Magic Academy

Magic Academy
43. Budak


__ADS_3

Keesokan harinya, Kalia pergi ke kota Lad bersama dengan Fal dan Rin.


Narz dan Axena tidak ikut bersama mereka, karena ada pesan mendadak dari tuan mereka.


Sementara penjual budak itu, dia berada di gua yang berada tidak jauh dari kota Lad. Alaya menjaga penjual budak itu agar dia tidak kabur.


Kalia juga telah mengganti pakaiannya, kini dia memakai pakaian yang dibelikan Axena untuknya.


Kalia, Fal dan Rin sampai di kota Lad, mereka turun dari kereta sihir.


"Kalian tunggu di sini." Ucap Kalia pada Fal dan Rin, "Aku akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu."


***


Kalia masuk ke sebuah bangunan yang terlihat usang, bangunan itu adalah tempat mereka berkumpul.


Kalia melihat sekeliling. Gelap, kata itulah yang menggambarkan ruangan tempatnya berada.


Tak lama, sebuah cahaya muncul dari atas, Kalia menoleh dan melihat seorang gadis yang seumuran dengannya membawa lentera.


"Naiklah." Ucap gadis itu.


Kalia menurut, dia naik menggunakan tangga, dia mengikuti gadis itu, mereka sampai di depan pintu sebuah ruangan.


Gadis itu membuka pintu ruangan itu, teman-temannya yang juga seorang bidak semuanya berkumpul di sana. Mereka menunggu kedatangan Kalia.


Kalia masuk ke ruangan itu, begitu pula dengan gadis itu.


Mereka ada 13 orang, termasuk dengan Kalia.


Para budak lain memandangi Kalia dari atas sampai bawah, mereka tidak senang. Berbeda dengan mereka, Kalia memakai pakaian bagus, sepertinya dia bertemu dengan orang baik, tidak seperti mereka yang dikucilkan. Mereka benar-benar iri pada Kalia.


Kalia sadar akan tatapan para budak lain, dia tahu jika para budak lain membenci dirinya. Tapi, dia merasa jika dirinya memang pantas untuk dibenci, karena selain telah membunuh banyak musuh pemiliknya, Kalia juga telah banyak membunuh budak lain yang kabur atas perintah pemiliknya.


"Hei, apa kalian ingin bebas dari kutukan budak ini?" Tanya Kalia.


Para budak lain terkejut, mereka menatap Kalia, "Memangnya itu bisa?" Tanya salah satu diantaranya.


"Ya, tapi untuk itu kalian harus bertemu dengan tuan pemilik." Ucap Kalia.


Para budak lain terkejut, salah satu dari mereka marah dan melemparkan barang, "Kau ingin kita bertemu dengan orang itu lagi?!"

__ADS_1


Kalia menunduk, "Aku tahu kalau kalian membencinya, aku juga begitu, tapi ini adalah satu-satunya cara." Ucap Kalia.


Mereka semua diam, dan menatap Kalia seolah meminta penjelasan.


"Aku bertemu dengan orang-orang yang membebaskan kita, mereka bilang kalau mereka bisa menghilangkan kutukan ini." Ucap Kalia.


Banyak dari mereka yang berharap, mereka benar-benar ingin bebas.


Tapi, ada juga yang tidak percaya pada Kalia. Bagaimana pun, Kalia telah membunuh banyak budak lain, mereka tidak bisa percaya pada Kalia.


Seorang gadis menendang kursi yang berada di depannya, "Kenapa kami harus percaya?" Ucapnya.


"Hei.." Salah satu dari mereka berusaha menghentikan gadis itu.


"Aku tahu kalian tidak akan percaya padaku, aku juga tidak meminta untuk dipercayai." Ucap Kalia, "Tapi, jika kalian ingin bebas, maka ikutlah denganku." Ucap Kalia, dia berusaha meyakinkan teman-temannya.


Tidak ada yang berani untuk menolak tawaran Kalia, kerena mereka ingin bebas. Tapi tidak ada pula yang berani untuk menerimanya.


"Bagaimana jika tuan pemilik memerintahkanmu untuk membunuh kami saat kutukan itu belum dicabut?" Gadis itu memecahkan keheningan yang terjadi.


Kalia terdiam, jika itu benar-benar terjadi, maka, mau tidak mau dia harus menurutinya. Jika tidak, dia akan mati karena kutukan budak.


"Dari reaksimu, kau pasti akan menuruti perintah tuan pemilik." Gadis itu mengeluarkan belati dari balik pakaiannya.


Mereka mulai menyerang Kalia, melihat belati itu membuat Kalia ketakutan, 'Tidak, aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati!' Kalia ketakutan, tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Tak lama, energi yang besar keluar dari diri Kalia, energi itu membuat para budak yang berada di ruangan itu tiba-tiba berhenti.


Ya, sihir waktu.


"Maaf, tapi aku tidak mau mati..." Kalia mengambil belati yang dipegang oleh salah satu budak itu, dan dia menusuk jantung mereka satu persatu.


Para budak lainnya telah mati, Kalia ingin pergi dari sana, tapi tiba-tiba dia berhenti.


Kalia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, setelah itu kakinya kesakitan dia terbaring di lantai, rasa sakit itu kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat dirinya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Itulah kutukan budak.


Pandangan Kalia memburam, lalu tidak dapat melihat apa pun lagi. Dia pingsan.


***


Fal dan Rin merasa ada yang tidak beres karena Kalia belum juga memberi kabar atau pun kembali. Mereka kemudian memutuskan untuk pergi menghampiri Kalia.

__ADS_1


Sesampainya di sana, mereka terkejut melihat banyak mayat. Lalu ditengah-tengah mayat itu, ada Kalia.


Fal segera memeriksa kondisi Kalia, tidak ada bekas luka apa pun, tapi Kalia sekarat.


Fal berusaha menyembuhkan Kalia, dia menggunakan sihir penyembuhan yang diajarkan Alaya padanya. Meski sihir penyembuhan yang dikuasainya hanya tingkat B, dia harap itu bisa membuat Kalia bertahan.


Rin melihat kondisi para mayat itu, berharap setidaknya ada satu diantara mereka yang masih hidup. Tapi percuma, hanya Kalia yang selamat. Itu pun, kondisinya sangat parah.


Rin duduk di dekat Kalia. Sementara Fal sedang menumbuhkan Kalia, dia memeriksa sihir dan kutukan budak Kalia.


Rin bisa merasakan ada tiga sihir di dalam diri Kalia, yaitu sihir bayangan, sihir penyamaran, dan, sihir waktu.


Tapi, sihir waktu milik Kalia bermasalah. Sihir itu seperti memberontak.


Apakah itu karena kutukan budak? Karena sihir itu tidak cocok dengan kutukan budak yang berada di tubuh Kalia, sihir itu berusaha memberontak. Karena itu pula, Kalia masih bisa bertahan.


Rin membuka matanya, "Minggir, Fal." Ucap Rin.


Fal melihat Rin, aura Rin terlihat berbeda dari biasanya.


Fal menghentikan sihir penyembuhannya, dia sedikit menjauh dari sana.


Rin menutup matanya, dia menggunakan sihir penyerap untuk mengeluarkan kutukan budak Kalia, dia tahu jika resiko menggunakan sihir ini sangat besar, tapi itu adalah jalan satu-satunya.


Alaya tidak bisa menyembuhkan kutukan. Dan jika membawa Kalia ke tempat penjual budak itu untuk melepas kutukan, tidak akan sempat, Kalia akan mati lebih dahulu. Karena itu, dia mengeluarkan kutukan Kalia secara paksa. Meski ini bisa mengancam nyawa Kalia, tapi itu lebih baik.


***


Kalia membuka matanya, dia bangun dan melihat sekeliling, "Ini..." Dia berada di tempat asing.


"Kau sudah bangun?" Seseorang datang sambil membawa makanan, dia adalah Axena.


"Kau pingsan selama 1 bulan, Rin mengeluarkan kutukan budakmu secara paksa dan menghancurkannya, akibatnya dia dalam kondisi kritis." Ucap Axena.


Kalia terkejut mendengar perkataan Axena.


"Kau tidak perlu menyalahkan dirimu, ini adalah keinginan Rin sendiri. Sikapnya dan sikap ketuanya itu tidak beda jauh." Ucap Axena, dia terlihat menahan kesal.


Kalia menunduk, dia merasa bersalah, karena dirinya banyak orang yang menderita.


"Hei, apa kau yang membunuh para budak lain?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2