Magic Academy

Magic Academy
25. Pembunuh bayaran


__ADS_3

Ales melihat Zen yang sedang makan siang bersama dengan Putri Selia dan Evia, dia telah mendengar kalau Zen menolak posisi Putra Mahkota.


'Seharusnya pangeran menerima posisi Putra Mahkota, agar dia bisa bertahan di istana ini. Tapi, pangeran pasti tidak ingin hubungan keluarga kekaisaran ini semakin hancur jika dia menerima posisi itu, hati pangeran terlalu baik.' Pikir Ales.


Ales berharap, keputusan Zen bukanlah keputusan buruk.


***


"Kalian sudah mendengar beritanya? Di pertemuan tadi, Kaisar ingin memberikan posisi Putra Mahkota pada pangeran kedua." Ucap selir kedua.


"Ya, pangeran kedua adalah ancaman. Kita harus menyingkirkan dia." Ucap selir kelima.


"Aku dengar, pangeran kedua sering keluar dari istana dan pergi ke ibukota, bagaimana jika kita manfaatkan kesempatan itu?" Ucap selir kedelapan.


"Ide bagus! Aku akan mengirim pembunuh bayaran itu untuk membunuh pangeran kedua." Ucap selir kelima.


***


Zen saat ini sedang pergi diam-diam untuk keluar istana.


Selia mengikuti Zen, sejak pertemuan kemarin, firasatnya buruk. Karena itu, dia ingin mengikuti Zen untuk memastikan Zen baik-baik saja. Dia tidak ingin Zen berakhir sama seperti kakak dan ibunya.


Zen tentu saja menyadari keberadaan Selia, setelah sampai di tembok istana. Zen tidak memanjat tembok istana, dia hanya diam.


Selia bingung dengan tindakan Zen 'Kenapa kakak tidak memanjat tembok?'


"Kau ada di sana bukan, Selia?" Ucap Zen.


Selia terkejut, Zen menyadari keberadaannya?


Selia menunjukkan dirinya "M-maaf, aku–"


"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Zen dingin.


"I-itu, sejak pertemuan kemarin, mungkin saja pangeran ketiga, putri kedua dan putri ketiga akan mencelakai kakak, jadi aku–"


Zen memotong ucapan Selia "Jadi kau ingin melindungiku? Kau pikir aku selemah itu sehingga membutuhkan perlindunganmu? Apa kau lupa kenapa ayah ingin mengangkat aku sebagai Putra Mahkota?"


Selia menunduk, dia tahu kalau Zen adalah orang kuat. Tapi tetap saja, dia menghawatirkan Zen.


"Jangan mengikutiku lagi! Kau hanya akan menjadi beban!" Zen berbalik, dia memanjat tembok lalu pergi dari istana.


Selia masih menunduk, apakah salah bila dirinya ingin melindungi kakaknya?


***


Zen pergi dari istana, dia berjalan pergi ke ibukota. Jaraknya memang lumayan jauh, tapi Zen telah terbiasa.


Di perjalanan, Zen melihat dengan seorang gadis berambut hijau yang pingsan di tepi sungai. Zen menghampiri gadis itu dan memeriksa keadaannya.

__ADS_1


'Sepertinya dia tidak tenggelam di sungai dan hanyut disini.' Zen melihat keranjang yang berisi pakaian di sebelah gadis itu 'Sepertinya dia pingsan saat mencuci pakaian.'


Zen menggunakan sihir penyembuhannya untuk menyembuhkan gadis itu.


Tak lama kemudian, gadis itu membuka matanya. Zen menghela napas lega.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Zen.


Gadis itu mengangguk "Y-ya, terima kasih."


"Siapa namamu?" Tanya Zen.


"Aku Kalia, kau?" Tanya Kalia.


"Aku Zen. Salam kenal, Kalia." Ucap Zen tersenyum.


"Salam kenal, Zen." Ucap Kalia.


"Kenapa kau pingsan?" Tanya Zen.


"Tadi aku baru saja selesai mencuci pakaian, lalu kepalaku tiba-tiba sakit sehingga aku pingsan." Ucap Kalia.


"Dimana kau tinggal? Biar aku antar kau ke rumahmu." Ucap Zen.


"Eh? Itu tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu." Ucap Kalia.


Zen berdiri, dia mengulurkan tangannya pada Kalia "Tidak apa-apa, aku tidak merasa kerepotan." Zen tersenyum.


Mereka lalu berjalan, Kalia menunjukkan jalannya. Keranjang itu dibawa oleh Zen.


"Jadi dimana rumahmu?" Tanya Zen.


"Di ibukota." Ucap Kalia.


Zen berhenti, Kalia menoleh "Kenapa kau berhenti, Zen?"


Zen melempar keranjang itu, lalu mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pedang itu ke leher Kalia.


Kalia terkejut "Zen? Ada apa?"


Zen menatap tajam Kalia "Jangan berpura-pura, aku mengenal semua orang di ibukota." Ucap Zen.


"Aku warga baru, jadi mungkin saja kau tidak mengenalku." Ucap Kalia.


"Jangan berbohong!" Zen meninggikan suaranya "Siapa kau sebenarnya?"


Kalia tersenyum "Ketahuan ya? Kau sangat pintar, tidak heran jika Kaisar ingin menyerahkan posisi Putra Mahkota padamu." Ucap Kalia.


Kalia melihat pedang Zen, dia memegang pedang itu "Aku telah mengetahui kepintaranmu, sekarang aku ingin mengetahui kekuatanmu."

__ADS_1


Kalia menyerang Zen dari belakang menggunakan sihir akar, Zen menoleh dan memotong semua akar-akar itu.


Zen berbalik dan tak menemukan Kalia 'Dimana dia?'


Zen melihat ke kanan dan ke kiri, tapi tak menemukan Kalia dimana pun.


Kalia tiba-tiba berada di atas Zen, Zen terkejut 'Dia atas?!'


Kalia mengeluarkan pedangnya dan menyerang Zen. Zen menggunakan pedangnya untuk menahan serangan Kalia.


Kalia melompat ke belakang, lalu menyerang Zen dari depan. Zen menangkis setiap serangan Kalia.


Zen menggunakan sihirnya di pedangnya, lalu dia menyerang Kalia menggunakan pedang itu. Kalia menghindarinya lalu menyerang Zen dari belakang.


Zen menggunakan sihir pelindung, Kalia terkejut.


Zen menghilangkan sihir pelindungnya dan menyerang Kalia. Zen menyingkirkan pedang Kalia lalu menendang Kalia.


Kalia terlempar ke belakang dan jatuh di tanah. Zen menusuk tanah di sebelah telinga Kalia.


"Kau pembunuh bayaran bukan? Siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku?" Tanya Zen.


Kalia tidak menjawab.


'Aku tidak akan bisa mengalahkannya!' Pikir Kalia.


Kalia menyerang Zen menggunakan sihirnya. Lalu dia mengambil pedangnya dan menusuk jantungnya sendiri.


Kalia menatap Zen "Kau hebat, Zen. Bahkan aku tahu saat ini kau tidak menggunakan seluruh kemampuanmu, aku tidak akan bisa mengalahkanmu. Zen, aku peringatkan... berhati-hatilah." Ucap Kalia dengan nada lemah.


Kalia jatuh ke tanah, dan dia menutup matanya untuk selamanya.


Zen menggendong Kalia dan membawanya ke istana.


***


Saat ini, semua orang sedang mencari tahu identitas pembunuh bayaran itu, dan siapa yang menyuruhnya.


"Apa-apaan ini?! Zen berhasil membunuh pembunuh bayaran itu!" Ucap selir kedua.


"Padahal permaisuri dan Putra Mahkota berhasil dibunuh! Kenapa dia selamat?!" Ucap selir kedelapan.


"Jelaskan semua ini, selir kelima!" Selir kedua menatap selir kelima.


Selir kelima berpikir "Benar! Pasti dia meremehkan pangeran kedua sehingga mengirim orang paling lemah! Karena itu pangeran kedua kalah, aku akan menyuruhnya mengirim orang yang sangat kuat untuk membunuh pangeran kedua!" Ucap selir kelima.


Selir kedua tidak yakin, tapi dia tetap memberikan kesempatan kedua pada selir kelima "Baiklah, pastikan pangeran kedua mati! Jika pangeran kedua tak juga mati, maka kita akan mencari cara lain." Ucap selir kedua.


Selir kelima dan selir kedelapan mengangguk, mereka menyetujui perkataan selir kedua.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2