh pemiliknya, maka dia dan teman-temannya akan bebas, tapi ternyata tidak.


"Hei, paman." Panggil Kalia.


"Jangan memanggilku paman." Ucap Narz.


"Kakak, kenapa 4 Kaisar tidak melarang perbudakan?" Tanya Kalia.


"Tidak melarang? Apa maksudmu? Keempat Kaisar melarang perbudakan loh." Ucap Rin.


Kalia terkejut, pemiliknya sering mengatakan kalau keempat Kaisar tidak melarang perbudakan, sehingga meski mereka lari sekalipun, tidak akan ada yang mempedulikan mereka.


"Kalau begitu, kenapa masih banyak perbudakan?" Tanya Kalia, dia mengepalkan tangannya, berusaha untuk menahan emosinya.


"Kaisar tidak memberikan hukuman yang berat pada orang yang melakukan perbudakan. Sehingga banyak orang tidak takut, mereka berpikir 'Bahkan bila ketahuan pun, hukumannya tidak berat', kerena itu masih banyak orang yang memperbudak orang lain." Ucap Narz.


"Memangnya apa hukumannya?" Tanya Kalia.


"Kaisar akan membebaskan para budak itu, dan akan mengambil 20% harta milik orang yang melakukan perbudakan. Tapi meski dibebaskan sekali pun, mereka akan tetap akan menderita, karena mereka adalah mantan budak. Mereka akan dikucilkan oleh masyarakat, dan pada akhirnya pemilik mereka dahulu akan mengejar mereka kembali dan kembali memperbudak mereka." Axena menjelaskan kepada Kalia, seberapa menderitanya pada budak itu.

__ADS_1


Kalia mengepalkan tangannya, dia merasa tidak terima, kenapa budak sepertinya hidup menderita? Dia merasa diperlakukan tidak adil.


Bersambung...


__ADS_2