
Lisia segera mengeluarkan pedangnya setelah melihat manusia percobaan itu.
Dia menebas manusia percobaan itu. Tapi, serangannya tidak mempan.
Lisia melihat mata manusia percobaan, tatapan matanya kosong.
'Jadi dia manusia percobaan yang gagal.' Lisia menyerang manusia percobaan menggunakan pedangnya yang telah dilapisi oleh sihir.
Itu tetap tak mempan, tubuh manusia percobaan itu sangat keras. Tetapi sedari tadi dia tidak bergerak.
'Tidak mempan, kalau begitu...' Lisia menancapkan pedangnya di lantai. Dia memegang pedangnya dan menutup matanya lalu mengucapkan sebuah mantra.
Sebuah cahaya menyinari tubuh Lisia, Lisia membuka matanya.
Dia melihat manusia percobaan itu yang kesadarannya perlahan kembali. Tapi Lisia tahu, kalau yang mengendalikan tubuh manusia itu adalah sihir kuat yang dialirkan ke tubuhnya.
Lisia menyerang manusia percobaan itu, manusia percobaan itu menghindari serangan Lisia.
Lisia kembali menyerang manusia percobaan itu, tapi terus dihindari olehnya.
Lisia menatap mata manusia percobaan itu, tatapan matanya masih kosong.
Lisia membuat bayangan dirinya, para bayangan itu mengelilingi manusia percobaan.
Lisia lalu menyerang manusia percobaan itu, manusia percobaan itu menghindarinya. Tapi bayangan Lisia menusuk perut manusia percobaan itu menggunakan pedang.
'Berhasil!' Batin Lisia.
'Aku harus mengalahkannya sebelum tubuhnya diambil alih sepenuhnya!' Pikir Lisia.
Lisia menyerang manusia percobaan itu terus menerus, dan terus dihindari oleh manusia percobaan itu.
Sebuah akar datang dari lantai dan mengikat manusia percobaan itu.
Lisia mengalirkan kekuatan sihir ke pedangnya, lalu dia menusuk jantung manusia percobaan itu.
Manusia percobaan itu tetap diam dengan tatapan mata kosong. Dia tidak berteriak kesakitan, atau gemetaran.
Lisia mengambil kembali pedangnya 'Dia telah mati' Pikir Lisia.
Tatapan mata Lisia kosong melihat manusia percobaan itu 'Mengingatkanku pada kenangan lama saja.' Pikir Lisia.
Lisia menyimpan kembali pedangnya dan berniat pergi dari sana, tapi berhenti setelah mendengar suara manusia percobaan itu.
"To...long..."
Lisia berbalik kembali, melihat manusia percobaan itu 'Kesadarannya masih ada!'
Lisia mendekati manusia percobaan itu 'Apa eksperimennya berhasil? Dia bisa mempertahankan kesadarannya.' Batin Lisia.
Lisia berniat menolong manusia percobaan itu, tapi dia melompat menjauh saat melihat manusia percobaan itu yang mengeluarkan petir dari tubuhnya.
'Ternyata hanya sementara.' Batin Lisia.
__ADS_1
Lisia menyerang manusia percobaan itu menggunakan sihir petir.
Tapi manusia percobaan itu menghindarinya. Manusia percobaan itu berjalan mendekati Lisia.
Lisia tidak panik, dia tetap tenang. Dia memejamkan matanya dan mengucapkan sebuah mantra.
Sebuah lingkaran sihir muncul di depan manusia percobaan itu, sihir itu menghalangi manusia percobaan itu untuk mendekati Lisia.
Manusia percobaan itu berbelok ke kanan, tapi di kanan juga sama. Manusia percobaan berbalik, dan sama, seperti ada tembok tak terlihat yang menghalanginya.
Sihir pengurungan tingkat S. Itulah yang dipasang Lisia di segala arah untuk mengurung manusia percobaan itu.
Manusia percobaan itu berusaha menghancurkan sihir pengurungan tapi tak berhasil.
Selia dan Zen datang. Zen datang sambil menyeret Ales dan Wia yang telah kalah dengan muka datar. Sementara Selia menunduk, wajahnya terlihat seperti merasa bersalah.
Zen melihat manusia percobaan itu "Lisia, dia..."
"Dia adalah manusia percobaan yang gagal." Ucap Lisia.
Zen melihat Lisia 'Jadi karena ini dia berlari kesini.' Pikir Zen.
Lisia melihat Ales yang diseret oleh Zen "Apa dia mati?" Tanya Lisia.
Zen menggeleng "Tidak, aku tidak membunuhnya."
"Baguslah, karena ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya." Ucap Lisia.
Lisia mendatangi Ales "Setelah dia sadar, aku akan mengintrogasinya. Aku akan mengikatnya dahulu." Lisia lalu mengikat Ales dan Wia menggunakan rantai sihir.
"Lebih baik dibunuh bukan? Daripada dia membahayakan banyak orang." Ucap Lisia.
Selia yang sedari tadi terdiam, terkejut mendengar ucapan Lisia "Kau ingin membunuh makhluk yang tidak berdosa?"
"Putri Selia, makhluk yang anda katakan tidak berdosa itu bisa saja membunuh banyak manusia di masa depan nanti." Ucap Lisia serius.
"Tapi–"
"Putri Selia!" Lisia menghentikan perkataan Selia "Makhluk itu sangat berbahaya. Jika dibiarkan hidup, dia akan membunuh banyak orang. Apa anda ingin itu terjadi?"
Selia mengepalkan tangannya "Lalu karena itu kau ingin membunuhnya? Itu bukanlah kesalahannya, tapi kesalahan orang yang membuatnya seperti itu."
"Jadi kau ingin aku melepaskan makhluk ini? Apa kau mau banyak orang mati karenanya?" Tanya Lisia.
Selia tidak menjawab perkataan Lisia. Dia tidak ingin manusia percobaan itu mati, tapi dia juga tidak ingin banyak orang mati karena manusia percobaan itu.
Zen dan Lisia saling melihat. Mereka mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini.
'Tunggu,' Lisia terpikirkan sebuah cara, dia pergi ke tabung manusia percobaan lain yang belum terbangun.
Lisia memegang tabung percobaan itu, dia menutup matanya 'Manusia percobaan ini telah mati, sihir yang diberikan pada tubuhnya itulah yang membuatnya hidup. Kalau begitu...'
Lisia membuka matanya, lalu dia pergi mendekati manusia percobaan yang telah bangun.
__ADS_1
Lisia melihatnya sebentar lalu pergi ke ruangan di mana ada banyak batu sihir.
'Pertama, aku harus mencegah agar manusia percobaan lain tidak bangun.' Lisia mengeluarkan pedangnya dan memotong semua selang yang tersambung ke tabung yang berisi manusia percobaan.
***
Zen dan Selia terkejut karena para manusia percobaan yang berada di tabung tiba-tiba bergerak.
Zen mengeluarkan pedangnya.
Manusia percobaan di tabung itu berhenti bergerak. Membuat Zen dan Selia bingung dengan apa yang terjadi.
***
Lisia lalu mengambil salah satu batu sihir lalu kembali ke tempat manusia percobaan yang telah bangun itu.
"Lisia, apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Selia, dia berharap Lisia tidak membunuh manusia percobaan itu.
Lisia tidak menjawab, dia menyerap semua sihir dari manusia percobaan itu. Manusia percobaan itu berteriak kesakitan karena sihirnya diambil.
"Lisia! Hentikan! Kau ingin membunuhnya?!" Selia berteriak.
"Dari awal dia telah mati." Ucap Lisia membuat Zen dan Selia terkejut.
"Semua manusia percobaan yang berada disini telah mati. Sihir yang diberikan padanya melalui batu-batu sihir itulah yang membuatnya hidup." Ucap Lisia.
Sekali lagi, Zen dan Selia terkejut.
'Jadi sihir untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati itu nyata?' Pikir Selia.
Seakan tahu apa yang dipikirkan Selia, Lisia menjawab "Ya, sihir itu nyata. Buktinya sudah ada di depan kalian sekarang ini. Tapi, yang hidup hanya tubuh mereka yang telah dikuasai oleh sihir. Sementara jiwa mereka akan tetap mati. Seperti yang kalian lihat saat ini."
Selia melihat manusia percobaan itu, harapan di matanya menghilang 'Kalau begitu, percuma saja untuk menghidupkan kembali ibu selir pertama.' Pikir Selia.
Ales terbangun, dia melihat Lisia yang mengambil sihir manusia percobaan itu "Tidak! Jangan!"
Ales berteriak dan mencoba menghentikan Lisia "Evia... Jika kau membunuhnya, maka Evia tidak bisa dihidupkan kembali!"
"Orang yang telah mati akan tetap mati. Meski kau menggunakan sihir ini untuk menghidupkan kembali selir pertama, dia akan sama seperti makhluk ini." Ucap Lisia.
Ales melihat manusia percobaan itu "Tidak mungkin! Kata 'dia', Evia akan hidup kembali dan menjadi manusia biasa! Bukan seorang manusia percobaan seperti itu!"
Lisia melihat Ales "Siapa 'dia'?"
"'Dia' adalah orang yang menyelamatkanku dan mengatakan padaku tentang sihir ini!" Ucap Ales.
Sihir manusia percobaan itu telah diserap semuanya, Lisia lalu memberikan batu sihir itu pada Zen.
"Kalau begitu, artinya 'dia' yang kau maksud itu telah menipumu." Ucap Lisia.
"Tidak! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin!"
'Pada akhirnya, orang yang telah mati tidak akan bisa dihidupkan kembali.' Pikir Selia sedih.
__ADS_1
Bersambung...