Magic Academy

Magic Academy
66. Penentuan perwakilan akademi (8)


__ADS_3

Sedari tadi, tidak henti-hentinya Lisia mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang. Bagaimana tidak, dia berhasil lulus menjadi salah satu dari 10 orang yang akan mewakili Magic Academy ke turnamen.


"Putri, selamat." Ucap Rill.


Lisia tersenyum, "Terima kasih."


Rill melihat banyak karangan bunga di tangan Lisia, bukan hanya itu, di sebelahnya juga terdapat banyak hadiah.


"Kau menjadi populer karenanya." Ucap Rill.


Lisia masih mempertahankan senyumannya, "Ya, begitulah."


Orang-orang yang telah memberikan ucapan dan hadiah pada Lisia kemudian pergi dari sana dan kembali menyaksikan pertandingan.


Senyum Lisia menghilang setelah keadaan menjadi sepi, dia meletakkan karangan bunga di tangannya di sampingnya.


"Ini belum pengumuman resmi. Setelahnya, mungkin akan ada lebih banyak hadiah dan ucapan lagi." Ucap Rill.


"Kenapa kau tidak ikut menyaksikan pertandingannya? Pada saat Zen dan Irisa bertengkar, kau mengajakku untuk menonton pertandingannya. Aku pikir, kau suka menonton pertandingan."


"Saat itu, kau tidak ingin menyaksikan pertandingannya, padahal yang bertanding adalah adikmu. Karena itu aku mengajakmu menonton pertandingan itu." Ucap Rill.


Lisia menatap Rill, "Kenapa kau bersusah payah melakukan semua itu? Padahal, itu semua di luar tugasmu."


Rill menatap Lisia kembali, "Putri, kau mengingatkanku pada seseorang. Dia benar-benar mirip denganmu."


Lisia melihat mata Rill, di matanya Lisia bisa melihat kerinduan, 'Apa karena itu dia mengkhawatirkanku?'


***


Lisia pergi ke ruang penonton. Sesampainya di sana, dia melihat Irisa yang sedang menonton pertandingan itu, Di dekatnya, Irisa bersama dengan seorang pria yang dikenali Lisia.


'Pangeran kelima.' Lisia menatap ke arah pria berambut hitam yang merupakan salah satu kakaknya, Zerian.


Lisia melihat sebuah kursi kosong, dia lalu duduk di sana dan menyaksikan pertandingan.


***


Pertandingan perwakilan Magic Academy telah selesai. Sekarang ini, adalah peresmian untuk pengumuman perwakilan.


[Sekarang, kita panggil, perwakilan Magic Academy! Pertama! Zen Aslan de Erlin dari kelas 1.A!]


Para penonton bersorak. Bersamaan dengan itu, Zen masuk ke arena.


[Masih dari kelas 1.A lagi, kedua! Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A!]


Para penonton bersorak, bersamaan dengan itu, Lisia masuk ke arena dan berdiri di samping Zen.


[Ketiga! Heria Dessia dari kelas 2.A!]


Para penonton kembali bersorak, Heria masuk ke arena dan berdiri di samping Lisia.


[Keempat! Hain Garika de Arrilla dari kelas 3.A!]


Para penonton bersorak, Hain masuk ke arena dan berdiri di samping Heria.


[Kelima! Mira Sophia dari kelas 1.A!]

__ADS_1


Para penonton bersorak, Mira masuk ke arena dan berdiri di samping Hain.


[Keenam! Xava Kerrain dari kelas 3.A!]


Para penonton bersorak, Xava masuk ke arena dan berdiri di samping Mira.


[Ketujuh! Arzevian Gaerella dari kelas 3.A!]


Para penonton bersorak, pria bernama Arzevian itu masuk ke arena dan berdiri di samping Xava.


[Kedelapan! Caelzen Zerre dari kelas 2.A!]


Para penonton bersorak, pria bernama Caelzen itu masuk ke arena dan berdiri di samping Arzevian.


[Kesembilan! Everilly Ervail dari kelas 2.A!]


Para penonton bersorak, gadis bernama Everilly itu masuk ke arena dan berdiri di samping Caelzen.


[Kesepuluh! Sekaligus yang terakhir! Bereilla Daeriz dari kelas 2.A!]


Para penonton bersorak, gadis bernama Bereilla itu masuk ke arena dan berdiri di samping Everilly.


[Kepada kepala sekolah, dipersilahkan untuk memberikan penghargaan kepada kesepuluh perwakilan Magic Academy.]


Pembawa acara mempersilahkan dengan hormat kepada kepala sekolah.


Kepala sekolah masuk ke arena, di belakangnya terlihat profesor Sala yang sedang membawakan 10 buah medali.


Pertama, kepala sekolah pergi ke depan Zen. Zen menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Zen.


"Zen, kau memiliki kekuatan yang kuat. Tapi, bayangan masa lalu yang terus menghantuimu itu akan mengganggu dirimu. Aku sarankan, berusahalah terlepas dari bayang-bayang masa lalumu." Kepala sekolah tersenyum.


Kepala sekolah berjalan kembali, dia kini berada di depan Lisia.


Lisia menunduk, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Lisia.


"Arlisia, kau kuat dan juga pintar. Lalu, aku harap, kau tidak berbuat nekat di turnamen nanti."


Lisia tahu, kepala sekolah sedang menyinggung masalah saat misinya di Kota Lijian, dimana dia melanggar batasan kekuatannya.


"Saya akan mengingatnya." Ucap Lisia.


Kepala sekolah berjalan kembali dan berada di depan Heria.


Heria menunduk, kepala sekolah mengambil satu buah medali dan memakaikannya di kepala Heria.


"Heria, kau itu kuat. Tapi, emosimu akan menjadi masalah. Aku tahu kau membenci bangsawan, tapi tolong kendalikan emosimu." Ucap kepala sekolah.


Heria menunduk, "Terima kasih atas sarannya."


Kepala sekolah lanjut berjalan, dia berhenti saat berada di depan Hain.


Hain menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Hain.


"Hain, kau kuat, pintar, dan bisa mengendalikan emosimu, itu adalah hal yang bagus. Tapi, lebih percaya dirilah dengan kemampuanmu sendiri."


Hain menunduk, "Terima kasih."

__ADS_1


Kepala sekolah membalasnya dengan senyuman, dia lanjut berjalan dan berhenti di depan Mira.


Mira menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil medali lalu memakaikannya di kepala Mira.


"Mira, saat kau bertarung tadi, aku melihat tatapan matamu. Tatapan mata yang penuh kebencian. Aku tidak tahu kau benci terhadap siapa, tapi aku harap kau bisa mengendalikan kebencianmu itu."


Mira tidak membalas perkataan kepala sekolah.


Kepala sekolah lanjut berjalan, dia berhenti saat berada di depan Xava.


Xava menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Xava.


"Xava, aku harap kau bertindak sesuai dengan keadaan."


Kepala sekolah menyinggung masalah saat Xava tidak serius bertarung saat pertarungan tim.


Xava menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Maaf." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Kepala sekolah lanjut berjalan, dia berhenti saat berada di depan Arzevian.


Arzevian menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Arzevian.


"Sama seperti tahun lalu, kau berhasil menjadi salah satu perwakilan akademi. Arzevian, aku berharap banyak padamu."


"Saya akan berusaha memenuhi harapan anda." Ucap Arzevian.


Kepala sekolah membalasnya dengan senyuman, dia lanjut berjalan lalu berhenti di depan Caelzen.


Caelzen menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali dan memakaikannya di kepala Caelzen.


"Caelzen, selamat karena berhasil menjadi perwakilan akademi di tahun ini."


Caelzen tersenyum, "Terima kasih, kepala sekolah. Saya juga senang, karena saya berhasil di tahun ini."


"Usahamu tidak sia-sia bukan?" Kepala sekolah mengingat di mana dia pernah melihat Caelzen berlatih keras saat tengah malam.


Caelzen membalasnya dengan senyuman.


Kepala sekolah tersenyum, dia lanjut berjalan lalu berhenti di depan Everilly.


Everilly menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Everilly.


"Sifatmu yang ceria itu akan banyak membantumu, Everilly. Aku harap, sifatmu tidak berubah apa pun yang terjadi."


Everilly tersenyum lebar, "Ya! Saya akan berusaha agar sifat saya tidak berubah!"


Kepala sekolah lanjut berjalan, dia berhenti di depan Bereilla.


Bereilla menundukkan kepalanya, kepala sekolah mengambil satu buah medali lalu memakaikannya di kepala Bereilla.


"Bereilla, semakin hari kau semakin kuat saja ya. Padahal, saat pertama kali masuk akademi, kau kelas D, tapi lama kelamaan, kau semakin kuat dan pindah kelas selama 3 kali, dari kelas D ke kelas C, dari kelas C ke kelas B, dan dari kelas B ke kelas A. Kau hebat." Kepala sekolah tersenyum.


Bereilla tersenyum, "Terima kasih atas pujiannya, kepala sekolah."


[Kepada kesepuluh perwakilan akademi, kami berharap banyak kepada kalian. Tolong raihlah juara di turnamen ini.]


Para penonton bersorak, mereka memberi semangat kepada kesepuluh perwakilan akademi untuk turnamen nanti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2