
Sepanjang hari, Fal terus bersama dengan Narz dan yang lainnya. Pada waktu siang dan malam, mereka membagikan makanan kepada penduduk kota.
Tidak jarang penduduk kota memberikan tatapan benci pada Fal.
Setiap itu terjadi, Narz selalu tersenyum pada Fal, dia menenangkan Fal.
Malam hari tiba.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk berjaga-jaga. Mereka telah menebak tujuan dari penduduk kota itu, karena itu mereka waspada.
Fal telah tertidur, sementara yang lain masih bangun.
"Hei, Narz. Kenapa kau menjadikan anak itu sebagai muridmu?" Tanya Rin. Dia adalah anggota baru di organisasi black, dia baru saja bergabung 1 bulan yang lalu. Dan selama 1 bulan itu, dia masih tidak mengerti jalan pikiran Narz.
Narz tersenyum, dia melihat Fal yang sedang tertidur, "Anak ini mengingatkanku pada diriku saat kecil." Ucap Narz.
Narz kembali melihat Rin, "Kau tidak perlu khawatir, karena aku akan membicarakan ini dengan tuan." Ucap Narz.
"Mengingatkanmu pada dirimu saat kecil?" Rin tidak mengerti, apakah yang maksud Narz, anak itu mirip dengan Narz saat kecil? Itu tidak mungkin kan? Anak itu penakut, sedangkan Narz berani. Tapi yang dimaksud Narz adalah dirinya saat kecil, apakah itu berarti Narz kecil penakut?
Narz hanya tersenyum, dia tahu jika Rin tidak mengerti, tapi dia tidak ada niat untuk menjelaskan semuanya pada Rin yang sangat sulit untuk mengerti sesuatu, atau lebih tepatnya bodoh.
Rin menjadi kesal melihat senyuman Narz, dia paham arti senyuman Narz, "Jangan tersenyum seperti itu!" Ucap Rin kesal.
Narz mengabaikan Rin, "Ngomong-ngomong, apa ada kabar dari tuan?" Tanya Narz pada Axena.
"Jangan mengabaikanku!" Ucap Rin, tapi tidak dipedulikan oleh Narz.
"Ya, tuan menyuruh kita untuk datang ke kekaisaran Arrilla. Lalu, mengenai kota ini... 'Lakukan sesuka kalian', itu yang dikatakan oleh tuan." Ucap Axena.
"Baiklah." Narz tersenyum.
Mereka berempat lalu tidur, lebih tepatnya berpura-pura tidur.
Fal terbangun dari tidurnya, dia mengingat tentang penduduk kota yang mengincar Narz dan yang lainnya. Hal itu membuat Fal panik. Dia melihat ke samping, Narz dan yang lain telah tertidur.
Seseorang masuk dari jendela, orang itu berada di belakang Fal. Fal gemetaran, perlahan dia menoleh. Fal ketakutan, dia melihat seorang wanita yang merupakan salah satu dari dua orang penyihir yang tinggal di kota itu.
Wanita itu meletakkan jari telunjuknya di mulutnya, mengisyaratkan agar Fal diam.
__ADS_1
Fal gemetar ketakutan, dia mengangguk.
Wanita itu tersenyum, sepertinya anak bodoh itu paham situasinya saat ini.
Wanita itu lalu mencari uang orang-orang itu, dia mencari selama beberapa saat, tapi tak juga menemukannya.
Wanita itu yang tadinya tersenyum, senyumannya hilang, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka.
Wanita itu melihat Fal, dia kembali tersenyum dan mendekat pada Fal, "Di mana mereka menyimpan uang mereka?" Tanya wanita itu.
"M-mereka me-menyimpan... uang mereka.. di.." Ucapan Fal terhenti, dia teringat dengan seberapa baiknya Narz dan yang lain padanya.
"Cepat katakan, dimana?" Tanya wanita itu. Senyumannya hilang karena Fal menghentikan ucapannya.
"Tidak." Ucap Fal.
"Apa kau bilang?"
Fal mengepalkan tangannya, dia tiba-tiba berubah menjadi berani, dia menatap mata wanita itu "Aku tidak akan memberitahunya padamu!" Ucap Fal.
Wanita itu marah, beraninya anak kecil itu menatap matanya dan bersikap seperti itu padanya! Dia mengangkat tangannya, dan menampar anak kurang ajar itu.
Axena menampar wanita itu dengan sangat keras.
Wanita itu memegangi pipinya, dia menatap Axena dengan tatapan benci, "Beraninya kau!" Dia mencoba menampar Axena, tapi Axena menghentikan tanan wanita itu.
"Jangan kasar kepada anak kecil." Ucap Axena.
Wanita itu tersenyum, dia melepas tangannya dari genggaman Axena lalu menjauh dari Axena. Dia menyerang Axena menggunakan sihirnya, tapi sihir itu tidak mempan pada Axena.
"Bagaimana bisa..?" Wanita itu tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Axena tiba-tiba berada di depan wanita itu, dia memukul wanita itu. Wanita itu tidak sempat menghindar atau menahannya.
"'Jangan kasar pada anak kecil'? Aku pikir kau membenci anak-anak." Ucap Alaya.
Fal terkejut, dia melihat ke samping, Alaya dan Narz telah terbangun. Atau mereka memang tidak tidur sedari tadi?
"Aku tidak menyukainya, bukan berarti aku membencinya." Ucap Axena. Axena tidak menyukai anak-anak, itu karena jika melihat anak-anak, dia sering teringat dengan putrinya yang telah mati.
__ADS_1
"Lalu, Rin ada di mana?" Tanya Axena.
"Rin membereskan penduduk kota yang lain." Ucap Alaya.
"Membereskan?" Tanya Fal.
Narz tersenyum, "Kau akan mengetahuinya sebentar, meski kurasa lebih baik kau tidak mengetahuinya." Ucap Narz.
Narz tahu akibat dari tindakannya. Jika begini, Fal bisa saja tumbuh menjadi seorang penjahat sepertinya.
***
Narz, Fal, Axena dan Alaya keluar dari rumah itu, kota Zelen terbakar.
Banyak mayat di kota, ada pula yang terluka parah, ada yang terjebak di dalam api. Lalu, sang pelaku dari kebakaran itu, Rin berada di tengah-tengah api, tanpa luka apapun.
Para penduduk kota telah mati. Bahkan saat diambang kematian pun, mereka tidak henti-hentinya menyalahkan Fal. Mereka iri pada Fal, karena Fal terlahir di keluarga yang kaya raya, sehingga saat orang tua Fal telah tiada, mereka mengambil semua harta milik Fal. Fal yang masih kecil tidak bisa melawan mereka sehingga membiarkannya begitu saja. Meski begitu, rasa iri mereka belum hilang, rasa iri itu pun perlahan-lahan berubah menjadi rasa benci.
Fal melihat Rin, "Hebat.." Fal kagum pada Rin.
'Dia akan lebih hebat dari ini jika saja dia tidak bodoh.' Batin Narz.
Narz melihat Fal, anak kecil seperti Fal sangat mudah terpengaruh. Kalau begini, hal yang dikhawatirkannya bisa saja terjadi.
Rin menghampiri yang lain, "Bagaimana sekarang?" Tanyanya.
"Kita akan meninggalkan kota ini sekarang, jika menunggu besok maka tentara akan menangkap kita." Ucap Narz.
Narz melihat Fal, dia mengulurkan tangannya pada Fal, dia tahu apa akibat dari tindakannya saat ini, tapi Fal tidak memiliki siapa pun saat ini, "Apa kau ingin ikut dengan kami?" Tanya Narz.
Fal sedikit ragu, dia melihat sekitarnya, dia teringat dengan semua kenangannya di kota ini. Meski setelah kematian orang tuanya 2 tahun yang lalu, sebagian besar adalah kenangan pahit.
Jika Fal ingin mengikuti Narz, dia harus meninggalkan kota ini.
Narz mengepalkan tangannya, dia berpikir keras tentang apa keputusannya. Fal melihat Narz, dia teringat semua sikap baik Narz padanya.
Akhirnya, Fal mengambil keputusan untuk mengikuti Narz. Dia menerima uluran tanan Narz. "Aku ikut." Ucap Fal.
Malam itu, Fal, Narz dan yang lainnya meninggalkan kota Zelen yang telah hancur.
__ADS_1
Bersambung...