
Lisia menatap ke arena melalui kaca besar yang berada di ruang tunggu, tampak para tim medis masuk ke arena dan membawa para perwakilan yang terluka ke ruang pengobatan.
Arzevian juga dibawa ke ruang pengobatan, dia mendapatkan luka saat melawan monster tadi.
Lalu, Lisia pergi ke ruang pengobatan.
Salah satu perwakilan Trisian Academy—Sien melihat Lisia pergi dari ruang tunggu, dia kemudian mengikutinya.
"Lisia!" Sien memanggil Lisia, membuat Lisia berhenti dan menoleh.
Lisia melihat Sien, "Sudah kuduga itu kau...." 2 hari yang lalu, saat dia sedikit bertengkar dengan perwakilan dari Trisian Academy, Sien ada di sana, saat itu Lisia merasa tidak asing dengan Sien.
Sien tersenyum, "Lama tidak bertemu, Lisia."
Sien, dia adalah salah satu anggota sufours.
"Ngomong-ngomong, kau ingin ke mana?" tanya Sien.
"Bukan urusanmu." Lisia berbalik dan pergi dari sana, meninggalkan Sien sendirian.
"Dia dingin sekali..." Kemudian Sien menatap punggung Lisia yang semakin menjauh, "Sepertinya dia akan pergi ke ruang pengobatan." gumamnya, kemudian dia kembali ke ruang tunggu.
***
Lisia sampai di depan pintu ruang pengobatan. Bukannya masuk ke sana, dia malah duduk di sebuah kursi yang berada di depan ruang pengobatan.
Setelah cukup lama, profesor Viasra keluar dari ruang pengobatan. Lalu, disusul oleh para perwakilan akademi yang hanya terluka ringan.
Kemudian, Arzevian keluar dari ruang pengobatan, dia melihat Lisia yang duduk di kursi yang berada di depan ruang pengobatan, "Lisia?"
Lisia berdiri, "Aku ingin bicara denganmu, Arzevian Gaerella."
***
Lisia dan Arzevian saat ini berada di belakang salah satu gedung di Magic Academy.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Lisia?"
"Kau adalah anggota sufours bukan?"
Arzevian terkejut mendengarnya, dia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke leher Lisia, "Bagaimana kau bisa mengetahui tentang sufours?" Arzevian menatap tajam Lisia, meminta penjelasan darinya.
"Turunkan pedangmu, Arzevian. Aku adalah ketua sufours."
Arzevian terkejut, meski begitu dia tetap tidak menurunkan pedangnya dari leher Lisia, "Jangan berbohong! Kenapa seorang Putri bergabung dengan sufours?!" Dia menatap tajam Lisia, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lisia.
"Lalu, kenapa seorang Putra Duke bergabung dengan sufours?" Lisia kembali bertanya kepada Arzevian.
"Itu..."
"Tidak perlu menjawabnya." ucap Lisia, "Sekarang turunkan pedangmu ini."
Arzevian menurunkan pedangnya dari leher Lisia, kemudian dia kembali menyimpan pedang itu.
__ADS_1
"Kau benar-benar ketua sufours?" Arzevian bertanya kepada Lisia, dia masih tidak percaya kalau Lisia adalah anggota sufours.
"Meski aku menjawab iya pun, kau tidak akan percaya bukan?"
"Lalu, apa hanya itu yang ingin kau bicarakan?" tanya Arzevian.
"Apa batasan kekuatanmu berubah belakangan ini?" tanya Lisia.
"Tidak."
'Batasan kekuatan Arzevian tidak berubah? Kalau begitu, hanya aku dan Van?' pikir Lisia, dia sedikit terkejut mendengar jawaban Arzevian.
[Pertandingan keempat akan segera dimulai!]
Suara pembawa acara terdengar di seluruh Magic Academy.
[Disampaikan kepada para perwakilan setiap Academy untuk segera datang ke arena!]
"Aku akan kembali ke arena." Lisia berjalan kembali ke arena, meninggalkan Arzevian.
'Kenapa dia bertanya tentang batasan kekuatanku?' batin Arzevian.
***
Lisia berjalan kembali ke arena, tepatnya di ruang tunggu, sambil memikirkan pembicaraannya dengan Arzevian tadi.
'Sudah kuduga ada yang aneh, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Arzevian, batasan kekuatannya tidak berubah. Lalu, kenapa batasan kekuatanku dan Van berubah? Sebenarnya, siapa diantara 4 Kaisar yang mengubah batasan kekuatan kami? Dan, apa tujuannya?' Berbagai pertanyaan muncul di kepala Lisia.
Lisia berhenti berjalan, kemudian dia memegang kepalanya, "Tenangkan pikiranmu, Lisia." ucapnya kepada dirinya sendiri.
Lisia sampai di ruang tunggu, sudah banyak orang yang berada di sana. Dan pertandingan keempat belum dimulai.
"Kau darimana saja?" tanya Xava kepada Lisia yang baru saja tiba.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" ucap Lisia membuat Xava kesal mendengarnya.
[Pertandingan keempat turnamen antar akademi akan di mulai!]
[Pertandingan keempat ini adalah....]
Para penonton mulai menebak, apa pertandingan selanjutnya.
[...Pertandingan akademik!]
Para penonton mulai ribut. Dari namanya, mereka menebak bagaimana pertandingan selanjutnya.
[Peraturannya sederhana! Para perwakilan setiap akademi akan menjawab soal yang diberikan. Akan ada 3 orang yang akan mengikuti pertandingan ini, dan rata-rata nilai dari ketiga perwakilan yang akan dihitung. Akademi yang mendapatkan nilai tertinggi yang akan menjadi juara 1 di pertandingan keempat ini!]
Para perwakilan akademi mengangguk mengerti mengenai aturan yang dijelaskan oleh pembawa acara.
Pertandingan keempat ini sama seperti ujian.
[Dan satu lagi! Ini adalah peringatan! Tidak boleh menyontek!]
__ADS_1
Para perwakilan akademi mulai memilih 3 perwakilan yang akan ikut di pertandingan kali ini.
"Diantara kalian, siapa yang pintar?" tanya Xava kepada para perwakilan Magic Academy yang lain.
"Yang jelas bukan aku! Aku mendapatkan peringkat 72 dari 96 murid kelas 2 Magic Academy." ucap Bereilla tersenyum.
"Arzevian adalah peringkat 1 kelas 3, tapi dia baru saja ikut di pertandingan ketiga tadi." ucap Hain.
"Hain, kalau tidak salah, kau masuk sepuluh besar bukan?" tanya Xava.
"Ya, aku mendapatkan peringkat 3." ucap Hain.
"Bagus! Kau ikut di pertandingan ini!" ucap Xava.
"Lalu, siapa lagi?" Xava menatap ke arah para perwakilan lain.
"Aku peringkat 23." ucap Heria.
"Aku 52." ucap Caelzen.
"Aku 18." ucap Everilly.
Xava kemudian menatap Lisia, Mira dan Zen, "Kalau kalian?"
"Kami masih kelas 1 dan belum ujian." ucap Lisia.
"Benar juga... Ujian tengah semester ditunda karena turnamen ini." ucap Xava, "Sepertinya kita memanggil Arzevian saja."
"Biarkan dia beristirahat." ucap Hain.
"Bagaimana dengan kau, Xava?" tanya Lisia.
"Apa yang kau maksud?"
"Peringkatmu, kau peringkat berapa?" tanya Lisia.
"Aku peringkat 8."
"Kau berbohong ya?" Lisia menatap curiga Xava, tidak percaya kalau Xava masuk sepuluh besar.
"Xava memang peringkat 8." ucap Hain.
"Peringkat senior cukup tinggi, kenapa tidak senior saja yang ikut di pertandingan ini?" ucap Caelzen.
"Itu saran yang bagus, kau ikut di pertandingan ini, Xava." ucap Lisia tersenyum.
Xava kesal mendengarnya, "Kalau begitu, kau juga ikut di pertandingan ini, Lisia."
"Kenapa? Peringkatku kan—"
"Jangan mencoba menghindar, Arlisia Erisla de Arrilla." ucap Xava.
"Baiklah, aku akan ikut di pertandingan keempat ini." ucap Lisia setelah berpikir sejenak.
__ADS_1
Bersambung...