
Lisia mengayunkan pedangnya berkali-kali. Dia juga menggunakan sihirnya di pedang agar membuat pedang itu semakin kuat.
Lisia saat ini berada di belakang gedung kelas 2.
"Oh! Itu ketua kelas!"
Lisia menoleh, dia melihat teman-teman sekelasnya.
"Ketua kelas!"
Lisia menyimpan pedangnya kembali.
Lisia tersenyum, "Ada apa? Kalian terlihat sangat bersemangat."
"Jadi begini, karena sekolah sedang libur hari ini, jadi ayo kita pergi jalan-jalan!" Ucap Anni bersemangat.
"Ya, ketua kelas akan ikut bukan?" Tanya Axena.
"Ya, aku ikut." Ucap Lisia tersenyum.
***
Mereka pergi dari Magic Academy.
Mereka diizinkan pergi, asalkan mereka pulang sebelum matahari terbenam.
Mereka pergi ke kota yang berada tidak jauh dari Magic Academy, yaitu kota Kan.
Ada beberapa orang di kelas 1.A yang tidak mau pergi. Yaitu Kei, Aria, Zen dan Xavier.
Mereka semua berpencar. Masing-masing pergi ke tempat di mana mereka ingin pergi.
Lisia pergi ke toko buku, dan Rill mengikuti Lisia.
"Kenapa kau ikut ke sini? Padahal jika tetap tinggal di akademi, kau bisa beristirahat. Apa itu untuk mengawasiku?" Tanya Lisia.
"Begitulah." Ucap Rill.
"Aku heran kenapa permaisuri mengirimmu untuk mengawasiku." Ucap Lisia.
"Memangnya ada apa denganku?" Tanya Rill.
"Caramu mengawasiku itu sangat terang-terangan." Ucap Lisia.
"Untuk apa aku menyembunyikannya? Kau kan sudah tahu. Lagipula, permaisuri tidak menyuruhku untuk mengawasimu diam-diam." Ucap Rill.
"Sebelum aku tahu pun, kau tetap mengawasiku secara terang-terangan." Ucap Lisia, tapi tidak didengar oleh Rill.
"Tapi, kenapa kau bersedia untuk mengawasiku? Padahal kau pemalas." Tanya Lisia.
"Menurutmu?" Tanya Rill.
Lisia berhenti, dia menatap Rill, "Tidak, tidak, itu tidak mungkin." Ucap Lisia.
Lisia menoleh, dia melihat sebuah toko buku yang berada tidak jauh dari sana.
Lisia pergi ke toko buku itu. Rill mengikuti Lisia.
Lisia mengambil beberapa buku novel yang judulnya tampak menarik. Lisia sangat menyukai novel bergenre adventure.
__ADS_1
Rill sedikit terkejut, dia tidak pernah berpikir sebelumnya kalau Lisia suka membaca novel.
Lisia pergi ke kasir, untuk membayar novelnya.
Kasir menghitung semua barang belanja Lisia, "Totalnya 242.000 Rim." Ucap kasir itu tersenyum.
Lisia mengeluarkan uang dari saku pakaiannya, dia memberikan uang itu pada kasir.
Lisia mengambil buku itu dan menyimpannya di dimensi sihirnya.
Lisia keluar dari toko buku itu. Jangan lupakan Rill yang sedari tadi mengikuti Lisia.
"Tidak aku sangka kau menyukai novel." Ucap Rill.
"Aku sering membaca novel jika sedang bosan." Ucap Lisia.
"Oh, begitu." Ucap Rill.
Rill melihat sebuah toko yang berada tidak jauh dari sana. Dia tidak tahu toko apa itu, tapi entah kenapa dia tertarik untuk datang ke sana.
Lisia menoleh, dia melihat Rill yang sedang menatap sesuatu. Lisia mengikuti arah pandangan Rill, dia melihat sebuah toko yang dilihat oleh Rill.
'Toko itu...'
Lisia berjalan mendekati toko itu.
Rill yang melihat Lisia pergi ke toko itu, mengikuti Lisia.
Lisia membuka pintu toko itu, mereka pun masuk ke toko itu.
Di dalam toko itu, ada banyak batu sihir. Batu sihir itu memiliki banyak warna, ada yang berwarna biru, merah, hitam, hijau, dan lain-lain.
Toko itu sangat gelap, dan kelihatannya hanya ada mereka berdua di dalam toko.
"Kau sepertinya sangat tidak menyukai batu sihir itu, nona."
Sebuah suara tiba-tiba muncul, Lisia dan Rill menoleh.
Seorang wanita berambut pirang dan iris mata hijau muncul dari balik kegelapan.
"Apa batu itu mengingatkanmu pada sesuatu?" Tanya wanita itu tersenyum.
Lisia tidak suka mendengar perkataan wanita itu, wanita itu terdengar mengetahui sesuatu tentangnya. Tapi Lisia tetap berwajah datar, dia tidak menunjukkan rasa tidak sukanya secara terang-terangan.
"Kau berkata seolah mengetahui sesuatu tentangku." Ucap Lisia.
"Kau bisa menganggapnya seperti itu..." Tubuh wanita itu perlahan menghilang, dia menggunakan sihir teleportasi.
Lisia tetap diam di sana, dia tidak menahan wanita itu atau semacamnya.
"Aku sebenarnya ingin berbicara lebih banyak hal denganmu. Tapi," Wanita itu melirik Rill yang berdiri di samping Lisia.
Wanita itu tersenyum, "Sampai jumpa lagi, Putri Arlisia." Ucap wanita itu sebelum menghilang sepenuhnya.
Batu sihir yang berada di toko itu ikut menghilang bersama dengan wanita itu. Sekarang, toko itu menjadi toko tua yang telah tidak digunakan lagi.
Lisia dan Rill keluar dari toko itu.
"Putri, tadi–"
__ADS_1
Lisia memotong ucapan Rill, "Lupakan, itu tidak penting." Ucap Lisia.
Lisia berjalan pergi, dan Rill mengikuti Lisia.
Hening,
tidak ada yang bersuara. Mereka berdua sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
"Oh, itu ketua kelas dan Rill!" Ucap Anni yang melihat Lisia dan Rill yang sedang berjalan bersama.
Lisia dan Rill merasa diri mereka dipanggil, mereka menoleh dan melihat Anni, Alexa dan Zia yang sedang berada di depan kedai es krim.
"Rill! Ke sini!" Anni melambaikan tangannya.
Lisia dan Rill menghampiri mereka.
"Halo, bagaimana jalan-jalan kalian? Apa menyenangkan?" Tanya Lisia tersenyum.
Anni mengangguk, "Ya!"
Anni melihat Rill dan Lisia secara bergantian, dia tersenyum jahil, "Tadi kalian pergi berdua?" Tanya Anni.
"Ya." Ucap Lisia.
"Jangan-jangan, kalian berkencan?" Ucap Anni asal.
"Apa kalian berpacaran?" Tanya Zia jahil.
"Tidak." Ucap Lisia dan Rill bersamaan.
Anni menggelengkan kepalanya, "Bukan tidak, tapi belum." Ucap Anni.
"Jadi sekarang masih proses pendekatan ya." Ucap Axena.
"Apa benar begitu, Lisia?" Ucap Zia.
Lisia tersenyum, "Kalau kalian sangat penasaran, kenapa tidak bertanya saja kepada Rill?"
Lisia berbalik, "Kalau begitu, aku pergi dulu." Ucap Lisia.
Rill ikut berbalik, dia ingin mengikuti Lisia, tapi tangan kanannya dipegang oleh Anni.
"Tunggu, Rill. Bagaimana kalau kita berbicara sebentar?" Ucap Anni.
Tangan kiri Rill dipegang oleh Zia dan Axena, mereka menarik Rill pergi.
***
Lisia melihat kerumunan orang di kota.
Lisia bertanya pada seorang penjual makanan yang berada tidak jauh dari sana, "Kenapa di sana ramai sekali?" Tanya Lisia.
"Besok adalah ulang tahun kota ini, karena itu sebentar malam akan ada festival untuk memperingatinya." Ucap paman penjual makanan.
Paman itu memberikan 1 tusuk sate kepada Lisia, "Ini untuk nona." Ucap paman itu tersenyum.
Lisia menerima sate itu, "Terima kasih paman." Ucap Lisia.
"Ya, sama-sama." Ucap paman itu tersenyum.
__ADS_1
Lisia memakan sate itu sambil melihat kerumunan orang di kota, 'Festival ya... Sudah lama aku tidak melihat festival.' Batinnya.
Bersambung...