
"Antingmu hilang?" tanya Bereilla memastikan, Heria mengangguk membenarkan.
Dia berlari, pergi ke tempat-tempat yang dia datangi sebelumnya, mencari antingnya yang hilang.
"Heria! Tunggu aku!" Bereilla berlari mengejar Heria.
Sementara Heria tidak mendengarkan apa yang dikatakan Bereilla, raut wajahnya terlihat panik.
Dia takut, bagaimana jika anting itu hilang?
Dia sangat yakin bahwa dia memakainya saat pergi ke tempat ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Zen yang melihat Heria panik.
"Heria kehilangan antingnya." Bukan Heria yang menjawabnya, melainkan Bereilla. Heria masih terlihat panik karena antingnya menghilang.
"Kita disini untuk mencari permata, bukan antingmu yang hilang itu. Tetap fokus pada misimu." Zen berucap tanpa memedulikan Heria.
Heria yang mendengarnya berhenti, dia menoleh dan menatap Zen dengan tatapan tajam dan tidak suka, "Aku bukan dirimu yang suka membuang-buang barang berharga, Pangeran kedua kekaisaran Erlin." ucapnya, dia menekan setiap kata-katanya.
"Kita saat ini sedang bertanding, 'senior'." ucap Zen, dia menekan kata senior, agar Heria paham bahwa dia adalah senior disini, dan seharusnya lebih bisa bersikap profesional.
"Ya, aku tahu. Tapi, menurutku, anting itu jauh lebih berharga daripada pertandingan ini!" Heria menatap tajam Zen, "Kau yang hidup dengan membuang-buang uang, mana mengerti seberapa berharganya anting itu!" lanjutnya.
Heria melampiaskan emosinya pada Zen. Kemudian dia berbalik, dan pergi dari sana, meninggalkan Zen dan Bereilla.
"Heria!" Bereilla memanggil Heria, tapi tidak didengarkan olehnya.
Zen menatap Bereilla yang berdiri di sampingnya, "Kalau kau juga lebih mementingkan anting itu, lebih baik pergilah." ucapnya ada Bereilla.
Bereilla yang mendengarnya kemudian menatap Zen, "Bukan begitu, tapi kumohon mengertilah pada Heria, Zen." ucapnya.
"Aku tidak peduli padanya atau antingnya yang hilang itu." ucap Zen, kemudian dia pergi meninggalkan Bereilla.
"Hei!" panggil Bereilla, tapi tidak dipedulikan oleh Zen.
__ADS_1
"Mereka berdua sama-sama keras kepala." gumam Bereilla.
***
"Mereka bertengkar." ucap Xava yang melihatnya dari layar.
"Dari ucapannya, sepertinya Heria membenci bangsawan dan Keluarga Kekaisaran. Seharusnya mereka tidak satu tim." balas Hain.
'Anting Heria yang hilang itu, kemungkinan permata. Dan berlian itulah yang kelompok mereka cari.' batin Lisia, dia kemudian dia menatap layar yang menunjukkan dimana Zen masih mencari permata itu, 'Zen berusaha bersikap profesional. Tapi, dia tidak tahu, bahwa anting itulah berlian yang mereka cari. Mereka kurang komunikasi.' lanjutnya dalam hati.
***
"Bukankah dia adalah putramu, Kaisar Erlin?" tanya Kaisar Arrilla.
Kaisar Erlin menatap Kaisar Arrilla, "Ya." ucapnya singkat.
"Bagaimana kau mendidik Pangeran Zen sehingga sikapnya seperti itu?" tanya Kaisar Arrilla.
"Setidaknya, caraku mendidiknya lebih baik daripada caramu mendidik Putri Arlisia." balas Kaisar Erlin, bermaksud menyinggung Kaisar Arrilla.
***
Heria sudah pergi menjauh dari Zen. Dia mencari antingnya ke semua tempat yang dia datangi tadi.
Di mana antingnya?
Dia harap, antingnya tidak hilang.
Anting itu adalah anting yang dibeli ibunya untuk hadiah ulang tahunnya. Ibunya mendapatkan anting itu dengan susah payah.
Dia bekerja kesana kemari, mencari uang untuk membeli anting itu.
Ibunya pernah bekerja sebagai pelayan di kediaman Count. Di sana, dia mendapatkan gaji yang sangat besar. Tapi, pekerjaannya juga sangat berat.
Dia harus melayani Putri Count yang selalu menyiksa pelayan-pelayannya. Putri Count itu selalu memukul pelayannya menggunakan cambuk tanpa peduli rasa sakit yang diterima pelayannya.
__ADS_1
Tapi, ibu Heria tidak berhenti bekerja di sana. Tentunya itu karena gaji yang diterimanya. Dengan gaji satu bulannya dia di sana, cukup untuk biaya hidup bersama putrinya selama 1 tahun.
Dia bahkan tidak peduli dengan rasa sakit yang dideritanya dan terus bekerja. Setiap pulang bekerja, dia akan menyembunyikan rasa sakitnya dari Heria.
Heria menyambut ibunya dengan suka cita, tanpa tahu bagaimana keadaan ibunya yang sebenarnya.
Setelah 3 bulan bekerja di sana, ibu Heria membeli anting permata menggunakan gajinya. Untuk hadiah ulang tahun ke-12 Heria. Dia memberikan hadiah itu pada Heria, dan Heria sangat senang.
Ibu Heria tetap bekerja di sana, dan 5 bulan setelah dia bekerja di sana, akhirnya dia tidak sanggup menahan semua rasa sakitnya. Dia mati saat dipukul oleh Putri Count itu.
Ibu Heria yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa, diantar ke rumahnya. Heria yang melihat ibunya menangis. Kemudian, dia mengetahui semua yang dialami ibunya selama 5 bulan ini.
Semenjak saat itu, Heria membenci Bangsawan dan Keluarga Kekaisaran. Berpikir, bahwa mereka hanyalah orang kaya yang suka menyiksa orang miskin.
Dia menyimpan uang gaji ibunya dari pekerjaan itu. Heria memilih tidak pernah menggunakan uang itu, dia bekerja dan mencari uang lain.
Sementara anting pemberian ibunya itu, sejujurnya dia sangat ingin membuangnya. Tapi, mengingat perjuangan ibunya untuk membelikannya anting itu, dia mengurungkan niatnya. Dia terus memakai anting itu untuk mengingat ibunya.
Dia belajar sihir, dan kekuatan sihirnya sangat hebat. Kekuatannya didengar oleh beberapa akademi dan dia mendapat undangan dari beberapa akademi. Dan akhirnya, Heria memilih untuk menerima undangan dari Magic Academy.
***
Bereilla berlari dan menghampiri Zen, "Hei, Zen. Kumohon mengertilah perasaan Heria." Bereilla berusaha membujuk Zen.
"Dia pasti panik karena anting itu adalah benda kesayangannya." ucap Bereilla.
"Aku tidak peduli. Jika dia lebih mementingkan anting itu, maka cari saja anting itu." ucap Zen.
"Hei! Mengertilah sedikit! Memangnya kau tidak pernah kehilangan sesuatu yang berharga bagimu?!" Bereilla akhirnya melampiaskan emosinya.
Mendengar perkataan Bereilla, ingatan Zen berputar, mengingat saat dia melihat mayat ibunya.
Dia berhenti mencari dan menatap Bereilla, "Aku tidak peduli." ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Bereilla.
Bersambung...
__ADS_1