
27 tahun yang lalu
Seorang anak perempuan berambut biru dan iris mata hijau sedang berlarian di sebuah taman. Anak kecil itu berusia sekitar 10 tahun.
Tak jauh dari tempatnya bermain, dia melihat seekor kucing di bawah pohon.
"Kucing!" Anak itu senang melihat kucing yang tertidur di bawah pohon, dia pergi mendekati kucing itu.
Kucing itu membuka matanya dan melihat anak itu yang mendekatinya, dia ketakutan lalu berlari masuk ke hutan.
"Tunggu!" Anak itu mengejar kucing yang berlari ke hutan.
Kucing itu berhenti lalu menatap anak itu tajam, dia mencoba menakuti anak itu. Anak itu tidak takut, dia mendekati kucing itu lalu mengusap bulunya dengan lembut.
Kucing itu berhenti waspada. Kucing itu melompat ke anak itu dan anak itu menangkapnya. Anak itu mengusap bulu kucing itu dengan lembut.
Anak itu berbalik dan berjalan kembali ke taman. Di perjalanannya kembali, dia melihat seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya, anak laki-laki itu memakai baju lusuh.
Anak itu mendekati anak laki-laki itu.
"Halo, namaku Evia. Siapa namamu?" Tanya anak perempuan yang bernama Evia.
Anak laki-laki itu melihat Evia "Menjauh dariku." dia menatap tajam Evia.
Perut anak laki-laki itu berbunyi.
"Kau lapar?" Tanya Evia.
"Itu bukan urusanmu! Cepat pergi sana!" Ucap anak laki-laki itu.
Evia tidak mendengarkan perkataannya "Tunggu di sini ya, aku akan pergi mengambil makanan."
Evia berlari pergi ke taman untuk mengambil makanan.
"Tunggu! Aku tidak butuh!" Anak laki-laki itu berusaha menghentikan Evia, tapi Evia tidak mendengarkannya.
"Ada apa dengannya? Apa dia tuli?" Anak laki-laki itu kesal dengan sikap Evia.
Tak lama kemudian, Evia kembali dengan membawa dua buah roti "Makanlah, kau lapar bukan?" Evia memberikan dua buah roti dengan tersenyum.
"Aku tidak butuh–" Perut anak laki-laki itu kembali berbunyi, dia memegangi perutnya dan terdiam.
"Makanlah." Evia tersenyum.
Anak laki-laki itu mengambil roti yang diberikan Evia dan memakannya dengan rakus.
Evia duduk di samping anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu melihat potongan roti terakhir "Kau tidak meracuniku kan?" Tanya anak laki-laki itu curiga.
"Tidak, untuk apa aku meracunimu?" Evia mulai kesal dengan anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu memakan potongan roti terakhir.
"Terima kasih." Ucap anak laki-laki itu dengan suara pelan.
Evia terkejut "Ternyata kau masih tahu terima kasih. Sama-sama." Ucap Evia.
Anak laki-laki itu kesal mendengar ucapan Evia.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" Tanya anak laki-laki itu.
"Bukannya aku telah mengatakannya tadi? Namaku Evia." Ucap Evia kesal.
"Namaku Ales." Ucap Ales.
"Salam kenal, Ales." Ucap Evia tersenyum.
"Tapi kenapa kau disini? Dimana orang tuamu?" Tanya Evia.
Ales menunduk "Mereka dibunuh."
Evia terkejut "Dibunuh?"
"Ales, bagaimana bila kau ikut denganku? Kau tidak memiliki tempat tinggal bukan?" Evia tersenyum untuk menenangkan Ales.
Hari itu, adalah hari dimana Ales dan Evia bertemu. Evia membawa Ales kembali ke rumahnya.
***
"Ayah, aku bertemu dengan seorang anak yang tidak memiliki tempat tinggal, orang tuanya dibunuh. Apa dia bisa tinggal disini bersama kita?" Evia meminta izin kepada ayahnya.
Ayah Evia melihat Ales.
'Mereka tidak mungkin menerimaku.' Pikir Ales.
"Tentu saja bisa." Ucap ayah Evia membuat Ales terkejut.
Evia senang, dia memeluk ayahnya "Terima kasih, ayah!"
"Sama-sama." Ucap ayah Evia.
Ayah Evia menghampiri Ales "Siapa namamu?" Tanya ayah Evia.
"A-Ales."
"Ales, anggap saja ini sebagai rumahmu sendiri." Ucap ayah Evia tersenyum.
Ales terpaku sesaat, lalu dia tersenyum "Terima kasih."
Ales menjadi anak angkat di keluarga Marques Aerly, keluarga Evia. Tapi, Ales tidak menggunakan nama keluarga Aerly sebagai nama belakangnya.
Evia telah kehilangan ibunya karena penyakit saat usianya masih 8 tahun.
Ales dan Evia tumbuh bersama seperti seorang adik kakak pada umumnya.
Tapi, tanpa mereka berdua sadari, Ales mulai menyukai Evia.
Hingga pada suatu hari, Evia dijodohkan dengan Putra Mahkota.
"Evia, ayah dan Kaisar berniat menjodohkanmu dengan Putra Mahkota." Ucap ayah Evia.
Ales terkejut mendengar ucapan ayah angkatnya "Dijodohkan? Tapi, bukannya Putra Mahkota telah menikah dengan Putri Duke Jane 1 bulan yang lalu?"
"Ya, Evia akan menjadi selir Kaisar. 1 bulan kemudian, di hari penobatan Putra Mahkota menjadi Kaisar. Evia akan diumumkan sebagai selir pertama Kaisar." Ucap ayah Evia.
Ales terkejut, entah kenapa dia merasa sedih.
"Bagaimana Evia, kau setuju bukan?" Tanya ayah Evia.
__ADS_1
"Aku..." Jujur saja, Evia telah menyukai Putra Mahkota sedari mereka masih di Magic Academy. Tapi, dia menyembunyikan perasaannya karena Putra Mahkota telah memiliki tunangan.
"Aku setuju." Ucap Evia, dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.
Setelah Evia mengucapkan dua kata itu, Ales merasakan perasaan yang dirinya sendiri tidak mengerti.
Saat itulah Ales menyadari, dia telah jatuh cinta pada Evia.
***
Putra Mahkota kini telah menjadi Kaisar, dan Kaisar sebelumnya mengumumkan Evia sebagai selir pertama Putra Mahkota.
Ales melihat Evia, dari mata Evia dia bisa melihat kalau Evia merasa senang.
'Asalkan Evia bahagia, itu sudah cukup bagiku.' Ales tersenyum sendu.
***
Tok tok tok
"Masuk."
Ales membuka pintu, terlihat ayah angkatnya yang sedang sibuk saat ini.
"Ada apa, Ales?" Tanya ayah Evia.
"Ayah, aku ingin menjadi pengawal pribadi Evia." Ucap Ales.
Ayah Evia terkejut "Kenapa? Apa karena kau menyukai Evia?"
Ales terkejut mendengar pertanyaan ayah angkatnya, bagaimana dia bisa tau hal itu?
Seolah tahu apa yang dipikirkan Ales, ayah Evia berkata "Itu terlihat jelas di matamu. Saat kau menatap Evia, tatapanmu berbeda dengan tatapan saat kau menatap orang lain."
Ales terkejut 'Apa perasaanku terlihat sejelas itu? Padahal aku sendiri, baru menyadarinya pada saat itu.'
"Jadi, kenapa kau ingin menjadi pengawal pribadi Evia?" Tanya ayah Evia.
"Aku ingin melindungi Evia, aku ingin Evia bahagia." Ucap Ales.
Tak ada keraguan di matanya, dia mengatakan itu dengan percaya diri.
Ayah Evia tersenyum "Baiklah, aku mengandalkanmu. Tolong lindungi Evia, Ales."
"Baik, ayah." Ucap Ales.
***
"Pengawal pribadi?" Ucap Evia setelah mendengar perkataan pelayannya.
"Ya, nyonya. Marques Aerly mengirim pengawal pribadi untuk melindungi anda." Ucap pelayan.
"Padahal aku telah mengatakan kalau aku tidak butuh, kenapa ayah keras kepala sekali?" Ucap Evia.
Ales membuka pintu "Jadi kau tidak membutuhkan aku?" Tanya Ales.
Evia terkejut melihat Ales "Ales? Apa yang kau lakukan disini?"
Ales berlutut "Salam kepada Yang Mulia selir pertama. Saya Ales Viorlan, mulai sekarang akan menjadi pengawal pribadi anda." Ucap Ales.
__ADS_1
Bersambung...