Magic Academy

Magic Academy
75. Sebelum pertandingan kedua


__ADS_3

Lisia melamun memikirkan ucapan profesor Levin. Hingga, suara dari pintu yang terbuka menyadarkannya dari lamunannya.


Di pintu, Lisia melihat 8 perwakilan Magic Academy yang lain.


"Bagaimana keadaanmu?" Hain membawakan makanan untuk Lisia.


"Loh? Profesor Levin? Apa yang anda lakukan di sini?" Tanya Bereilla.


"Aku hanya ingin menjenguk Lisia." Profesor Levin berdiri, "Karena kalian sekarang sudah datang, aku pergi dulu ya." Profesor Levin berjalan dan pergi dari ruang pengobatan.


"Menjenguk katanya?" Bereilla menoleh ke arah Lisia, "Arlisia, apa hubunganmu dengan si sialan itu?"


"Dia kakakku." Ucap Lisia.


Bereilla terkejut mendengarnya, "Dia kakakmu?! Kalau begitu, dia adalah pangeran kekaisaran Arrilla?!"


"Kau tidak mengetahuinya?" Tanya Caelzen.


"Tidak! Bagaimana aku bisa mengetahuinya! Bukankah nama profesor Levin adalah Arlevin Alvioletta?!" Bereilla bertanya untuk memastikan.


"Alvioletta adalah nama keluarga permaisuri kekaisaran Arrilla. Profesor Levin menggunakan nama itu karena dia adalah penerus keluarga Alvioletta." Hain menjelaskannya kepada Bereilla.


"Kau sungguh tidak tahu apa-apa ya?" Ucap Xava.


"Tidak! Dia tidak pernah memberitahukannya padaku!" Ucap Bereilla.


"Dia jahat sekali! Padahal aku adalah muridnya!" Bereilla kesal.


Dahulu, Levin pernah mengajarkan sihir secara pribadi kepada Bereilla saat Bereilla masih kelas 1.


Bereilla memperhatikan Lisia, "Setelah kulihat-lihat lagi, kalian memang agak mirip."


Pintu ruang pengobatan terbuka, tim medis masuk ke ruang pengobatan, bersama dengan 2 orang perwakilan Fire Academy.


'Fire Academy menempati posisi kedua ya?' Batin Lisia.


"Uh..." Everilly mulai tersadar.


Semuanya menoleh ke arah Everilly, mereka menghampiri Everilly. Lisia juga berdiri, dan menghampiri Everilly.


Everilly perlahan membuka matanya, dia melihat wajah teman-temannya yang menatap dirinya.


Everilly bangun, dia duduk di ranjang ruang pengobatan, dia dibantu duduk oleh teman-temannya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Caelzen.


Everilly memegang kepalanya, "Kepalaku hanya sedikit sakit. Apa yang terjadi?"


"Kita terjebak ilusi." Everilly menoleh ke arah Lisia, "Saat perwakilan Sword Academy itu mengaktifkan batu teleportasi, ternyata itu bukan batu teleportasi. Melainkan, jebakan yang jika diaktifkan akan membuat orang-orang disekitarnya terjebak ilusi." Lisia menjelaskannya kepada Everilly.


"Eh? Lalu, bagaimana dengan—"


"Tenanglah, Lisia berhasil keluar dari ilusi itu, dan kalian mendapatkan juara pertama dalam pertandingan pertama ini." Arzevian memotong ucapan Everilly.


Everilly menghela napas lega mendengar ucapan Arzevian. Dia akan merasa bersalah jika tidak mendapat juara dalam turnamen ini.


Everilly tiba-tiba ingat, mengenai ilusi tadi, apa yang dilihatnya di ilusi, dan bagaimana ilusi itu menghilang dari pikirannya, entah kenapa. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Dia mulai ketakutan mengingat ilusi tadi.


Lisia yang menyadari ekspresi Everilly yang mulai berubah menjadi ketakutan.

__ADS_1


"Jangan mengingat apa yang kau lihat di ilusi tadi, itu bisa saja menghancurkan mentalmu." Ucap Lisia.


Mereka melihat Lisia, banyak yang ingin mereka tanyakan kepada Lisia mengenai ilusi tadi. Tapi, mereka ragu untuk menanyakannya. Karena Lisia, tampaknya tidak akan memberitahukan hal itu.


***


Mengingat kondisi Everilly, dia masih harus tinggal di ruang pengobatan untuk sementara waktu.


Kedelapan perwakilan Magic Academy selain Lisia dan Everilly, kembali ke ruang tunggu.


Sekarang ini, pertandingan ilusi telah selesai, hasil dari pertandingan ini adalah:


Magic Academi, 12 poin


Fire Academy, 11 poin


Dragon Academy, 10 poin


Eagle Academy, 9 poin


Sword Academy, 0 poin


Wolf Academy, 0 poin


Ice Academy, 0 poin


Dream Academy, 0 poin


Trisian Academy, 0 poin


Earth Academy, 0 poin


Flower Academy, 0 poin


Ada 8 akademi yang gagal untuk keluar dari labirin ilusi, entah karena terjebak ilusi taupun karena kalah dari akademi lain.


Lisia dibiarkan untuk keluar dari ruang pengobatan, dia saat ini berada di taman Magic Academy.


Pertandingan selanjutnya baru akan dimulai 1 jam lagi. Sebelum itu, Lisia menenangkan pikirannya di cafe yang berada di Magic Academy.


Lisia masuk ke cafe itu, dia duduk di kursi yang berada di dekat jendela.


Seorang pelayan di cafe itu mendatangi mejanya, "Anda ingin memesan apa?" Pelayan itu tersenyum ramah.


"Kopi 1 ya." Ucap Lisia tersenyum.


"Baiklah, apa hanya itu saja?" Tanya pelayan itu.


"Ya." Ucap Lisia.


"Baik, tolong tunggu sebentar." Pelayan itu lalu pergi untuk membuatkan pesanan Lisia.


Lisia melihat ke sekelilingnya, lalu melihat ke luar jendela. Di cafe saat ini hanya ada dirinya dan pelayan di cafe ini, sehingga suasananya tenang, cocok untuk menenangkan diri.


Di ruang pengobatan tadi, rasanya dia tidak bisa menenangkan diri, dia terus teringat dengan apa yang dilihatnya di ilusi tadi. Untungnya, dia cepat keluar dari ilusi, jika tidak, entah apa saja yang akan dia lihat di ilusi tadi.


***


Tak lama lagi, pertandingan kedua akan dimulai.

__ADS_1


Lisia saat ini berada di arena, dia sedang dalam perjalanan untuk pergi ke ruang tunggu.


Sebelum sampai di ruang tunggu, dia berpapasan dengan Kaisar Arrilla.


"Lama tidak bertemu, bagaimana Magic Academy menurutmu?" Kaisar Arrilla.


"Aku bertemu dengan banyak orang yang berbakat di sini." Ucap Lisia.


"Itu saja?"


"Jangan basa-basi. Ada apa?" Lisia menatap tajam Kaisar.


"Aku dengar, kau bertemu dengan kakakmu." Ucap Kaisar.


"Maksudmu Pangeran Pertama?" Tanya Lisia.


"Ya. Kau tidak mengatakannya kepada Levin bukan?" Kaisar menatap tajam Lisia.


'Tentang kematian Lais dan sufours ya?' Batin Lisia, "Tidak."


"Baguslah, lagipula kau tahu sendiri apa yang terjadi jika dia mengetahuinya bukan?" Kaisar Arrilla menatap tajam Lisia.


Lisia tidak menjawabnya, tentu saja dia mengetahui apa yang akan terjadi pada Levin jika dia memberitahukannya.


"Ngomong-ngomong, mengenai ucapanmu sebelum aku pergi ke Magic Academy saat itu..."


"Berhati-hatilah."


"...Perkataanmu saat itu, seolah kau sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Kaisar..." Lisia menghentikan ucapannya beberapa saat, "...kau bukan Kaisar yang berkhianat itu bukan?" Lisia bertanya untuk memastikan.


'Jika itu benar, maka kekaisaran Arrilla...' Lisia memikirkan dampak apa saja yang akan diterima oleh kekaisaran Arrilla jika Kaisar Arrilla benar-benar adalah Kaisar yang berkhianat itu.


"Aku tidak sebodoh itu." Ucap Kaisar Arrilla, setelahnya dia berbalik dan pergi dari sana.


Lisia memandang punggung Kaisar dari jauh, 'Justru karena kau bukan orang bodoh... kau tidak merencanakan sesuatu yang diluar perkiraanku bukan?' Batin Lisia.


'Lagipula kau... adalah orang yang akan melakukan segala hal agar tujuanmu tercapai. Termasuk mengorbankan anakmu sendiri.' Lisia mengepalkan tangannya.


Setelah Kaisar sudah menghilang dari pandangannya, Lisia lanjut berjalan menuju ke ruang tunggu.


"Lisia."


Lisia menoleh saat mendengar sebuah suara yang memanggil namanya. Di belakangnya terdapat Van.


"Van, apa batasan sihirmu sudah berubah kembali menjadi 5 sihir peringkat S?" Tanya Lisia.


"Ya, sepertinya 4 Kaisar sudah mengubah batasannya kembali." Ucap Van.


"Apa kau mendengar pembicaraanku dengan Kaisar Arrilla?" Tanya Lisia.


"Tidak, saat aku datang Yang Mulia Kaisar Arrilla berbalik dan pergi. Memangnya kenapa?" Tanya Van.


"Tidak, tidak apa-apa." Ucap Lisia.


Van memperhatikan wajah Lisia, dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi, setelah Kaisar Arrilla pergi, Lisia mengepalkan tangannya.


'Dari rumor, aku dengar Yang Mulia Kaisar Arrilla menyayangi Putri Lisia. Tapi, sepertinya rumor itu tidak benar ya.' Pikir Van.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2