
"Putri!" Panggil Rill.
Lisia berbalik, "Ada apa?" Tanya Lisia.
"Kau lulus ya." Ucap Rill.
"Ya, bagaimana denganmu?" Tanya Lisia.
"Aku juga lulus." Ucap Rill.
Lisia melihat tangan Rill, tangannya terluka, 'Meski dia bilang kalau dia tidak berniat untuk lulus, tapi dia tetap bertarung, sampai terluka seperti itu.'
Rill melihat Lisia yang sedang menatap tangannya yang terluka, "Apa kau mengkhawatirkanku?" Tanya Rill.
"Tidak." Lisia langsung menjawab tanpa berpikir.
"Apa kau ingin menjadi salah satu perwakilan Magic Academy?" Tanya Rill.
Lisia terdiam sejenak, lalu dia menjawabnya "....Entahlah."
"Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan, aku pergi dulu." Lisia berbalik, lalu dia pergi dari sana.
***
Lisia masuk ke ruang pengobatan, di sana tampak beberapa orang yang berbaring di tempat tidur ruang pengobatan.
Lisia menghampiri Irisa, dia memberikan satu bungkus roti dan 1 bungkus susu kotak kepada Irisa.
"Makanlah." Ucap Lisia. Lisia duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur ruang pengobatan.
Irisa masih diam sambil menatap roti dan susu kotak itu, "Terima kasih..." Ucapnya dengan nada rendah.
Banyak pasien yang telah pergi dari sana, tinggal tersisa beberapa pasien saja di sana.
Irisa membuka bungkus roti itu, lalu memakannya. Dia melihat Lisia yang juga memakan roti yang sama seperti dirinya. Dia ingat, wajah Lisia yang dahulu tersenyum padanya.
Tapi sekarang, senyuman itu sudah tidak pernah dilihatnya berada di wajah Lisia.
Sekali lagi, dia ingin melihat senyuman itu.
Lisia sadar dengan tatapan Irisa, "Kenapa?"
Irisa tersenyum, "Tidak apa-apa." Ucap Irisa.
Lisia sedikit terkejut melihat Irisa tersenyum. Sudah lama dia tidak melihat senyum di wajah Irisa.
"Aku penasaran, kenapa kau bisa bertahan tadi?" Ucap Lisia.
"Maksud ucapanmu, 'aku tidak kuat, jadi aku harusnya tadi tidak bertahan', bukan?" Ucap Irisa, Lisia hanya diam.
"Kau tahu? Selama ini, aku tidak hanya tinggal diam dan bermain-main. Aku terus berlatih, berlatih, dan terus berlatih. Sebelum pergi ke sekolah, dan setelah pulang sekolah, aku terus berlatih." Ucap Irisa.
__ADS_1
'Jadi itu alasan mengapa dia penuh luka saat itu...' Batin Lisia. Dia pernah berpapasan dengan Irisa saat ingin pergi ke kelas. Saat itu, tubuh Irisa dipenuhi oleh luka.
***
Lisia keluar dari ruang pengobatan.
Di luar, dia bertemu dengan Lim Calles dari kelas 1.E. Dia adalah orang yang pernah dirundung oleh orang dari kelas 1.B, dan Lisia membantunya saat itu. Meski Lisia tidak bermaksud untuk membantunya.
"Putri!" Lim terlihat senang melihat Lisia.
"Kau, orang yang dirundung waktu itu?" Ucap Lisia.
Lim mengangguk, "Saya ingin mengucapkan selamat karena anda berhasil lulus." Ucap Lim.
"Begitu, terima kasih." Ucap Lisia.
Lisia melihat mata Lim, ada kesedihan dimatanya, 'Dia tidak lulus ya...' Batin Lisia.
"Lalu, putri, semoga anda bisa terpilih menjadi salah satu wakil Magic Academy ke turnamen antar akademi." Ucap Lim tersenyum.
"Terima kasih." Ucap Lisia.
"Lalu..." Lim mengeluarkan satu bungkus coklat dari saku pakaiannya, "Ini untuk anda!" Lim memberikan coklat itu pada Lisia.
Lisia mengambilnya, "Terima kasih." Ucap Lisia.
"Ya, sama-sama." Ucap Lim.
***
[Baiklah! Pertandingan selanjutnya adalah pertarungan tim! Akan ada 20 tim, masing-masing tim akan beranggotakan 2 orang. Dan kalian boleh memilih teman tim kalian.]
Para murid mencari temannya masing-masing.
"Putri Lis–"
"Lisia!" Panggil Xava.
Xava menghampiri Lisia, "Jadi teman kelompokku ya." Ucap Xava.
'Lisia pasti akan menolak, tapi aku akan terus membujuknya sampai dia mau–'
"Baiklah." Ucap Lisia.
"Eh?" Xava tidak percaya dengan ucapan Lisia. "Apa kau bisa mengulanginya sekali lagi?"
"Baiklah, aku akan menjadi teman kelompokmu." Ucap Lisia, 'Aku juga membutuhkan kekuatan Xava. Meski orangnya cukup menyebalkan.' Batin Lisia.
"Oh... begitu ya..."
Xava diam mematung, tidak percaya jika Lisia menyetujui untuk sekelompok dengannya.
__ADS_1
***
'Putri telah memiliki teman kelompok ya.' Batin Rill.
Rill melihat Irisa yang tampaknya tidak memiliki teman kelompok, dia menghampiri Irisa, "Hai."
Irisa melihat Rill, "Apa?" Tanya Irisa.
"Kau belum memliki teman kelompok bukan, putri Irisa?" Tanya Rill.
"Belum. Dan panggil saja aku Irisa." Ucap Irisa.
"Baiklah. Apa kau ingin sekelompok denganku?" Tanya Rill.
Irisa sedikit terkejut, padahal banyak orang yang mengabaikan dirinya yang masih belum memiliki teman kelompok karena dia berasal dari kelas B, tapi kenapa orang yang berasal dari kelas A memintanya untuk menjadi teman kelompoknya?
Irisa sedikit ragu, tapi karena dia masih belum memiliki kelompok, dia pun menerimanya, "Baiklah." Ucap Irisa.
"Namamu?" Tanya Irisa.
"Aku Rill." Ucap Rill.
***
[Sepertinya masing-masing orang telah mendapatkan teman kelompoknya masing-masing. Jadi, saya akan memberitahukan aturannya.]
[Peraturannya mudah, setiap tim akan mengambil nomor, tim yang mendapatkan nomor yang sama akan bertarung.]
Profesor Sala masuk ke arena sambil membawa sebuah kotak.
"Silahkan ambil nomor tim kalian." Ucap profesor Sala.
Lisia melihat Xava, "Kau saja." Ucap Xava.
Lisia mengambil nomor dari kotak itu.
Nomornya belum ada, ketika semua orang telah mendapatkannya, baru profesor Sala akan menggunakan sihirnya untuk memperlihatkan angka yang berada di kertas itu.
Profesor Sala mengunjungi tim lain, dan tim lain juga mengambil nomor.
Setelah semuanya selasai mengambil, profesor Sala menggunakan sihirnya dan membuat nomor di kotak itu terlihat.
[Kepada para murid, silahkan pindah dahulu ke ruang tunggu]
Semuanya pergi dari arena, mereka pergi ke ruang tunggu untuk menunggu giliran mereka dan juga menonton pertarungan.
[Pertama! Van Ikliza de Arkailian dari kelas 2.A dan Ciassa Brianna dari kelas 2.A vs Zen Aslan de Erlin dari kelas 1.A dan Dania Carrea dari kelas 3.A!]
Van dan Ciassa masuk ke arena, Zen dan Dania juga masuk ke arena dari arah berlawanan.
[Mulai!]
__ADS_1
Bersambung...