
Setelah kematian Evia, para bayangan Kalia menghilang. Kalia, pria bertopeng itu dan Ales pergi meninggalkan istana.
Kabar kematian Evia menyebar dengan cepat ke seluruh istana. Mendengar kabar itu, ada orang yang sedih, ada yang senang, dan ada yang tidak peduli.
"Bagaimana ini? Sejak kemarin, Yang Mulia Kaisar mengurung dirinya dalam kamar. Padahal hari ini adalah pemakaman selir pertama." Bisik pelayan.
"Yang Mulia pasti sangat mencintai selir pertama." Bisik pelayan lain.
"Tentu saja. Bahkan hanya selir pertama yang tidak tinggal di istana selir, melainkan memiliki istana sendiri." Bisik pelayan lain.
***
Selia menangis di sebelah makam selir pertama, 'Ini salahku! Saat penyerangan kemarin, aku terlalu takut untuk keluar dari kamar! Padahal bila aku berada di samping ibu selir pertama, aku bisa menyembuhkannya menggunakan sihir penyembuhanku.' Selia menyalahkan dirinya sendiri.
Saat penyerangan kemarin, Selia terbangun saat mendengar keributan. Tapi, dia terlalu takut untuk keluar dari kamarnya.
Zen menatap makam ibunya dengan tatapan kosong. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibunya, 'Seharusnya aku datang lebih cepat saat itu.'
Selir kedua dan selir kedelapan curiga pada selir kelima. Apakah dia yang membuat keributan itu dan membunuh selir pertama? Mereka tahu, selir kelima mencintai Yang Mulia Kaisar, jadi masuk akal jika selir kelima yang menyingkirkan selir pertama karena cemburu.
Zen tidak menemukan Ales dimana pun, apakah Ales telah mati? Tapi jika memang benar seperti itu, kenapa mayatnya tidak ada?
***
Beberapa bulan berlalu, sejak kematian Evia, Zen banyak berubah. Zen yang biasanya selalu keluar istana secara diam-diam tidak pernah lagi keluar dari istana. Zen juga menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Para penduduk ibukota menghawatirkan Zen, mereka mengirim surat ke istana setiap hari untuk menanyakan keadaan Zen. Zen membalas suratnya dengan surat singkat yang bertuliskan 'Aku baik-baik saja', hal itu membuat para penduduk semakin menghawatirkan keadaan pangeran pertama mereka.
Sementara Selia yang biasanya sering berada di istana, sering keluar dari istana. Disaat dia mendengar tentang seseorang yang memiliki penyakit atau luka parah, dia pergi untuk menyembuhkannya.
Meski telah berbulan-bulan, Zen tisak berhenti mencari tahu siapa yang membayar pria bertopeng itu dan Kalia untuk membunuh ibunya. Dia juga mencari tahu keberadaan mereka, meski semua itu sia-sia.
***
Hari ini adalah hari ulang tahun Zen yang ke-12. Di hari ulang tahun yang ke-12, seorang pangeran dan putri akan meninggalkan istana ibunya dan tinggal di istananya sendiri.
__ADS_1
"Sampai jumpa lagi, dan semoga anda sehat selalu, pangeran kedua." Ucap Selia.
Sejak kematian Evia, Zen meminta Selia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'kakak' lagi. Hubungan mereka semakin tidak baik. Meski mereka ingin memperbaiki hubungan mereka itu, tapi mereka tidak tahu caranya.
Zen mengangguk "Terima kasih." Ucapnya lalu pergi dari sana.
Selia menatap punggung Zen yang semakin menjauh, dia merasakan perasaan sedih, saat ini hanya Zen yang bisa dianggapnya sebagai saudara.
***
Zen saat ini sedang meminum teh di taman. Tidak ada pelayan atau penjaga yang berada di taman itu, hanya dia sendirian. Zen memang menyuruh pelayan untuk meninggalkannya sendirian di taman.
Sebuah anak panah hampir mengenai Zen tanpa disadarinya. Zen mengeluarkan pedangnya dan waspada "Siapa di sana?!"
Tidak ada yang menjawab, Zen melihat anak panah itu yang tertancap di pohon, terdapat sebuah kertas yang terikat di anak panah itu.
Zen mendekat, dia mencabut anak panah itu dan mengambil kertasnya. Zen membaca tulisan di kertas itu.
Kau ingin mengetahui siapa dalang dari kematian ibumu?
Sekali lagi, sebuah anak panah melesat ke arah Zen. Zen memotong anak panah itu menjadi dua menggunakan pedangnya sebelum anak panah itu mengenainya.
Zen mengambil kertas yang terikat di anak panah itu dan membacanya.
Datanglah ke hutan di sebelah selatan ibukota.
***
Seperti yang diperintahkan dalam surat itu, Zen datang ke hutan di sebelah selatan ibukota.
Dia pergi secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun.
Tak lama, seorang gadis datang. Gadis itu adalah Kalia.
Zen menatap Kalia dengan tatapan penuh benci, gadis di depannya itu adalah salah satu orang yang membuat ibunya mati.
__ADS_1
Kalia tidak memperdulikan tatapan Zen, dia memberikan sebuah batu rekaman pada Zen. Zen ragu, tapi dia tetap mengambil batu rekaman itu.
"Itu adalah bukti rekaman saat selir kelima berbicara dengan tuanku. Beserta beberapa rekaman lain." Ucap Kalia.
Zen tidak terkejut, dia telah menebak kalau selir kelima adalah dalang dibalik kematian ibunya. Tapi, dia tidak memiliki bukti.
Zen menatap curiga "Kenapa kau memberikannya padaku?"
"Tuan yang menyuruhku untuk memberikannya padamu." Ucap Kalia.
Kalia berbalik dan ingin pergi, tapi Zen menyerang Kalia menggunakan sihirnya.
Zen menatap tajam Kalia "Setelah semua itu, apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi?"
Tubuh Kalia perlahan menghilang, "Aku telah memikirkan semua itu, karena itu yang berada di depanmu sekarang adalah bayangan." Kalia menghilang sepenuhnya.
Zen berbalik, dia kembali ke istana.
***
Zen memutar rekaman itu. Di batu rekaman itu, terdapat percakapan antara pria bertopeng itu dengan selir kelima. Juga percakapan selir kelima, selir kedua dan selir kedelapan.
Zen mengepalkan tangannya, dia tidak dapat menahan amarahnya. Dia datang ke istana para selir dan membunuh orang-orang yang terlibat.
Pangeran ketiga yang melindungi ibunya terluka parah. Tidak ada yang berani menghentikan Zen. Para pelayan dan selir lain hanya diam saja dan membiarkan Zen.
Rumor tentang Zen yang membunuh selir kedua, selir kelima dan selir kedelapan dengan cepat menyebar ke istana. Rumor itu juga sampai ke kerajaan lain, dan tentunya dilebih-lebihkan.
Zen tidak membunuh satu pun saudaranya, tapi rumor yang beredar mengatakan kalau dia membunuh saudaranya.
Zen sendiri, tidak mencoba untuk meluruskan kesalahpahaman itu. Dia membiarkan dirinya sendiri di cap sebagai orang berhati dingin yang tega membunuh saudaranya sendiri.
Zen ditangkap, tapi setelah menunjukkan batu rekaman itu pada Kaisar, Kaisar memerintahkan untuk membebaskan Zen.
Semua kebenaran itu hanya diketahui oleh orang-orang di dalam istana.
__ADS_1
Bersambung...