Magic Academy

Magic Academy
61. Penentuan perwakilan akademi (3)


__ADS_3

[Mulai!]


Zen mengeluarkan pedangnya dan menyerang Van, Van menghindari serangan Zen.


Ciassa menyerang Dania menggunakan panahnya. Dania menghindari semua panah Ciassa.


Van membuat pedang menggunakan sihir cahaya, lalu dia menyerang Zen. Zen menahan setiap serangan Van.


"Kau cukup hebat, pangeran Zen." Ucap Van.


Zen diam, dia tidak membalas perkataan Van.


Zen berbalik menyerang Van, Van menangkis serangan Zen dan menyerangnya balik.


Pertarungan mereka seimbang, tidak ada yang lebih unggul diantara keduanya untuk saat ini.


Sementara Caissa dan Dania, mereka juga saling menyerang.


Caissa menyerang Dania menggunakan panah, dan Dania menghindari semua panah itu dan juga menyerang menggunakan sihir.


Mereka berdua berteman, tapi itu tidak mempengaruhi pertarungan mereka. Mereka tidak menahan diri dan tidak meremehkan kemampuan lawan.


***


Lisia memperhatikan pertarungan itu dari ruang tunggu. Di dekatnya, ada banyak murid lain.


"Lisia, menurutmu, siapa yang akan menang?" Tanya Irisa.


"Untuk sekarang aku tidak bisa menebaknya." Ucap Lisia.


'Kemungkinan besar, yang akan menang adalah Zen. Karena Van tidak bisa menggunakan seluruh kekuatannya, berbeda dengan Zen. Tapi, aku tidak tahu mengenai kekuatan dari Caissa dan Dania, aku memang pernah mendengarnya, tapi bisa saja kekuatannya berbeda dari rumor.' Batin Lisia.


"Hei, namamu Irisa bukan?" Seorang gadis mengajak Irisa berbicara.


Irisa dan beberapa orang menoleh, termasuk Lisia.


"Aku Heria Dessia dari kelas 2.A." Gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Di antara 40 murid yang lulus tadi, hanya kau satu-satunya orang yang berasal dari kelas B. Kau, kenapa kau bisa lulus?" Tanya Heria, tampaknya dia curiga kalau Irisa memakai cara curang untuk lulus.


"Aku bertarung untuk melindungi diriku sendiri." Irisa paham apa maksud perkataan Heria, dan hal itu membuat dirinya kesal karena dicurigai.


"Kau berbohong bukan? Kau pasti menggunakan kekuasaanmu sebagai putri kekaisaran Arrilla!" Ucap Heria, nadanya sedikit meninggi.


Irisa mengepalkan tangannya, "Apa katamu?"

__ADS_1


"Kau pasti menggunakan kekuasaanmu! Dasar, baik bangsawan maupun keluarga kekaisaran itu sama saja! Mereka selalu mengandalkan kekuasaan mereka!" Ucap Heria.


'Setelah ini, Irisa pasti akan marah.' Batin Lisia.


"Aku bisa lulus karena kekuatanku sendiri, aku tidak pernah mengandalkan kekuasaan atau apapun itu!" Irisa berusaha membela dirinya. Tidak terima jika dirinya dituduh.


"Kalau kau memang sekuat itu hingga bisa lulus, kenapa kau hanya masuk kelas B? Kenapa bukan kelas A? Padahal, banyak orang dari kelas A yang tidak lulus. Itu sangat mencurigakan." Ucap Heria.


"Kau–"


"Namamu tadi Heria bukan?" Xava. memotong ucapan Heria.


"Sejak lahir, Irisa memiliki kekuatan sihir yang sangat lemah, tapi berkat kemampuannya yang lain, dia berhasil masuk ke Magic Academy. Meski begitu, dia tidak dapat masuk ke kelas A, karena Magic Academy lebih mementingkan kekuatan sihir." Ucap Xava.


"Padahal kau berasal dari kekaisaran Arrilla, tapi sepertinya kau tidak pernah mendengar rumor tentang putri Irisa?" Xava menatap tajam Heria.


Heria terdiam karena ucapan Xava, dia mengalihkan pandangannya dan kembali menonton pertandingan.


Lisia menatap Irisa, "Tenangkan dirimu, bukankah aku sudah mengatakan berkali-kali? Jangan terpancing emosi." Ucap Lisia.


"...Ya." Amarah Irisa mereda.


Irisa menatap Xava yang tadi membelanya. Xava menyadari tatapan Irisa, dia menoleh dan tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Irisa, dia sedikit menundukkan kepalanya.


Irisa terdiam sejenak, lalu dia kembali menatap ke arena. Dia kembali menonton pertarungan dengan tenang.


Xava juga kembali menonton pertarungan.


***


Sekarang, diantara Zen dan Van, yang lebih unggul adalah Zen. Sementara diantara Ciassa dan Dania, yang lebih unggul adalah Dania.


Van terluka cukup parah karena serangan-serangan Zen.


Zen sendiri juga terluka, meski tidak separah Van. Van beberapa kali menyerang Zen dari belakang dan menyembunyikan keberadaannya, hal itu membuat Zen kesulitan.


Meski pada akhirnya, dia memiliki kesempatan menang yang lebih banyak daripada Van.


Sementara di tempat Caissa dan Dania, Dania menyudutkan Caissa.


Dania membuat pedang menggunakan sihir petirnya. Zen juga membuat pedang sihir menggunakan sihir api.


Mereka berdua sama-sama menyerang musuh menggunakan pedang itu.

__ADS_1


Van menahan serangan Zen, dan Caissa menahan serangan Dania.


Zen dan Dania semakin memperkuat serangannya.


Dan pada akhirnya, Zen dan Dania yang memenangkan pertarungan.


[Pemenangnya! Zen Aslan de Erlin dari kelas 1.A dan Dania Carrea dari kelas 3.A]


Para penonton bersorak gembira atas kemenangan Zen dan Dania.


Tim medis datang ke arena dan membawa Van dan Caissa ke ruang pengobatan.


***


Lisia pergi dari ruang tunggu.


"Lisia?" Ucap Irisa.


***


Lisia berada di depan pintu ruang pengobatan. Pintu ruang pengobatan terbuka, profesor Viasra keluar dari ruang pengobatan.


Lisia hanya tersenyum tampa mengatakan apa-apa. Sementara profesor Viasra mengabaikan kedatangan Lisia dan langsung pergi dari sana.


Lisia masuk ke ruang pengobatan, dia melihat Van yang berbaring di tempat tidur ruang pengobatan.


"Tidak perlu berpura-pura tidur." Ucap Lisia.


Van membuka matanya, "Kau mengetahuinya ya."


Van bangun, dia duduk.


"Sampai mana batasan kekuatanmu?" Tanya Lisia.


Van terdiam sejenak, "Hanya bisa menggunakan satu sihir tingkat S." Ucap Van.


'Sama denganku.' Batin Lisia.


"Lisia, apa kau tidak merasakan keanehan?" Tanya Van.


"Maksudmu tentang batasan kekuatan yang semakin lama semakin sedikit yang bisa digunakan?" Tanya Lisia.


"Dulu aku bisa menggunakan 5 sihir tingkat S." Ucap Van.


"Benar bukan? Ini hanya perkiraan, tapi setelah berbicara dengan Kaisar kekaisaran Arkailian, sepertinya... ada salah satu diantara 4 Kaisar yang menahan kekuatan kita tanpa sepengetahuan kaisar lainnya." Ucap Lisia.

__ADS_1


'Tapi, siapa?' Lisia tidak dapat menebak siapa orangnya.


Bersambung...


__ADS_2