
Lisia saat ini sedang menghadapi nona ketiga, sementara Van sedang menghadapi nona keenam.
Sementara itu, di Magic Academy
Profesor Sala menerima pemberitahuan minta bantuan dari Lisia, dia segera meninggalkan ruang misi dan pergi ke ruang kepala sekolah. Dia tidak bisa memutuskan untuk mengirim siapa, karena dia tidak memiliki wewenang untuk itu. Karena itu, dia pergi untuk bertanya pada kepala sekolah.
Profesor Sala mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
Tok tok tok
Kepala sekolah yang sedang meminum teh mendengar ketukan pintu, "Masuk." Ucap kepala sekolah.
Profesor Sala membuka pintu ruang kepala sekolah dan masuk ke sana, profesor Sala menunduk, "Kepala sekolah, Lisia dan Van meminta bantuan, saya harus mengirim siapa untuk membantu mereka berdua?" Tanya profesor Sala.
Profesor Sala sedang panik saat ini, dia khawatir pada Lisia dan Van. Apakah mereka baik-baik saja?
Kepala sekolah berpikir, 'Misi ini lebih sulit dari dugaanku, padahal aku telah memilih Van dan Lisia untuk menjalankan misi ini karena kemampuan mereka.' Pikir kepala sekolah.
Kepala sekolah melihat dokumen yang berisi data murid-murid Magic Academy, "Rill Alfrin dari kelas 1.A, Naya Ansia dari kelas 1.A dan Jain Kaissa dari kelas 2.A." Perintah kepala sekolah.
'Murid kelas 1 dan 2?' Batin profesor Sala ragu.
"Jangan ragu seperti itu, meski mereka tidak cukup pengalaman tapi mereka itu kuat." Ucap kepala sekolah, dia seolah tahu apa yang dipikirkan oleh profesor Sala.
"Baik!" Ucap profesor Sala.
***
"Di dunia hanya ada 4 orang yang bisa menguasai sihir peringat SS, itu bisa menggambarkan seberapa sulitnya untuk menguasai sihir peringat SS." Profesor Rina mengajar di kelas 1.A, dia menjelaskan tentang sihir peringkat SS pada murid.
"Disampaikan kepada Rill Alfrin dan Naya Ansia dari kelas 1.A, dan Jain Kaissa dari kelas 2.A untuk segera pergi ke ruang misi, sekarang." Ucap profesor Sala.
Rill dan Naya berdiri, mereka menunduk pada profesor Rina lalu keluar dari kelas dan pergi ke ruang misi.
"Apa yang terjadi?"
"Apa ada misi darurat?"
Para murid mulai berbisik-bisik.
***
Jain yang mendengar dirinya dipanggil langsung berdiri, dia menunduk pada profesor Raya yang mengajar di kelasnya lalu pergi dari sana.
"Apa ada misi tiba-tiba?"
"Tapi apa misinya sangat serius sehingga harus segera pergi?"
Para murid mulai berbisik-bisik.
***
__ADS_1
Lisia kewalahan menghadapi nona ketiga, 'Tunggu sebentar lagi, bantuan akan segera tiba.' Batin Lisia, dia mencoba untuk bertahan.
Lisia melihat nona ketiga, nona ketiga tidak lagi menahan kekuatannya, dia telah mengeluarkan seluruh kekuatannya. Hal itulah yang membuat Lisia kewalahan.
"Berhenti menahan diri! Cepat tunjukkan kekuatan aslimu!" Nona ketiga mulai kesal, dia telah melawan Lisia sedari tadi tapi Lisia tak juga menunjukkan seluruh kekuatannya.
"Bukankah aku sudah bilang? Aku tidak bisa melakukannya." Ucap Lisia. Kedua tangan Lisia mengeluarkan api, dia menyerang nona ketiga menggunakan api itu.
Nona ketiga menghindari semua serangan Lisia dengan mudah. Nona ketiga memukul perut Lisia dan membuat Lisia terpental jauh.
***
Di tempat lain, Van juga kewalahan melawan nona keenam.
Van yang terkena serangan berusaha untuk berdiri, dia melihat nona keenam, 'Dia bukan hanya kuat, tapi juga cerdas. Berbeda dengan kedua orang tadi yang hanya mengandalkan kekuatan.' Pikir Van.
Nona keenam tersenyum, "Ada apa? Apakah kau menyerah, tuan penyusup?" Tanya nona keenam.
"Mana mungkin menyerah." Ucap Van tersenyum.
Dia berdiri, lukanya saat pertarungan dengan tuan keempat masih ada. Membuat dirinya kesakitan, sehingga kecepatannya menurun.
Nona keenam menyerang Van, dia mengincar titik vital Van. Van menghindari semua serangan nona keenam, dia memukul nona keenam sehingga nona keenam terlempar ke tembok.
Nona keenam tersenyum, dia tiba-tiba menghilang dan berada di belakang Van, nona keenam menendang Van membuatnya jatuh ke tanah.
***
"Jangan membuang-buang waktu! Cepat tunjukkan seluruh kekuatanmu!" Ucap nona ketiga.
Lisia tidak menjawab, dia tetap diam di tempatnya.
"Sepertinya percuma untuk membuatmu mengeluarkan seluruh kekuatanmu. Padahal aku pikir aku bisa bersenang-senang, tapi sepertinya tidak." Nona ketiga telah menyerah untuk membuat Lisia mengeluarkan seluruh kekuatannya, dia memusatkan seluruh kekuatannya di tangan lalu menyerang Lisia.
"Matilah!" Ucap nona ketiga.
Seseorang menghalangi serangan nona ketiga, nona ketiga terkejut karena ada sihir pelindung yang melindungi Lisia.
Yang melindungi Lisia adalah Rill, dia baru saja tiba. Rill menoleh dan melihat Lisia, "Apakah aku terlambat, Putri?" Tanyanya.
"Tidak juga, tapi kenapa kau datang dengan cara yang keren seperti itu?" Ucap Lisia tidak terima.
Rill tersenyum, "Melihatmu seperti ini membuatku tidak yakin dengan semua rumor tentangmu." Ucap Rill.
"Kau siapa?! Beraninya kau mencampuri pertarunganku!" Ucap nona ketiga.
Nona ketiga memukul sihir pelindung Rill, tapi sihir pelindung itu tidak hancur, 'Kenapa?' Batin nona ketiga.
Naya menembak nona ketiga menggunakan pistolnya. Nona ketiga menghindari peluru-peluru itu, dia melihat Naya, "Dasar serangga pengganggu!" Nona ketiga marah.
***
__ADS_1
Jain membantu Van, dia menggunakan kekuatan sihirnya dan menyerang nona keenam.
Nona keenam menyerang Jain, mengincar titik vital Jain, Jain menghindari semua serangan itu.
'Dia cukup pintar, jika serangannya terkena titik vital seseorang, maka dia akan kalah dalam sekejap tanpa menggunakan sihir yang banyak. Dengan begitu, dia bisa menghemat tenaganya untuk pertempuran selanjutnya.' Pikir Jain.
Jain menyerang titik vital nona keenam, nona keenam berusaha menghindari serangan Jain, tetapi serangannya terlalu cepat. 'Setidaknya, aku harus membuatnya meleset!' Batin nona keenam, dia berusaha menghindar sebisanya, dan membuat serangan Jain tidak mengenai organ vitalnya.
Nona keenam terluka karena serangan Jain, tapi dia tersenyum karena serangan itu tidak mengenai organ vitalnya. Nona keenam berusaha mencoba menyerang Jain, tapi tubuhnya tiba-tiba berhenti bergerak.
Pandangan nona keenam menjadi buram, lalu setelah kembali normal, dia melihat Jain yang tersenyum. Jain telah menyerang titik vitalnya dan membuat dirinya tidak bisa bergerak.
'Apa yang terjadi?' Batin nona keenam.
"Nona, kau sepertinya lengah sehingga bisa terjebak dalam sihir ilusiku." Ucap Jain tersenyum.
'Sihir ilusi? Jadi tadi adalah ilusi?' Batin nona keenam tidak percaya.
Jain tersenyum, dia mengikat nona keenam menggunakan rantai sihir.
Jain menoleh, melihat Van yang terluka parah, dia mengulurkan tangannya "Kau baik-baik saja?"
Van menerima uluran tangan Jain, "Ya, terima kasih." Ucap Van tersenyum.
***
Rill dan Naya menyerang nona ketiga, mereka bertarung dengan sengit.
Naya menembakkan pistol dan membuat nona ketiga terluka. Dan Rill menyerang menggunakan sihirnya.
Sementara itu, Lisia menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka-lukanya.
Naya menembak kaki dan tangan nona ketiga, membuat nona ketiga tidak bisa bergerak lagi. Nona ketiga menggunakan sihirnya untuk mengontrol benda-benda di sekitarnya.
Rill berlari dan mendekati nona ketiga, akibatnya tubuhnya terluka. Dia lalu menyerang nona ketiga.
'Aku kalah? Tidak mungkin! Kenapa? Aku tidak selemah ini untuk kalah...' Batin nona ketiga.
Nona ketiga terjatuh ke tanah, dia pingsan.
Rill dan Naya menghampiri Lisia, "Kau tidak apa-apa?" Tanya Naya khawatir.
Lisia mengangguk, "Tenang saja, aku tidak apa-apa." Ucap Lisia.
"Kenapa kau tidak menggunakan sihir peringkat S yang kau gunakan saat penentuan misi?" Tanya Naya.
"Jika aku melakukannya, maka kota ini bisa saja hancur. Karena sihir itu akan mengendalikan cuaca, ini berbeda dengan arena dimana tempat lain tidak akan ikut terpengaruh." Ucap Lisia.
"Semakin ke sini, aku merasa kalau kau sangat berbeda dari saat kita pertama bertemu, putri." Ucap Rill.
"Berbeda ya? Aku rasa juga seperti itu." Ucap Lisia.
__ADS_1
Bersambung...