
Lisia sampai di depan Ruang 4 Kaisar.
"Ini Arlisia."
Tepat setelah Lisia mengucapkan dua kata itu, pintu terbuka. Lisia masuk ke Ruang 4 Kaisar lalu setelahnya pintu itu tertutup.
"Aku sudah mendengarnya, kau berhadapan dengan anak buah Azarka bukan?" Kaisar Arrilla memulai pembicaraan.
"Dari pada anak buah, lebih tepatnya dia hanya dimanfaatkan oleh Azarka. Namanya Fal, dulu dia adalah salah satu anggota dari organisasi Black, mereka adalah bawahan Azarka. Selain Fal, semua anggota organisasi itu telah mati." Ucap Lisia.
"Kau yang membunuhnya?" Tanya Kaisar Erlin.
Lisia menganggukkan kepalanya, "Ya."
"Lalu, kenapa kau tidak membunuh dia juga?" Kaisar Arrilla menatap tajam Lisia.
"Ini adalah kelalaian saya, saya tidak memastikan dia mati atau tidak." Ucap Lisia.
Kaisar Arrilla masih menatap Lisia tajam tanpa mengatakan apa pun setelah ucapan Lisia.
Kaisar Kairilin melihat ke arah Lisia, "Arlisia, aku mendengar, kau melanggar sumpah."
3 Kaisar selain Kaisar Arkailian—Etian menunggu jawaban Lisia. Mereka telah mendengar mengenai Lisia yang melanggar sumpah dari Etian.
"Benar." Lisia melihat ke arah Etian, "Apa anda tidak memberitahukan kalau kekuatan sihir yang bisa saya gunakan saat ini hanya 1 sihir tingkat S?"
"Aku telah memberitahu mereka." Ucap Etian.
"Mengenai kekuatanmu itu, kami akan mencari tahu penyebabnya." Ucap Kaisar Erlin.
Keempat Kaisar menyatukan kekuatan mereka, lalu kekuatan itu masuk ke dalam diri Lisia. Lisia bisa merasakan kalau batasan kekuatannya berubah, sekarang dia bisa menggunakan setidaknya 5 sihir tingkat S, sama seperti sebelumnya.
"Pelaku yang membuat batasan kekuatan saya berubah mungkin saja salah satu dari 4 Kaisar, entah dia sendiri atau ada campur tangan dari pihak lain." Ucap Lisia sambil menatap 4 Kaisar.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Kaisar Kairilin.
"Untuk mengubah batasan kekuatan dari sumpah ini, membutuhkan persetujuan dari 4 Kaisar. Jika tanpa persetujuan kalian berempat, maka mungkin saja hanya salah satu diantara kalian. Karena saya rasa, tidak mungkin jika batasan kekuatan saya berubah tanpa campur tangan dari salah satu dari 4 Kaisar." Lisia menatap keempat Kaisar satu persatu.
Keempat Kaisar terdiam dan menatap satu sama lain secara bergantian.
"Itu mungkin saja." Ucap Kaisar Arrilla, membuat semuanya menoleh ke arahnya, "Kau tenang saja, kami akan mengurus hal itu." Lanjutnya.
"Saya ingin bertanya sesuatu." Ucap Lisia.
"Apa?"
"Apakah anda tidak mendapatkan informasi mengenai keberadaan Azarka?" Tanya Lisia.
__ADS_1
"Tidak, sejak dia menghilang 1 tahun yang lalu, kami tidak mendapatkan informasi apapun lagi mengenai dirinya. 2 tahun yang lalu, kami juga sudah memancingnya agar pergi menuju kekaisaran Arkailian. Tapi, tidak ada tanda-tanda kalau dia berada di kekaisaran Arkailian." Ucap Kaisar Arrilla.
‘Kaisar Arkailian tidak mempedulikan rakyatnya dan hanya mempedulikan para wanitanya saja.’ Saat Etian naik tahta, dia mengabaikan rakyatnya. Itu adalah jebakan yang disusun 4 Kaisar untuk memancing Azarka ke kekaisaran Arkailian 2 tahun yang lalu.
Tapi Azarka tidak terpancing, tidak ada tanda-tanda keberadaannya di kekaisaran Arkailian selama 2 tahun ini. Lalu, sejak dia menghilang 1 tahun yang lalu, tidak pernah ada informasi lagi mengenai dirinya.
"Begitu ya." Ucap Lisia.
4 Kaisar saling melihat, lalu mereka menganggukkan kepala mereka. Setelahnya, keempat Kaisar melihat ke arah Lisia.
"Arlisia, pembicaraan kita sampai di sini saja. Pergilah." Ucap Kaisar Erlin.
"Tunggu. Sebelum itu, saya memiliki 1 permintaan." Ucap Lisia.
"Apa itu?" 4 Kaisar menatap Lisia.
***
Lisia keluar dari ruang 4 Kaisar, tepat setelah dia keluar pintu ruang 4 Kaisar tertutup. Lisia menatap pintu itu.
"Pembicaraanmu sudah selesai?"
Lisia menoleh ke belakang, di belakangnya kepala sekolah tersenyum kepadanya.
"Ya." Ucap Lisia, dia berjalan dan pergi dari sana.
Kepala sekolah menatap keempat Kaisar sambil tersenyum, "Yang Mulia. Ada yang ingin saya bicarakan mengenai Fal."
***
Di salah satu kamar asrama tamu Magic Academy, tampak seorang pria yang sedang memandangi langit dari jendela.
"Besok ya... aku tidak sabar..." Ucap pria itu.
"Tidurlah, kau membutuhkan tenaga untuk pertandingan besok." Ucap seorang pria yang merupakan teman dari pria itu.
Pria itu berbalik dan tersenyum, "Ya!"
***
Di kamar asrama tamu lain, dua orang gadis tampak sedang berbincang sambil memakan cemilan.
"Jantungku berdebar sangat kencang saat memikirkan pertandingan besok." Ucap gadis berambut merah.
"Di pertandingan besok, pasti akan banyak musuh yang sangat kuat. Aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka..." Ucap gadis berambut hitam sambil menatap tangannya.
"Jangan berpikir seperti itu! Memang ada beberapa musuh yang harus kita waspadai. Tapi, kepercayaan diri itu penting." Gadis berambut merah itu berusaha meyakinkan temannya.
__ADS_1
Gadis berambut hitam itu mengepalkan tangannya "Ya!"
***
"Kita tidak boleh mempermalukan nama Sword Academy di pertandingan besok!" Ucap seorang gadis berambut biru bersemangat.
Sementara temannya hanya tersenyum melihatnya.
***
"Tahun lalu, Magic Academy mendapatkan juara 1. Dan di tahun ini, Trisian Academy yang akan mendapatkan juara 1 itu." Ucap seorang gadis berambut ungu
"Kita tidak boleh kalah, apalagi setelah aku mengucapkan itu pada Putri Arlisia." Ucap Kezia.
"Tentu saja!"
***
Di kamar asrama Irisa, tampak Irisa saat ini sedang melihat bintang dari balik jendela.
'Besok, turnamen antar akademi...' Batinnya.
"Lisia..." Gumam Irisa.
***
Di kamar profesor Levin, tampak saat ini dia sedang membaca buku.
Tiba-tiba, dia teringat, mengenai 1 tahun yang lalu, di mana dia mendapat kabar mengenai kematian adiknya, Lais.
Profesor Levin melihat sebuah foto yang terpajang di kamarnya, di foto itu terlihat 2 orang anak laki-laki dan 1 orang anak perempuan. Itu adalah fotonya bersama dengan Lais dan Lisia saat mereka masih kecil.
"Aku harap kau tidak terluka parah di turnamen besok, Lisia." Ucapnya sambil melihat ke foto itu.
***
Di kamar asrama Mira, saat ini sedang melihat bintang melalu jendela kamar asramanya.
"Aku akan menang!" Ucapnya.
***
Lisia saat ini sedang berbaring di atas temat tidurnya.
Dia tampak memikirkan sesuatu, sebelum menutup matanya dan tertidur.
Bersambung...
__ADS_1