Magic Academy

Magic Academy
69. Kedatangan 4 Kaisar


__ADS_3

1 hari sebelum turnamen antar akademi, semua perwakilan antar akademi datang ke Magic Academy bersama dengan profesor pendampingnya.


Di setiap akademi, ada 10 murid yang menjadi perwakilan untuk turnamen dan 2 orang profesor untuk mendampingi 10 perwakilan akademi itu.


***


Lisia saat ini sedang memperhatikan perwakilan akademi lain melalui jendela yang ada di lantai dua.


'Sword Academy, akademi untuk para pengguna pedang. Tahun lalu, mereka mendapat juara 2 di turnamen antar akademi, lalu juara mereka di turnamen tidak pernah keluar dari 5 besar.' Batin Lisia sambil memperhatikan orang-orang dengan seragam Sword Academy.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Lisia menoleh dan melihat Kei yang bertanya padanya.


"Kau tidak ikut di organisasi manapun, lalu untuk urusan apa kau ke sini?" Kei menatap Lisia dengan tatapan tajam.


Gedung tempat Lisia berada saat ini adalah gedung di mana ruangan semua organisasi di Magic Academy berada.


'Dia sangat membenciku ya...' Batin Lisia, dia melihat tatapan mata Kei, sepertinya suasana hatinya sedang sangat tidak baik hari ini.


Lisia mengingat sesuatu, dia melihat ke arah salah satu perwakilan Sword Academy, 'Oh iya, kakak Kei adalah salah satu diantara perwakilan Sword Academy, pantas saja suasana hatinya sangat tidak baik hari ini.' batinnya.


"Kenapa kau melihat ke arah lain? Cepat jawab pertanyaanku!" Ucap Kei.


Lisia menatap Kei, "Hari ini kakakmu datang ke sini sebagai perwakilan Sword Academy bukan? Aku tahu kau membenci kakakmu, tapi jangan melampiaskan amarahmu itu kepadaku." Lisia berjalan dan melewati Kei.


Kei tidak membalas perkataan Lisia, dan mengepalkan tangannya.


***


Lisia berjalan-jalan di sekitar Magic Academy.


"Jadi kau adalah salah satu perwakilan Magic Academy?"


Lisia berbalik dan melihat 3 orang yang memakai seragam akademi lain.


'Seragam itu... Trisian Academy.' Batin Lisia.


"Ya, aku adalah perwakilan Magic Academy. Apa ada masalah dengan itu?" Ucap Lisia dengan tatapan tajam.


"Kau sangat percaya diri ya. Tapi asal kau tahu, tahun ini Trisian Academy yang akan menjadi juara 1!" Ucap seorang gadis berambut merah muda yang merupakan salah satu perwakilan Trisian Academy.


'Dia menantangku ya?' Batin Lisia, dia lalu tersenyum mengejek, "Aku nantikan hal itu."


"Kenapa dengan ekspresimu itu? Kau mengejek kami?!" Seorang pria berambut hitam yang merupakan saah satu perwakilan Trisian Academy meninggikan suaranya, membuat beberapa orang di sekitar melihat mereka.


"Kalau memang benar, kenapa?" Ucap Lisia.

__ADS_1


"Kau!" Pria itu mendekati Lisia, tetapi ditahan oleh gadis berambut merah muda itu.


"Tenanglah, An. Lagipula nanti dia sendiri yang akan malu." Ucap gadis itu dengan penuh percaya diri.


"Namaku Kezia, dan dia adalah Anbian. Lalu, pria yang sedari tadi diam di sana bernama Sien." Gadis berambut merah muda itu—Kezia memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.


"Namaku Lisia." Ucap Lisia.


"Lisia? Jadi kau adalah Putri Pertama kekaisaran Arrilla, Tuan Putri Arlisia?" Ucap Kezia.


"Ya, itu aku."


Sien tiba-tiba mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Lisia.


"Kalau begitu, ini akan semakin menarik. Aku ingin melihat, apa rumor mengenai kekuatanmu itu memang benar? Atau hanya dilebih-lebihkan saja." Kezia tersenyum.


Lisia tersenyum, "Baiklah, aku juga tidak sabar melihat kekuatan kalian." Ucap Lisia lalu dia pergi dari sana.


***


Tak jauh dari tempat perdebatan Lisia dan beberapa perwakilan Trisian Academy, 2 orang yang merupakan perwakilan Sword Academy menyaksikan itu dari kejauhan.


"Jadi dia adalah Putri Arlisia? Aku dengar dia sangat kuat." Ucap seorang pria bersurai merah.


"Arlisia... Kira-kira seberapa hebat kekuatannya?" Ucap seorang gadis berambut merah muda.


***


Lisia berhenti dan memikirkan salah satu perwakilan Trisian Academy, "Pria bernama Sien itu, aku rasa aku pernah bertemu dengannya..." Gumam Lisia.


Lisia tiba-tiba teringat dengan sesuatu, "Jangan-jangan dia..." Lisia menggelengkan kepalanya, menepis pikirannya itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Lisia menoleh, dan melihat profesor Levin.


"Saya hanya sedang berjalan-jalan." Ucap Lisia.


"Kau tidak ingin ke gerbang Magic Academy? Sebentar lagi, 4 Kaisar akan datang." Ucap profesor Levin.


"Ya, saya akan segera ke sana." Ucap Lisia tersenyum.


Profesor Levin hanya diam melihat senyum Lisia, lalu dia pergi dari sana.


Setelah profesor Levin pergi, Lisia pergi ke gerbang Magic Academy.


***

__ADS_1


Di gerbang Magic Academy, banyak orang yang sedang berada di sana untuk menyambut 4 Kaisar yang akan datang sebentar lagi.


"Ramai sekali.." Ucap seseorang yang berada di samping Lisia.


"Tentu saja, 4 Kaisar akan datang sebentar lagi." Ucap Lisia tanpa menoleh ke arah orang yang berada di sampingnya.


Mendengar ucapan Lisia, orang itu menoleh dan melihat Lisia, "Lisia?"


Lisia menoleh saat pria itu menyebutkan namanya, "Lama tidak bertemu, pangeran kelima."


Orang yang berada di samping Lisia adalah Zerian, pangeran kelima kekaisaran Arrilla.


"Ya, sebuah kebetulan kita bisa bertemu di sini." Ucap Zerian tersenyum, "Apa kau datang ke sini untuk menyambut kedatangan 4 Kaisar?" Tanya Zerian.


Lisia tidak menjawab pertanyaan Zerian, dia hanya menatap ke arah gerbang, 'Sebentar lagi...' Batinnya.


Sebuah suara terdengar di seluruh Magic Academy. Bersamaan dengan itu, 4 kereta sihir mendekat ke arah Magic Academy. 4 kereta sihir itu masing-masing memiliki lambang 4 kekaisaran.


Kereta sihir itu berhenti saat berada tepat di depan gerbang Magic Academy. 4 Kaisar turun dari kereta sihir mereka masing-masing.


4 Kaisar berjalan masuk ke Magic Academy. Orang-orang memberikan jalan yang luas untuk mereka masuk ke Magic Academy, semuanya menundukkan kepala mereka untuk memberikan hormat kepada 4 Kaisar.


Sambil menunduk hormat, Lisia melirik ke arah 4 Kaisar yang berjalan melewati kerumunan orang yang menyambut kedatangan mereka.


'Di antara mereka berempat.... siapa?' Batin Lisia sambil memperhatikan 4 Kaisar.


Setelah 4 Kaisar melewati kerumunan orang-orang itu, semuanya mengangkat kepala mereka.


Lisia juga mengangkat kepalanya, dia melihat ke arah di mana 4 Kaisar pergi lalu berbalik dan pergi dari tempatnya berdiri tadi.


***


Saat ini, jam menunjukkan pukul 7 malam. Lisia sedang berada di kamar asramanya, dia memandangi bintang dari jendela kamar asramanya.


Lisia menoleh saat merasakan energi sihir dari batu komunikasi yang berada di kamarnya. Setiap kamar asrama di Magic Academy memiliki batu komunikasi, biasanya digunakan untuk memanggil murid ketika murid tersebut mendapatkan misi.


Lisia berjalan dan menerima panggilan dari batu komunikasi itu.


"Di sini Arlisia Erisla de Arrilla." Ucap Lisia.


"Arlisia, datanglah ke Ruang 4 Kaisar." Dari suaranya, Lisia bisa menebak jika orang yang menghubunginya adalah kepala sekolah.


Ruang 4 Kaisar, tempat itu adalah ruangan tempat di mana 4 Kaisar berkumpul di Magic Academy setiap terjadi acara di Magic Academy, atau hal lainnya.


"Baik." Ucap Lisia.


Setelah Lisia mengatakan hal itu, batu komunikasi itu berhenti.

__ADS_1


Lisia keluar dari kamar asramanya, dan berjalan pergi menuju Ruang 4 Kaisar.


Bersambung...


__ADS_2