
Arzevian Gaerella, dia adalah ketua komite kedisiplinan di Magic Academy.
Arzevian berasal dari keluarga Duke Gaerella di kekaisaran Erlin, sejak kecil dia dikenal dengan bakatnya yang luar biasa. Karenanya, dia menjadi penerus keluarga Duke Gaerella.
Banyak orang yang iri dengannya dan ingin berada di posisinya. Tetapi, tidak bagi Arzevian.
Arzevian yang sedang belajar, menatap keluar jendela dan melihat bulan purnama. Dia tidak suka dan menutup tirai jendela, "Aku benar-benar tidak suka bulan purnama." Gumamnya.
***
[Selamat pagi, para murid-murid Magic Academy, para profesor Magic Academy serta para profesor pendamping dari setiap akademi, para perwakilan dari setiap akademi yang akan mengikuti turnamen ini, juga para penonton dari seluruh dunia yang menyaksikan turnamen ini. Turnamen antar akademi, hari kedua, dimulai!]
Orang-orang tidak sabar menantikan turnamen selanjutnya.
Para perwakilan dari setiap akademi berharap, semoga saja pertandingan selanjutnya tidak seperti pertandingan pertama kemarin.
[Pertandingan ketiga Magic Academy adalah berburu!]
Sebuah layar menunjukkan sebuah hutan. Dan layar lain menunjukkan gambar hewan dan bintang di bawahnya.
[Kalian harus menangkap hewan yang berada di gambar, bintang di bawah gambar hewan itu adalah banyaknya bintang yang kalian dapat jika berhasil menangkap hewan tersebut. Waktu berburu adalah 2 jam, orang yang mendapat total bintang terbanyak yang akan menang!]
Para perwakilan akademi tampak percaya diri mendengar aturan pertandingan.
[Tetapi, kalian hanya bisa menggunakan busur. Menggunakan sihir atau senjata lain adalah hal yang dilarang!]
Beberapa perwakilan kecewa mendengarnya.
[Setiap akademi akan memilih 1 perwakilan untuk ikut di pertandingan kedua!]
***
"Aku akan ikut di pertandingan ini."
Para perwakilan Magic Academy menoleh, menatap Arzevian yang baru saja mengatakan hal itu.
"Kau bisa menggunakan panah?" Tanya Hain.
"Jika aku tidak bisa, aku tidak akan mengajukan diri." Jawab Arzevian.
***
Setiap perwakilan dari masing-masing akademi telah berada di arena. Masing-masing berdiri di atas sebuah lingkaran sihir yang berbeda.
[Sebelum pertandingan ketiga dimulai. Disampaikan kepada perwakilan lain yang tidak ikut di pertandingan ketiga ini, dipersilahkan mempersiapkan 1 perwakilan, jika terjadi sesuatu di pertandingan ketiga ini.]
"Jika terjadi sesuatu?"
"Apa ada jebakan?"
Para perwakilan setiap akademi mulai curiga mengenai pertandingan ketiga nanti. Entah jebakan apa yang telah dipersiapkan.
***
"Biar aku saja." Ucap Hain tiba-tiba, "Aku tidak tahu apa jebakannya, tapi aku akan mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu." lanjutnya, yang lain mengangguk setuju.
***
__ADS_1
Beberapa profesor Magic Academy masuk ke arena dan memberikan gelang kepada masing-masing perwakilan.
[Di gelang tersebut, terdapat informasi mengenai hal-hal yang akan kalian butuhkan.]
Para perwakilan mengangguk mengerti mendengar penjelasan tersebut.
Setelah memberikan gelang, para profesor keluar dari arena dan kembali ke tempat penonton.
[Sekarang! Pertandingan ketiga.... dimulai!]
Sebuah cahaya menyelimuti setiap perwakilan akademi, mereka berteleportasi ke hutan berburu.
***
Setelah cahaya itu menghilang, Arzevian mendapati dirinya berada di sebuah hutan.
Dia melihat ke kanan dan kiri, tidak ada seorang pun selain dirinya di sini. Tampaknya, mereka dikirim ke tempat yang berbeda-beda.
Arzevian mengeluarkan busur, berjaga-jaga jika dirinya melihat hewan yang diburu.
Sebuah suara terdengar dari semak-semak, Arzevian mempersiapkan busurnya dan pergi melihat di balik semak-semak.
Sebuah keberuntungan baginya, terdapat seekor rusa di balik semak-semak tersebut.
Arzevian membidik rusa itu dan melepaskan anak panahnya. Anak panah itu tepat mengenai rusa.
Arzevian mengecek gelangnya, di sana terdapat petunjuk untuk menyentuh rusa itu setelah berhasil menangkapnya. Dia mendekati rusa itu dan menyentuhnya. Setelahnya, rusa itu menghilang, dan dia mendapatkan 1 bintang.
Arzevian menatap gelang itu, 'Jadi begini cara kerja pertandingan ketiga ini.' Batinnya.
***
Lisia menatap layar sejenak, kemudian berjalan pergi dari ruang tunggu.
"Kau ingin kemana?" Tanya Xava yang melihat Lisia akan pergi.
Lisia berhenti, dia menatap Xava dan berpikir sejenak, setelah itu dia menarik Xava untuk pergi dari sana.
"Hei, kenapa kau menarikku?!" Xava terkejut karena tiba-tiba ditarik oleh Lisia.
"Diam dan ikut saja denganku." Ucap Lisia.
"Kena—" Xava berhenti berbicara saat melihat Lisia, 'Dia seperti akan membunuh orang.' Batin Xava merinding.
***
Lisia berhenti tiba-tiba, dan dia melepaskan tangan Xava yang sedari tadi dia tarik.
"Kenapa kau berhenti?" Melihat Lisia tidak menjawab, Xava mengikuti arah pandangan Lisia dan melihat sebuah pintu di depannya.
"Ini... jangan bilang..." Xava menatap Lisia yang terlihat biasa saja, "Kau tidak punya rasa takut ya?"
"Kenapa kalian berada di sini, Arlisia Erisla de Arrilla dan Xava Kerrain?"
Lisia dan Xava menoleh saat mendengar nama mereka disebut.
'Kepala sekolah.' Batin Lisia.
__ADS_1
"Kami hanya—"
"Kami ingin melihat rahasia dibalik pertandingan ketiga ini." Lisia memotong ucapan Xava.
Xava terkejut mendengar ucapan Lisia, 'Kenapa kau mengatakannya?!'
Kepala sekolah tertawa, "Haha... Kau jujur sekali ya, Arlisia."
Kepala sekolah berjalan menuju pintu itu, dia mengeluarkan kunci dan membuka kunci pintu itu.
Kepala sekolah membuka pintu itu, "Silahkan masuk, Arlisia, Xava."
Kepala sekolah masuk ke ruangan itu, Lisia ikut masuk ke sana diikuti oleh Xava.
Ruang Kendali Sihir Ruang.
Sihir Ruang adalah sihir yang dapat membuat sebuah tempat yang dapat dikendalikan.
Seperti labirin ilusi di pertandingan pertama dan hutan berburu di pertandingan ketiga ini adalah sihir Ruang.
Dan tempat ini adalah ruangan di mana tempat untuk pertandingan itu dibuat.
Satu-satunya orang yang memiliki sihir ruang adalah Pendiri Magic Academy, Mailen Airen. Dan dialah yang membuat ruangan ini agar sihir ruang bisa digunakan untuk Magic Academy.
'Kenapa Kepala Sekolah mengizinkan kami masuk?' Batin Xava.
Kepala Sekolah berhenti berjalan saat tiba di depan sebuah benda, "Apakah ini yang ingin kau lihat, Arlisia?"
Lisia menatap benda itu, "Benda ini adalah inti hutan berburu?" Tanyanya memastikan.
"Ya," Kepala sekolah mendekati benda itu dan menyentuhnya, gambar dan tulisan bahasa asing mengenai hutan berburu lalu muncul di sekeliling benda itu, "benda ini adalah inti hutan berburu."
"Ini tulisan apa?" Tanya Xava, dia tidak pernah melihat tulisan itu sebelumnya.
"Dahulu, saat masa sebelum 4 kekaisaran, ada sebuah kerajaan bernama Mierre. Dan tulisan ini adalah tulisan kerajaan Mierre." Ucap Kepala Sekolah, "Untuk membuat Tempat menggunakan Sihir Ruang, kau harus menggunakan tulisan kerajaan Mierre." lanjutnya.
Arlisia hanya terdiam menatap tulisan itu, 'Kalau begini, percuma saja aku kesini.' kemudian dia melirik ke arah kepala sekolah, 'Tapi, kenapa Kepala Sekolah mengizinkan kami masuk ke Ruangan ini?'
***
Arlisia dan Xava berjalan kembali ke ruang tunggu.
Xava menatap Lisia yang hanya diam saja dari tadi, "Kenapa kau membawaku?"
"Aku pikir kau akan berguna jika aku tidak diizinkan masuk." Ucap Lisia.
Xava kesal mendengar jawaban Lisia, 'Jadi karena itu..'
Arlisia berencana untuk menyusup masuk ke Ruang Kendali Sihir Ruang dengan bantuan Xava. Tetapi, Kepala Sekolah datang, dan tidak disangka malah mengizinkan mereka masuk ke Ruangan itu.
Xava membuka pintu ruang tunggu, mereka menghampiri para perwakilan Magic Academy yang lain.
Xava dan Lisia melihat ke layar dan terkejut melihat keadaan Arzevian di hutan berburu saat ini.
'Apa yang terjadi?' Batin Lisia menatap layar yang menunjukkan Arzevian yang sedang berhadapan dengan monster.
Bersambung...
__ADS_1