Magic Academy

Magic Academy
64. Penentuan perwakilan akademi (6)


__ADS_3

Lisia datang ke ruang pengobatan, di sana dia disembuhkan oleh profesor Viasra.


"Pertandingan selanjutnya masih lama, selama itu kau beristirahatlah di sini." Ucap profesor Viasra.


"Baik, profesor." Ucap Lisia tersenyum.


Profesor Viasra keluar dari ruang pengobatan.


"Seingatku, kau tidak selemah ini." Ucap Xava.


Xava menatap tajam Lisia, "Kenapa kau tidak menggunakan sihir tingkat S tadi?"


Xava mengetahui kalau Lisia menguasai beberapa sihir tingkat S. Tapi di pertarungan tadi, Lisia tidak menggunakan satu pun sihir tingkat S.


"Aku akan menggunakannya di pertarungan selanjutnya." Ucap Lisia.


"Tapi," Xava menoleh, dia melihat Alexa yang berbaring di ranjang ruang pengobatan, "sihir apa itu tadi? Itu jelas-jelas lebih kuat dari sihir peringkat S biasa. Kau hebat karena bisa menang."


"Kekuatannya kurang lebih setara dengan 3 sihir tingkat S. Aku bisa menang karena dia tidak bisa mengendalikan sihir itu." Ucap Lisia.


"Jadi seandainya dia bisa mengendalikannya, apa kau tidak bisa mengalahkannya?" Tanya Xava.


"Akan sedikit sulit. Tapi, aku akan menang." Ucap Lisia.


"Kau percaya diri sekali." Ucap Xava.


Lisia tidak membalas ucapan Xava.


"Ngomong-ngomong, sekarang yang bertanding adalah putri Irisa. Apa kau tidak ingin melihatnya?" Tanya Xava.


"Tidak."


"Oh iya, tadi kau belum menjawab pertanyaanku, bagaimana kau mengetahuinya? Padahal kita tidak diberitahu tentang lawan dan kapan kita akan bertanding. Dan lawan juga tidak mungkin memberitahu dirimu kalau kau lawannya bukan?" Ucap Lisia.


Xava hanya membalasnya dengan senyuman.


Lisia menatap Xava dengan tatapan curiga, Xava mengalihkan mukanya.


"Kau... Jangan bilang kau menyusup ke ruang kontrol?" Ucap Lisia.


"Mana mungkin, tadi aku terus berada di ruang tunggu." Xava berkeringat dingin.


'Bohong.' Batin Lisia.


Xava bisa menyembunyikan aura keberadaannya. Mirip dengan Van, tetapi tidak sehebat Van.


"Tapi, apa kau benar-benar tidak akan melihat pertarungan putri Irisa?" Tanya Xava.


"Tidak. Lagipula untuk apa? Karena aku juga sudah tahu hasil akhirnya." Ucap Lisia.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Xava.


Lisia terdiam sejenak, lalu dia menjawab, "Irisa dan Rill akan kalah."


***


[Pemenangnya, Mira Sophia dari kelas 1.A dan Aria Kania de Erlin dari kelas 1.A]


Rill yang terluka berdiri, dia melihat Irisa yang telah pingsan akibat pertarungan.


Irisa bertarung melawan Mira Sophia, sementara Rill bertarung dengan Aria Kania de Erlin.


Tim medis masuk ke arena, mereka membawa Irisa ke ruang pengobatan.


Rill ikut ke ruang pengobatan. Lukanya tidak parah, hanya tangannya saja yang terluka.


Mira dan Aria kembali ke ruang tunggu.


Mira tidak terluka sedikitpun. Sementara Aria, tangan kirinya terluka karena serangan Rill, meski tidak parah.


***


"Kenapa kau berpikir seperti itu? Meski putri Irisa tidak memiliki sihir yang kuat, tapi kemampuan menggunakan senjatanya kuat. Percayalah pada kemampuan–" Ucap Xava.


Tim medis sampai ke ruang pengobatan, mereka segera membaringkan Irisa di ranjang ruang pengobatan.


Profesor Viasra mengecek kondisi Irisa dan menggunakan sihir untuk menyembuhkan Irisa.


"Tidak peduli kemampuan menggunakan senjatanya kuat atau tidak, tapi dia tetap kalah." Ucap Lisia.


"Lisia, apa kau tidak pernah percaya pada putri Irisa?" Ucap Xava.


Dia tahu kalau Lisia mengatakan hal itu berdasarkan perhitungannya. Tapi, meski begitu, dia harap Lisia juga percaya pada Irisa, percaya kalau dia bisa menang.


'Percaya ya...' Batin Lisia.


Lisia pernah mengatakan kepada Etian, kalau dia tidak percaya pada seorang pun. Tapi jika disuruh percaya pada kemampuan, dia mempercayainya.


Meski begitu, Irisa itu masih lemah. Apalagi, jika lawannya adalah orang dari kelas A, hanya ada kemungkinan 1% Irisa bisa menang.


Pintu ruang pengobatan terbuka.


Pandangan Lisia dan Xava langsung tertuju di pintu, di sana terlihat Rill, tangannya terluka.


Rill duduk di ranjang ruang pengobatan yang berada di sebelah ranjang ruang pengobatan tempat Lisia.


"Siapa lawan kalian?" Tanya Lisia pada Rill.


"Aria dan Mira." Ucap Rill.

__ADS_1


Lisia tidak menjawab lagi, dia beralih dan menatap Irisa yang sedang berbaring.


***


[Pertandingan tim telah berakhir!]


[Ada 20 orang yang tetap bertahan hingga saat ini. Dan yang dibutuhkan untuk mewakili Magic Academy hanya 10 orang. Untuk itu, akan diadakan pertandingan 1 lawan 1. Yang menanglah yang akan mewakili Magic Academy ke turnamen!]


'Pertandingan ketiga bukan pertandingan tim ya.' Batin Rill.


Rill menyaksikan pertandingan itu dari kursi penonton.


Sebuah layar besar muncul di arena, layar itu bertuliskan tentang lawan dari masing-masing orang.


'Lawanku... Aria Kania de Erlin.' Batin Lisia.


Lisia dan Aria, mereka akan bertarung di pertarungan keempat.


[Kepada para murid yang akan bertanding, silahkan menunggu di ruang tunggu!]


Yang lain pergi ke ruang tunggu, untuk menyaksikan pertandingan dari sana.


Sementara Lisia, dia tidak pergi ke ruang tunggu.


"Kepala sekolah!"


Mendengar Lisia memanggilnya, kepala sekolah menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan melihat Lisia.


"Ada apa, Arlisia?" Ucap kepala sekolah.


"Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda." Ucap Lisia.


***


"Kenapa Profesor Sala mengetahui kalau saya adalah anggota sufours?" Tanya Lisia.


Mungkin sudah lama waktu berlalu untuk menanyakan hal ini. Tapi, saat misi untuk menyelidiki organisasi black two, profesor Sala mengatakan hal yang membuatnya menyatakan secara tidak langsung, kalau dia mengetahui tentang sufours.


Itu aneh, karena seharusnya yang mengetahui tentang sufours hanya 4 Kaisar, Kepala sekolah Magic Academy, anggota sufours, dan juga beberapa organisasi penjahat.


"Hm... kau tidak pernah mengetahui tentang nama belakang Sala bukan?" Ucap kepala sekolah.


"Tidak." Ucap Lisia.


"Sala Killarin, itulah nama lengkap Sala." Ucap kepala sekolah.


Lisia terkejut mendengar nama lengkap profesor Sala.


Killarin, nama belakang yang sama dengan Mailla Killarin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2