Magic Academy

Magic Academy
49. Kehancuran organisasi black


__ADS_3

"Bergabung denganmu? Apa kau gila? Itu tidak akan pernah terjadi!" Tegas Rin. Dia tidak ingin mengkhianati teman-temannya.


Lisia menyimpan kembali botol yang berisi penawar racun, "Sayang sekali, kalau begitu kau harus menyaksikan kematian temanmu." Ucap Lisia.


Rin teringat dengan Kalia dan Narz, dia tidak ingin mereka mati. Tapi, dia juga tidak ingin mengkhianati temannya dan bergabung dengan musuh.


Rin melihat gadis berambut merah muda yang berada tak jauh dari sana, dia ingat dengan gadis itu, gadis yang dia, Narz dan Alaya lawan kemarin, "Jadi dia adalah temanmu.." Ucap Rin.


Akara tidak mempedulikan ucapan Rin, dia hanya menyaksikan semuanya dari sana. Jika Lisia memerintahkannya, baru dia akan turun tangan.


Rin membakar sekelilingnya, api itu sangat besar dan membuat Lisia dan Akara tidak dapat melihatnya.


Rin bergerak dan dengan cepat dia berada di belakang Lisia, Rin mengeluarkan pisau yang diberikan Narz padanya beberapa hari yang lalu, lalu dia mengarahkan pisau itu ke leher Lisia.


"Serahkan botol itu, atau kau akan mati." Ancam Rin.


Lisia tidak takut sama sekali. Dia membuat bayangan dirinya, dan semua bayangan itu mengarahkan pistol ke kepala Rin.


"Kau pikir aku akan takut?" Tanya Rin. Dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri.


"Aku tahu kau tidak akan takut. Tapi, bila kau mati, maka teman-temanmu yang terkena racun itu juga akan mati loh. Karena tidak akan ada yang memberikan penawar racun pada mereka." Ucap Lisia tersenyum.


"Dasar licik!" Ucap Rin, dia menatap Lisia dengan tatapan benci.


Lisia tersenyum, "Terima kasih, meski aku tahu itu bukan pujian." Ucap Lisia.


'Kalau kau tahu kenapa kau berterima kasih?' Batin Akara.


Angin kencang tiba-tiba muncul, Akara segera memasang sihir pelindung untuk melindungi dirinya sendiri. Rin berpegangan di tiang yang berada di dekatnya. Sementara Lisia tidak terpengaruh dengan angin itu.


Azarka muncul, wajahnya terlihat, dia adalah seorang pria berambut hitam dan iris mata berwarna emas.


"Kau siapa?!" Rin waspada pada Azarka, dia berpikir jika Azarka juga adalah teman Lisia dan Akara.


"Aku adalah tuan kalian." Ucap Azarka.


Rin terkejut, dia langsung berlutut pada Azarka.


Lisia menatap tajam Azarka, tak ada senyuman di wajahnya, dia berubah menjadi dingin.


Azarka melemparkan sebuah botol ke arah Rin, Rin menangkap botol itu.


"Itu adalah penawar racun untuk kedua temanmu." Ucap Azarka.


"Terima kasih, tuan." Ucap Rin, dia bahagia, akhirnya Kalia dan Narz bisa selamat.


Rin pergi dari sana, Akara ingin mengejar Rin, tapi dihentikan oleh Lisia.


"Jangan!" Ucap Lisia.


Akara melihat Lisia, dia mematuhi perintah Lisia tanpa bertanya apa pun. Akara diam di sana, menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Lama tidak bertemu ya, Lisia." Ucap Azarka tersenyum.

__ADS_1


Lisia tidak menjawab, dia menatap Azarka dengan tatapan dingin.


"Perubahan sifatmu sangat cepat, padahal tadi kau bersikap sangat cerdik, kenapa sekarang kau menjadi dingin? Diantara kedua sifat itu, yang mana sifatmu yang sebenarnya?" Tanya Azarka tersenyum.


Lisia tiba-tiba berada di belakang Azarka, dia menyerang Azarka.


"Maaf saja, tapi tidak semudah itu untuk mengalahkanku." Azarka mengeluarkan kekuatan sihir yang sangat kuat. Bangunan tua itu retak karena kekuatan sihir Azarka.


Lisia menjauh dari Azarka, dia lalu mengeluarkan kekuatan sihir yang sangat kuat, kekuatannya mungkin setara dengan kekuatan sihir Azarka.


Kekuatan sihir Azarka dan kekuatan sihir Lisia saling beradu. Lisia dan Azarka saling menatap.


Sementara Akara, dia telah menghilang dari tempatnya tadi. Dia menjauh dari sana agar tidak terkena kekuatan sihir Lisia dan Azarka.


***


Rin telah sampai di rumah sakit, dia memberikan botol penawar racun itu pada Alaya.


Alaya segera mengambil botol penawar racun itu, Alaya segera meminumkan penawar racun itu pada Narz dan Kalia.


Kondisi Narz dan Kalia membaik, Rin dan Alaya menghela napas lega.


"Apa saja yang terjadi di sana?" Tanya Alaya.


Rin menceritakan semua yang terjadi di sana pada Alaya. Alaya sendiri terkejut karena mendengar tentang kedatangan Azarka.


Rin melihat sekitar, dia tidak menemukan Fal, "Oh iya, di mana Fal?" Tanya Rin.


"Dia pergi ke membeli makanan." Ucap Alaya.


"Katanya ada toko yang terbuka 24 jam, biarkan saja, dia pasti lapar." Ucap Alaya.


***


Fal saat ini berada di dekat bangunan tua yang berada di selatan kota. Dia berbohong pada Alaya kalau dirinya ingin membeli makanan.


Tadi, dia mendapati surat yang telah dirobek oleh Rin. Dia menyatukan potongan-potongan surat itu dan membacanya.


Meski ada beberapa tulisan yang tidak jelas karena ada potongan yang hilang, tapi dia masih bisa membaca beberapa kata.


Saat ini, Fal berada di dekat bangunan tua yang berada di sebelah selatan.


Dia merasakan kekuatan yang sangat kuat dari bangunan itu, entah apa yang terjadi. Dia baru saja tiba, hingga tidak tahu apa yang terjadi.


'Apa ini kekuatan kak Rin? Tapi, apa kekuatan kak Rin memang sekuat ini? Dan juga, aku merasakan kekuatan lain...' Pikir Fal.


Kedua kekuatan itu tiba-tiba menghilang.


Fal segera berlari ke bangunan tua itu, dia masuk ke bangunan tua itu dan tidak menemukan siapa pun di sana.


Tiba-tiba, dia merasakan kekuatan yang sangat hebat dari pusat kota, dia segera keluar dari bangunan tua itu. Bangunan tua itu terletak di sebelah selatan kota dan berada sangat jauh dari pusat kota, tidak ada rumah apa pun di dekatnya.


Dan dari sana, Fal melihat kota itu terbakar. Para penduduk berlarian, mereka berusaha menyelamatkan diri mereka.

__ADS_1


Tapi sebuah penghalang menghalangi mereka untuk keluar.


***


Alaya dan Rin segera menyelamatkan Kalia dan Narz, lalu mereka keluar dari rumah sakit.


Rin menggunakan sihir pelindung, tapi tidak bisa.


"Rin, cepat!" Ucap Alaya.


"Alaya, coba gunakan kekuatan sihirmu!" Ucap Rin.


Alaya tidak mengerti ucapan Rin, "Apa susahnya– Eh? Tidak bisa?" Alaya tidak dapat menggunakan sihirnya.


***


Fal berlari ke kota itu, tapi penghalang itu menghalangi dirinya. Fal mencoba menghancurkan penghalang itu, tapi tidak bisa.


Dari jauh, dia melihat Rin dan Alaya yang terjebak dalam api itu. Mereka kekurangan oksigen.


Fal terus berusaha menghancurkan penghalang itu tapi tetap tidak bisa. Lalu dari jauh, dia melihat Lisia dan seorang gadis berambut merah muda. Mereka melihat kota yang terbakar itu dengan tatapan dingin, seolah tidak peduli.


Sekali lihat, Fal bisa tahu jika mereka adalah orang yang melakukan semua ini.


'Bagaimana mereka bisa menghilangkan nyawa banyak orang tanpa mereka bersalah?' Fal berlari menghampiri Lisia.


Fal menyerang Lisia, tapi Akara dengan cepat menyerang Fal lebih dulu.


Fal terjatuh di tanah, dia melihat Lisia, "Kenapa kau membakar kota ini?"


"Aku mendapatkan misi untuk menghancurkan organisasi penjahat." Ucap Lisia.


"Jadi kau mengincar kami? Tapi, kenapa kau juga mengambil nyawa orang-orang yang tidak berdosa?!" Fal meninggikan suaranya.


"Bukan hanya kau, tapi semua penduduk kota ini juga adalah organisasi penjahat. Aku juga baru saja mengetahuinya." Ucap Lisia.


Fal terkejut, dia tidak percaya dengan ucapan Lisia, "Kau bohong!"


"Terserah kau ingin percaya atau tidak." Ucap Lisia.


"Apa kau adalah bawahan Kaisar?" Tanya Fal.


"...Ya." Ucap Lisia.


"Biarpun kami semua adalah penjahat, lalu apa bedanya kami dengan dirimu? Kau juga membunuh banyak orang." Ucap Fal.


"...memangnya aku pernah berkata kalau aku berbeda dengan kalian?" Lisia menatap Fal dengan tatapan dingin.


Lisia tahu, dia tidak jauh berbeda dari para penjahat.


Fal menatap Lisia dengan tatapan tidak percaya.


Lisia berbalik, "Akara, bereskan dia." Perintah Lisia.

__ADS_1


"Baik." Akara mengeluarkan pedangnya lalu menusukkan pedang itu ke Fal.


Bersambung...


__ADS_2