Magic Academy

Magic Academy
39. Fal dan Narz


__ADS_3

Fal terbangun dari tidurnya, dia melihat ke sekeliling. Dia ingat, kemarin dia tertidur di ruang tamu, siapa memindahkan dirinya ke kamar?


Pintu kamar itu terbuka, Narz datang sambil membawa roti, "Kau sudah bangun?" Narz tersenyum.


Fal mengangguk, dia melihat roti yang di bawa oleh Narz, perutnya berbunyi karena lapar.


Narz memberikan roti itu pada Fal, "Makanlah."


Fal mengambil roti itu, lalu dia memakannya.


"Berapa usiamu?" Tanya Narz.


"12 tahun." Ucap Fal.


Narz terkejut, '12 tahun? Tapi dia terlihat seperti berusia 10 tahun.'


"Kakak." Panggil Fal, dia menatap Narz, "Kenapa kakak bersikap baik padaku?" Tanya Fal.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Narz. Alasan Narz bersikap baik pada Fal karena saat melihat Fal, dia teringat dengan dirinya. Dia juga adalah seorang anak yatim piatu, dia sering kelaparan, karena itulah dia mencuri untuk bisa makan. Hingga, seseorang datang menyelamatkan dirinya.


Fal menunduk, "Setelah kematian ayah dan ibuku, penduduk kota mengambil semuanya dariku, uang, ladang, dan rumah. Bahkan, satu-satunya orang yang bersikap baik padaku di usir dari kota ini."


Narz mengelus kepala Fal, "Kau hebat karena bisa bertahan, Fal." Ucap Narz tersenyum, 'Jika itu aku, aku akan membunuh orang-orang itu.' lanjut Narz dalam hati.


***


Narz, Axena, Alaya dan Rin keluar dari rumah itu, Fal mengikuti mereka berempat.


Para penduduk kota tersenyum melihat keempat orang yang merupakan penyelamat mereka itu. Tapi, senyuman mereka menghilang saat melihat Fal.


Mereka menatap Fal dengan tatapan benci. Fal ketakutan melihat tatapan pada penduduk, dia bersembunyi di belakang Narz.


Narz mengelus kepala Fal, Fal melihat Narz, Narz tersenyum padanya.

__ADS_1


Narz kembali melihat ke penduduk kota, "Terima kasih karena telah memberi kami tempat tinggal untuk sementara waktu, sebentar lagi kami akan pergi." Ucap Narz.


Rin dan Alaya terkejut mendengar perkataan Narz, "Tung–" Axena menatap tajam Rin dan Alaya, membuat keduanya diam.


Para penduduk kota terkejut mendengar perkataan Narz, mereka tidak bisa membiarkannya. Jika Narz pergi, maka siapa yang akan memberikan makanan lagi pada mereka? Mereka telah menghabiskan semua harta milik Fal untuk bertahan hidup selama ini, sekarang mereka tidak punya uang lagi, persediaan makanan pun sudah habis. Setidaknya, jika orang-orang itu akan pergi dari kota ini, mereka harus mengambil semua uangnya dulu.


"T-tunggu, bukankah lebih baik kalian tinggal di sini saja dulu? Kami bahkan belum membalas kebaikan kalian." Walikota berusaha meyakinkan Fal.


Alaya mengerti rencana Narz, Narz ingin membuat penduduk kota bergantung padanya, sehingga mereka bisa tetap tinggal di kota dan bersembunyi dari Kaisar.


"Setelah dipikir lagi, perkataan walikota ada benarnya." Ucap Alaya.


"Benar, tinggallah di sini untuk sementara waktu." Ucap walikota.


"Baiklah, lagipula teman-teman saya pasti juga masih kelelahan, kami akan tinggal selama 1 hari di sini, besok kami akan pergi." Ucap Narz tersenyum.


Alaya dan Rin menghela napas lega, tapi mereka harap 1 hari itu cukup untuk menunggu perintah dari tuan mereka.


Walikota tersenyum puas, dengan begini dia dan penduduk akan mencuri uang Narz, Axena, Alaya dan Rin saat tengah malam, lalu membiarkan mereka pergi besok. Dengan uang itu, mereka mungkin bisa bertahan hidup selama beberapa bulan kedepan.


Walikota dan penduduk kota menatap tajam Fal, mereka mencoba menghentikan Fal agar Fal tidak memberitahu Narz dan yang lainnya.


Narz paham maksud Fal, dia hanya tersenyum pada Fal untuk menenangkan Fal.


Fal tidak paham maksud senyuman Narz, dia khawatir pada Narz.


"Kalian tinggal saja di rumah itu sampai kalian pergi." Ucap walikota tersenyum.


"Ya, terima kasih." Ucap Narz.


Walikota melirik Fal, Fal langsung bersembunyi di belakang Narz. "Fal, kemarilah." Ucap walikota.


Fal gemetar ketakutan, dia tetap bersembunyi di belakang Narz.

__ADS_1


Narz mengelus kepala Fal untuk menenangkannya, "Walikota, apakah saya bisa mengambil anak ini? Saya ingin menjadikannya murid saya." Ucap Narz tersenyum.


Walikota terkejut mendengar ucapan Narz, "Murid?"


"Ya, orang tuanya telah meninggal, karena itu sebagai walikota di kota ini, saya meminta izin pada anda." Ucap Narz.


Walikota melihat Fal, bukan ide yang buruk untuk menyerahkan Fal pada Narz. Jika Fal tetap berada di kota itu, dia bisa mengambil semua harta miliknya kembali.


Walikota tersenyum, "Tentu saja bisa, saya ikut senang jika Fal bisa senang. Tapi sebelum itu, apa saya bisa berbicara dengan Fal?"


Fal terkejut mendengar ucapan walikota, berbicara dengannya? Lebih tepatnya, walikota pasti ingin mengancam dirinya. Dia takut pada walikota dan penduduk kota.


"Tentu saja bisa." Ucap Narz.


Fal tambah ketakutan, dia menarik pakaian Narz, untuk memberi tahu jika dia tidak mau berbicara dengan walikota.


"Tapi, saya ingin mendengarkan juga pembicaraan kalian." Ucap Narz, "Sedari tadi, murid saya gemetaran, mungkin dia takut pada anda."


"T-takut pada saya? Mana mungkin.." Ucap walikota.


"Mungkin saja itu karena wajah anda menyeramkan, biasanya anak-anak takut pada hal-hal menyeramkan." Ucap Narz tersenyum.


Axena, Alaya dan Rin mencoba menahan tawanya. Fal terkejut akan keberanian Narz.


Walikota mengepalkan tangannya, 'Tamu sialan! Lihat saja besok! Kau akan menangis karena kehilangan semua uangmu!' Batin walikota.


"Kalau begitu, sebaiknya tidak perlu." Ucap walikota. Walikota berbalik, dia pergi dari sana.


Para penduduk kota juga pergi dari sana, tak lupa saat akan pergi, mereka menatap Fal dengan tatapan dingin.


Setelah semuanya pergi, tawa Alaya dan Rin pecah. Sementara Axena masih menahan tawanya.


Narz menatap Fal, dia tersenyum. Fal terpaku, dia ikut tersenyum.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2