
Carrez terdiam, anting itu berada pada dirinya.
Mereka menemukan anting itu saat sedang mencari permata. Kemudian seorang gadis yang mengenakan seragam Magic Academy tiba-tiba datang kepada mereka dan meminta anting itu.
Tentunya, mereka tidak menyerahkannya begitu saja. Apalagi, mereka telah menyadari bahwa anting itu adalah permata yang dicari oleh Magic Academy.
Heria tentunya tidak tinggal diam, dia menyerang ketiga perwakilan Sword Academy itu dan dia kalah. Setelah mengalahkan Heria, mereka pergi meninggalkannya.
Zen melihat tatapan mata Zarka menuju ke Carrez saat dia menyebutkan anting itu, hal itu membuatnya yakin bahwa anting itu berada di tangan Carrez.
Zen dengan cepat berada tepat di depan Carrez, dia menendang Carrez ke tanah, kemudian mengarahkan pedang itu kepadanya, “Berikan anting itu padaku.” ucapnya.
Carrez terdiam sejenak, kemudian dia memegang pedang yang diarahkan kepadanya itu, “Kau pikir aku akan menyerahkannya begitu saja?” Carrez mengeluarkan energi sihir untuk mengancam Zen, “Kau salah.”
Carrez mendorong Zen menjauh darinya, dia mengeluarkan pedangnya dan menyerang Zen. Zen tentunya tidak tinggal diam, dia menahan serangan itu dan balik menyerang Carrez.
Zarka memanfaatkan kesempatan itu, dia menggunakan sihirnya untuk membantunya pergi ke Verzea. Dia menggunakan sihirnya untuk menghancurkan ikatan Verzea di pohon.
“Verzea, gunakan sihirmu untuk mengurung perwakilan Magic Academy itu. Setelahnya aku akan menyerangnya.” Zarka menjelaskan rencananya.
Verzea mengangguk, dia menggunakan sihirnya dan mengurung Zen. Carrez yang menyadarinya menjauh dari Zen.
Zarka menggunakan sihirnya, dari setiap sudut kurungan itu, muncul pisau angin yang menyerang Zen.
Zen menghindari semuanya dengan mudah, dan beberapa pisau angin itu ditangkisnya. Zen menggunakan sihirnya, membuat kurungan itu hancur dengan mudah.
...****************...
“Pangeran Zen sungguh luar biasa, bukankah begitu, Kaisar Erlin?” ucap Kaisar Arrilla.
“Bukankah Putri Arlisia lebih luar biasa, Kaisar Arrilla?” balas Kaisar Erlin.
”Ya, anda benar, tapi saat ini kita sedang membicarakan Pangeran Zen.” balas Kaisar Arrilla.
...****************...
Zen memegang sepasang anting permata, “Permata yang indah.” gumamnya.
Terlihat Zarka, Carrez dan Verzea terbaring di tanah saat ini, mereka terluka cukup parah. Ya, Zen telah mengelahkan mereka bertiga.
Zen melihat mereka sejenak, kemudian pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia berjalan pergi ke tempat dia meninggalkan Heria dan Bereilla tadi. Saat sampai di sana, Bereilla segera menghampirinya.
“Zen! Bagaimana?” tanya Bereilla.
__ADS_1
Zen menunjukkan sepasang anting milik Heria, “Aku mendapatkannya.”
Bereilla tersenyum melihat hal itu. Zen menghampiri Heria dan memberikan anting itu padanya, “Ini antingmu, senior.”
Heria mengambil antingnya dari tangan Zen, “Terima kasih.” ucapnya dengan suara pelan.
Cahaya menyelimuti ketiga orang perwakilan Magic Academy itu, mereka dibawa kembali ke arena.
[Selamat kepada Magic Academy mendapatkan juara 4 di pertandingan kelima turnamen antar akademi!]
Tim medis segera datang, mereka membawa Heria ke ruang pengobatan.
Bereilla menemani Heria di ruang pengobatan, sementara Zen pergi ke kamar asramanya untuk mengganti almamaternya yang robek.
Setelah semua akademi kembali ke arena, poin kembali diumumkan.
Magic Academy, 53 poin
Eagle Academy, 52 poin
Fire Academy, 39 poin
Trisian Academy, 35 poin
Ice Academy, 27 poin
Dragon Academy, 26 poin
Wolf Academy, 23 poin
Arriena Academy, 18 poin
Dream Academy, 18 poin
Flower Academy, 17 poin
Earth Academy, 15 poin
[Wah, Magic Academy masih berada di posisi pertama. Dan dikejar oleh Eagle Academy. Dan tampaknya banyak akademi yang ketinggalan dari kedua akademi ini.]
[Baik, pertandingan keenam akan dimulai 1 jam kemudian. Silaukan beristirahat dulu\~]
...****************...
Lisia dan perwakilan Magic Academy lain kini berada di ruang pengobatan, tentunya untuk menjenguk Heria.
__ADS_1
Heria masih terbaring tidak sadarkan diri, setelah kembali ke arena dia tiba-tiba pingsan dan belum sadarkan diri sampai saat ini.
Bereilla terus menemani Heria di ruang pengobatan. Dia merasa bersalah karena meminta Heria ikut di pertandingan ini.
“Heria akan baik-baik saja.” Everilly berusaha menenangkan Bereilla yang terus khawatir.
Lisia melihat ke sekitar, ada beberapa perwakilan akademi lain yang juga dirawat di ruang pengobatan.
Sebenarnya, pertandingan kali ini tidak bahaya jika mereka tidak bertengkar dengan perwakilan akademi lain. Tapi, itu adalah hal yang mustahil, mereka semua mengincar juara, untuk itu mereka harus menjatuhkan akademi lain, tidak akan cukup jika hanya berusaha mencari permata yang hilang itu.
Pandangan Lisia berhenti saat melihat para perwakilan Sword Academy, ‘Sword Academy ya… Mereka luar biasa.’ batin Lisia.
...****************...
Lisia keluar dari ruang pengobatan. Heria telah sadar, dan beberapa orang telah pergi dari ruang pengobatan.
Lisia berjalan pergi, dia berencana untuk pergi membeli makanan. Langkahnya terhenti saat berpapasan dengan salah satu dari 4 Kaisar.
Lisia meletakkan tangan kanannya di dada kemudian menunduk, “Salam kepada Yang Mulia Kaisar Kairilin.”
“Lama tidak bertemu, Putri Arlisia.” sapa Kaisar Kairilin.
“Kita baru saja bertemu tiga hari yang lalu, Yang Mulia.” ucap Lisia.
“Itu cukup lama,” balas Kaisar Kairilin, “Semakin lama, kau semakin mirip dengan Kaisar Arrilla.”
“Itu wajar, saya adalah putrinya.” balas Lisia.
Kaisar Kairilin tertawa kecil mendengar balasan Lisia, “Ya… Dan sikapmu itu benar-benar mirip dengan Permaisuri Kekaisaran Arrilla.”
Lisia tidak membalas perkataan Kaisar Kairilin lagi. Lisia kembali menunduk, memberi hormat, “Saya permisi, Yang Mulia.” ucapnya, kemudian dia berjalan pergi dari sana.
Kekaisaran Kairilin, kekaisaran itu dikelilingi oleh lautan, membuatnya menjadi kekaisaran yang tertutup terhadap dunia luar. Dan Kaisar Kairilin, dia juga misterius, Lisia tidak banyak tahu tentangnya dan kekaisarannya. Hal itulah yang membuat Lisia lebih waspada terhadap Kaisar Kairilin.
Di Magic Academy, saat ini tidak ada seorang pun murid yang berasal dari Kekaisaran Kairilin. Di kekaisaran itu, terdapat 1 akademi, yaitu Kairil Academy.
Sebenarnya, hal ini terus dipertanyakan oleh Lisia sejak turnamen antar akademi di mulai. Kenapa Kairil Academy tidak ikut di turnamen antar akademi tahun lalu, dan juga tahun ini?
“Jadi, bagaimana?”
Langkah Lisia terhenti saat mendengar sebuah suara, dia menyembunyikan aura sihirnya dan bersembunyi di balik pintu. Dia mengintip ke arah ruangan itu, di sana dia melihat Kaisar Arrilla, Kaisar Erlin, Kaisar Arkailian, dan kepala sekolah Magic Academy. Kemudian, Kaisar Kairilin masuk ke ruangan itu menggunakan pintu yang lain.
“Kairil Academy akan bergabung di turnamen besok.” ucap Kaisar Kairilin.
Lisia terkejut mendengar hal itu. Besok… Kairil Academy akan bergabung di turnamen? Di tengah-tengah turnamen yang sedang berlangsung?
__ADS_1
Bersambung…