
Hari demi hari berlalu, hari ini adalah hari dimana permaisuri kembali ke istana.
"Ibu selir pertama, terima kasih telah merawat Selia selama beberapa hari ini. Selia tidak akan melupakan kebaikan ibu selir pertama." Ucap Selia tersenyum.
"Ya, jaga diri anda baik-baik, Putri." Ucap Evia pada Selia.
"Ya, ibu selir pertama juga." Ucap Evia.
Evia berbalik dan akan kembali ke istana permaisuri, tapi seorang pelayan lalu datang dengan tergesa-gesa.
"Putri Selia! Nyonya!" Pelayan itu berlari ke arah Selia dan Evia.
"Apa yang terjadi?" Tanya Evia pada pelayan itu.
"Nyonya! permaisuri! permaisuri!" Ucap pelayan itu.
"Ada apa dengan permaisuri?" Tanya Evia.
"Ibu kenapa?" Tanya Selia.
"Yang Mulia permaisuri kecelakaan!" Ucap pelayan itu.
Evia dan Selia terkejut mendengar ucapan pelayan itu.
"Dimana permaisuri sekarang?" Tanya Evia.
"Permaisuri berada di istananya, nyonya." Ucap pelayan.
Evia dan Selia segera berlari pergi ke istana permaisuri. Ales dan Zen mengikuti Evia dan Selia.
Mereka berempat tiba di istana permaisuri, para pelayan dan prajurit tampak khawatir dengan kondisi permaisuri mereka. Mereka berharap, permaisuri baik-baik saja.
"Dimana ibu?" Tanya Selia pada pelayan.
"Yang Mulia berada di kamarnya, Tuan Putri." Ucap pelayan itu. Dari wajah pelayan itu, mereka mengetahui kalau kondisi permaisuri tidak baik-baik saja.
Selia berlari pergi ke kamar ibunya, Evia mengikuti Selia.
Selia membuka pintu kamar ibunya, terlihat ibunya yang sedang terbaring di tempat tidur.
Selia duduk di tempat tidur ibunya, dia memegang tangan ibunya lalu menangis "Ibu! Bangunlah!"
Evia, Zen dan Ales masuk ke kamar permaisuri, mereka melihat Selia yang sedang menangis di samping permaisuri saat ini.
Permaisuri membuka matanya, dia melihat putrinya yang menangis di sampingnya. Permaisuri berusaha menggerakkan tubuhnya, dia mengusap rambut Selia.
"Selia, apa kau bisa mengabulkan permintaan ibu?" Tanya permaisuri dengan nada lemah.
"Tentu saja! Ibu! Katakan, apa permintaanmu?" Tanya Selia, dia berharap dengan ini ibunya bisa senang.
Zen melihat Selia dan permaisuri, mereka terlihat seperti ibu dan anak umumnya, dia menjadi ragu untuk mempercayai rumor yang beredar di ibukota.
Rumor yang mengatakan kalau setelah kematian Putra Mahkota, permaisuri mendidik Selia dengan sangat keras agar Selia bisa menjadi Putri Mahkota. Banyak orang yang mempercayai rumor ini, dikarenakan Selia jarang terlihat keluar dari istana permaisuri setelah kematian Putra Mahkota.
Mereka juga mengatakan, kalau Selia sangat menderita. Tapi apa yang dilihatnya sekarang? Selia tidak terlihat menderita sama sekali.
__ADS_1
"Bahagialah, ibu ingin kau bahagia." Permaisuri tersenyum.
Evia tak mempercayai apa yang dilihatnya. Ini pertama kalinya dia melihat permaisuri tersenyum. Biasanya, dia hanya akan berwajah datar dan dingin.
"Selia akan bahagia, tapi ibu harus kembali sehat! Selia telah kehilangan kakak, sekarang Selia tidak ingin kehilangan ibu." Air mata membasahi pipi Selia.
Permaisuri tersenyum. Dia melihat Evia yang berada di dekat pintu saat ini "Evia, apa kau bisa mengabulkan permintaanku?"
"Permintaan apa, Yang Mulia?" Tanya Evia.
"Tolong, jaga putriku." Ucap permaisuri.
Permaisuri menutup matanya...
...untuk selamanya.
"Ibu! Ibu!" Selia memanggil ibunya, tapi ibunya tidak menjawab Selia.
Selia menangis "Tidak! Tidak! Ibu! Jangan meninggalkan Selia!"
Evia menghampiri Selia, dia memeluk Selia "Tenanglah, Putri." Evia berusaha menenangkan Selia yang terus menangis.
Selia terus menangis, dia tidak bisa menahan kesedihannya. Dia telah kehilangan kakaknya, dan sekarang dia telah kehilangan ibunya.
Zen dan Ales menunduk, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Berita tentang kematian permaisuri menyebar ke seluruh kekaisaran.
"I-ini bohong! Aku tidak percaya ini!"
"Yang Mulia..."
"Ini tidak mungkin! Permaisuri adalah orang yang kuat! Beliau pasti baik-baik saja!"
Para rakyat ikut tidak percaya mendengar kabar itu, permaisuri sangat berarti bagi mereka. Permaisuri banyak membantu mereka dan mereka sangat mencintai permaisuri mereka.
Tapi, mendengar kabar ini, mereka benar-benar tidak bisa percaya.
***
Tok tok tok
"Masuk."
Sekertaris Kaisar membuka pintu lalu dia masuk ke ruang kerja Kaisar. Sekertaris Kaisar menunduk "Hormat kepada Yang Mulia Kaisar."
"Katakan, ada apa?" Tanya Kaisar pada sekertarisnya.
"Permaisuri meninggal, tepat pada jam 1 siang tadi, Yang Mulia." Ucap sekertaris Kaisar.
Kaisar terkejut mendengar kabar itu, dia menatap sekertarisnya tak percaya "Kau, bercanda bukan?! Itu tidak mungkin!" Kaisar memukul meja.
"Saya tidak bercanda, Yang Mulia." Ucap sekertaris Kaisar.
__ADS_1
"Aku akan memastikannya sendiri!" Kaisar berdiri, dia lalu pergi ke istana permaisuri.
***
"Kau dengar itu? Katanya permaisuri mati!" Ucap selir kelima.
"Benar! Aku telah mendengarnya! Akhirnya si sialan itu mati juga!" Ucap selir kedua.
"Aku benar-benar bahagia mendengar kematiannya." Ucap selir kedelapan.
Mereka tertawa bersama, mendengar kematian permaisuri tentu saja membuat mereka sangat senang.
Karena yang membunuh permaisuri adalah mereka.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pembunuh bayaran itu? Mereka bisa dipercaya bukan?" Tanya selir kedua pada selir kelima.
"Tenang saja, mereka juga yang membunuh Putra Mahkota 1 tahun yang lalu, dan sampai sekarang tidak tertangkap bukan?" Ucap selir kelima percaya diri.
Mereka mungkin bekerja sama, tapi disisi lain mereka juga mengincar tahta untuk kepentingan pribadi. Meski berkerja sama, mereka tidak saling mempercayai.
Mereka tahu betul, kalau mereka bisa saja ditusuk dari belakang suatu hari nanti.
***
Sesampainya di istana permaisuri, Kaisar melihat banyak pelayan dan prajurit yang sedang sedih saat ini.
"Dimana permaisuri?" Tanya Kaisar pada salah satu pelayan.
Pelayan itu menunduk, tak berani untuk menjawab pertanyaan Kaisar.
"Dimana permaisuri?!" Kaisar meninggikan suaranya.
"Y-Yang Mulia permaisuri berada di kamarnya, Yang Mulia. B-beliau–" Ucapannya terpotong saat Kaisar meninggalkannya begitu saja.
Kaisar berjalan dengan cepat ke kamar permaisuri 'Evelyn tidak mungkin mati, dia pasti masih hidup. Kata pelayan itu, dia berada di kamarnya.' Batin Kaisar.
Kaisar sampai di kamar permaisuri, dia melihat Evia, Selia, Zen dan Ales berada di kamar permaisuri.
Selia menangis, Evia memeluk Selia dan berusaha menenangkannya. Zen dan Ales berada di samping Evia.
Lalu permaisuri, dia terbaring di ranjang. Kaisar mendekat, dia memeriksa kondisi permaisuri. Kaisar terkejut, permaisuri tidak bernapas.
Kaisar menatap Evia, Evia yang paham arti tatapan Kaisar lalu mengangguk dan mengatakan "Benar, Yang Mulia. Yang Mulia permaisuri telah meninggal." Evia dengan berat hati mengucapkannya.
Kaisar menatap tidak percaya "T-tidak mungkin, Evelyn..."
Kaisar memegang tangan permaisuri, tangan permaisuri sangat dingin. Kaisar menangis, dia tidak bisa menahan kesedihannya.
Permaisurinya telah mati, meski pahit tapi dia harus menerima kenyataan itu. Dia telah kehilangan putranya, lalu sekarang, dia kehilangan permaisurinya.
Saat-saat bersama permaisuri terlintas di ingatannya.
Evia tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa melihat Kaisar yang menangis.
Bersambung...
__ADS_1