
Lisia terkejut melihat nona ketiga, dia segera menjauh darinya. Lisia menatap nona ketiga, lalu melirik mansion itu 'Van ketahuan ya?' Batinnya.
Lisia kembali melihat ke nona ketiga, nona ketiga terlihat sangat meremehkan dirinya.
"Siapa kau? Apa kau dikirim oleh Kaisar?" Tanya nona ketiga. Ekspresi wajah nona ketiga tiba-tiba berubah "Ah, aku lupa. Kaisar kan tidak peduli pada mereka, untuk apa dia mengirim seseorang untuk menyelamatkan kota ini?" Nona ketiga tertawa mengejek.
'Orang ini berusaha memancing emosiku. Meski perkataannya tadi tidak berpengaruh padaku, tapi jika dia berkata seperti itu pada Van, atau orang lainnya yang berasal dari kekaisaran ini, maka dia pasti akan marah.' Batin Lisia.
Lisia harap Van tidak datang ke sini sebelum aku mengalahkan wanita itu. Jika Van berada di sini, dia pasti akan marah. Bagus jika Van menguasai sihir yang bisa mengubah amarah menjadi kekuatan, tapi jika tidak? Itu akan sangat gawat.
'Tapi sepertinya dia tidak tahu kalau aku dikirim oleh Magic Academy.' Batin Lisia.
Jubah yang dipakai Lisia menyembunyikan pakaian seragam Magic Academy, karena itu nona ketiga tidak tahu jika Lisia dikirim oleh Magic Academy.
Lisia menatap tajam nona ketiga, dia bergerak dengan cepat dan berada di hadapan nona ketiga.
Nona ketiga terkejut 'Dia cepat!' Batin nona ketiga.
Lisia memusatkan kekuatannya di tangan, lalu dia memukul nona ketiga.
"Kau! Beraninya kau melukaiku!" Nona ketiga mengeluarkan kekuatannya, tanah di sekitar nona ketiga hancur dan mengapung.
'Sihir pengendali tanah?' Batin Lisia.
Tanah-tanah itu kemudian berubah bentuk menjadi duri tajam, tanah berbentuk duri tajam itu menyerang Lisia.
Lisia menghindari serangan tanah berbentuk duri tajam itu. Tapi percuma, tanah berbentuk duri tajam itu mengejar Lisia.
Lisia mengeluarkan pedang lalu menebas semua tanah berbentuk duri tajam itu.
Nona ketiga tersenyum, "Percuma, apapun yang kau lakukan, semuanya percuma!" Ucap nona ketiga.
Lisia melihat tanah itu, tanah berbentuk duri yang telah Lisia tebas itu kembali lagi seperti semula.
Lisia tetap tenang, nona ketiga mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa Lisia begitu tenang.
Nona ketiga mencoba mengendalikan tanah berbentuk duri itu, tapi tidak bisa 'A-apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa...'
Tanah berbentuk duri itu menyerang nona ketiga, nona ketiga menghindari tanah itu, tapi tanah itu terus mengejarnya.
__ADS_1
Nona ketiga berusaha mengendalikan tanah itu, tapi tetap tidak bisa, "Apa yang kau lakukan?! Kenapa aku tidak bisa mengendalikannya?!" Nona ketiga menatap Lisia.
"Orang yang bisa menggunakan sihir pengendali tanah bukan hanya dirimu." Ucap Lisia.
Nona ketiga terkejut dengan ucapan Lisia, "Kau mengendalikan tanah itu?!" Tanya nona ketiga.
"Benar." Lisia tersenyum.
Bukannya marah, nona ketiga malah tersenyum "Hebat! Kau sangat hebat! Sudah lama aku tidak merasa semangat seperti ini!"
Tanah dan bangunan yang berada di sekitar nona ketiga hancur, nona ketiga tertawa.
'Apa dia orang gila?' Batin Lisia.
Tanah dan bangunan itu menyerang Lisia, Lisia menebas semua tanah dan bangunan yang menyerangnya itu.
Lisia melihat nona ketiga, 'Dia mirip dengan seseorang.' Batin Lisia.
Nona ketiga tidak menyerah, dia menghancurkan banyak bangunan lagi dan menyerang Lisia.
Lisia memusatkan kekuatannya di pedangnya, lalu dia menebas semua bangunan itu.
Nona ketiga tiba-tiba berada di belakang Lisia, dia menyerang Lisia dari belakang. Lisia merasakan keberadaan nona ketiga, dia segera berbalik dan melihat nona ketiga yang telah bersiap menyerangnya.
***
Van mendengar tentang nona ketiga yang mengejar Lisia.
'Lisia?' Batinnya.
Van berharap orang-orang itu segera pergi dari sana agar dia bisa pergi membantu Lisia.
"Tapi, bukannya nona ketiga sedang membeli persediaan makanan?" Tanya salah seorang diantaranya.
"Nona ketiga baru saja kembali dan mendengar kabar tentang penyusup, dia kemudian langsung pergi untuk mengejar teman penyusup itu. Mungkin sekarang beliau sedang melawan teman penyusup itu." Ucap orang itu.
"Begitu ya, kalau begitu teman penyusup itu pasti akan mati! Soalnya nona ketiga sangat hebat, apa lagi dengan sihir pengendalinya." Ucap orang yang lain.
Mereka berempat tertawa.
__ADS_1
Van terkejut, dia menghawatirkan Lisia, apakah Lisia baik-baik saja?
Orang-orang itu terus berbicara di sana, mereka tidak pergi juga. Beberapa saat berlalu, akhirnya Van telah lelah menunggu.
Dia tiba-tiba berada di belakang mereka, dia memujul belakang kepala salah seorang diantara mereka sehingga dia pingsan. Yang lainnya terkejut karena kedatangan Van.
"Kau! Penyusup?! Dimana tuan keempat dan tuan kelima?!" Mereka bertiga ketakutan.
Van tidak menjawab dia membuat ketiga orang itu pingsan. Van melihat keempat orang yang dibuat pingsan olehnya, lalu dia berlari pergi ke tempat Lisia.
Van harap Lisia baik-baik saja. Van terkejut, dia berpapasan dengan seorang wanita berjubah hitam dan memakai topeng, 'Kenapa di saat begini?!' Batinnya.
"Kau sepertinya sangat terburu-buru, tuan penyusup." Ucap wanita itu.
Van melihat jubah wanita itu, ada angka 6 di sana, 'Angka 6, dua orang tadi juga memiliki angka 5 dan 4 di jubahnya, apa itu tingkat kekuatan mereka? Kalau begitu, artinya dia lebih lemah dari mereka!' Batin Van.
Van bersiap-siap untuk bertarung, 'Aku harus mengalahkannya secepat mungkin!'
***
Lisia terluka akibat serangan nona ketiga dari belakang, untungnya serangan itu tidak mengenai organ vitalnya.
"Hei, perlihatkan seluruh kekuatanmu! Aku tahu kau belum serius sedari tadi bukan?!" Ucap nona ketiga tersenyum.
Lisia tersenyum, "Sayang sekali, aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatanku saat ini." Ucap Lisia pada nona ketiga.
Nona ketiga berhenti tersenyum, "Kenapa?" Tanyanya.
"Karena sebuah alasan." Ucap Lisia.
Di balik jubahnya, Lisia mengeluarkan batu bantuan, dan memencet tombol yang ada di batu itu, 'Situasinya telah menjadi gawat sekarang, mustahil bagi kami untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Sekarang aku harus mengulur waktu sampai bala bantuan tiba.' Batin Lisia.
Lisia tahu keadaannya sekarang, dia bisa merasakan banyak mata yang sedang mengawasi dirinya. Mustahil baginya untuk kabur dari sini, batu teleportasi telah diblokir di kota ini. Dia dan Van tidak mungkin bisa melawan semua orang di organisasi itu, dia bisa merasakan kalau orang-orang itu sangat kuat.
Lisia menyimpan kembali batu bantuan itu, dia lalu menatap nona ketiga, 'Sepertinya mereka telah mengetahui kalau kami dikirim oleh Magic Academy, hanya wanita ini saja yang tidak mengetahuinya. Karena jika mereka tidak mengetahuinya, mereka pasti tidak akan sewaspada ini.' Lisia menatap tajam nona ketiga.
Nona ketiga juga menatap tajam Lisia, dia akan membuat Lisia mengeluarkan seluruh kekuatannya!
Bersambung...
__ADS_1