
Lisia membuka pintu kelas, para murid menoleh ke arahnya. Lisia berjalan ke kursinya lalu duduk.
"Kemarin pemilihan ketua kelas, Putri." Ucap Rill pada Lisia.
"Lalu siapa yang terpilih?" Tanya Lisia.
"Kau." Ucap Rill.
"Hah?" Lisia terkejut, dia tidak salah dengan bukan?
"Kau yang terpilih sebagai ketua kelas." Ucap Rill.
***
1 hari yang lalu
Rill masuk ke kelas, dia duduk di kursinya. Dia menaruh kepalanya di meja.
Rill melihat ke samping kirinya, 'Putri Lisia tidak datang lagi, aku dengar dia mendapatkan misi kemarin. Apa misinya sulit?'
Profesor Arlan masuk ke kelas, dia adalah seorang guru sekaligus wali kelas dari kelas 1.A, "Selamat pagi." Ucap profesor Arlan.
"Selamat pagi, profesor." Ucap para murid kelas 1.A.
"Semuanya hadir?" Tanya profesor Arlan.
"Lisia dan Zen tidak hadir hari ini." Ucap para murid.
"Mereka sedang melaksanakan misi, karena itu tidak datang." Ucap profesor Arlan "Selain mereka berdua, tidak ada lagi?"
Para murid saling melihat lalu mereka menggelengkan kepala.
"Aku anggap tidak ada." Ucap profesor Arlan.
"Kalian belum mempunyai ketua kelas bukan?" Tanya profesor Arlan.
Para murid mengangguk, "Kalau begitu, hari ini adalah pemilihan ketua kalas." Ucap profesor Arlan.
Profesor Arlan lalu membagikan sebuah kertas "Tulis nama orang yang kalian pilih sebagai ketua kelas di kertas ini."
Para murid lalu menulis nama orang yang mereka pilih sebagai ketua kelas.
Rill melihat kertas itu, 'Aku harus memilih siapa?'
Rill melihat sekeliling, selain dirinya, tidak ada yang terlihat kesulitan untuk menentukan pilihan mereka. Rill melihat ke samping kirinya, dia mengingat Lisia.
Para murid telah selesai, mereka lalu mengumpulkan kertas itu.
Rill menulis nama 'Arlisia Erisla de Arrilla' di kertas itu, lalu dia berdiri dan mengumpulkan kertas itu.
Profesor Arlan melihat para murid, semuanya telah mengumpulkan kertas yang bertuliskan nama orang yang mereka pilih.
Profesor Arlan lalu menuliskan nama para murid di papan tulis dan menghitung jumlah vote para murid.
Ain Azela: 0
Aisa Vian: 1
Alex Kailan: 1
__ADS_1
Alexa Kailan: 1
Alissa Ania: 0
Alriana Laysa: 1
Anni Erian: 0
Aria Kania de Erlin: 3
Arlisia Erisla de Arrilla: 3
Axel Arlis: 0
Cain Zaella: 0
Kayla Kian: 1
Kei Larian: 1
Layla Ayla: 0
Mira Sophia: 0
Naya Ansia: 2
Rill Alfrin: 1
Xavier Akia: 1
Zen Aslan de Erlin: 1
'Siapa yang memilih Lisia?' Batin Kei.
Rill melihat Aria dan Alexa, dia menebak kalau mereka yang memilih Lisia.
'Jumlah vote Lisia dan Aria sama.' Batin profesor Arlan.
Aria mengangkat tangannya "Profesor, biar Lisia saja yang menjadi ketua kelas. Saat ini Lisia dan Zen tidak ada, karena itu jumlah vote kami sama banyak. Jika mereka berdua ada, pasti jumlah vote Lisia akan lebih banyak dari saya. Karena itu, Lisia lebih pantas menjadi ketua kelas." Ucap Aria.
"Baiklah, jadi ketua kelasnya adalah Lisia dan wakil ketua kelas adalah Aria." Ucap profesor Arlan.
Kembali ke masa sekarang
Rill telah menceritakan semuanya pada Lisia.
'Kenapa mereka memilihku?' Batin Lisia bertanya-tanya.
Pintu ruang kelas terbuka, profesor Rina masuk ke ruangan. Para murid segera kembali duduk di kursinya masing-masing.
***
Kring Kring
Bel pulang berbunyi, Lisia memakai tasnya lalu keluar dari kelas.
Lisia tidak langsung kembali ke asramanya, dia pergi ke cafe.
Seorang pelayan datang ke meja Lisia "Selamat datang, anda ingin memesan apa?" Tanya pelayan itu.
__ADS_1
"Burger." Ucap Lisia.
"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu lalu pergi.
Lisia melihat ke jendela, dia masih bingung, kenapa mereka memilih dirinya sebagai ketua kelas?
Pintu cafe terbuka, Zen masuk ke cafe itu.
Zen melihat Lisia yang sedang melihat ke luar jendela, dia tampak memikirkan sesuatu.
"Selamat datang, Tuan. Anda ingin memesan apa?" Tanya pelayan pada Zen.
Zen tersadar, dia melihat ke pelayan "Kopi." Ucap Zen.
Zen duduk di kursi depan Lisia membuat Lisia tersadar.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Zen.
"Aku dipilih menjadi ketua kelas." Ucap Lisia, "Aku penasaran, kenapa mereka memilihku sebagai ketua kelas?"
Zen melihat Lisia, "Itu sudah pasti bukan? Karena mereka merasa kalau kau pantas menjadi seorang pemimpin."
"Kenapa mereka berpikir seperti itu?" Tanya Lisia.
"Coba lihat dirimu dari sudut pandang orang lain, aku yakin kau akan mendapatkan jawabannya." Ucap Zen.
"Diriku dari sudut pandang orang lain?"
"Ya, seperti siapa kau? Bagaimana dirimu? Kenapa kau pantas menjadi pemimpin? Temukan jawabannya." Zen tersenyum.
***
Lisia dalam perjalanan kembali ke asramanya. Sepanjang perjalanan, perkataan Zen terus terpikirkan oleh Lisia, sebenarnya bagaimana dirinya dari sudut pandang orang lain?
Rill yang akan pergi ke restoran untuk makan, melihat Lisia yang tampak sedang memikirkan sesuatu, "Putri?"
Lisia tersadar, dia melihat Rill, "Rill?"
"Ada apa? Kau terlihat memikirkan sesuatu, apa yang kau pikirkan?" Tanya Rill.
Lisia teringat perkataan Zen "Rill, di matamu, aku ini siapa?" Tanya Lisia.
"Kau adalah putri pertama kekaisaran Arrilla dan ketua kelas kelas 1.A." Ucap Rill.
"Karena itu kau memilihku sebagai ketua kelas?" Tanya Lisia. "Karena aku adalah putri kekaisaran Arrilla?"
"Bukan." Ucap Rill.
"Lalu, kenapa?" Tanya Lisia tidak mengerti.
"Kau sendiri, kenapa kau bertanya soal itu?" Tanya Rill.
Lisia tidak menjawab "Putri, ketua kelas berbeda dengan penerus tahta. Orang-orang pasti akan mendukung penerus tahta berdasarkan siapa pangeran atau putri yang paling menguntungkan mereka. Tapi pemilihan ketua kelas, mereka akan memilih berdasarkan siapa yang paling pantas. Aku memilihmu karena menurutku kau pantas menjadi seorang pemimpin." Ucap Rill.
'Benar, ketua kelas berbeda dengan penerus tahta. Tanpa sadar, aku menyamakannya. Di sini, aku adalah murid Magic Academy, bukan seorang putri.' Batin Lisia.
"Terima kasih, Rill." Ucap Lisia tersenyum.
Bersambung...
__ADS_1