Magic Academy

Magic Academy
84. Anting yang hilang


__ADS_3

Sejak tadi, Zen tidak juga fokus untuk mencari berlian itu. Pikirannya terus terpikirkan kepada Heria, dikarenakan perkataan Bereilla padanya tadi.


Zen melihat ke arah Bereilla yang sedang mencari berlian tidak jauh dari tempatnya. Dia tampak kesal.


Bereilla berharap agar permata itu cepat dia temukan, agar dia bisa membantu Heria mencari antingnya yang hilang.


...****************...


Terlihat, di arena, Trisian Academy telah menemukan permatanya yang hilang. Mereka menyelesaikan misi dengan mendapat posisi pertama.


Beberapa akademi lain juga telah menyadari hal ini dan mencari berlian yang hilang itu.


“Agar misi ini selesai, dia harus memikirkan perasaan temannya yang kehilangan barang berharga.” gumam Lisia, dia kemudian menatap ke arah 4 Kaisar, ‘Wah… bisa-bisanya mereka membuat pertandingan yang memikirkan perasaan orang lain.’ batin Lisia, dia tertawa dalam hatinya, mengingat bagaimana sikap para Kaisar itu.


“Zen sepertinya terpancing dengan kata-kata Bereilla tadi.” ucap Xava.


“Ya, baguslah. Jika dia bisa bicara dengan Heria atau Bereilla mengenai anting Heria, kurasa dia bisa menyadarinya.” balas Lisia.


...****************...


Zen menghampiri Bereilla yang sedang mencari berlian di bawah pohon.


“Hei,” penggil Zen, Bereilla yang merasa terpanggil kemudian menatap Zen, “Bagaimana bentuk anting senior Heria?”


“Hah? Kenapa kau tiba-tiba penasaran dengan itu?” balas Bereilla dengan sinis.


“Aku akan membantunya mencari antingnya.” ucap Zen.


Sungguh, ingin rasanya Bereilla membalasnya dengan kata ‘Tidak perlu’. Tapi, ‘Jangan keras kepala Bereilla! Bersikaplah sebagai senior yang baik!’ batinnya memperingati dirinya sendiri.


Bereilla berdiri, kemudian dia menatap Zen, “Antingnya berbentuk lingkaran dengan permata berwarna hijau.” ucapnya menjawab pertanyaan Zen sebelumnya.


Mendengar hal itu, Zen terkejut, “Permata?”


“Ada apa?” tanya Bereilla yang melihat reaksi Zen.


“Astaga… Kita kan sedang mencari ‘permata yang hilang’! Senior!” balas Zen.


Bereilla yang mendengar hal itu terkejut, benar juga… Astaga! Kenapa dia tidak kepikiran hal itu!

__ADS_1


‘Kau bodoh! Bereilla!’ batin Bereilla mengatai dirinya sendiri.


“Sudahlah, ayo pergi.” ucap Zen kepada Bereilla.


Zen pergi dari sana untuk mencari Heria, Bereilla yang melihat hal itu ikut berlari untuk mengejar Zen.


Mereka terus mencari kesamaan kemari, Zen melacak energi keberadaan Heria. Setelah menemukannya, dia berlari ke arah dimana Heria berada.


Zen terkejut melihat apa yang terjadi pada Heria, dia terbaring di bawah pohon dengan luka yang terlihat cukup parah. Bereilla yang berada di belakang Zen juga melihat hal itu, dia tentunya terkejut melihatnya.


Zen berlari menghampiri Heria, saat sampai dia segera mengecek keadaan seniornya itu.


Heria terbaring tidak sadarkan diri, lukanya cukup parah meski untungnya tidak membahayakan nyawanya.


“Senior, anda menguasai sihir penyembuhan?” tanya Zen pada Bereilla.


Bereilla menggelengkan kepalanya, “Tidak…”


Sungguh, rasanya Zen benar-benar pusing memikirkan ini. Dia menyalahkan dirinya, seandainya tadi dia bertanya pada Heria mengenai antingnya yang hilang! Atau seandainya dia lebih memahami kalimat yang diucapkan pembawa acara!


Sementara Bereilla, dia juga menyalahkan dirinya. Seandainya dia lebih pintar untuk menyadari tentang anting itu! Semua ini… tidak akan terjadi!


Mata Heria terbuka sedikit, samar-samar dia melihat seseorang, meski tidak melihat dengan jelas, tapi dia yakin bahwa mereka adalah Zen dan Bereilla, “A-antingku…” lirihnya.


“Heria!” Bereilla menggenggam tangan Heria, dia sungguh khawatir. Pikirannya berputar mengingat bahwa dialah yang mengajak Heria untuk ikut di pertandingan ini. Membuat rasa bersalahnya meningkat.


Zen tanpa sengaja melihat sebuah bros tidak jauh dari tempat itu, dia berdiri dan mengambil bros itu lalu melihatnya. Bros itu memiliki lambang Sword Academy.


“Senior Bereilla, tunggulah di sini bersama senior Heria.” ucap Zen.


“Kau mau ke mana?” tanya Bereilla.


“Mengambil anting itu.” balas Zen.


...****************...


Di tempat lain, tampak para perwakilan Sword Academy sedang berjalan. Permata yang hilang milik mereka adalah aksesoris rambut dan mereka belum menemukannya. Mereka hanya berjalan sedari tadi, untuk mencari aksesoris itu.


Perwakilan dari Sword Academy untuk pertandingan ini adalah: Pertama, Zarka Herzenia— pria berambut merah yang bersama Gierella 3 hari yang lalu. Saat mereka melihat pertengkaran kecil Lisia dengan para perwakilan Trisian Academy. Kedua, Verzea Herzenia— dia adalah saudara Zarka. Dan ketiga, Carrez Larian— saudara Kei.

__ADS_1


Zen berada tepat dihadapkan ketiga orang itu, dia menghentikan jalan mereka.


Zarka melihat seragam yang dipakai Zen, “Perwakilan Magic Academy ya?” ucapnya.


“Seragammu robek, apa kau kalah di suatu pertarungan?” Verzea mengejek Zen.


Zen menatap mereka dengan tajam, “Wah… sepertinya kalian tidak pernah diajarkan tata krama ya?”


“Apa maksudmu? Kami bangsawan, jadi tentu saja kami diajarkan tata krama. Hanya rakyat biasa yang tidak diajarkan tata krama.” Verzea mengatakan hal itu dengan percaya diri.


“Benarkah? Tapi menurutku tata krama kalian lebih buruk dari rakyat biasa.” ucap Zen.


Verzea tertawa, “Haha… Kau tidak sedang mengatai dirimu sendiri kan?”


“Tentu saja tidak…” Zen mengeluarkan pedangnya, dengan cepat dia berpindah ke belakang Verzea, “Aku sedang mengatai kalian.


Sebelum Zen menebas Verzea, Zarka terlebih dahulu menahan gerakan Zen. Hal itu tidak menghalangi Zen, dia malah mengayunkan pedangnya dan menebas kaki Zarka.


Zarka berteriak kesakitan, dia terjatuh di tanah. Luka tebasan itu tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuatnya tidak bisa berdiri untuk sementara waktu.


“Sayang sekali… Padahal aku ingin memotong kakimu.” ucap Zen, nada bicaranya datar dan tatapannya tajam. Dia terlihat mengerikan saat ini, “Aku datang kemari untuk mengambil kembali permata kami yang hilang, dan juga membalas kalian karena telah melukai anggota kami.”


Carrez mengeluarkan pedangnya dan menyerang Zen, Zen menahan serangan itu dan balik menyerang Carrez.


“Kemampuan berpedangmu lumayan. Tapi, bagaimana jika aku memotong tanganmu?” tanya Zen.


Mendengar itu, Carrez segera menjauh dari Zen sebelum dia menyerangnya, ‘Gertakannya itu mengerikan.’


Di kaki Zen, muncul sebuah lingkaran sihir. Zen menoleh dan menatap arah lingkaran sihir itu berasal, Verzea.


Dari lingkaran sihir itu, muncul tanah dan mengurung Zen. Dan Zen menghancurkan tanah itu dengan mudahnya.


Zen bergerak dengan cepat dan menyerang Verzea. Zarka yang melihatnya mencoba menyelamatkan adiknya itu, tapi kakinya yang terluka menghalangi dirinya.


Sebelum pedangnya mengenai Verzea, Zen menghilangkan pedangnya. Dan dia menggunakan sihir untuk menyerang Verzea. Verzea terlempar dan terbentur di pohon, kemudian Zen menggunakan sihir untuk mengikat Verzea di pohon itu.


Verzea menatap Zen, “Kenapa kau tidak jadi membunuhku?” ucapnya, dia tersenyum remeh pada Zen.


“Aku ingin sekali membunuhmu, tapi sayangnya ini pertandingan.” balas Zen. Kemudian dia berbalik dan menatap Zarka dan Carrez, “Dimana permata kami?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2