
"Apa maksudmu?" Kalia menatap Lisia, meminta penjelasan darinya.
Fal telah mengarahkan pedangnya ke leher Lisia, "Apa saja yang kau ketahui tentang kami?" Dia menatap tajam Lisia.
Lisia tersenyum, "Seperti yang aku katakan tadi, aku mengetahui banyak hal tentang kalian. Kalia, Fal, kalian adalah anggota organisasi penjahat bernama bukan?"
Fal ingin memenggal kepala Lisia, tapi tiba-tiba Lisia berada di belakangnya.
'Cepat!' Batin Fal, dia melihat Lisia yang berada si belakangnya. 'Tadi itu bukan sihir teleportasi, aku bisa merasakan jika dia lewat di sampingku, tapi kecepatan macam apa itu tadi?'
Kalia mengeluarkan pedangnya dan menyerang Lisia, tapi Lisia dengan cepat mengeluarkan pedangnya dan membelah pedang Kalia.
"Jangan bertindak gegabah, aku bisa saja membunuh kalian dengan begitu mudah jika aku mau." Ucap Lisia, nadanya terdengar mengancam.
"Dari awal aku sudah curiga padamu, kenapa seorang putri kekaisaran bisa berada di sini? Sikapmu juga seperti menarik perhatian kami. Apa kau benar-benar putri pertama kekaisaran Arrilla?" Tanya Kalia.
Lisia tidak menjawab, dia berjalan pergi dari sana.
"Tunggu!" Kalia ingin mengejar Lisia, tapi dihentikan oleh sebuah suara.
"Kalia! Fal!"
Kalia dan Fal menoleh. Mereka melihat Narz, Rin dan Alaya, tubuh mereka terluka.
Kalia dan Fal segera berlari menghampiri mereka bertiga.
"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Kalia.
"Apa yang terjadi?" Tanya Fal.
"Tidak apa-apa, hanya saja kami terlalu meremehkan lawan kami. Dia benar-benar orang yang kuat." Ucap Narz.
"Dia?"
"Kami akan menceritakan semuanya di penginapan." Ucap Narz.
"Ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Rin.
"Oh iya, tadi kami bertemu dengan putri–"
"Tadi kami bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik, sepertinya Fal tertarik dengan gadis itu." Kalia tersenyum. Dia sengaja memotong ucapan Fal, karena dia ingin memastikan tujuan Lisia terlebih dahulu.
"Benarkah? Aku penasaran seberapa cantiknya dia." Ucap Alaya.
"Siapa namanya?" Tanya Rin penasaran.
Rin dan Alaya penasaran dengan gadis yang disebutkan Kalia. Sementara Narz, dia merasa jika ada yang disembunyikan oleh Kalia.
__ADS_1
***
"Kau sudah melakukan seperti yang aku perintahkan, Akara?" Tanya Lisia.
Gadis berambut merah muda itu menjawab, "Ya."
Akara, dia adalah partner Lisia.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan? Padahal kau bisa menangkap ketua mereka dan mendapat informasi mengenai oeang bernama Akirka itu." Ucap Akara.
"Azarka, namanya Azarka." Ucap Lisia.
"Ya, itulah." Ucap Akara tidak peduli.
"Jika aku menangkap ketua mereka, Azarka mungkin saja akan menyelamatkannya, atau mungkin membunuhnya? Bila itu sampai terjadi maka aku tidak akan mendapatkan informasi apa pun tentang Azarka." Ucap Lisia.
"Singkatnya, semuanya akan berakhir seperti 4 tahun yang lalu." lanjut Lisia, dia mengingat saat dimana Axena dibunuh dengan begitu cepat, sampai dia tidak bisa menghentikannya. Dia tidak melihat wajah orang itu dengan jelas, tapi dia yakin jika orang itu adalah Azarka.
"Tapi kenapa organisasi itu bernama organisasi black, ya?" Tanya Akara penasaran.
"Jangan bertanya hal tidak penting." Ucap Lisia.
"Bilang saja kalau kau juga tidak tahu." Akara menatap datar Lisia.
Lisia mengalihkan perhatiannya.
***
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Narz.
Kalia tersadar dari lamunannya, dia menoleh dan melihat Narz yang berada di sampingnya, "Aku tidak memikirkan apa-apa. Bagaimana dengan luka tuan?" Kalia tersenyum. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu." Ucap Narz serius, dia tidak tersenyum seperti biasanya.
Kalia menunduk, "Mengenai gadis yang aku dan Fal temui tadi, dia adalah putri pertama kekaisaran Arrilla." Ucap Kalia.
Narz terkejut, "Kenapa putri pertama berada di sini?" Tanya Narz.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku terus terpikirkan perkataannya." Ucap Kalia.
"Apa yang dikatakannya?" Tanya Narz.
"Dia mengetahui kalau aku dan Fal adalah anggota organisasi ini. Dia juga bilang kalau mengetahui banyak hal tentang kami." Ucap Kalia.
'Lalu... dia juga mengatakan jika kebahagiaan bisa direbut...' lanjut Kalia di dalam hati.
Dia tidak bisa berhenti memikirkan maksud ucapan Lisia.
__ADS_1
Narz berpikir, 'Apa putri pertama kekaisaran Arrilla adalah salah satu anggota sufours?' Batin Narz.
Kalia memperhatikan wajah Narz, dari ekspresinya Kalia bisa mengetahui kalau Narz mengetahui sesuatu.
***
Keesokan harinya, Narz dan Kalia pergi berjalan-jalan, yang lain hanya tinggal di penginapan.
Mereka bertemu dengan Lisia. Ini pertama kali bagi Narz bertemu dengan Lisia, tapi dari ekspresi Kalia, dia bisa menebak siapa gadis yang berada di depannya.
"Hari ini kau membawa orang lain." Ucap Lisia.
"Mari kita berbicara di tempat sepi." Lisia tersenyum.
***
Mereka pergi ke tempat dimana tidak ada orang.
"Anda Putri Arlisia bukan?" Tanya Narz.
Lisia tersenyum, "Panggil saja Lisia."
Narz mengeluarkan pedang dan mengarahkan pedang itu ke leher Lisia, "Apa kau anggota sufours?" Tanya Narz.
Lisia menyeringai, "Benar."
***
Di tempat lain, tampak seseorang yang sedang duduk di sebuah singgasana, wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena gelap, dia adalah Azarka.
Pintu terbuka, seorang gadis berambut merah dan iris mata biru masuk ke ruangan itu, gadis itu berlutut pada orang yang duduk di singgasana.
"Tuan, Putri Arlisia mencari informasi tentang anda dari organisasi black. Apa perintah anda?" Tanya gadis itu.
"Putri Arlisia ya. Jika dia berada di pihakku, maka itu akan sangat menguntungkanku. Tapi dia pasti tidak mau." Ucap Azarka.
"Bunuh Putri Arilisia." Perintah Azarka.
"Baik, tuan." Gadis itu mematuhi perintah tuannya, dia berdiri lalu pergi dari ruangan itu.
"Itu pun, jika kau bisa."
Azarka tahu jika gadis itu tidak akan mampu mengalahkan Lisia. Meski hanya sekali, tapi dia pernah berhadapan dengan Lisia.
Jika Lisia berada di pihaknya, maka itu akan sangat menguntungkannya. Sayangnya, Lisia adalah anggota sufours. Lisia pasti telah terikat sumpah pada keempat Kaisar. Jika berkhianat, akan mati. Jika melanggar perintah, akan dihukum. Bahkan Lisia juga tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya tanpa persetujuan empat Kaisar.
Mirip dengan kutukan budak, tetapi juga berbeda. Jika kutukan budak dilakukan tanpa keinginan dari dua belah pihak, maka sumpah dilakukan dengan keinginan dari dua belah pihak.
__ADS_1
"Sayang sekali..." Gumam Azarka.
Bersambung...