Magic Academy

Magic Academy
36. Tuan pertama dan tuan kedua


__ADS_3

Tuan pertama mulai menyerang, dia mengincar Van. Lisia yang berada di dekat Van melindungi Van, dia menahan serangan tuan pertama.


Tuan pertama melihat Lisia, dia menyerang Lisia terus menerus, Lisia menghindari serangan tuan pertama, Lisia semakin menjauh dari teman-temannya karena menghindari serangan tuan pertama. Tuan pertama ingin berbicara dengan Lisia, karena itu dia membuat Lisia menjauh dari teman-temannya. Lisia menyadari hal itu, tapi dia tetap menjauh dari teman-temannya seperti yang diinginkan tuan pertama.


Setelah lumayan jauh dari teman-temannya, tuan pertama berhenti menyerang Lisia. Lisia juga berhenti menghindar, tapi Lisia tetap waspada pada tuan pertama, siapa yang tahu jika tuan pertama akan menyerangnya secara tiba-tiba.


Lisia melihat Rill, Naya dan Jain yang sedang melawan tuan kedua, mereka terlihat kesulitan. Tuan kedua sangat cepat, bahkan bila mereka bisa mengetahui pergerakan tuan kedua selanjutnya, tapi belum tentu mereka bisa menghentikannya karena kecepatan tuan kedua.


Lisia mengalihkan tatapannya ke Van yang masih terbaring, lalu dia kembali melihat tuan pertama "Kenapa kau menjauhkanku dari mereka?" Tanya Lisia.


"Tuan kami ingin bertemu dengan anda, Putri." Ucap tuan pertama.


***


Jain terus menyerang tuan kedua, tuan kedua dengan cepat menghindari serangan Jain. Naya terus menembak tuan kedua menggunakan pistol sihirnya, tapi tidak ada serangan yang terkena. Begitu pula dengan Rill, dia terus menyerang tuan kedua tapi dihindari oleh tuan kedua.


Kecepatan tuan kedua membuat mereka kesulitan melawannya.


Rill sangat serius dengan pertarungan mereka melawan tuan kedua, hingga dia melupakan seseorang yang tidak berada di dekat mereka.


"Ada apa ini? Apakah kekuatan kalian hanya seperti ini?" Tanya tuan kedua, dia mulai merasa sangat hebat.


Tuan kedua tiba-tiba berada di belakang Rill, Rill terkejut dan segera membalikkan badannya. Tuan kedua menyerang Rill, kecepatan tuan kedua membuat Rill tidak bisa menahan ataupun menghindari serangan itu.


Rill terlempar lumayan jauh ke tanah karena serangan tuan kedua.


Naya dan Jain segera menyerang tuan kedua, dan tuan kedua terus menghindari serangan mereka.

__ADS_1


Rill bangun, dia ingin membantu Naya dan Jain untuk melawan tuan kedua, tapi dia berhenti saat melihat Van, dia teringat dengan Lisia, 'Putri Lisia, di mana dia?!' Rill melihat sekeliling, dia menemukan Lisia jauh dari sana. Lisia sedang bertarung melawan tuan pertama. Rill terkejut karena Lisia bisa mengimbangi kekuatan tuan pertama, 'Itu putri? Jika dia sekuat itu, kenapa dia bisa kelelahan hanya dengan melawan wanita tadi?' Batin Rill bertanya-tanya.


Rill merasa ada yang janggal, padahal Lisia bisa bertarung seimbang dengan tuan pertama, tapi kenapa dia tidak bisa melawan nona ketiga? Padahal dia bisa merasakan jika kekuatan tuan pertama lebih kuat dari nona ketiga.


Rill memutuskan untuk berhenti memikirkan hal itu, memikirkannya hanya akan membuat Rill sakit kepala. Meski sejak masuk ke Magic Academy, waktu istirahatnya banyak terbuang.


Rill kembali membantu Jain dan Naya menyerang tuan kedua.


***


Lisia melihat Rill, Rill sedang melihat orang yang mirip dengannya sedang melawan orang yang mirip dengan tuan pertama, 'Sihir ilusi ini, adalah sihir ilusi peringkat S?' Batin Lisia.


Rill tidak bisa mengetahui jika itu adalah sihir ilusi, dia bukanlah orang yang ahli dengan sihir ilusi, dia juga tidak sensitif sehingga bisa merasakan keberadaan seseorang dari sihir atau aura mereka. Berbeda dengan Lisia, Jain dan Van.


Lisia kembali melihat tuan pertama, "Tadi kau mengatakan tuanmu ingin bertemu denganku, kenapa?" Tanya Lisia.


Lisia menatap tuan pertama, dia bisa merasakan tuan pertama tidak terlalu hebat dalam hal bertarung. Tapi tuan pertama bisa menggunakan sihir ilusi peringkat S, keahliannya mungkin bukan dalam hal bertarung. Tapi meski begitu, dia sama sekali tidak terlihat ketakutan saat berhadapan dengan Lisia, dia sangat tenang.


"Aku menolak." Ucap Lisia.


Lisia tidak tahu kenapa tuan mereka ingin bertemu dengan Lisia, tapi Lisia tidak bisa mengambil resiko untuk bertemu dengannya.


"Wah, sayang sekali kalau begitu." Seorang gadis tiba-tiba muncul di atap sebuah gedung yang berada tak jauh dari Lisia. Gadis itu menggunakan jubah hitam dan topeng, lalu ada angka 0 di jubahnya. Dia adalah nona Zero.


Sihir ilusi itu tiba-tiba menghilang, tuan pertama juga menghilang dan dia tiba-tiba berada di belakang samping nona Zero. Tuan pertama berlutut dan menunduk pada nona Zero.


Tuan kedua tiba-tiba berhenti saat merasakan kedatangan seseorang yang dia kenali, dia melihat ke arah nona Zero. Tuan kedua menghilang dan tiba-tiba berada di samping nona Zero, dia menunduk pada nona Zero.

__ADS_1


Rill, Naya dan Jain melihat nona Zero, Lisia berbicara dengan nona Zero, tapi mereka tidak bisa mendengar suaranya.


Lisia menatap noma Zero, "Apakah kau adalah bos mereka?" Tanya Lisia.


"Bukan." Ucap nona Zero.


"Lalu, kenapa mereka menunduk padamu?" Tanya Lisia, dia menatap tajam nona Zero.


"Aku adalah tangan kanan tuan kami, bisa dibilang aku adalah wakil beliau." Ucap nona Zero.


nona Zero membuat bayangan, bayangan-bayangan nona Zero mengelilingi Lisia dan yang lain.


Bayangan itu menyerang Lisia dan teman-temannya. Lisia mengeluarkan pedangnya dan menebas para bayangan itu.


'Mirip dengan sihir gadis yang menyerang kami saat misi melindungi Selia, tapi sihir ini lebih kuat.' Batin Lisia. Dia tidak mengingat nama Wia, gadis yang merupakan bawahan Ales.


Saat Lisia sedang sibuk bertarung dengan para bayangan nona Zero, sebuah portal tiba-tiba muncul di belakang Lisia.


Lisia berusaha menghindari portal itu, tapi bayangan nona Zero mendorongnya sehingga dia masuk ke portal.


"Lisia!" Naya dan Jain meneriaki nama Lisia.


"Putri!" Rill berlari ke Lisia, dia ingin menyelamatkan Lisia. Tapi terlambat, Lisia telah masuk ke portal itu dan portal itu menghilang.


Rill menoleh, dia menatap tajam nona Zero, "Putri ada dimana?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2