
Setelah mengaktifkan batu teleportasi itu, tampak tidak terjadi apapun.
Pria berambut ungu itu melihat ke arah batu teleportasi itu, mencoba mengaktifkannya sekali lagi. Tetapi, hasilnya sama saja.
"Apa yang terjadi?!" Ucapnya.
Lisia juga terkejut, bagaimana bisa batu teleportasi itu tidak berfungsi?
Tiba-tiba, batu teleportasi itu berubah warna. Sebuah asap muncul dari batu itu dan memenuhi seluruh ruangan.
***
Di ruang tunggu,
"Jangan-jangan?!"
"Seperti tadi?!"
***
Lisia refleks menutup matanya, lalu dia membuka mata.
Di depannya saat ini, dia melihat kakaknya, Lais tersenyum padanya, "Lisia.." Lais memanggil namanya.
Tetapi sesaat kemudian, setelah Lisia berkedip, apa yang dilihatnya berubah. Lais saat ini sedang berlumuran darah dan menatapnya, "Lisia..."
Lisia tidak bisa berkata apapun, dia terkejut. Bagaimana bisa kakaknya berada di sini?
"Lisia..."
Lais sekali lagi memanggil namanya, Lisia tidak dapat mengatakan apapun.
Lisia menutup matanya, dia menggelengkan kepalanya, 'Aku ingat, saat ini aku sedang ikut di turnamen antar akademi, dan kakak...' Lisia mengepalkan tangannya, '....Kak Lais telah mati.'
Lisia mengaktifkan sihir pelindung pikiran. Sihir ini bisa melindungi seseorang dari ilusi atau sihir yang bisa mempengaruhi pikiran seseorang.
Saat baru saja masuk ke labirin ilusi, dia mengaktifkan sihir pelindung pikiran, tetapi dia lengah sehingga bisa terjebak dalam ilusi tadi.
Lisia membuka matanya, dia melihat saat ini dia berada di ruangan tempatnya berada tadi. Dia melihat ke lantai yang sedang membeku, di lantai itu muncul bayangan dirinya, dia melihat dirinya sedang berkeringat saat ini.
Lisia berdiri, dia melihat ke sekitarnya. Everilly, Gierella, dan pria berambut ungu itu tampaknya sedang menghadapi ilusi.
Mereka menggumamkan hal yang tidak jelas, wajah mereka tampaknya ketakutan dan berkeringat dingin.
Lisia melihat ke batu berbentuk kubus yang berada di tengah ruangan, "Jadi maksud dari pertandingan ilusi adalah ini?" Gumamnya.
__ADS_1
Dia kembali mengingat bunga yang dia dan Everilly temui saat baru saja masuk di labirin ilusi. Syukur saja dia menghentikan Everilly yang ingin menyentuh bunga itu.
Lisia menghampiri Everilly, Everilly saat ini sedang berkeringat dingin, wajahnya seperti ketakutan dan mengumamkan hal-hal yang tidak jelas.
Lisia menyentuh Everilly, dia menutup matanya dan menggunakan sihir pelindung pikiran pada Everilly.
Perlahan-lahan, Everilly berhenti menggumamkan hal-hal tidak jelas itu, wajahnya tampaknya berhenti ketakutan, meski wajahnya masih berkeringat dingin.
Everilly terjatuh ke lantai, Lisia lalu menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka-luka Everilly.
***
Di ruang tunggu,
"Untunglah, Lisia bisa keluar dari ilusi itu." Hain bernapas lega.
Beberapa perwakilan Magic Academy yang tadinya khawatir, kemudian bernapas lega.
'Tapi, tadi wajah Lisia tampak sangat terkejut, sebenarnya, apa yang dia lihat di ilusi itu?' Batin Hain.
***
Di tempat 4 Kaisar,
"Tadi itu, sihir pelindung pikiran ya?" Ucap Kaisar Arkailian.
Kaisar Kairilin melihat ke arah Kaisar Arrilla, "Apa yang kau pikirkan, Kaisar Arrilla?"
Kaisar Arrilla melihat ke arah layar yang menunjukkan kondisi Lisia saat ini, "Aku hanya penasaran, apa yang dilihatnya di ilusi tadi?" Ucap Kaisar Arrilla.
***
Setelah menyembuhkan Everilly, Lisia melihat ke arah batu berbentuk kubus itu, dia menggunakan sihir cahaya dan menghancurkan batu itu.
Setelah batu itu hancur, sebuah jalan muncul. Lisia menggendong Everilly di pundaknya. Lisia berjalan menuju jalan yang baru muncul setelah dia menghancurkan batu berbentuk kubus itu.
Setelah Lisia masuk ke jalan itu, jalan itu kembali tertutup. Lisia menggunakan sihir cahaya untuk menerangi jalannya.
Dia terus berjalan, di jalan ini, dia bertemu dengan banyak kupu-kupu, bunga, dan lain-lain. Tapi, Lisia tidak menghiraukannya. Bagaimana jika itu membuatnya terjebak ilusi seperti tadi? Dia ingat, ini adalah labirin ilusi.
Setelah beberapa lama berjalan, Lisia melihat seekor kucing yang membawa batu teleportasi di mulutnya.
Lisia menggunakan sihir es untuk membuat kucing itu terjebak di es. Lalu, dia mendekati kucing itu.
Lisia mengambil batu teleportasi di mulut kucing itu, "Ku ambil ini ya." Ucapnya tersenyum kepada kucing itu.
__ADS_1
Lisia mengaktifkan batu teleportasi itu, sebuah cahaya menyelimuti dirinya dan Everilly. Setelahnya, cahaya itu menghilang bersama dengan dirinya dan Everilly.
Lisia berteleportasi kembali ke arena.
Para penonton bersorak melihat Lisia, dia melihat ke arah layar poin, layar poin itu menunjukkan Magic Academy di posisi pertama dengan 12 poin. Ternyata, Magic Academy menempati posisi pertama di pertandingan ini. Padahal, dia pikir akan ada akademi lain yang sampai lebih dulu.
Lisia melihat ke layar, tampaknya saat ini banyak akademi lain yang sedang terjebak ilusi. Mereka sepertinya sangat kesulitan untuk melawan ilusi itu.
Beruntung, Lisia menguasai sihir pelindung pikiran, dengan begitu dia bisa melindungi dirinya dari ilusi yang menyerang pikirannya itu.
Tim medis datang, mereka membawa Lisia dan Everilly ke ruang pengobatan.
***
Dari ruang pengobatan, Lisia masih bisa melihat pertandingan yang berlangsung di labirin ilusi.
Dream Academy, sihir ilusi adalah keahlian mereka. Tapi, sialnya mereka malah bertemu dengan Fire Academy, mereka kalah di pertarungan.
Flower Academy yang terjebak ilusi sedari awal pertandingan, masih tidak dapat keluar dari ilusi itu.
Pertandingan ilusi ini, adalah pertandingan yang menguji mental seseorang.
'Mereka sengaja ya membuat pertandingan yang menguji mental menjadi pertandingan pertama?' Batin Lisia kesal.
Ada beberapa akademi yang tadinya terjebak ilusi kemudian berhasil keluar dari ilusi itu. Mereka melanjutkan perjalanan mereka dan sebentar lagi akan berhasil keluar dari labirin ilusi.
'Diantara orang-orang yang ikut di pertandingan pertama ini, apa hanya aku yang menguasai sihir pelindung pikiran?' Batin Lisia yang memperhatikan layar sedari tadi.
Pintu ruang pengobatan terbuka, profesor Levin masuk ke ruang pengobatan. Dia membawakan makanan untuk Lisia, lalu dia duduk di kursi.
"Terima kasih." Ucap Lusia, dia memakan makanan yang diberikan oleh profesor Levin.
"Tadi itu, sihir pelindung pikiran bukan?" Tanya profesor Levin.
Lisia mengangguk, "Ya."
Profesor Levin melihat ke layar, "Kau tahu, Lisia? Orang-orang yang ingin bertambah kuat kebanyakan hanya melatih fisik mereka. Karena itulah, banyak orang yang kalah oleh ilusi itu."
Profesor Levin beralih menatap Lisia, "Kau sendiri juga begitu bukan? Jika bukan karena sihir pelindung pikiran, kemungkinan kau tidak bisa keluar dari ilusi tadi."
Lisia mengepalkan tangannya, "Apakah karena itu pertandingan ilusi ditempatkan di pertandingan pertama?" Tanya Lisia.
"Entahlah, bukan aku yang mengatur pertandingan-pertandingan di turnamen ini." Profesor Levin kembali menatap layar.
Lisia kembali mengingat apa yang dilihatnya di ilusi tadi. Jujur saja, apa yang dikatakan profesor Levin itu benar. Jika bukan karena sihir pelindung pikiran, saat ini dia pasti masih terjebak di ilusi itu.
__ADS_1
Bersambung...