
Profesor Arlan menatap laporan kehadiran siswa kelas 1.A di bulan ini.
Dia melirik ke arah Lisia yang datang membawakan laporan itu.
"Kerja bagus." Profesor Arlan menyimpan laporan kehadiran itu di mejanya.
"Sepertinya mereka tidak salah memilih ketua kelas, kau masuk kelas meski kau tidak belajar apapun." Ucap profesor Arlan.
"Saya hanya tidak ingin membayar denda." Ucap Lisia.
"Kau bisa berpura-pura sakit seperti yang dilakukan yang lainnya bukan?" Ucap profesor Arlan.
Lisia tersenyum, "Kalau saya melakukannya, komite kedisiplinan dan para profesor pastinya akan langsung mengetahuinya bukan? Seperti anda yang langsung mengetahui kalau mereka benar-benar sakit atau hanya berpura-pura."
"Kau menyadarinya?"
"Ya, begitulah. Dan saya yakin banyak orang selain saya yang juga menyadarinya." Ucap Lisia, 'Ada juga yang hanya ikut-ikutan karena malas datang. Mereka tidak tau kalau ini penilaian.' lanjutnya dalam hati.
Penilaian ini adalah untuk misi seperti mata-mata, siapa yang bisa berpura-pura dengan baik? Dan siapa yang buruk dalam berpura-pura? Hal itulah yang dinilai oleh Magic Academy.
Tapi, jika Lisia juga berpura-pura sakit seperti yang lain, dia tidak akan mendapatkan nilai tanggung jawab. Karena dia adalah ketua kelas, mengabaikan tanggung jawabnya hanya akan membuat dia mendapat penilaian buruk dalam penilaian tanggung jawab.
"Kau boleh pergi." Ucap profesor Arlan.
"Baik." Lisia berbalik dan pergi dari sana.
***
Lisia berjalan kembali ke asrama, sambil.berjalan dia memikirkan sesuatu.
'3 hari lagi, turnamen antar akademi.' Batin Lisia.
Lisia teringat sesuatu, 'Oh iya, aku mendengar rumor kalau dia akan kembali sebelum turnamen.'
"Apa yang kau pikirkan?"
Lisia berhenti lalu menoleh saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Di belakangnya, seorang pria bersurai perak dan iris mata biru menatap dirinya.
"Pangeran pertama.." Ucap Lisia saat melihat pria yang berada di belakangnya.
Pria itu adalah pangeran pertama kekaisaran Arrilla sekaligus penerus keluarga Alvioletta, Arlevin Alvioletta. Dia adalah anak Kaisar dan permaisuri kekaisaran Arrilla.
"Jangan memanggilku seperti itu." Ucap Levin.
"Baiklah, Profesor." Ucap Lisia.
Levin adalah profesor di Magic Academy, dia menjadi profesor 1 tahun yang lalu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa yang kau pikirkan?" Tanya Levin.
__ADS_1
"Saya hanya memikirkan turnamen antar akademi nanti." Ucap Lisia.
"Oh iya, kau menjadi salah satu perwakilan akademi ya? Selamat." Ucap Levin.
"Ya, terima kasih." Ucap Lisia.
"Apa hanya itu yang ingin anda katakan? Kalau iya, saya pergi dulu." Ucap Lisia.
"Kau sudah makan siang?" Tanya Levin.
"Tidak."
Levin melihat restoran yang berada tak jauh dari tempat mereka, "Kalau begitu, ayo makan bersama."
"Anda yang membayarnya?"
"Ya."
"Baiklah." Lisia langsung menyetujuinya setelah mendengar jawaban Levin.
Kapan lagi dia akan makan gratis bukan?
***
Lisia dan Levin pergi ke restoran itu dan makan bersama.
Lisia dan Levin makan tanpa berbicara apa pun. Hingga, Levin bertanya sebuah hal.
"Lisia, apa penyebab kematian Lais?"
Lisia berhenti makan saat mendengar pertanyaan Levin.
"Aku ingin kau menceritakan semuanya. Aku tahu ini akan membuatmu kembali sedih. Tapi, aku ingin mengetahui penyebab kematian adikku." Levin menunggu jawaban dari Lisia yang masih diam sejak dia menanyakan hal itu.
Lisia mengepalkan tangannya lalu menunduk, "Aku tidak bisa menceritakannya."
"Kenapa?"
Lisia mengangkat kepalanya dan menatap Levin, "Profesor, anda tidak boleh mengetahuinya." Ucap Lisia dengan ekspresi serius, 'Karena hal ini berkaitan dengan rahasia yang tidak boleh kau tahu.' lanjut Lisia dalam hati.
Melihat ekspresi Lisia, Levin berhenti bertanya.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Levin.
"Oh iya," Levin mengeluarkan sesuatu dari dimensi sihirnya, "ini hadiah dariku." Ucapnya sambil memberikan buku novel kepada Lisia.
Lisia mengambil buku novel yang diberikan Levin, "Terima kasih."
Lisia menatap buku novel itu, dia tidak pernah membaca buku novel itu sebelumnya.
__ADS_1
"Itu adalah buku novel yang baru saja terbit, aku mendapatkannya di kekaisaran Erlin. Kau menyukainya?" Tanya Levin.
"Ya." Ucap Lisia sambil menatap buku itu.
***
Setelah makan siang tadi, Lisia kembali ke kamar asramanya. Sementara Levin, dia pergi ke ruang kepala sekolah untuk melapor.
Setelah sampai di kamar asramanya, Lisia melepas sepatunya lalu membaringkan tubuhnya di kasur.
"Lisia, apa penyebab kematian Lais?"
Pertanyaan Levin terus terpikirkan oleh dirinya. Lisia menutup matanya, dan tertidur.
Terlihat sebuah tempat di mana ada banyak darah. Lisia yang berusia 15 tahun menatap mayat Lais dengan ekspresi tak percaya yang bercampur dengan sedih.
Lisia terbangun dari tidurnya. Dia diam sejenak, lalu menatap ke sekitarnya, 'Mimpi ya...'
'Sepertinya aku terlalu memikirkan pertanyaan profesor Levin.' Batin Lisia.
***
Lisia membuka pintu kelas, hari ini ada sekitar 10 orang yang datang ke kelas.
Lisia duduk di kursinya, dia mengeluarkan novel dari tasnya lalu membacanya.
Pintu kelas terbuka, profesor Levin masuk ke kelas 1.A. Melihat kedatangan profesor Levin, Lisia menutup novelnya dan kembali memasukkan novelnya di tas.
Para murid lain kembali ke tempatnya masing-masing.
Profesor Levin menuliskan sesuatu di papan tulis.
Sejarah
Itulah yang ditulis profesor Levin di papan tulis.
"Aku Arlevin Alvioletta, panggil saja profesor Levin. Aku akan mengajarkan sejarah kepada kalian." Ucap profesor Levin.
"Pertama, aku akan menjelaskan mengenai awal terbentuknya 4 kekaisaran, mungkin kalian sudah mengetahuinya, tapi aku akan menjelaskannya."
Profesor Levin memulai ceritanya, "Sebelum 4 kekaisaran ada, dunia ini dulu memiliki banyak kerajaan. Banyak kerajaan saling berperang untuk memperebutkan wilayah kekuasaan, mengakibatkan banyak korban jiwa. Peperangan itu berlangsung selama puluhan tahun lamanya."
Profesor Levin menghentikan ceritanya sejenak, "Hingga, suatu hari, 5 orang pangeran dari suatu kerajaan memutuskan untuk menghentikan perang itu. Singkat cerita, mereka berperang dan menjatuhkan semua kerajaan menggunakan kekuatan mereka sehingga seluruh dunia berhasil dikuasai oleh mereka. Mereka berencana untuk membagi wilayah di dunia menjadi 5 kekaisaran, tapi salah satu pangeran tidak menginginkannya. Dia hanya meminta sebuah wilayah dan membangun sebuah tempat bernama Magic Academy di sana. Dialah pendiri Magic Academy, Mailen Airen. Lalu, 4 pangeran lain membagi dunia ini menjadi 4 wilayah, itulah 4 kekaisaran dan mereka menjadi 4 Kaisar pertama."
"Ada juga beberapa desa dan kota yang tidak termasuk dengan wilayah 4 kekaisaran. Desa dan kota itu menjalin kerjasama dengan Magic Academy."
Profesor Levin menjelaskannya, dan para murid memperhatikannya. Ada beberapa murid yang mencatat hal-hal pentingnya untuk ujian nanti.
Bersambung...
__ADS_1