
Sejak kematian permaisuri, Selia tinggal di istana selir pertama.
Saat ini, Selia tanpa sengaja melihat Zen yang sedang menyelinap keluar dari istana.
"Kakak?" Ucap Selia.
Zen yang sedang memanjat tembok istana kaget, lalu terjatuh "Aduh."
Selia segera membantu Zen "Kakak tidak apa-apa?"
Zen melihat Selia "Kau membuatku kaget!"
Selia menunduk "Maaf, aku tidak sengaja."
Zen berdiri "Lupakan. Tapi, jangan beritahu siapa pun tentang ini." Peringat Zen pada Selia.
"Memangnya kakak ingin kemana?" Tanya Selia.
"Kau tidak perlu tahu." Ucap Zen dingin.
Zen lalu memanjat tembok, Selia tidak mencoba menghentikan Zen karena takut. Setelah Zen pergi, Selia kembali ke istana Evia.
Sepanjang perjalanan, Selia terlihat sedih 'Padahal aku hanya ingin berhubungan baik dengan kakak.' Batinnya.
***
Zen yang telah keluar dari istana, lalu pergi ke ibukota. Dia pergi ke taman yang berada di ibukota.
Zen teringat dengan Selia 'Apa aku telah berlebihan padanya?'
Zen mengacak-acak rambutnya 'Sebenarnya ada apa denganku sih?'
***
Keesokan harinya
Seorang pelayan datang ke istana selir pertama, pelayan itu datang untuk menyampaikan perintah Kaisar pada pangeran kedua dan putri kelima.
"Hormat kepada Pangeran kedua dan Putri kelima. Saya datang kemari untuk menyampaikan perintah Kaisar, anda berdua diperintahkan untuk datang ke istana Kaisar." Ucap pelayan.
"Istana ayah? Untuk apa?" Tanya Selia.
"Pertemuan para pangeran dan putri." Ucap pelayan.
Selia tersenyum bahagia mendengar kabar itu "Artinya, Selia akan bertemu dengan saudara yang lain?" Tanya Selia.
"Benar, Tuan Putri." Ucap pelayan.
"Kapan?" Tanya Zen.
"Jam 7 malam nanti, Pangeran." Ucap pelayan.
***
__ADS_1
Malam harinya, di istana Kaisar.
"Wah, jarang sekali kita semua bisa berkumpul." Ucap Putri kedua tersenyum meremehkan.
"Bagaimana kabar kalian, para kakak dan adikku?" Tanya Putri ketiga dengan senyuman.
"Wajah kalian semua membuatku ingin muntah!" Ucap pangeran ketiga.
Senyum Selia menghilang, dia menatap putri kedua, putri ketiga dan pangeran ketiga dengan tatapan kesal 'Hah, aku pikir sikap mereka akan berbeda dari ibu mereka, ternyata sama saja!' Batin Selia.
Putri pertama, Aria mengeluarkan sihir air dan menyiram putri kedua, putri ketiga dan pangeran ketiga.
Putri kedua, putri ketiga dan pangeran ketiga menatap Aria dengan tatapan membunuh.
"Ah, maaf. Tanganku gatal untuk memukul wajah jelek kalian. Tapi, karena tidak ingin mengotori tanganku jadi aku menggunakan sihir." Ucap Aria dengan senyuman meremehkan.
Selia menatap kagum kepada Aria 'Dia hebat sekali!'
"Kau!" Pangeran ketiga ingin menampar Aria, tapi Aria menahan tangan pangeran ketiga.
Pangeran ketiga berusaha melepaskan tangannya, tapi tidak bisa 'Apa-apaan kekuatannya ini?'
"Lepaskan aku!" Perintah pangeran ketiga.
"Kenapa aku harus mematuhi perintahmu?" Tanya Aria.
"Aku adalah pangeran ketiga! Aku yang akan menjadi Kaisar suatu hari nanti! Kau harus tunduk padaku!" Pangeran ketiga berteriak.
Aria tertawa "Calon Kaisar? Kau?"
"Orang lemah sepertimu tidak mungkin bisa menjadi Kaisar, lihatlah, bahkan kau tidak bisa melepaskan tanganmu." Aria tersenyum meremehkan.
"Kau!" Pangeran ketiga, putri kedua dan putri ketiga marah, mereka menegur Aria, tapi tak dipedulikan oleh Aria.
Selia menatap kagum Aria 'Putri pertama hebat sekali!'
"Yang Mulia Kaisar tiba." Penjaga melaporkan kedatangan Kaisar.
Aria melepaskan tangan pangeran ketiga. Pangeran ketiga menatap benci Aria lalu kembali ke tempatnya.
Pintu terbuka, Kaisar masuk ke ruangan.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar." Para pangeran dan putri memberikan salam kepada Kaisar.
Kaisar duduk di kursi, para pangeran dan putri juga duduk di kursi mereka masing-masing.
"Kalian pasti bertanya-tanya alasan mengapa aku memanggil kalian kesini." Ucap Kaisar.
"Aku ingin membicarakan mengenai posisi penerus tahta yang kosong." lanjut Kaisar.
Pangeran ketiga, putri kedua dan putri ketiga tersenyum mendengarnya.
'Aku akan menjadi Putri Mahkota!'
__ADS_1
'Aku akan menjadi Putri Mahkota!'
'Aku akan menjadi Putra Mahkota!'
"Untuk posisi penerus tahta, setelah mempertimbangkan banyak hal, aku memutuskan untuk menjadikan pangeran kedua sebagai Putra Mahkota." Ucap Kaisar.
Senyum pangeran ketiga, putri kedua dan putri ketiga menghilang, digantikan dengan wajah marah.
"Ayah! Kenapa ayah menyerahkan posisi itu padanya?! Jelas-jelas aku lebih baik darinya!" Ucap pangeran ketiga.
"Apa maksudmu?! Jelas-jelas aku lebih baik!" Ucap putri kedua.
"Tidak! Aku yang seharusnya menjadi Putri Mahkota!" Ucap putri ketiga.
"Hah?! Seharusnya yang menjadi pemimpin adalah seorang pria! Bukan seorang wanita!" Ucap pangeran ketiga.
Putri kedua memukul meja "Hanya karena aku wanita, aku tidak boleh memimpin kekaisaran ini?!"
"Tidak ada peraturan yang melarang seorang wanita menjadi Kaisar!" Ucap putri ketiga.
Kaisar memukul meja, membuat perdebatan ketiganya berhenti "Duduklah." Perintah Kaisar.
Mereka bertiga duduk, tapi masih menatap benci pada satu sama lain.
"Kenapa kalian berpikir kalau kalian lebih baik dari pangeran kedua? Apakah kalian lebih pintar dari pangeran kedua? Atau mungkin lebih kuat dari pangeran kedua? Karena jika dari sikap, jelas sikap pangeran kedua lebih baik dari kalian." Ucap Kaisar.
"Bukankah ayah telah mendengarnya? Aku sangat pintar." Ucap putri kedua dengan percaya diri.
"Aku telah menguasai sihir peringkat A, tentu saja aku lebih baik darinya." Ucap putri ketiga dengan percaya diri.
"Aku bisa menggunakan pedang dengan sangat baik." Ucap pangeran ketiga dengan percaya diri.
"Pft–" Aria berusaha menahan tawanya, membuat ketiganya menatap benci Aria.
"Hanya itu saja? Putri kedua, dari laporan yang aku terima, pangeran kedua lebih pintar darimu. Putri ketiga, pangeran ketiga telah menguasai banyak sihir tingkat A. Pangeran ketiga, dari laporan yang aku terima, kemampuan sihir pangeran kedua jauh lebih baik darimu." Ucap Kaisar.
Putri kedua, putri ketiga dan pangeran ketiga terkejut mendengarnya "I-itu tidak mungkin!" Ucap mereka bertiga.
Mereka bertiga menatap Zen yang sedang diam saat ini. Mereka menatap Zen dengan tatapan benci.
"Ayah, aku menolak posisi itu." Ucap Zen.
Semua orang yang berada di sana terkejut mendengar ucapan Zen.
"Lebih baik ayah memberikan posisi ini kepada orang lain. Karena jika diberikan padaku, akan menimbulkan banyak pertentangan." Ucap Zen.
"Justru jika diberikan pada mereka, maka akan lebih banyak orang yang menentang. Zen, kau adalah pilihan terbaik untuk menjadi Putra Mahkota" Ucap Kaisar.
"Ayah, mungkin rakyat dan para bangsawan akan banyak yang setuju. Tapi, bagaimana dengan keluarga kekaisaran? Apakah mereka akan menerimanya? Bagaimana jika keluarga kekaisaran yang telah hancur ini, semakin hancur?" Ucap Zen.
"Kalau begitu, posisi penerus tahta akan kosong untuk sementara waktu. Aku akan memikirkan ulang semuanya." Ucap Kaisar.
Putri kedua, putri ketiga dan pangeran ketiga menatap Zen dengan tatapan penuh benci.
__ADS_1
Bersambung...