Magic Academy

Magic Academy
81. Pengumuman pertandingan keempat


__ADS_3

Lisia berada di cafe, dia duduk di kursi dekat jendela sambil meminum kopi dan membaca novel.


"Hai, Lisia!"


Lisia menoleh saat mendengar sebuah suara yang menyapa dirinya, "Sien?" ucapnya.


Sien hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian dia duduk di kursi yang berada di depan Lisia.


"Ada urusan apa?" tanya Lisia tanpa mengalihkan pandangannya dari novel yang dibacanya.


"Tidak ada." ucap Sien tersenyum.


Lisia tidak membalas, dan hanya fokus membaca novelnya. Dia membalik novelnya dan terdapat tulisan 'END' di buku novel itu, kemudian dia menutup buku itu.


Lisia melihat Sien yang menatapnya sedari tadi, dia teringat kembali dengan percakapannya dengan Arzevian, 'Apa aku tanya saja kepada Sien?' pikirnya.


Sebenarnya, dia tidak ingin menanyakan hal itu pada Sien. Meski seperti itu, Sien adalah orang yang cukup pintar.


Jika Lisia bertanya mengenai batasan kekuatannya, kemungkinan Sien akan curiga mengapa Lisia menanyakan hal itu.


'Arzevian juga pintar sih... Tapi, Sien...' Lisia teringat dengan sikap Sien.


"Apa kau terpesona? Aku tahu aku tampan—"


"Tidak." Lisia memotong ucapan Sien, 'Sudah kuduga, lebih baik aku tidak menanyakannya.' batin Lisia.


Belum sempat Sien membalasnya, suara pengumuman menghentikannya.


[Pengumuman pertandingan ke-4 Magic Academy akan diumumkan sebentar lagi. Kepada semua perwakilan disampaikan untuk segera datang ke arena.]


Mendengar pengumuman itu, Lisia berdiri dari kursi dan pergi dari sana tanpa mengucapkan apapun kepada Sien.


'Dia meninggalkanku begitu saja...' batin Sien.


Sien berdiri dari kursinya, saat akan pergi, dia terhenti saat melihat buku novel di meja. Dia mengambil buku novel itu dan melihatnya, "Bukannya ini buku novel Lisia?" gumamnya.


'Apa dia melupakannya?' pikir Sien, 'Aku bawa saja.' lanjutnya setelah berpikir.


Dia berjalan menuju ke arena, dengan tangannya yang masih membawa buku novel itu.


***


Lisia tiba di ruang tunggu. Sudah banyak orang yang ada di ruang tunggu, Lisia kemudian menghampiri para perwakilan Magic Academy.


"Pengumumannya sebentar lagi." Everilly menatap Xava, Hain dan Lisia, "Apa kalian yakin dengan nilai kalian?" tanya Everilly.


Xava, Hain dan Lisia tidak menjawab dan hanya terdiam mendengar pertanyaannya Everilly. Mereka tidak yakin dengan nilai mereka mengingat soal itu sulit.


"Melihat kalian hanya diam, sepertinya kalian tidak yakin." ucap Bereilla.


"Entahlah..." Xava melihat ke arah lain.


"Aku tidak tahu nilai yang kudapat berapa." ucap Hain.


Sementara Lisia tidak membalas perkataan Bereilla.


"Lisia."

__ADS_1


Lisia menoleh saat mendengar namanya dipanggil, dan orang yang memanggilnya itu adalah Sien.


Sien memberikan buku novel yang tadi ditinggalkan Lisia di cafe, "Ini bukumu, kau meninggalkannya di cafe." ucap Sien.


Beberapa orang terkejut mendengarnya, 'Lisia dan orang ini berada di cafe saat istirahat tadi?' Mereka pikir, Lisia dan Sien berkencan di cafe saat istirahat tadi.


"Terima kasih." Lisia tersenyum dan mengambil buku itu.


Sien terdiam melihat senyuman Lisia, di matanya senyuman itu bukanlah senyuman manis, 'Apa dia akan membunuhku?'


"Ya, sama-sama." Sien pergi dari sana, 'Aku salah apa ya?' pikirnya, berusaha mengingat-ingat kesalahan apa yang dia buat.


"Lisia—" Xava yang ingin bertanya mengenai Sien, terhenti karena ucapan pembawa acara.


[Sekarang! Kita akan mengumumkan hasil dari pertandingan keempat!]


Para penonton mulai penasaran, sebuah layar besar muncul dan memperlihatkan waktu 10 detik yang terus berkurang.


Setelah layar menunjukkan 00:00, tampilannya berubah dan memperlihatkan nilai para perwakilan akademi.


Magic Academy berada di urutan kedua, dengan nilai rata-rata 89,33. Lisia mendapatkan nilai 100, Hain mendapatkan nilai 86, dan Xava mendapatkan nilai 82.


Sementara di urutan pertama, ada Eagle Academy dengan nilai rata-rata 90.


Xava menatap Lisia dengan kesal, bagaimana bisa gadis itu mendapatkan nilai 100? Sementara dirinya hanya mendapatkan 82.


Sepertinya Xava lupa, jika Lisia sudah dididik untuk menjadi penerus tahta sejak kecil, membuatnya telah mempelajari banyak hal di usia mudanya.


Padahal, tadinya dia sendiri yang merekomendasikan Lisia untuk ikut di pertandingan keempat ini. Tentunya, karena dia tahu hal itu.


Lisia hanya terdiam sambil memperhatikan layar itu.


"Soalnya sulit, belum tentu aku tidak bisa menjawabnya." ucap Lisia.


"Hei, bukankah kalian tadi bilang tidak yakin?" Bereilla menatap ketiga orang itu dengan kesal. Dia pikir, nilai mereka dibawah angka 50, 'Sepertinya, standar sulit bagi orang pintar itu berbeda.' batinnya.


"Sepertinya aku cukup beruntung kali ini." ucap Xava.


Kemudian, layar menunjukkan poin yang dimiliki oleh setiap akademi.


Magic Academy, 44 poin


Eagle Academy, 44 poin


Fire Academy, 29 poin


Sword Academy, 27 poin


Dragon Academy 23 poin


Trisian Academy, 23 poin


Wolf Academy, 21 poin


Ice Academy, 16 poin


Arriena Academy, 13 poin

__ADS_1


Flower Academy, 13 poin


Dream Academy, 11 poin


Earth Academy, 9 poin


Melihat poin yang tertera di layar, Lisia menatap para perwakilan Eagle Academy. Dia pikir, lawan terberat Magic Academy adalah Sword Academy. Tetapi, sepertinya Eagle Academy juga.


[Turnamen antar akademi, hari kedua, berakhir di sini! Sampai jumpa di turnamen antar akademi hari ketiga besok!]


Para penonton bersorak. Turnamen antar akademi, hari kedua, selesai.


***


Lisia sampai di kamar asramanya, saat tiba di sana, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur.


Setelah beberapa saat, Lisia kemudian, dia merasa lapar. Dia bangun, lalu kemudian mengganti seragamnya dengan pakaian santai. Kemudian, mengambil jaket dan memakainya.


Lisia mengambil uangnya, kemudian keluar dari asramanya untuk pergi ke restoran yang berada di akademi ini.


Saat sampai di restoran, dia melihat banyak orang di sana. Baik perwakilan akademi lain, maupun dari Magic Academy.


Lisia duduk di kursi kosong, pelayan mendatanginya dan dia memesan makanan dan minuman.


Lisia jarang pergi ke restoran. Biasanya dia membeli bahan makanan di supermarket dan memasak di dapur asrama.


Tapi untuk kali ini, dia malas memasak.


Seseorang tiba-tiba duduk di sebelah Lisia. Lisia menoleh dan mendapati Rill di sampingnya.


Rill menatap Lisia, dia tersenyum, "Aku boleh duduk di sini kan?" tanyanya.


Lisia terdiam sebentar, kemudian dia berbicara, "Rill, sikapmu ini bisa membuat orang-orang salah paham." ucap Lisia.


"Aku tahu." ucap Rill.


"Putri, kau mengingatkanku pada seseorang. Dia benar-benar mirip denganmu."


Lisia kembali teringat dengan perkataan Rill saat itu, 'Apa dia bersikap seperti ini, karena orang yang katanya mirip denganku itu?' batinnya.


***


Lisia berjalan kembali ke asrama, tetapi dia berhenti saat melihat supermarket. Dia masuk ke supermarket itu untuk membeli cemilan.


"Lisia?" ucap Zerian, mereka bertemu di supermarket. Zerian tampak mengambil minuman dan bertemu Lisia. Zerian kemudian tersenyum, "Hai, bagaimana kabarmu?" tanya Zerian.


"Baik." balas Lisia, dia kemudian mengambil minuman juga, "Bagaimana denganmu?" tanyanya kepada Zerian.


Zerian sedikit terkejut mendengar pertanyaan Lisia, dia menatap Lisia, "Aku? Kenapa?" tanyanya. Dia sebenarnya sempat berpikir jika Lisia menanyakan kabarnya, seperti dirinya menanyakan kabar Lisia. Tapi, dia merasa tidak percaya dengan pikirannya itu.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lisia sekali lagi.


Zerian terdiam sebentar, kemudian dia menjawab dengan ragu, "Aku baik."


Lisia hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Kemudian, dia pergi dari sana meninggalkan Zerian.


Zerian menatap Lisia, masih dengan tatapan terkejutnya, "Apa dia sakit?" gumamnya.

__ADS_1


Hubungannya dengan Lisia tidak terlalu baik. Bukan hanya dengan Lisia, tetapi juga saudaranya yang lain. Meski mereka saudara, hubungan mereka semua tidak terlalu akrab. Tapi, ada beberapa saudaranya yang memiliki hubungan baik satu sama lain, seperti Lisia dengan Lais.


Bersambung...


__ADS_2