
[Turnamen antar akademi, hari ke-3 dimulai!]
[Pertandingan kelima turnamen antar akademi adalah.....]
Pembawa acara menghentikan perkataannya, membuat para penonton penasaran dengan pertandingan kelima.
[Pertandingan pencarian!]
Para menonton bingung mendengarnya, apa maksudnya pertandingan pencarian?
[Setiap akademi akan memilih 3 peserta yang akan ikut di pertandingan ini. Tugas ketiga orang ini adalah mencari permata yang hilang. Dan yang paling pertama mendapatkan permata itu adalah pemenangnya!]
[Sekarang, silahkan memilih 3 orang perwakilan kalian!]
"Aku akan ikut pertandingan ini." ucap Zen.
"Aku juga!" ucap Bereilla bersemangat, kemudian dia menatap Heria, "Kau juga ikut ya, Heria." ucapnya berusaha membujuk Heria.
Heria berpikir sejenak, kemudian dia berkata, "Baiklah, aku akan ikut pertandingan ini."
***
Di arena, terlihat sudah banyak perwakilan setiap akademi yang berkumpul.
Lisia memperhatikan setiap orang di sana, kemudian dia berhenti saat melihat Sien yang juga ikut di pertandingan kelima ini, 'Sepertinya ini pertama kalinya dia ikut pertandingan di turnamen antar akademi ini.'
"Dia orang yang kemarin bukan? Kau mengenalnya?" tanta Xava, Lisia menoleh dan menatap Xava, kemudian kembali menatap ke arena.
"Tidak, kami hanya tidak sengaja bertemu di cafe kemarin." jawab Lisia singkat.
Xava terdiam sebentar, kemudian dia kembali bersuara, "Jangan berbohong, Lisia."
Mendengarnya, membuat Lisia menoleh ke arah Xava, "Jangan mencampuri urusanku, Xava." Lisia menatap tajam Xava.
Mendengar hal itu membuat Xava kesal. Padahal dia khawatir pada Lisia, setelah kematian Lais sikapnya terlihat berbeda.
Saat kecil, dia sering melihat Lisia dan Lais di istana. Ketika berada di samping Lais, Lisia akan lebih sering tersenyum dari biasanya dan terlihat sangat bahagia. Dan senyum yang ditunjukkan Lisia saat itu, berbeda dengan senyum yang ditunjukkannya saat ini.
Hal itu membuatnya menjadi memperhatikan sekitar Lisia, termasuk pria yang dia pikir sedang berkencan dengan Lisia kemarin.
Sebenarnya, alasannya memperhatikan Lisia adalah bibinya, yaitu permaisuri yang merupakan ibu dari Lisia.
"Aku mengkhawatirkanmu, Lisia." ucap Xava.
"Kalau begitu jangan mengkhawatirkanku." balas Lisia.
__ADS_1
***
Para peserta kini telah berdiri di atas lingkaran sihir.
[Pertandingan dimulai!]
Tepat setelah pembawa acara mengucapkan hal itu, sebuah cahaya menyelimuti tubuh para peserta, cahaya itu membawa para peserta masuk ke ruang sihir dimana pertandingan kelima diadakan.
Heria, Bereilla dan Zen melihat ke sekeliling mereka. Terlihat banyak pohon dan tanaman yang tumbuh subur. Tempat yang benar-benar sangat indah.
Dari kejauhan, Bereilla melihat sebuah hal yang menarik perhatiannya. Dia berjalan ke tempat itu.
Heria dan Zen yang menyadari Bereilla pergi kemudian mengikuti gadis itu.
Mereka tiba di depan sebuah danau. Danau itu benar-benar sangat indah, airnya sangat bersih.
"Wah... Ini pemandangan yang luar biasa." ucap Bereilla, "Sihir tingkat SS memang luar biasa." lanjutnya.
"Ya, tapi tempat ini tidak akan bertahan lama. Untuk membuat 1 tempat seperti ini saja membutuhkan energi yang besar, apalagi mempertahankannya." ucap Heria.
"Ya, kau benar... Seharusnya aku membawa batu sihir perekam untuk merekam keindahan pemandangan di sini..." Bereilla menghela napas.
Zen menatap sekelilingnya, 'Di tempat seperti ini, bagaimana caranya mencari permata?' batinnya.
Zen kemudian menatap ke arah Bereilla dan Heria yang masih kagum dengan pemandangan di tempat ini, "Jangan lupakan tujuan kita datang kemari." tegurnya.
"Kau benar, ayo mencari permata." Bereilla tersenyum, kemudian dia berjalan pergi meninggalkan danau itu.
Heria dan Zen mengikuti Bereilla. Mereka berjalan sambil melihat sekeliling, mencari permata yang hilang itu.
***
Sien dan kedua perwakilan Trisian Academy lainnya masih mencari pertama yang hilang itu sedari tadi.
Mereka mencari di balik semak-semak, bahkan memanjat ke atas pohon untuk mencari permata itu.
Wain—salah seorang perwakilan Trisian Academy menjatuhkan tubuhnya ke lantai, "Aku lelah!" ucapnya, "Bagaimana bisa kita mencari permata di tempat sebesar ini?" keluhnya.
Mesya—perwakilan Trisian Academy lainnya melempari Wain dengan sebuah batu kecil yang didapatkannya, "Jangan mengeluh dan cepat cari!" perintahnya.
Sementara Sien, dia berjalan menjauh dari mereka berdua dengan alasan mencari permata.
'Kenapa aku ikut di pertandingan seperti ini?' batinnya mengeluh. Meski begitu, dia tidak pernah mengeluhkan hal itu di hadapan para perwakilan lain. Di hadapan mereka, Sien terlihat sebagai sosok yang pendiam. Mereka hanya tidak tahu, bagaimana sifat aslinya.
Sien melihat ke sekitarnya, saat ini apapun yang dilakukannya akan ditayangkan di seluruh dunia. Hal itu membuatnya tidak bisa bersikap seenaknya.
__ADS_1
Padahal, dia ingin sekali tidur di pohon yang berada di hadapannya saat ini.
Sien berjalan menjauh dari pohon itu, kemudian lanjut mencari permata. Sebenarnya, dia hanya asal mencari, dia memperhatikan sekitar seolah mencari dimana berlian itu, tetapi pikirannya kosong.
***
Di tempat lain, tampak perwakilan Dream Academy yang sedang duduk di bawah sebuah pohon. Mereka telah kelelahan karena terus mencari permata sedari tadi.
"Bagaimana bisa kita mencari permata, yang bahkan kita tidak tahu bagaimana bantuknya?" keluh salah satu diantara mereka—Freya.
"Aku juga tidak tahu!" ucap Redra, dia kesal karena terus mendengar keluhan Freya.
Nidya menghela napasnya, dia menunduk kemudian berpikir, 'Bagaimana mencari permata itu?' batinnya, "Eh?"
Nidya melihat pergelangan tangannya, dia berdiri kemudian melihat sekitarnya, mencari sesuatu.
"Ada apa, Nidya?" tanya Freya.
"Gelangku tidak ada." jawab Nidya tanpa menatap Freya, dia berjalan pergi dari sana ke tempat yang dia lewati sebelumnya untuk mencari keberadaan gelangnya.
Freya berdiri, dia berlari menyusul Nidya, "Mungkin kau melepasnya di asrama tamu." ucap Freya.
"Aku tidak pernah melepas gelang itu. Sebelum pertandingan dimulai, gelang itu masih terpasang di pergelangan tanganku." ucap Nidya.
"Bagaimana ciri-ciri gelang itu?" tanya Redra yang baru saja datang.
"Gelang itu berwarna putih, dan memiliki permata berwarna merah." ucap Nidya, dia terus berjalan untuk mencari gelangnya.
Sementara Redra yang mendengar hal itu, terdiam di tempatnya, 'Permata?' batinnya.
***
Bereilla duduk di bawah pohon, kemudian dia menghela napasnya, "Bagaimana kita mencari permata di tempat seluas ini? Apalagi kita tidak tahu bentuk permata itu." keluhnya.
Heria terdiam, sejujurnya dia juga merasa agak lelah mencari permata itu.
Sementara Zen masih mencari permata itu. Dia menggunakan sihir cahaya, agar permata itu memantulkan cahaya dari sihirnya.
Angin berhembus, membuat rambut Heria terbang. Karena terganggu, Heria menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga.
Tapi, dia merasa ada hal yang aneh. Heria memegang telinganya, 'Tidak ada.' batinnya. Heria melihat sekeliling, mencari sesuatu.
Bereilla yang menyadari sikap Heria yang aneh, kemudian bertanya, "Ada apa?"
Heria melihat ke arah Bereilla, "Bereilla, antingku hilang."
__ADS_1
Bersambung...