
'Apa aku kalah?' Alexa sedang berada di alam bawah sadarnya.
'Kalau aku kalah, pasti yang akan disalahkan adalah Alex.' Alexa teringat dengan kata-kata ayahnya kepada saudara kembarnya.
"Hanya satu sihir tingkat S, dan kau bangga? Adikmu saja mewarisi sihir keturunan!"
"Jangan membuat adikmu kalah!"
Turnamen antar akademi akan disaksikan oleh banyak orang. Pastinya, ayahnya juga akan ikut menyaksikan turnamen itu.
Jika dia tidak bisa menjadi salah satu perwakilan akademi, ayahnya pasti akan menyalahkan Alex.
'Aku.. harus bangkit!'
Alexa berusaha menahan rasa sakitnya. Serangan Lisia tadi membuatnya sangat kesakitan, dia menahan rasa sakit itu.
Alexa membuka matanya, dia berusaha untuk berdiri.
Lisia menyadari kalau Alexa telah tersadar. Dia menoleh, 'Dia bisa menahan rasa sakitnya. Tidak heran, aku hanya menggunakan sihir tingkat A.'
Alexa menatap Lisia, 'Sihir tingkat S yang dimilikinya pasti lebih dari 1. Bahkan bila aku menggunakan sihir tingkat S sekalipun, aku akan tetap kalah. Satu-satunya cara untuk menang...'
Alexa mengepalkan tangannya, 'Tapi aku belum bisa mengendalikan, bagaimana jika setelah mengalahkannya, aku malah melukai Alex?' Alexa terlihat ragu untuk menggunakan sihir keturunan.
Alex melihat kembarannya yang telah sadar, dia tahu jika saat ini, kembarannya itu sedang ragu, "Alexa! Jangan mengkhawatirkan diriku!"
Xava menyerang Alex, sedari tadi pertarungan mereka berdua seimbang.
Alexa masih terlihat ragu meski telah mendengar kata-kata kembarannya itu.
Lisia menyerang Alexa, 'Sebelum semuanya menjadi lebih sulit, lebih baik aku mengalahkannya sekarang!' Batin Lisia.
Alexa menghindari serangan Lisia, dia mengeluarkan pedangnya dan menyerang Lisia. Lisia mengeluarkan pedangnya dan dengan mudah menahan pedang Alexa dan mematahkannya.
Lisia menyerang Alexa.
'Tidak!'
Alexa mengeluarkan sebuah aura kuat. Lisia segera menggunakan sihir pelindung untuk melindungi dirinya lalu mundur.
'Sihir keturunan keluarga Kailan adalah sihir tingkat SS jika telah berhasil dikuasai sepenuhnya. Tapi sekarang, karena Alexa belum menguasainya sepenuhnya, kurang lebih kekuatannya setara dengan 3 sihir tingkat S.' Batin Lisia.
'Sementara aku hanya bisa menggunakan 1 sihir tingkat S dalam waktu berdekatan.' Batin Lisia.
Dalam 1 hari, Lisia hanya bisa menggunakan 1 sihir tingkat S. Sebagai contoh, jika dia menggunakan sihir cahaya tingkat S hari ini, maka sihir tingkat S yang bisa digunakannya selama 1 hari itu hanya sihir cahaya.
'Apa aku harus melanggar lagi?' Batin Lisia.
'Tidak, tidak. Sekarang tidak ada salah satu dari 4 Kaisar yang bisa menghentikan hukumannya.' Lisia menghilangkan pemikirannya itu.
Lisia melihat Alexa, tatapan matanya kosong dan dia terus mengeluarkan aura kuat.
Tampaknya saat ini, Alexa sedang di kendalikan oleh sihir keturunan.
***
'Aura apa itu?' Irisa khawatir.
'Sihir? Tapi, sepertinya dia tidak bisa mengendalikan sihir itu.' Batin Zen.
__ADS_1
Hain menyaksikan pertandingan itu dari ruang tunggu, 'Lisia, kau akan menang bukan?' Batinnya.
***
'Jadi inilah sihir keturunan keluarga Kailan.' Pandangan kepala sekolah beralih menatap Lisia, 'Apa putri Lisia bisa menghentikan sihir keturunan ini?'
***
Alexa menyerang Lisia terus menerus. Lisia menghindari serangan Alexa, tapi beberapa serangan mengenainya sehingga dia terluka.
Lisia juga menyerang Alexa, tetapi setiap serangannya tidak ada yang melukai Alexa.
Lisia menjauh dari sana, dia melihat ke arah Xava yang masih bertarung dengan Alex.
Xava tersenyum, dia tampak hanya bermain-main.
'Orang itu, sedari tadi dia tidak serius!' Batin Lisia.
Sebuah pedang muncul di tangan Lisia, pedang itu berukuran cukup besar.
Salah satu senjata yang dibuat oleh Mailla Killarin. Pedang Hearly, pedang yang bisa membuat luka lawan menjadi sihir untuk menyembuhkan penggunanya.
Tidak banyak orang yang mengenali pedang itu, karena pedang itu tidak pernah diperkenalkan pada dunia.
Lisia menyerang Alexa. Alexa tidak menghindari pedang itu, tetapi malah terus menyerang Lisia.
Lisia menghindari serangan Alexa, lalu dia menyerang Alexa dari samping menggunakan pedangnya.
"Alexa!" Alex meneriaki nama Alexa, dia khawatir pada adiknya itu.
Meski sering dibandingkan dengan adiknya, Alex tidak pernah membenci adiknya. Kebalikannya, dia menyayangi Alexa, adiknya.
"Jangan menghalangiku!" Alex menyerang Xava, tapi serangannya ditahan oleh Xava.
"Daripada mengganggu pertarungan mereka, bukankah lebih baik kau fokus pada lawanmu?" Ucap Xava.
Alex menjauh dari Xava, dia memperkuat pedangnya menggunakan sihir, "Tidak peduli kau senior atau bukan, aku tidak akan bersikap baik padamu!"
Alex menyerang Xava, Xava menahan serangan Alex, lalu menyerangnya. Alex menghindari serangan itu lalu menyerang Xava. Xava menahan serangan Alex.
***
Alexa terlempar karena serangan Lisia, tapi tak lama kemudian dia bangkit kembali.
Seperti robot.
Alexa seperti tidak merasakan sakit.
Seharusnya Lisia tadi menggunakan sihir pelumpuh peringkat S agar Alexa tidak bisa bangkit. Tapi, dia memikirkan pertandingan selanjutnya, karena kemungkinan besar pertandingan selanjutnya akan lebih sulit lagi.
Lisia bersiap untuk menahan serangan Alexa.
'Arlisia Erisla de Arrilla'
Terdengar sebuah suara yang memanggil namanya di kepala Lisia.
Lisia semakin waspada, dia melihat ke arah orang-orang yang berada di sekitarnya, berdasarkan reaksi mereka, sepertinya mereka tidak mendengar suara itu.
Telepati
__ADS_1
Sihir yang bisa berbicara melalui pikiran seseorang.
Lisia melihat Alexa yang berada di depannya, 'Apa suara itu dari dirinya?'
'Kau siapa?' Lisia membalas telepati.
'Aku harap, kau bisa menghentikannya.'
Bukannya menjawab pertanyaan Lisia, orang itu malah mengucapkan sebuah kata yang membuat Lisia bingung.
Apa yang dimaksud orang itu adalah menghentikan Alexa? Tapi, tanpa mengatakannya pun, Lisia pasti akan menghentikan dan mengalahkan Alexa.
Alexa menyerang Lisia, Lisia menghindari serangan Alexa lalu menyerang Alexa dan membuatnya terluka.
Sementara luka Lisia perlahan sembuh, bahkan kekuatan sihirnya pun perlahan pulih.
Lisia menyerang Alexa terus menerus. Alexa juga menyerang Lisia.
Mereka saling menyerang.
Pertarungan mereka seimbang, meski Lisia tidak menggunakan sihir tingkat S.
Lisia menatap tajam Xava, Xava yang menyadari tatapan Lisia lalu menjauh dari Alex.
Xava mengalirkan kekuatan sihir yang besar ke pedangnya.
Alex yang melihatnya menggunakan seluruh kekuatannya dan bersiap untuk menahan serangan Xava.
Di lain tempat, Lisia juga mengalirkan kekuatan sihirnya ke pedang Hearly.
Lisia berkonsentrasi, dia menutup matanya dan memasang berlapis-lapis pelindung di sekitarnya.
Alexa menghancurkan pelindung itu satu prrsatu.
Lisia membuka matanya.
Lisia mengangkat pedangnya dan bersiap menyerang Alexa.
Xava juga bersiap menyerang Alex.
Alexa berhasil menghancurkan pelindung terakhir.
Bertepatan dengan itu, Lisia menyerang Alexa.
Di saat yang sama pula, Xava menyerang Alex.
Serangan Xava berhasil menghancurkan sihir pelindung Alex.
Para penonton tidak sabar menunggu, siapa yang akan menang?
Alexa terlempar karena serangan Lisia, dan Alex terlempar karena serangan Xava.
Lisia menahan dirinya agar tidak terjatuh, 'Masih ada 1 pertarungan lagi, Arlisia. Jangan sampai kau terjatuh di pertarungan ini.' Batinnya menyemangati dirinya sendiri.
[Pemenangnya, Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A dan Xava Kerrain dari kelas 3.A!]
Para murid yang menyaksikan pertandingan itu bersorak.
Bersambung...
__ADS_1