Magic Academy

Magic Academy
72. Pertandingan Ilusi


__ADS_3

Semuanya terkejut mendengar perkataan pembawa acara.


"Ilusi?"


"Apa maksudnya?"


Para penonton bingung, mereka saling berbicara. Mereka berusaha menebak-nebak apa yang dimaksud dengan pertandingan ilusi.


"Ilusi ya? Keahlian Dream Academy adalah sihir ilusi!" Ucap salah satu perwakilan Dream Academy dengan penuh percaya diri. Mereka berpikir, mungkin yang dimaksudkan pertandingan ilusi adalah membuat ilusi.


[Setiap perwakilan akademi akan memilih 2 anggota untuk ikut di pertandingan ini. Dan semua orang yang akan bertanding akan masuk ke labirin ilusi]


"Labirin ilusi?" Orang-orang mulai berdiskusi, mengenai apa itu labirin ilusi.


[Mengenai itu...]


Pembawa acara menghentikan bicaranya dan melihat para perwakilan akademi.


Para penonton penasaran mengenai apa yang dimaksud dengan labirin ilusi, mereka menunggu ucapan selanjutnya dari pembawa acara.


[....rahasia.]


Para penonton kecewa, mereka kesal karena pembawa acara membuat mereka semakin penasaran.


[Baiklah, dipersilahkan bagi masing-masing perwakilan akademi untuk menentukan anggota yang ikut di pertandingan ilusi ini.]


Para perwakilan Magic Academy saling melihat satu sama lain.


"Siapa yang akan ikut?" Tanya Arzevian.


Mereka saling melihat satu sama lain, lalu Everilly mengangkat tangannya, "Biar aku saja!" Ucapnya tersenyum.


Lisia mengangkat tangannya, "Aku juga."


Lisia melihat ke arah akademi lain, aepertinya akademi lain juga sudah menentukan orang yang akan ikut di pertandingan ilusi ini.


[Baiklah, sepertinya kalian sudah menentukannya! Sekarang, aku akan menjelaskan peraturannya.]


Lalu, 12 lingkaran muncul di arena.


[Setiap 2 perwakilan akademi akan mulai dari tempat yang berbeda. Tugas kalian adalah menemukan batu teleportasi yang bisa membuat kalian keluar dari labirin itu, yang paling cepat mendapatkannya akan menjadi juara 1. Tapi, berhati-hatilah, karena pastinya akan ada rintangan di labirin itu.]


Lisia dan Everilly menginjakkan kakinya ke salah satu lingkaran, begitupula dengan 2 perwakilan akademi lain.


[Pertandingan pertama, dimulai!]


Sebuah cahaya menyelimuti para perwakilan akademi yang berada di lingkaran. Setelahnya, cahaya itu menghilang bersama dengan perwakilan akademi itu.


Banyak layar muncul di arena, layar-layar itu menunjukkan tempat dari masing-masing perwakilan akademi.


***


Lisia melihat ke sekitarnya, dia dan Everilly saat ini sedang berada di sebuah tempat yang cukup gelap.


'Jadi, inilah labirin ilusi itu?' Pikir Lisia sambil melihat sekelilingnya.

__ADS_1


Sebuah cahaya muncul di belakang Lisia, Everilly saat ini menggunakan sihirnya untuk menciptakan cahaya.


Lisia dan Everilly berjalan bersama, mereka, sejauh ini mereka masih belum menemukan apapun.


***


Perwakilan akademi yang tidak ikut di pertandingan ilusi, saat ini sedang menonton dari ruang tunggu. Mereka ikut menyaksikan dari layar.


'Apa rintangannya?' Batin para perwakilan akademi, mereka terus terpikirkan perkataan pembawa acara.


Dari layar, tampak 2 perwakilan Flower Academy berjumpa dengan seekor kupu-kupu.


Salah satunya, terpesona melihat kupu-kupu itu dan memegangnya. Tepat setelahnya, sebuah asap muncul dan memenuhi layar, membuat semua penonton terkejut.


Setelah asap itu menghilang, kedua perwakilan Flower Academy itu tampak ketakutan.


Para penonton bingung, kenapa mereka ketakutan?


Sementara para perwakilan Dream Academy yang melihat itu dan juga beberapa orang lain, menyadari apa yang terjadi dengan mereka berdua.


"Jangan-jangan..."


***


Lisia dan Everilly dihadapkan oleh jalan di depan mereka yang terbagi menjadi 2, kanan dan kiri.


Mereka diam beberapa saat, melihat kedua jalan itu. Sampai saatnya, Everilly melihat sebuah bunga yang tumbuh di jalan sebelah kiri.


Everilly melihat Lisia, dan menunjuk ke arah bunga itu dengan senyuman, matanya menatap Lisia dengan penuh harap.


Everilly melihat bunga itu tanpa menyentuhnya.


Samar-samar, Lisia merasakan sihir dari bunga itu. Dia dan Everilly saling melihat satu sama lain, sepertinya Everilly juga merasakan sihir dari bunga itu.


Everilly kembali melihat ke bunga itu, tapi kali ini, entah kenapa dia merasa sangat penasaran dengan bunga itu. Tangannya bergerak untuk menyentuh bunga itu.


Lisia yang melihat Everilly ingin menyentuh bunga itu, menghentikan tangan Everilly. Tepat setelahnya, Everilly tersadar.


Everilly melihat ke arah Lisia, "Jangan menyentuhnya, kita tidak


tahu apa yang akan terjadi kalau menyentuh bunga itu."


"Eh?" Everilly melihat ke arah bunga itu, lalu kembali melihat ke arah Lisia, "Maaf, aku merasa penasaran."


"Kak, ayo pergi, kita tidak boleh membuang waktu di sini." Ucap Lisia.


"Baiklah." Ucap Everilly tersenyum, mereka berdua lanjut berjalan.


***


Di ruang tunggu, tampak para perwakilan Magic Academy yang lain bernapas lega karena Everilly tidak jadi menyentuh bunga itu.


"Syukurlah, Lisia menghentikannya." Ucap Hain.


Mereka melihat ke arah layar, tampak beberapa perwakilan akademi yang ikut di pertandingan ilusi juga bernasib sama dengan 2 orang perwakilan Flower Academy tadi.

__ADS_1


***


'Tadi, Lisia sepertinya tidak merasakan apapun saat melihat bunga itu...' Batin Irisa sambil melihat ke arah layar.


"Padahal Everilly terpikat, tapi dia sepertinya tidak merasakan apapun ya?" Ucap Zerian sambil melihat ke arah layar.


"Adikmu sepertinya memang sangat hebat, Zerian. Sangat berbanding terbalik dengan kakaknya." Ucap Acle dengan nada mengejek.


"Aku juga hebat!" Zerian merasa tidak terima.


***


Lisia dan Everilly yang sedang berjalan, terhenti saat mendengar sebuah suara di belakang mereka.


Mereka menoleh ke belakang, dari jauh, mereka melihat sebuah batu besar yang terus berputar ke arah mereka.


Lisia dan Everilly menggunakan sihir pelindung untuk menahan batu itu. Batu itu tertahan sebentsr, tapi pelindung yang mereka buat retak, lalu hencur.


Lisia dan Everilly berlari, mereka menggunakan sihir petir untuk meningkatkan kecepatan lari mereka.


Lisia melihat ke arah batu itu sambil terus berlari, "Batu itu dilapisi sihir."


'Apa aku harus menggunakan sihir peringkat S?' Batin Lisia.


"Arlisia!"


Lisia menoleh ke arah Everilly, "Apa?"


"Tolong tahan batu itu menggunakan sihir pelindung berlapis-lapis!" Ucap Everilly.


"Baiklah!"


Lisia dan Everilly berhenti. Lisia menggunakan berlapis-lapis sihir pelindung untuk menahan batu itu. Satu persatu sihir pelindung itu retak dan kemudian hancur.


Everilly saat ini mengeluarkan senjatanya. Lisia melihat senjata Everilly, dia mengenali senjata yang dipakainya, itu adalah salah satu senjata yang dibuat oleh Mailla Killarin.


Everilly menutup matanya, dia melapisi senjatanya menggunakan sihir cahaya.


Saat ini, sihir pelindung yang menahan batu itu tersisa 1. Everilly membuka matanya dan melihat ke arah batu itu. Tepat setelah sihir pelindung itu hancur, Everilly menghancurkan batu itu menggunakan pedangnya yang telah dilapisi dengan sihir.


Batu itu retak, dan kemudian hancur.


Everilly menyimpan pedangnya kembali.


"Ayo." Ucap Lisia.


Everilly melihat ke arah Lisia, "Ya." Ucapnya tersenyum.


Lisia dan Everilly lanjut berjalan untuk mencari batu teleportasi.


***


Banyak orang yang melihat pertandingan itu tampak terkejut karena Everilly memiliki salah satu pedang yang dibuat oleh Mailla Killarin. Tentu saja, terkecuali orang-orang yang telah mengetahui hal itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2