
Hari ini, adalah hari dimana para murid akan bertanding untuk menentukan 10 orang yang akan menjadi perwakilan Magic Academy ke turnamen antar akademi nanti.
Lisia datang ke arena, dia duduk di bangku penonton dan menunggu acara dimulai untuk mengetahui aturannya.
Sebuah tembok transparan berada di arena, tembok itu membagi arena menjadi beberapa bagian.
Sebuah layar muncul di arena, menampilkan nama banyak orang.
[Kepada semua murid di Magic Academy. Perkenalkan, saya adalah profesor Dein, pembawa acara di acara ini!]
Profesor Dein membuka acara dengan memperkenalkan dirinya.
[Di babak penyisihan ini, silahkan masuk ke arena sesuai dimana nama kalian berada di layar!]
Lisia melihat ke layar, dia berada di arena C.
Lisia berdiri, dia pergi ke arena C.
"Putri." Rill memanggil Lisia.
Lisia berbalik, "Apa?"
"Semoga anda lulus di babak penyisihan ini." Ucap Rill.
Lisia sedikit terkejut, lalu dia tersenyum, "Terima kasih, kau juga semoga lulus." Ucapnya.
"Terima kasih, meski saya tidak berniat untuk lulus." Ucap Rill.
Rill dan Lisia berbalik, mereka pergi ke arena masing-masing. Rill berada di arena B.
***
Lisia masuk ke arena C, terlihat banyak orang yang juga berada di arena itu. Aura bersaing mereka sangat kuat.
[Peraturannya mudah, yang bisa bertahan dalam waktu 10 menit akan lulus ke tahap berikutnya! Tetapi ingat! Kalian tidak boleh membunuh!]
[Sekarang, mulai!]
Mendengar perkataan profesor Dein, mereka semua saling bertarung.
Banyak orang yang menyerang Lisia. Lisia tetap tenang, dia tidak panik sama sekali.
Lisia tersenyum. Dia berteleportasi ke belakang salah satu orang yang ingin menyerang dirinya.
Berbeda dengan di luar arena, di dalam arena ini, dia bisa menggunakan sihir teleportasi seenaknya.
Lisia melapisi tangannya dengan sihir, lalu memukul orang itu dengan kuat.
Semua orang yang berada di arena C terkejut, mereka melihat Lisia.
Lisia mengarahkan tangannya ke atas. Lingkaran sihir besar muncul di langit, dan dari lingkaran sihir itu muncul banyak es berbentuk duri yang berukuran besar.
Semua orang sibuk melindungi diri dari es itu. Ada yang menghindarinya, ada yang menghancurkannya, dan ada pula yang menggunakan sihir pelindung untuk melindungi dirinya.
Hujan es itu ada yang mengarah ke Lisia, tapi jika jaraknya telah berada 1 meter di dekat Lisia, maka es itu akan hancur.
Seorang gadis berambut abu-abu dan iris mata ungu mendekati Lisia, dia menghancurkan semua es yang mengarah padanya menggunakan pedang.
__ADS_1
Gadis itu menyerang Lisia menggunakan pedangnya.
Lisia menghindari pedang itu, dia berteleportasi dan berada di belakang gadis itu.
Gadis itu terkejut, dia menoleh. Lisia tersenyum, salah satu es yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya mengarah ke arah gadis itu.
Gadis itu mencoba untuk menghancurkan es itu, tapi tidak bisa, 'Tidak bisa hancur?' Batinnya.
Gadis itu menahan es itu menggunakan pedangnya.
Lisia tersenyum, "Kau tidak akan bisa menahannya terus-terusan." Ucap Lisia.
Banyak orang yang menyerang Lisia. Mereka melewati hujan es itu.
Tersisa waktu 3 menit lagi. Saat ini, Lisia menguasai arena C.
Seorang pria berambut hijau dan iris mata yang sama dengan rambutnya menghilangkan sihir pelindung yang melindunginya dari hujan Es.
Pria itu tersenyum, dia berteleportasi ke samping Lisia. Pria itu melapisi tangannya menggunakan sihir dan memukul Lisia.
Lisia menyadari keberadaan pria itu, dia mengeluarkan pedang dan menahan pukulan pria itu menggunakan pedang.
"Kau menyadarinya ya." Ucap pria itu tersenyum.
Lisia tersenyum, "Tentu saja."
Seorang gadis berambut pirang dan iris mata coklat menggunakan pedangnya dan mengalahkan banyak orang di arena itu.
Gadis itu tersenyum, "Sepertinya pertarungan ini, tidak membosankan seperti yang aku kira." Ucapnya.
Gadis itu menyerang Lisia, begitu pula dengan pria itu.
Hujan es itu berhenti.
"Namamu siapa?" Tanya gadis berambut pirang itu pada Lisia.
"Aku Lisia dari kelas 1.A." Ucap Lisia tersenyum.
"Kelas A? Aku sudah menduganya." Ucap gadis itu.
"Lisia ya..." Ucap pria itu.
"Kalian?" Tanya Lisia.
"Aku Xava dari kelas 3.A." Ucap pria yang bernama Xava itu.
"Namaku Acaya. Aku berasal dari kelas 2.A." Ucap Acaya.
Lisia menjauh dari mereka berdua, dia mengganti senjatanya dengan panah.
'Acaya, aku pernah mendengar tentangnya saat masih aktif di sufours. Meski hanya rakyat biasa, dia berani menantang Kaisar Arkailian sebelumnya yang berlaku tidak adil kepada kotanya. Padahal, Kaisar Arkailian itu sangat ditakuti oleh banyak rakyatnya.' Batin Lisia.
Lisia menoleh dan melihat Xava, 'Lalu Xava, aku dengar dia di skors, tidak aku sangka dia berada di sini.'
Xava Andaria, dia adalah sepupu Lisia. Ibu Xava dan permaisuri bersaudara.
Lisia pernah bertemu dengan Xava beberapa kali. Hubungan mereka tidak terlalu akrab. Bahkan, dia tidak bisa mengenali Xava saat baru bertemu tadi. Dia baru mengenalinya setelah Xava mengucapkan namanya.
__ADS_1
Lisia menembakkan panahnya ke arah Xava dan Acaya. Mereka berdua menghindari panah itu.
Xava menyerang Acaya, "Kau mengganggu!" Ucap Xava.
Acaya menahan serangan Xava, lalu dia menyerang Xava, "Seharusnya aku yang bilang begitu!"
Lisia mengarahkan panahnya ke langit, lalu dia menembakkan panahnya ke langit.
Xava dan Acaya berhenti bertengkar, mereka waspada, bersiap untuk menghancurkan apa yang datang dari langit.
Tidak terjadi apa-apa.
"Hah?" Acaya dan Xana bingung, kenapa tidak terjadi apa-apa? Apa sihir Lisia gagal?
Mereka melihat Lisia, Lisia terlihat tenang. Seolah, ini bukanlah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Langit berubah menjadi hitam, suara petir menyambar.
Petir itu mengarah ke Acaya dan Xava. Mereka menghindari petir itu.
Sekali lagi, petir menyambar ke arah mereka. Xava mencoba menahannya dengan pedang, tapi hal itu membuat pedangnya patah.
Sementara Acaya tetap menghindari petir itu. Dia melihat ke arah Lisia, Lisia tetap diam di tempatnya dengan santai.
Acaya mendekati Lisia, tapi di sekitar Lisia, banyak petir menyambar. Hal itu membuat Acaya berhenti.
Acaya tersenyum, 'Dia kuat!' Batinnya.
Pedang Acaya berubah warna, dia mengangkat pedangnya.
Xava melihat pedang Acaya yang berubah warna. Dia segera menggunakan sihir pelindung untuk melindungi dirinya.
Sebelum Acaya menyerang Lisia, sebuah bunyi terdengar, menandakan jika pertandingan telah selesai.
[Pertandingan telah selesai!]
Acaya kesal, padahal dia belum puas bertarung.
Xava menghilangkan sihir pelindungnya.
Tadi, Lisia hanya diam saja, karena tahu jika pertandingan itu sebentar lagi akan selesai.
Para profesor yang sedari tadi menyaksikan pertarungan juga sedikit kesal, karena pertarungan itu selesai sangat cepat, padahal keseruannya baru saja dimulai.
Tembok transparan yang berada di arena menghilang.
Sebuah layar muncul di arena, layar itu bertuliskan nama-nama orang yang lulus ke tahap berikutnya.
Lisia melihat nama-nama orang yang lulus.
'Irisa lulus ya...'
Lisia melihat Irisa, tubuhnya penuh dengan luka.
[Bagi para murid yang telah lulus, saya ucapkan selamat! Silahkan beristirahat selama 1 jam. Bagi yang terluka, akan disembuhkan di ruang pengobatan.]
Lisia berbalik, dia pergi dari arena.
__ADS_1
Bersambung...