Magic Academy

Magic Academy
62. Penentuan perwakilan akademi (4)


__ADS_3

Lisia dan Van sedari tadi bercerita, sampai mereka berhenti berbicara karena pintu ruang pengobatan terbuka.


2 orang masuk ke ruang pengobatan, salah satu dari keduanya diangkat menggunakan tandu dan yang lainnya jalan sendiri ke ruang pengobatan.


profesor Viasra juga ikut masuk ke ruang pengobatan untuk mengobati kedua orang itu.


'Sepertinya aku terlalu lama bercerita di sini.' Batin Lisia.


Lisia berdiri, "Aku pergi dulu, Van." Ucap Lisia.


Lisia pergi ke ruang tunggu. Yang menang tadi adalah Jain Kaissa dari kelas 2.A dan Ciar Xalka dari kelas 3.A.


"Lisia, kau dari mana saja? Setelah ini adalah giliran kita." Ucap Xava.


"Hah? Bagaimana kau mengetahuinya?"


Mereka tidak diberitahu mengenai lawan mereka, dan kapan mereka akan bertanding. Tapi kenapa Xava mengetahuinya?


Lisia melihat ke arena, saat ini yang bertanding adalah Aska Dallian dari kelas 2.A dan Heria Dessia dari kelas 2.A vs Layla Ayla dari kelas 1.A dan Alriana Laysa dari kelas 1.A.


Saat ini, hasil akhirnya telah terlihat. Layla dan Riana telah tersudut. Aska dan Heria berhasil menyudutkan mereka berdua dan membuat keduanya sangat kesulitan.


Dan pada akhirnya, tentu saja Aska dan Heria yang memenangkan pertandingan.


[Pemenangnya, Aska Dallian dari kelas 2.A dan Heria Dessia dari kelas 2.A]


Tim medis masuk ke arena dan membawa yang terluka ke ruang pengobatan. Aska sedikit terluka, dia juga ikut ke ruang pengobatan.


Sementara Heria, dia pergi ke ruang tunggu, tidak ada luka sama sekali di tubuhnya akibat pertandingan tadi.


Lisia pergi dari ruang tunggu, Xava mengikuti Lisia.


Alexa dan Alex juga pergi dari ruang tunggu.


[Pertandingan selanjutnya, Alexa Kailan dari kelas 1.A dan Alex Kailan dari kelas 1.A vs Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A dan Xava Kerrain dari kelas 3.A!]


Kedua tim masuk ke arena dari arah berlawanan.


Lisia menatap Xava yang berada di sampingnya.


'Ekspresinya langsung berubah menjadi serius.' Batin Lisia.


Lisia berbalik menatap musuh.


[Mulai!]


Setelah satu kata itu, masing-masing tim saling menyerang.

__ADS_1


Alexa berekspresi serius, dia menyerang Lisia secara terus menerus menggunakan pedang.


Lisia melapisi tangannya menggunakan sihir dan terus menahan serangan Alexa.


Alexa tiba-tiba berada di belakang Lisia dan menyerang Lisia.


Sebelum pedang Alexa mengenai Lisia, Lisia berbalik dan menatap Alexa, itu membuat Alexa terhenti.


'A-apa?'


Alexa tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Para penonton kebingungan, kenapa Alexa berhenti?


Lisia melapisi tangannya menggunakan sihir lalu memukul Alexa dengan kuat. Itu membuat Alexa terpental ke belakang.


Lisia harus menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat.


6 tahun yang lalu, Lisia pernah mendengar tentang Alexa dari seseorang.


"Alexa Kailan?" Ucap Lisia yang saat itu masih berusia 10 tahun. Dia menatap foto seorang anak perempuan.


"Oh, dia adalah muridku. Meski sekarang dia masih tidak ada apa-apanya tapi nanti dia pasti akan tumbuh menjadi orang yang hebat. Apalagi, jika dia bisa mengendalikan kekuatannya itu." Seorang gadis yang berusia sekitar 23 tahunan berbicara kepada Lisia.


Tekanan yang dikeluarkan Alexa saat ujian penentuan misi kemungkinan adalah sedikit kekuatan yang dimaksud gadis itu.


Kekuatan Alexa itu adalah sihir yang hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki darah keluarga Kailan. Hanya ada satu orang terpilih di setiap generasi yang bisa menggunakan kekuatan itu.


Kabarnya, sekarang sihir itu telah menghilang. Tidak ada lagi orang dari keluarga Kailan yang bisa menggunakan sihir itu.


Sihir keturunan, itu adalah sebutan bagi kekuatan seperti itu.


Bukan hanya keluarga Kailan, tetapi ada keluarga lain juga yang memilikinya.


Sihir seperti itu biasanya sangat kuat, tetapi sangat sulit untuk dikendalikan. Dan juga, jika pemiliknya tidak bisa menahan sihir itu dengan baik, maka sihir itu bisa saja lepas kendali.


Sebelum sihir itu lepas kendali, Lisia harus mengalahkan Alexa.


Alexa berdiri, dia menatap Lisia dengan tajam.


Lisia tiba-tiba berada di belakang Alexa, lalu dia memukul belakang kepala Alexa dengan kuat membuat Alexa jatuh pingsan di tanah.


Lisia menoleh, dia melihat Xava yang sedang bertarung melawan Alex.


"Apa aku perlu membantumu?" Tanya Lisia.


"Tidak perlu, aku bisa menyelesaikannya sendiri." Ucap Xava percaya diri.

__ADS_1


Alex sedikit tidak suka mendengar perkataan Xava. Dia merasa kalau dirinya diremehkan.


Lisia diam di sana, menyaksikan pertarungan Alex dan Xava. Dia akan turun tangan jika terjadi hal yang berada di luar dugaannya.


Alex menyerang Xava dalam keadaan marah. Dia merasa marah karena diremehkan, dia tidak suka jika ada orang yang meremehkannya.


Sedari kecil, dia selalu dibandingkan dengan Alexa, kembarannya. Dia diremehkan karena bukan dirinya sebagai putra tertua yang mewarisi sihir keturunan.


Meski Alexa saat ini belum bisa dikatakan kuat, tapi jika Alexa bisa mengendalikan sihir keturunan itu, dia akan menjadi sangat kuat. Hal itu membuat Alexa sangat dipercayai oleh ayahnya.


Alex menyerang Xava, Xava menghindari serangan Alex lalu menendangnya.


Alex berdiri, sebuah energi kuat menyelimuti dirinya.


'Saat profesor Rina bertanya mengenai sihir tingkat S, tidak ada orang yang mengangkat tangannya. Itu bukan karena mereka tidak memiliki sihir tingkat S. Hanya saja, mereka tidak ingin memamerkan kekuatan mereka, karena itu sama saja dengan mereka memamerkan kartu as mereka. Pastinya, profesor Rina sendiri tahu hal itu, dia hanya menguji para murid saja saat itu.' Batin Lisia.


Pandangan Lisia tertuju pada para murid sekelasnya, 'Dan mereka juga pasti memilikinya, sihir tingkat S itu.'


Lisia melirik Alexa yang telah kalah, lalu dia kembali melihat Xava dan Alex yang sedang bertarung, 'Cepat kalahkan dia, sebelum Alexa bangkit, Xava!'


***


Di ruang tunggu, Irisa, Rill dan beberapa orang lainnya sedang menyaksikan pertarungan itu.


Hain berada di antara mereka, dia melihat Lisia yang terdiam di pertarungan itu, 'Lisia, kau akan menang bukan?'


***


Di kursi penonton, tampak seorang pria berambut hitam dan iris mata berwarna hitam melihat Lisia yang terdiam di arena, 'Kenapa dia terlihat sangat tenang?'


"Hei, kau benar-benar Zerian, kan? Kau tidak kerasukan sesuatu?" Ucap seorang pria yang duduk di sebelahnya.


Zerian Aggian de Arrilla, dia adalah pangeran kelima kekaisaran Arrilla.


Zerian tersadar dari lamunannya, dia menoleh, "Aku tidak kerasukan apa-apa." Dia sedikit kesal dengan ucapan pria yang merupakan temannya itu.


Acle, teman Zerian melihat Lisia yang berada di arena, "Bukankah dia adalah adikmu?"


Zerian melihat Lisia, "Ya, dia adalah salah satu adikku."


"Adikmu berhasil lulus, tapi kau tidak. Benar-benar kakak yang menyedihkan." Acle mengejek Zerian.


Zerian kesal karena ucapan Acle, "Apa bedanya dengan kau? Kau juga tidak lulus."


"Ya, tapi setidaknya adikku tidak mengalahkan diriku." Acle tersenyum mengejek.


"Memangnya kau memiliki adik?" Ucap Zerian membuat Acle tidak bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2